Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 36


__ADS_3

Sejak kejadian di supermarket hingga saat ini. Terhitung sudah dua hari setelahnya, Alvin belum menjelaskan apapun. Alvin memilih diam, Haifa juga balas mendiamkan. Sebenarnya rasa ingin tahu Haifa cukup besar mengenai alasan Alvin mendadak berperilaku seperti itu. Tapi gengsinya Haifa juga tak kalah besar, Haifa tak mau bertanya lebih dahulu karena Haifa merasa memang Alvin lah yang seharusnya menjelaskan.


Malam ini setelah menidurkan Aina, Haifa masuk ke kamar. Jika dua hari sebelumnya Alvin lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja hingga larut malam. Bahkan sampai Haifa tak pernah tahu pukul berapa suaminya itu masuk kamar. Malam ini Haifa melihat suaminya sudah duduk diatas tempat tidur sambil memainkan handphonenya. Haifa tidak mau peduli, ia lebih memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri  kemudian maraton menonton drama koleksi terbarunya sampai tertidur.


Tapi rencana Haifa tidak sampai terealisasi karena sebelum ia membuka laptop untuk menonton drama. Alvin lebih dulu mencegahnya dengan menyita laptop yang baru sekian detik Haifa nyalakan.


"Mas mau bicara." kata Alvin sambil mengambil laptop milik Haifa dan meletakannya di laci meja samping tempat tidur.


"Bicara aja." jawab Haifa sambil memainkan handphonenya. Lagi lagi Alvin merampas benda yang Haifa pegang.


"Mas mau kamu fokus dengarkan mas. Gak fokus sama yang lain."


"Banyak aturan banget sih. Yaudah cepet mau bilang apa?" kata Haifa dengan nada yang sangat ketus.


Alvin menarik napas panjang.


"Mas mau jujur sama kamu." ucap Alvin. Ucapan Alvin tersebut membuat Haifa menatap Alvin sekilas sebelum tatapannya kembali lurus kedepan.


"Oh mau jujur, berarti kemarin kemarin ada yang gak jujur ya?" ucap Haifa.


"Kamu dengarkan sampai mas selesai dulu ya. Setelah itu baru mas persilahkan kalau kamu mau tanya atau apapun." jawab Alvin.


"Maaf ini bukan di kampus dimana dosen menjelaskan kemudian setelahnya dibuka sesi tanya jawab."


"Sayang tolong dengarkan dulu. Mas gak mau penjelasan yang terpotong potong akan memancing kesalahfahaman." tegas Alvin.


"Yaudah iya cepat mau bicara apa. Gak usah kebanyakan intro." ketus Haifa.


Lagi lagi Alvin menarik napas.


"Kemarin di supermarket itu. Mas lihat mamanya Aina." ucap Alvin.


Haifa spontan langsung menatap Alvin.


"Mamanya Aina sudah lebih dari dua minggu ada di Indonesia." lanjut Alvin dengan cepat karena takut Haifa memotong ucapannya.


"Jujur sebelum pertemuan di supermarket itu mas sudah 2 kali bertemu dengan dia."


Haifa sudah menatap Alvin dengan tajam. Mungkin jika dalam anime anime mata Haifa sudah mengeluatkan cahaya seperti laser yang bisa menembus mata Alvin.


"Yang pertama itu pertemuan gak sengaja. Mas lagi meetting di luar kantor dengan rekan kerja mas. Setelahnya bertemu dia bersama suaminya juga. Tidak banyak yang terjadi kami hanya saling menyapa dengan anggukan kepala. Yang kedua  dia yang menghubungi mas dan ngajak mas bertemu. Dalam pertemuan ini bisa dibilang kurang baik. Dia memberitahu mas kalau kepulangannya ke Indonesia ini untuk memberitahu keluarga besarnya kalau dia bakal pindah dan tinggal di Swedia (Jangan tanya kenapa disana ya. Karena aku tak punya alasan, tiba tiba kata itu yang terlintas di kepala).


"Oh jadi dia kasihtahu mas kalau dia mau pindah ke Swedia dan buat mas itu kurang baik karena mas jadi lebih jauh dari dia gitu?" kata Haifa berhasil memotong ucapan Alvin.


"Belum selesai. Dia beritahu mas kalau dia akan pindah ke Swedia. Itu sama sekali bukan masalah buat mas. Dia pergi ke negara manapun dan sejauh apapun gak akan pernah jadi masalah buat mas. Yang jadi masalah dalam pertemuan itu dia bilang. Kalau dia ingin membawa Aina setidaknya untuk beberapa bulan kedepan. Sampai dia melahirkan. Dia bilang dia ingin Aina mengenal dan tahu tentang adiknya karena beberapa bulan lagi dia akan melahirkan. Dia juga mau Aina bisa mengenal keluarga suaminya. Karena sejak mereka menikah Aina belum pernah sama sekali bertemu keluarga suaminya."


"Dengan tegas mas tolak permintaannya. Iya mas egois memang, Novia juga punya hak atas Aina. Tapi mas gak bisa, mas tau Novia itu perempuan yang gila kerja, ditambah beberapa bulan lagi dia akan melahirkan. Kalau Aina dia bawa, Aina akan diurus sama siapa? Disana yang Aina tahu ya cuma mamanya. Sementara mas gak yakin dia akan bisa membagi waktu antara pekerjaannya, suaminya, bayinya dan Aina. Jadi mas tolak permintaannya, kalau masih sebatas ia bawa Aina ke rumah orang tuanya mas gak masalah. Karena ada eyangnya tapi kalau ke luar negeri mas gak bisa, mas juga memberikan alasan alasan yang tadi mas bilang. Tapi tentunya Novia gak mau menurut begitu saja dia juga berahan dengan argumen argumennya. Dia berjanji hanya sampai dirinya melahirkan setelah itu Aina akan dikembalikan lagi. Tapi tadi mas gak yakin dan Aina juga bukan tipikal anak yang cepat beradaptasi dengan orang lain."


"Novia gak mau kalah, dia memaksa ingin bertemu Aina dan ingin menanyakan sendiri pada Aina. Katanya biar Aina yang menjawab ingin ikut dengan dia atau tidak."


"Iya mas salah karena mas gak jujur dari awal. Tadinya mas kira kepulangan Novia kali ini bisa mas jadikan momentum buat mengenalkan kamu dengan Novia. Tapi setelah pertemuan kedua mas jadi tidak ingin. Mangkanya kemarin mas paksa kamu dan Aina buat lebih dulu ke mobil. Mas gak yakin bisa bicara dengan kepala dingin kalau saat itu kita bertemu."


"Sebenarnya selain alasan alasan tadi mas juga takut kalau Novia nantinya akan sulit mengembalikan Aina ke mas lagi kalau sampai mas izinkan Aina sama dia. Tiga tahun lalu dengan susah payah mas perjuangkan hak asuh Aina di pengadilan. Waktu itu usianya belum sampai setahun. Jika mas tidak berjuang mempertahankan Aina sekuat mungkin, sudah pasti hak asuhnya akan jatuh ke tangan mamanya. Apalagi punya alasan bayi ini masih memerlukan ASI. Tapi untungnya Allah begitu baik. Waktu itu kak Zia dan Vina juga masih menyusui jadi mas bisa menjaminkan jika Aina bersama mas, kehidupannya juga akan baik baik saja. Dia akan tetap mendapatkan apa yang dia butuhkan."


"Dan Alhamdulillah. Allah percaya sama mas saat itu. Hak asuh bisa jatuh ke tangan mas. Dan untungnya Novia tidak memperpanjang lagi." (Tolong di sini kalau ada yang berstatus mahasiswa/i jurusan hukum tolong koreksi jika ada ketidak sesuaian dengan peraturan yang sebenarnya.)


Mendengar uraian uraian penjelasan Alvin. Kemarahan Haifa seketika menguap begitu saja. Tidak memungkiri penjelasan awal yang alvin mengatakan sudah bertemu mantan istrinya terlebih dahulu membuat Haifa marah. Tapi penjelasan diakhir. Membuat Haifa tahu jika suaminya ini sangat peduli dan sangat menyayangi putrinya. Tidak berlebihan jika Haifa katakan Alvin akan melakukan apapun agar kehidupan Aina selalu baik baik saja.


Haifa juga melihat ada raut kesedihan dan ketakutan di wajah Alvin ketika sedang bercerita. Bahkan bagian terakhir tetes bening itu sempat keluar walau tidak terlihat jelas karena langsung diseka oleh Alvin.


Saat ini Haifa sudah mendekat kearah Alvin. Bukan waktunya untuk cemburu, bukan waktunya untuk mengedepankan ego karena merasa Alvin tidak jujur.


Haifa menhgenggam tangan Alvin dengan erat. Yang kemudian dibalas tatapan oleh Alvin.


"Makasih. Udah mau berbagi cerita." ucap Haifa sambil mengusap lembut punggung tangan Alvin.

__ADS_1


"Haifa akan dukung apapun keputusan mas. Haifa akan selalu ada didekat mas. Haifa akan ada di belakan mas mendorong mas agar mas tak pernah mundur. Di samping mas, agar mas tak pernah merasa sendiri. Dan Haifa akan ada di depan mas, agar mas gak bisa lirik lirik dan selalu inget kalau udah ada istri hehe."


Alvin terseyum mendengarnya. Ia balas menggenggam tangan Haifa.


"Mas jangan ragu ya. Ceritakan aja apapun itu yang menjadi beban pikiran mas. Seberat apapun itu ceritakan saja. Karena sekarang mas gak bisa lagi menanggungnya sendiri. Mas harus ingat sekarang ada Haifa yang Insya Allah akan selalu siap berbagi pundak untuk menanggung seberat apapun beban yang mas tanggung."


Lagi lagi Alvin dibuat tersenyum. Ia bersyukur sangat bersyukur. Haifa pengertian dan sangat bisa menerima Alvin.


"Badan kamu kecil begitu mana bisa dikasih beban berat." kata Alvin mulai dengan keusilannya.


"Dih mulai becanda. Ngerusak moment banget sih."


"Haha. Makasih ya, udah mau mengerti dan menerima mas yang sangat banyak kurangnya ini."


"Haifa juga banyak kurangnya. Tapi gak terlihat karena mas selalu berhasil mengcover kekurangan kekurang yang Haifa punya."


"Alah bisa aja."


"Ih beneran tahu."


"Iya iya. Jadi gak marah kan?"


"Awalnya sih pengen marah. Lihat mas yang mendadak aneh. Terus dengar penjelasan awal kalau mas udah ketemu lebih dulu tapi gak bilang sama Haifa. Tapi setelah mas jelaskan lagi. Haifa tau bukan saatnya buat Haifa buta dengan kata cemburu dan ego karena merasa mas gak jujur."


"Berbagi cerita terus yaa sama Haifa. Seberat apapun itu atau sebahagia apapun itu. Karena cerita cerita dari mas lebih menarik dari episode episode drama korea koleksi Haifa."


"Makasih sayang."


"Sama sama."


"Oh iya. Mas belum makan kan? Tadi pulang dari masjid Haifa lihat mas langsung masuk kamar dan gak turun lagi."


"Iya belum."


"Kamu udah makan?"


"Haifa udah tadi sama Aina sebelum isya. Waktu mas masih di masjid."


"Kok gak nunggu mas?"


"Ya kan tadi belum begini. Mas juga tadi masih diamkan Haifa."


"Iya juga ya. Yaudah yuk turun temenin mas makan."


"Gendong boleh gak?" tanya Haifa.


"Mau depan atau belakang?" tanya Alvin.


"Pengennya sih gendong tinggi kayak Aina." jawab Haifa.


"Haha boleh tapi paling setelah itu mas perlu check up ke bagian orthopedi karena bermasalah tulang akibat mengangkat beban terlalu berat."


"Ih. Enak aja Haifa gak seberat itu yaa."


"Hmm. Ayo ah lama." jawab Alvin sambil mengangkat Haifa dari atas tempat tidur dan membawanya ke turun ke meja makan.


Esoknya sudah jauh lebih baik. Alvin dan Haifa sudah seperti semula. Kebetulan sekali hari ini weekend. Alvin tidak berniat kemana mana. Alvin ingin di rumah bersama putrinya.


"Sayang sini." panggil Alvin pada Aina yang sedang asik menyusun puzzle. Tanpa bicara Aina menghampiri Alvin kemudian berdiri di depannya. Alvin mengangkat Aina dan mendudukan Aina dipangkuannya.


"Sayang, papa minta maaf yaa."


Haifa yang hendak ke ruang keluarga sambil membawa piring berisi makanan untuk anak dan suaminya mendadak berhenti sejenak di bingkai pembatas ruang makan dan ruang keluarga.


Aina mendongak menatap Alvin. Alvin tersenyum lalu mengusap pipi Aina.

__ADS_1


"Maaf ya kemarin papa larang Aina buat gak boleh digendong gendong bunda. Juga papa larang Aina biar gak main main sama bunda. Maaf yaa." kata Alvin sambil menatap tepat di manik mata Aina.


"Aina masih boleh kok di gendong bunda. Tapi jangan lama lama ya hehe. Aina juga boleh main sama bunda. Tapi harus hati hati."


"Aina mau kan maafkan papa?"


"Aina boleh main tama bunda? Papa enggak malah?" tanya Aina pelan.


"Enggak sayang. Papa minta maaf yaa."


"Holleee. Kemalin Aina main tendili. Aina kila papa malah."


Alvin seketika diam.


"Maafkan papa yaa." katanya lagi. Berkali kali kata maaf terucap. Menandakan jika memang Alvin merasa sangat bersalah. Ternyata ucapannya sangat berdampak bagi putri kecilnya.


"Aina mau kan maafkan papa?"


"Iya. Tapi papa jangan malah malah lagi ya." jawab Aina.


"Iya sayang. Terimakasih yaa."


"Janji papa." katanya sambil mengulurkan jari kelingking kepada Alvin.


"Papa janji."


"Yeee."


"Ngobrol apa sih seru sekali kayaknya?" tanya Haifa sambil meletakan kedua piring yang ia bawa diatas meja kemudian mendudukan dirinya di samping Alvin.


"Wah pisang goreng." kata Alvin antusias kemudian segera mencomot makanan tersebut dan memasukannya ke mulut. Tapi tangannya segera ditahan Haifa.


"Baca do'a papa."


"Oh iyaa." Alvin meletakan kembali makanannya kemudian mengangkat tangan untuk berdo'a.


"Hmm enak." kata Alvin sambil mengunyah makanan tersebut.


"Aaa. Papa." kata Aina sambil membuka mulutnya.


"No. Ini punya papa." kata Alvin laku memasukan semua pisang goreng yang ada di tangannya.


Aina cemberut karena tidak disuapi oleh papanya.


"Aih papa becanda terus. Sini Aina sama bunda aja." kata Haifa sambil mengangkat Aina kepangkuannya.


"Bunda suapin Aina mau apa?"


"Aina mau pitang goleng."


Haifa menyuapi putrinya.


"Aaa bunda. Papa mau disuapin." kata Alvin.


Haifa hendak memasukan sepotong pisang goreng ke mulut Alvin tapi tangannya kemudian dibelokan oleh Aina.


"No. Papa ini puna Aina." katanya dengan mulut penuh karena pisang goreng tadi masuk ke mulutnya.


"Haha kasian deh dibalas sama anak." ledek Haifa sambil menepuk pelan pipi Alvin.


***


**To be continued...


See you next part**...

__ADS_1


__ADS_2