
Beberapa menit setelah mendengar pertanyaan Alvin. Haifa masih diam belum berminat menjawab. Ia masih asik memandangi langit langit kamar.
"Pertanyaan itu ada buat dijawab loh." ucap Alvin.
Haifa masih saja diam. Alvin masih sabar menunggu sambil melakukan hal yang sama dengan Haifa yaitu memandangi langit langit kamar.
"Mas kan udah pernah nanya sama papa waktu lagi proses kenapa di tanyakan lagi?"
"Ya yang Papa jawabkan itu yang bener bener berani datang ke rumah dan ketemu papa. Nah kalau yang cuma berani deketin kamu tapi gak berani datang ke papa gimana? Pasti ada kan?"
"Orang papa bilang aja yang ngajukan cv ke papa selalu ada setiap tahunnya." sambung Alvin.
Haifa kembali diam sejenak. Bukan sulit menjawab tapi Haifa masih berpikir cara menyampaikannya agar topik ini tidak menjadi boomerang nantinya.
"Jadi ada berapa?" tanya Alvin lagi.
"Hm ada lah beberapa. Tapi yaudah gak pernah Haifa tanggepin. Kalaupun ada yang deketin langsung Haifa suruh ke papa. Kalau gak berani yaudah." ucap Haifa.
"Tapi ada loh satu yang masih Haifa inget." ucap Haifa.
"Siapa?" Alvin langsung menoleh pada Haifa dan matanya tidak lepas memandang Haifa. Lain dengan Haifa yang tidak peduli dengan tatapan Alvin dan masih dalam posisi yang sama.
"Dia kakak tingkat beda fakultas. Kenal pas awal kuliah gak sengaja ketemu di acara apa ya lupa."
"Terus?"
"Yaudah kenal gitu, beberapa kali ketemu gak sengaja. Tampan loh mas dia, wajahnya itu kayak oppa oppa."
"Tua?"
"Ish bukan tua. Tapi kayak oppa oppa korea gitu, kayak orang korea. Eh ternyata emang bener papanya dia itu orang korea. Ah cakep pokonya."
"Cakep tapi gak gentle." ucap Alvin.
"Iya sih. Tapi dia cukup berani buat ngomong langsung ke Haifa. Dia juga muslim. Yaudah waktu itu Haifa langsung aja suruh dia datang ke papa."
"Tapi dia gak datang?"
"Hm."
"Kayaknya kamu itu sebenarnya tertarik juga sama dia ya?" tanya Alvin.
Haifa tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari langit langit kamar. Dan itu terlihat jelas oleh Alvin yang sekarang sudah posisi meyamping menghadap Haifa.
"Ck. Tertarik kok sama pria pria yang cantik." ucap Alvin asal.
"Gimana mas?" tanya Haifa.
"Iya kok kamu bisa tertarik sama pria yang kadang wajahnya gak jauh beda sama boneka barbienya Aina." ucap Alvin.
"Mas kok gitu bilangnya. Itu ciptaan Allah loh. Gak baik dibilang gitu."
"Iya kalau masih asli. Kalau udah rombak sana sini?"
"Tapi Haifa sih yakin dia gak begitu."
"Siapa yang tau kan?"
"Haifa yakin dia mah emang udah alami tampannya."
"Kok kamu jadi belain laki laki lain di depan suami sendiri?" ucap Alvin.
"Masnya yang nanya." jawab Haifa.
"Mas cuma nanya berapa banyak. Kamu malah deskripsikan tentang dia." jawab Alvin.
"Emang segitu berkesannya buat kamu?"
"Iya berkesan. Puas?" ucap Haifa sambil melirik ke arah Alvin.
Alvin tidak mau memperpanjang. Ia mengubah posisinya menjadi membelakangi Haifa. Dan Haifa yang melihat itu hanya tesenyum.
"Marah?" tanya Haifa.
Tidak ada jawaban.
"Mas ditanya juga ih. Mas marah ya?"
"Mas Alvin marah?"
"Hahaha beneran marah." jawab Haifa pada dirinya sendiri. Alvin yang mendengar Haifa tertawa puas langsung membalikan badan menghadap Haifa.
"Mangkanya kalau gak mau diusilin balik jangan keseringan usil orang." ucap Haifa.
"Adududuh ih lepas." ucap Haifa sambil terus berusaha melepaskan lilitan tangan Alvin dari tubuhnya.
"Jadi udah berani usilin suami hm?" tanya Alvin di dekat telinga Haifa.
"Mas ih jauh jauh sana." ucap Haifa sambil mendorong wajah Alvin yang benar benar disamping kepala Haifa.
Bukan menjauh Alvin malah semakin mendekat, semakin merapatkan tubuhnya pada Haifa.
"Mas ih jauh jauh bukan deket deket." ucap Haifa.
"Mas cuma lagi memahami wanita. Wanita itu biasanya kalau bilang gpp berarti ada apa apa. Dan sekarang kamu bilang jauh jauh. Berarti sebenarnya kamu mau dekat dekat kan?"
"Mas beneran deh jauh jauh geli." Haifa sambil berusaha melepaskan diri dari Alvin.
"Geli sebelah mana? Sini ya?" ucap Alvin sambil mendekatkan wajahnya ke leher Haifa dan ndusel dusel di sana.
"Mas udah mas geli. Inget ya gak boleh macam macam."
"Iya inget jangan macam macam. Kamu lagi datang bulan. Mas gak macam macam kok. Lagi datang bulan juga bukan berarti gak boleh deket deketkan." ucapnya sambil terus mengendus endus di leher Haifa.
"Mas udah ih." rengek Haifa dengan wajah yang sudah merah.
__ADS_1
"Hahaha iya udah. Mangkanya gak usah usilin suami. Kena hukuman kan. Sekarang cuma begini lain kali mah gak akan cuma begini." jawab Alvin sambil menjauhkan wajahnya darivleher Haifa.
"Oh gitu yaudah nanti juga kalau mas usilin Haifa. Haifa hukum ya."
"Iya mau banget dihukum. Tapi hukumannya mas yang nentuin sendiri."
"Ya gak bisa gitu lah enak aja."
"Bisa."
"Enggak."
"Bisa."
"Enggak."
"Bunda, mau nurut apa lanjut?"
"Hah?"
"Mau nurut apa lanjut?"
"Oke diem berarti dianggap jawabannya lanjut."
"No." ucap Haifa sambil menahan wajah Alvin yang hendak kembali mendekat.
"Jadi nurut atau lanjut bunda?"
"Oke nurut." pasrah Haifa tak ikhlas.
"Yang ikhlas bunda. Mau nurut atau..."
"Iya nurut." ucap Haifa memotong ucapan Alvin.
"Bagus. Yaudah sekarang tidur." ucap Alvin sambil sedikit membetulkan posisinya kemudian menarik Haifa kedalam dekapannya.
Haifa hanya pasrah dengan perlakuan Alvin. Dari hari pertama memang selalu seperti ini setiap kali tidur. Dan yang Haifa rasakan selalu sama detak jantungnya yang mendadak cepat dan juga posisinya di dada Alvin membuatnya bisa sedikit mendengar detak jantung Alvin yang terdengat cepat juga.
Tak jauh beda dari Haifa. Ketika melakukan hal hal seperti ini Alvinpun harus merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Tidak menampik Alvin juga kadang merasa gugup. Tapi yang Alvin lakukan saat ini adalah sebuah keharusan untuk awalan. Karena Alvin berpikir segala sesuatu harus dibiasakan apalagi dirinya dan Haifa tidak punya banyak waktu untuk saling mengenal. Tidak punya banyak waktu untuk bisa berdua. Jika terus terusan saling malu dan canggung Alvin yakin tidak akan ada perkembangan yang signifikan dalam rumah tangga mereka. Tidak salahkan? Walaupun kadang Alvin harus kuat melawan kegugupannya, membuang jauh jauh rasa malunya.
"Tidur bunda. Jangan lupa baca do'a ya." ucap Alvin kemudian mencium kening Haifa.
Haifa hanya mendengus sebal.
Pukul 07.00 baru saja Haifa dan Aina mengantarkan Alvin sampai ke depan rumah.
"Sayang. Ini kan masih pagi nih. Kita jalan jalan yuk, jalan kaki di sekitar sini aja. Aina mau gak?" ajak Haifa.
Bukan tanpa alasan Haifa mengajak Aina berjalan jalan pagi. Alvin bilang Aina tidak pernah main bersama teman teman yang ada di sekitar rumah. Bukan tak mau tapi ya tau sendiri. Aina setiap harinya harus berpindah pindah.
"Tapi Aina gak punya temen di tini bunda." jawab Aina.
"Nah mangkanya sekarang kita jalan jalan. Siapa tau nanti ada temen. Gimana mau?"
Aina mengangguk.
"Tuh banyak temen kan." Aina menganggu sambil tersenyum.
"Sini deh ikut bunda." Haifa menuntun Aina ke arah jungkat-jungkit kebetulan di sana anak perempuan yang sedang bermain jungkat jungkit tidak ada pasangannya.
"Assalamualaikum." ucap Haifa pada ibu dan anak yang berada di sana.
"Wa'alaikumussalam." jawab sang ibu.
"Eh mbaknya warga baru ya?" tanya wanita tersebut.
"Iya bu. Saya Haifa."
"Saya Fitri. Tunggu, ini istrinya pak Alvin kan yang kemarin baru nikah?"
"Hehe iya bu."
"Oh iya Aina salam sama aunty." ucap Haifa.
"Ini anak saya bu. Namanya Aina." ucap Haifa
Memang tetangga rata rata tahu kalau Alvin itu duda.
"Oh iya. Hai cantik." ucap ibu tersebut.
"Nah adek namanya siapa?" tanya Haifa.
Anak itu tampak menatap mamanya.
"Gak apa apa. Auntynya cuma mau kenalan." ucap Fitri pada anaknya.
"Nama aunty Haifa. Dan ini anaknya aunty namanya Aina. Kalau adek namanya siapa?" tanya Haifa.
"Tania aunty." jawabnya.
"Tania, tadi mau main jungkat jungkit gak berdua sama Aina?" tanya Haifa.
Bocah itu hanya mengangguk.
"Yaudah sekarang Aina sama Tania main deh ya." ucap Haifa.
Para ibu melipir membiarkan anak anaknya main bersama. Awalnya hanya dengan Tania tapi lama kelamaan Aina juga mulai berbaur dengan yang lain. Karena pada dasarnya anak kecil akan sangat mudah untuk berkawan. Bunda hanya perlu untuk membantunya memulai.
Matahari mulai terik perlahan taman juga mulai sepi. Begitu juga Haifa dan Aina yang sedang berjalan pulang. Kebetulan sekali rumah Tania kawan baru Aina ternyata hanya selisih 2 rumah dari rumah Alvin. Jadi mereka bisa pulang bersama.
Baru awal, Haifa harus benar benar cepat beradaptasi dan banyak belajar tentang peran barunya.
Saat ini sambil menunggu Alvin pulang. Haifa sedang menemani Aina bermain dan menjawab pertanyaan pertanyaan spontan yang terucap dari Aina.
Anak usia 3 tahun memang bisa dibilang sudah banyak mengenal lingkungan sekitar maka dari itu, jangan kaget jika banyak pertanyaan pertanyaan spontan yang diajukan.
__ADS_1
"Assalamualaikum." suara dari luar menghentikan kegiatan Haifa dan Aina.
"Papa." ucap Aina sambil berlari ke arah sang papa. Diikuti oleh Haifa yang berjalan di belakang Aina.
"Duh. Abis ngapain kok seneng banget kayaknya?" tanya Alvin sambil menyodorkan tangannya untuk dicium Aina. Bukan Alvin gila hormat. Tapi ini kembali untuk membiasakan Aina. Tangan Alvin bergantian disalami oleh Aina dan Haifa.
"Aina tadi main di taman tama bunda. Banak temenna papa. Selu Aina tuka." ucap Aina dengan Antusias.
"Oh iya, terus di taman ngapain aja?" tanya Alvin sambil menggendong Aina dan membawanya ke ruang keluarga.
"Aina main main banak. Main temuana." jawab Aina.
"Terus sekarang lagi apa sama bunda?" tanya Alvin saat melihat ada beberapa buku dan kertas di ruang tersebut.
"Tadi bunda batain celita bumi."
Alvin mengangguk faham. Haifa yang baru datang sambil membawa segelas air untuk Alvin tersenyum bahagia melihat Aina sangat antusias bercerita pada sang papa. Artinyakan yang dilakukannya seharian ini berkesan dan menyenangkan bagi dirinya.
"Terimakasih bunda." ucap Alvin sambil menerima segelas air dari tangan Haifa.
Hari ke hari berlalu, tidak terasa sudah lebih dari seminggu Alvin menyandang status sebagai suami. Semenjak kehadiran Haifa memang banyak yang berubah terutama pola hidup. Diusianya yang masih belia Haifa bisa dibilang cukup telaten menjadi seorang istri dan juga bunda. Entah pelajaran seperti apa yang diajarkan oleh mama dan papa, yang jelas Alvin bangga dan berterimakasih. Walaupun tetap tidak luput dari kekurangan kekurangannya.
Sabtu pagi ini kebetulan Alvin libur. Rencananya mereka ingin jalan jalan santai disekitar komplek. Lumayankan quality time dan olahraga dalam satu waktu. Tapi sayangnya ketika Haifa dan Aina sudah siap untuk pergi. Si bapak satu anak malah masih asik bergelung di bawah selimut, berselancar di alam mimpi. Setelah subuh tadi Alvin memang meminta izin untuk tidur lagi. Walau sudah dilarang tapi tetap saja gaya gravitasi dari kasur sulit Alvin hindari.
"Mas bangun cepet." ucap Haifa sambil menarik selimut yang digunakan Alvin.
"5 menit lagi ya."
"Enggak ada. Cepetan mas."
Alvin masih belum mau membuka matanya.
"Yaudah Haifa pergi berdua aja sama Aina kalau gitu." ucap Haifa.
Alvin langsung menggapai tangan Haifa.
"Mas gak kasih izin."
"Yaudah cepet bangun mangkanya."
"Dapet apa kalau bangun?" ucap Alvin yang baru saja membuka mata.
"Haifa tunggu 5 menit dibawah. Kalau gak nyusul Haifa pergi berdua sama Aina." ucap Haifa sambil berlalu meninggalkan Alvin.
Mau tak mau Alvin segera bersiap daripada membiarkan Haifa dan Aina pergi berdua.
Alvin baru menuruni tangga. Ia melihat anak dan istrinya sudah dalam mode yang sulit diartikan.
"Papa lama!" ucap Aina.
"Hehe Maaf sayang." ucap Alvin.
Mereka pun pergi untuk berjalan jalan di sekitar komplek dan berakhir di taman bermain. Menemani Aina yang asik bermain dengan anak anak seusianya.
Dan disaat anaknya sedang bermain bersama teman temannya. Kalian tau apa yang dilakukan oleh sang papa?

Papa yang luar biasa ini malah memanfaatkan waktunya untuk kembali tidur.
"Mas, ih bangun. Malu di tempat umum malah tidur. Tadi gak usah ikut aja sekalian."
"Malu sama siapa sih. Biarin aja." ucap Alvi seenaknya.
"Pulang duluan sana kalau cuma mau pindah tempat tidur."
"Iya ini bangun. Sama anak bisa baik kenapa sama suami galak banget sih?"
"Maaf mendadak lupa udah punya suami."
"Hm. Mau dihukum di sini?"
"Yakin berani?"
"Siapa takut."
Huaaa Huaaa.....
"Eh eh mas lepas itu Aina jatuh nangis." ucap Haifa melepaskan tangannya yang sejak tadi dipegang Alvin kemudian bergegas menghampiri Aina. Dan Alvin setia membuntuti Haifa.
"Sayang. Gak apa apa. Mana yang sakit?" tanya Haifa sambil berjongkok dihadapan Aina.
"Ini takit. Jatuh titu." ucapnya dengan nada suara yang patah patah karena tangisnya sambil tangannya menunjuk ayunan tempatnya terjatuh.
"It's okay. Yaudah Aina pamitan dulu sama temen temannya. Nanti bunda obati di rumah."
Aina yang masih menangis hanya menggeleng sambil memeluk Haifa.
Oke saat begini anak memang tidak boleh dipaksa.
"Temen temen Aina pulang duluan ya." ucap Haifa seakan mewakili Aina.
Anak anak yang berada di dekatnya hanya mengangguk.
"Mari bu." pamit Haifa pada ibu ibu yang lain.
"Sini sama papa." kata Alvin pada Aina.
Aina menggeleng sambing mengeratkan pelukan di leher Haifa.
"Papa gendong tinggi loh mau?" tanya Alvin.
Dengan mudahnya Aina langsung merentangkan tangannya pada Alvin. Alvin menggendong Aina diatas pundaknya. Mereka berjalan beriringan sesekali Alvin berlari pelan membuat Aina yang berada dipundaknya ikut terguncang sehingga bisa tertawa, melupakan kesakitannya seretelah jatuh.
***
__ADS_1
**To be continued...
See you next time**...