Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 84


__ADS_3

"Kakak seneng gak nginep sama mama?" tanya Novia setelah menjemput Aina dari rumah Alvin.


Aina mengangguk, sambil asik menonton tayangan anak-anak dari handphone Novia.


"Jadi kakak Aina mau berapa hari bobo sama mama?"


"Dua hali." jawab Aina masih fokus ke handphonenya


"Kok cuma duq hari? Papa kan bilangnya boleh semau kakak." kata Novia.


"Kakak maunya dua. Kalau bobo di lumah nenek juga dua."


"Kalau cuma dua hari nanti mama masih kangen kaka."


"Mama bobo aja di lumah kakak." kata Aina.


"Hahaha ya gak bisa dong kak."


"Bisa kok. Uncle Alvan, Aty Zia, Nenek, Kakek, suka bobo di lumah kakak."


"Seminggu deh ya. Kakak bobo sama mama seminggu ya?" tawar Novia.


"Seminggu itu belapa hali?"


"Tujuh hari."


"Enggak." kata Aina sambil menggeleng.


"Kenapa?"


"Kakak mau sama papa." jawabnya.


"Mam, udah jangan dipaksa nanti Aina malah gak nyaman." kata Brian pelan sambil mengelus kepala Novia.


"Tapi..."


"Mam!"


"Kakak mau langsung ke rumah mama atau mau jajan dulu?" tanya Novia.


"Mau bobo, kakak ngantuk." katanya sambil menyerahkan handphone milik mamanya.


"Yaudah bobo. Mama peluk." kata Novia memeluk Aina yang duduk di pangkuannya.


Sementara Aina sedang di perjalanan menuju rumah Novia. Alvin dan Haifa sedang berada di rumah mereka.


"Yang..." panggil Alvin.


"Kenapa?"


"Sepi juga ya gak ada Aina. Aidan juga mainnya jadi kayak hampa gitu, cuma lempar mainan terus dari tadi."


"Sabar ya. Mas baru gak bareng Aina beberapa jam aja udah kangenkan? Apalagi Mbak Novia kan yang berbulan bulan gak ketemu Aina."


"Kamu ngerasa sepi nggak gak ada Aina?"


"Banget, biasanya jam segini lagi rame rebutan mainan atau lagi rame saling jailin." kata Haifa.


"Yang..."


"Hm.."


"Suatu saat, Aina dan Aidan besar terus mereka beda pendapat, selisih paham. Kamu bakal ada dimana?" tanya Alvin tiba-tiba. Haifa yang awalnya sedang mengamati Aidan, sekarang sudah sepenuhnya fokus pada Alvin.


"Sebelum menikah sama mas, yang paling Haifa pikirkan itu bukan mas."


"Kok gitu?"


"Ya kalau masalah sama mas mah. Kita sama sama udah dewasa. Nanti juga bisa menyesuaikan. Yang Haifa benar-benar pikirkan itu Aina. Jujur aja, ada rasa takut. Takut ketika nanti Haifa udah punya anak yang keluar dari rahim Haifa sendiri, Haifa bakal terlalu fokus sama anak dan lupa sama Aina."


"Tapi semakin sering bersama Aina, Haifa banyak belajar dari Aina. Aina yang masih kecil bisa nerima Haifa dan bisa segitu sayangnya sama Haifa. Gak ada alasan buat Haifa gak sayang dan gak nerima Aina. Kadang Haifa itu suka gak sadar diri kalau Haifa itu ibu sambungnya Aina."


"Yang, kamu itu bundanya Aina gak ada kata sambung-sambungan. Jadi ibu itu bukan sebatas melahirkan. Walaupun kamu gak melahirkan Aina, kamu itu ibu bagi Aina. Kamu menyayangi Aina, kamu yang ngurus kebutuhan Aina dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jangan merasa kamu gak punya hak Yang."


"Tadi mas nanya kan, kalau suatu saat Aina dan Aidan selisih pendapat Haifa ada dimana?" kata Haifa. Alvin mengangguk.


"Jawabannya, Haifa akan ada di samping mas, di tengah mereka. Kita duduk bareng dan cari solusinya." kata Haifa.

__ADS_1


"Kenapa lihat Haifa begitu?"


"Enggak. Kalau aja Aidan udah tidur." kata Alvin.


"Kenapa emang kalau Aidan udah tidur bisa quality time sama kamu."


"Boleh, tapi gak bisa macam macam ya."


"Semacem aja kok."


"Semacem yang ada di pikiran mas itu complicated banget."


"Tahu aja."


"Jadi ini yang tadi mau dibahas?" tanya Haifa.


"Bukan."


"Terus apa?"


"Aidan udah ngantuk deh Yang kayaknya. Tuh udah gosok gosok mata terus."


"Yaudah Haifa tidurin Aidan dulu. Mas mau ikut ke kamar atau gimana?"


"Mas di ruang kerja ya. Soalnya besok mas gak ngantor jadi beresin pekerjaan dulu."


"Ya emang besok sabtu. Mau ngantor juga?"


"Oh iya?"


"Tau ah." kata Haifa sambil berjalan ke lantai dua.


Setelah Aidan tidur, Alvin dan Haifa memanfaatkan waktu sebelum tidur untuk mengobrol.


"Yang..."


"Apa?" jawab Haifa sambil menyusupkan wajahnya ke dada Alvin.


"Aku pernah gagal berumah tangga." kata Alvin.


"Iya terus? Kan sekarang mas udah sama Haifa." kata Haifa sambil mendongak menatap Alvin. Alvin menunduk kemudian mencium kening Haifa.


"Haifa juga gak punya cita-cita buat gagal berumah tangga." kata Haifa sambil kembali menyusupkan wajahnya ke dada Alvin.


"Mas sadar kadang sebagai suami, Mas masih sering emosian, cemburuan, suka marah-marah, kurang perhatian, kurang pengertian dan mungkin masih banyak lagi kekurangan Mas sebagai suami."


"Iya Haifa tahu." jawab Haifa tanpa melihat Alvin.


"Kamu gak masalah?" tanya Alvin sambil mengusap rambut panjang Haifa.


"Kita udah menikah mas. Haifa rasa bukan saatnya buat mempermasalahkan. Kalau hal hal seperti itu mau dipermasalahkan harusnya sejak dulu. Waktu kita masih diproses perkenalan."


"Walaupun kadan dari hal hal tersebut sering memicu perdebatan diantara kita?"


Haifa mengangguk, "Haifa juga sering begitu."


"Kita gak bisa menuntut seseorang mau berubah demi kita. Karena yang bersifat tuntutan sama dengan paksaan. Gak ada orang yang senang dipaksa. Kalau hasil paksaan, biasanya perubahannya juga cuma sementara. Atau parahnya dia manut di depan kita tapi membangkang di belakang kita." kata Haifa.


"Begitu juga dengan kita kan? Aku gak bisa menuntut kamu berubah sesuai kemauan aku. Begitu juga kamu yang gak bisa menuntut aku berubah sesuai keinginan kamu. Tapi kita harus komitmen buat sama sama mau menerima masukan dan mau sama sama berusaha menjadi lebih baik."


"Pinter suami aku." kata Haifa, kemudian mencium Alvin sekilas.


"Iyalah jelas. Aku dosen kamu loh Yang."


"Dosen yang terpesona sama mahasiswinya yakan?" kata Haifa sambil memeletkan lidahnya ke arah Alvin.


"Aku gigit kamu."


"Kalau dibuat cerita cocoknya judulnya apa ya mas?"


"Dosenku suamiku? ah udah banyak kayaknya."


"Oh iya Haifa tahu, judulnya Suamimu om-om. Aw.. Sakit mas.." rengek Haifa sambil mengusap hidungnya yang baru saja digigit Alvin.


"Mana ada suami kamu ini om-om. Mas masih mudah Yang, 30 tahun aja belum." kata Alvin.


"Masa?"

__ADS_1


"Yang ah."


"Haha iya bercanda. Jangan marah dong. Nih, Haifa cium biar gak marah." kata Haifa kemudian mencium Alvin.


"Abis muka aku Yang diciumi terus daritadi."


"Jadi gak suka? Yaudah kalau gak suka."


"Ngambek?"


"Nggak."


"Nggak nya wanita itu iya kan?"


"Kata siapa?"


"Kata mas tadi."


"Mas katanya tadi pagi mau ada yang dibahas."


"Oh iya lupa. Udah panjang ngobrol tapi belum sampai ke titik poinnya ya. Kalau lagi berdua sama kamu gini tuh suka lupa segalanya." kata Alvin.


"Aduh tolong terbang aku mas."


"Apa sih Yang garing deh."


"Biarin."


"Ya deh suka suka kamu. Kalau dibantah nanti ngambek ya nggak?"


"Ih sebel."


"Tuh kan manyun." kata Alvin.


"Sini mas lihat leher kamu." kata Alvin sambil mengangkat dagu Haifa agar bisa leluasa melihat leher Haifa


"Kenapa sih?"


"Sebentar." kata Alvin sambil berusaha menggapai laci meja di samping tempat tidur.


"Duduk dulu Yang." kata Alvin.


"Apa sih mas. Jangan aneh aneh ya please. Haifa capek serius deh."


"Nih." kata Alvin menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang.


"Apa ini?"


"Buka dong sayang." Haifa menatap Alvin sebelum membuka kotak tersebut.


"Iya buka aja aman kok."


"Ini testpack ya? Kamu hamil?" tanya Haifa.


"Heh ngaco. Udah buka aja." Haifa segera membukanya.


"Wah mas ini kalung." Alvin mengangguk.


"Tapi kenapa?" tanya Haifa.


"Suami kasih hadiah kok malah nanya kenapa? Gak suka?"


"Bukan gak suka? Tapi hari ini seingat Haifa gak ada moment spesial buat kita dan mas tiba tiba kasih hadiah."


"Yang suami kasih hadiah buat istri kok mesti nunggu moment segala. Kalau mampu mah mau setiap hari kasih hadiah juga sah sah aja kan?"


"Iya tapi kata orang kalau suami tiba-tiba ngasih hadiah, atau tiba tiba romantis itu biasanya ada yang ditutupi... aduh ih sakit. Tadi hidung kamu gigit sekarang jidat aku kamu sentil. KDRT kamu." kata Haifa.


"Gak usah takut sayang. Insya Allah mas gak begitu. Jangan takut, karena ketakutan itu adalah ketidakmungkinan yang kamu semogakan." kata Alvin.


...----------------...


To be continued...


See you next part...


Fillow talknya Alvin dan Haifa kok absurd banget sih thor.

__ADS_1


Percaya deh kalau kita dalam posisi nyaman dan waktu yang tepat itu gak bisa cuma ngobrol fokus di satu titik. Pasti bakal melebar.


Dah gitu aja.


__ADS_2