
Happy Reading...
Minggu pagi seperti biasanya, mereka pergi jalan-jalan pagi di jalanan sekitar rumah sampai ke taman bermain. Bagi mereka jalan pagi itu sangat banyak manfaatnya, selain dapat sehat dan udara segarnya, mereka juga bisa mengenalkan anak-anaknya dengan lingkungan luar dan juga supaya anak-anak bisa beradaptasi dan bermain bersama teman-teman sebayanya di lingkungan rumah.
Walaupun baru bangun tidur beberapa menit lalu dan hanya modal cuci muka dan gosok gigi, tapi Aina sudah tampak semangat untuk jalan pagi. Baru keluar gerbang rumah saja Aina sudah bahagia sekali sepertinya.
Sepanjang jalan menuju ke taman bermain, Aina tidak pernah berhenti bertanya. Menanyakan apapun yang dirinya lihat saat ini.
"Papa ini pohon apa?"
"Bunda ini bunga apa?"
"Papa ih ada ulat."
"Bunda ini kenapa pohonnya enggak tinggi."
"Papa, Bunda itu ada bulung walna walni."
Dan banyak lagi pertanyaan lain dari Aina. Selain ramai karena pertanyaan Aina jalan pagi juga diramaikan oleh ocehan ocehan Aidan yang tidak mau kalau dan ingin selalu ikut serta dalam pembicaraan.
"Papa kucing!"
"Kakak mau pegang!" katanya sambil berlari mendekati seekor kucing putih berbulu lebat.
"Jangan Kakak!" kata Alvin dan Haifa bersamaan. Aina yang posisinya sudah beberapa meter di depan Papa dan Bundanya lansung menoleh. Haifa langsung berjalan mendekat ke arah Aina dan berjongkok di depan Aina.
"Jangan dipegang ya," kata Haifa dengan lembut.
"Kenapa?"
"Kakak alergi, nanti bersin bersin terus hidung kakak merah," kata Alvin sambil mengusap kepala Aina.
"Jangan ya, nanti kalau kakak bersin-bersin terus, hidung kakak merah-merah terus gatal emang Kakak mau?" tanya Haifa. Aina menggeleng.
"Ya udah yuk jalan lagi," kata Alvin.
"Yuk," ajak Haifa sambil menuntun tangan Aina.
Sampai di taman bermain Aina langsung bergabung bermain dengan beberapa anak yang memang sudah Aina kenal sebelumnya. Sedangkan Alvin, ia menemani Aidan untuk berjalan di rumput. Sekarang ini Alvin dan Haifa memang sedang mengajari Aidan berjalan di atas berbagai macam tektur. Kalau di atas tekstur yang keras dan rata seperti lantai itu Aidan sudah biasa. Yang sedang mereka ajarkan sekarang adalah dengan tekstur yang berbeda seperti tekstur berpasir, berbatu dan tanah berumput seperti saat ini.
Tugas Haifa saat ini adalah sebagai seksi dokumentasi yang mendokumentasikan sambil mengawasi anak-anaknya sambil sesekali mengobrol bersama ibu-ibu yang ada disana juga.
"Mbak Haifa enak ya, momong dua anak aja dibantu suami. Saya momong 3 anak yang masih kecil kecil sama satu yang remaja aja masih bisa sendiri," kata salah satu ibu-ibu yang duduk dihadapan Haifa.
"Iya bu Alhamdulillah," jawab Haifa.
"Tapi kita jadi istri juga harus mandiri juga. Jangan apa apa minta bantuan suami, Haifa. Suami udah capek kerja kalau kita sedikit-sedikit minta bantuan suami, sama aja kita gak ada gunanya," kata ibu-ibu yang lain.
"Nah iya bener, suami tuh udah capek tiap hari cari uang. Jadi kalau libur itu udah biar istirahat aja. Jangan malah disuruh momong anak. Yang pengertian jadi istri itu, biar suami betah. Apalagi punya ART yang bantu pekerjaan rumah, masa momong anak aja dibantu suami," ibu ibu yang pertama menyahuti lagi.
Haifa tersenyum, dalam hatinya Haifa berkata, "ibu ibu ini kenapa sih malah membahas keluarga Haifa."
"Iya ibu ibu terimakasih masukannya. Tapi kalau masalah momong anak, Haifa sama Papanya anak-anak memang milihnya buat momong sama sama. Gak ada aturan tugas suami kerja, tugas istri momong anak. Karena ya anak-anak juga butuh Papanya gak bisa cuma sama Ibunya."
__ADS_1
"Jadi ya kalau sehari-hari suami sibuk dan sedikit waktu buat main sama anak-anak. Hari libur begini jadinya cocok, buat suami quality time sama anak-anak," bukan mau sok berani melawan ibu-ibu yang lebih senior dari Haifa. Tapi ini bukan pertama Haifa dibicarakan oleh ibu-ibu mengenai keluarganya, karena setiap minggu pagi bertemu dengan mereka Haifa selalu bersama Alvin jadi dianggapnya Haifa itu gak bisa momong anak sendiri.
"Oh iya mbak Haifa, saya lihat suaminya mbak Haifa gak pakai cincin nikah ya. Biasanya saya lihat selalu pakai. Apa jangan-jangan lagi marahan ya?" kata ibu-ibu lain yang usianya sepertinya tidak jauh di atas Haifa.
"Haha iya mbak. Suami saya gemukan setelah nikah. Jadi cincinnya gak muat," kata Haifa sambil tersenyum.
"Mbak Ayu detil juga ya memperhatikan suami saya,"
"Bundaaaa," panggil Aina sambil berlari ke arah Haifa.
"Apa nak? Haus?"
Aina mengangguk.
"Sini sambil duduk minumnya," kata Haifa sambil mengangkat Aina kepangkuannya.
"Udah belum mainnya? Udah keringetan begini," kata Haifa sambil mengusap kening Aina yang berkeringat.
"Belum, sebental lagi. Kakak lagi lihat adek belajal jalan sama papa. Lucu jalan di lumput, kalau jatoh malah ketawa," kata Aina setelah minum.
"Bunda kakak ke Papa lagi ya."
"Iya. Hati-hati jangan lari."
"Mbak Haifa anaknya yang pertama usia berapa?"
"4 tahun bu."
"Wah udah empat tahun tapi nyebut huruf R masih belum jelas ya."
"Coba ke dokter atuh Mbak. Konsultasi, normal atau tidak tumbuh kembangnya."
Haifa tersenyum, "Alhamdulillah gak kakaknya gak adeknya sering kok konsul ke dokter SPA. Dan tumbuh kembang anak itu emang bervariasi bu," jawab Haifa.
"Huh anak muda jaman sekarang mah susah ya, dikasih masukan sama yang lebih berpengalaman senengnya membantah terus. Mentang-mentang berpendidikan. Inget loh mbak Haifa, pendidikan itu kadang kalah sama pengalaman."
"Iya bu. Haifa serap kok semua masukan ibu ibu. Tapi kan bukan berarti semua masukan bisa kita terapkan. Karena setiap kehidupan, setiap rumah tangga pasti punya polanya sendiri sendiri. Kalau masukan dari ibu-ibu cocok dipola rumah tangga saya, saya terapkan kok. Tapu kalau gak cocok ya saya gak perlu memaksakan kan? Karena memaksakan yang tidak cocok itu sama saja gak ada gunanya kan?"
"Ya Udah ibu ibu Haifa permisi dulu ya. Assalamualaikum."
Haifa pergi dari lingkaran empat orang ibu-ibu yang tadi. Sejak awal juga bukan Haifa yang bergabung dengan ibu-ibu tersebut. Karena awalnya Haifa duduk sendiri dan ibu ibu nya yang menghampiri Haifa.
"Eh ada Mbak Suci di sini," kata Haifa saat hendak menghampiri Alvin.
"Saya tadi mau samperin Mbak Haifa. Tapi saya malas ada bu Adi dkk. Pasti tadi Mbak Haifa dikasih petuah petuah ya?"
"Haha iya. Kok mbak Suci tahu?"
"Sebelum Mbak Haifa, saya disini yang paling muda. Jadi saya yang diospek sama mereka."
"Ada ada aja mbak Suci."
"Ya emang begitu adanya. Jangan di ambil hati ya."
__ADS_1
"Enggak lah Mbak, buat apa. Oh iya pak Heru nya ikut ke taman juga?"
"Tuh lagi momong Rifki barengan sama suami kamu."
"Santai sejenak kita mbak."
"Kelihatannya santai. Tapi anak anak sama Bapaknya apa apa Bunda apa apa Bunda."
"Iya sama aja Mbak kita."
Pukul 10.00 mereka sudah jalan pulang, karena sudah muali panas. Dan sinar matahari di atas pukul 10.00 itu sudah kurang baik.
"Kakak, di pinggir jalannya jangan terlalu tengah," kata Haifa saat Aina yang masih full power sudah berjalan jauh di depannya.
"Padahal udah main dari pagi tapi Aina kayaknya masih full aja baterai nya," kata Alvin.
"Alhamdulillah, tandanya dia sehat Papa. Gak apa apa mending begini senang lihatnya. Daripada lihat Aina diam, lemas, malah gak tega," kata Haifa.
"Kamu tadi kayaknya seru banget ngobrol sama ibu ibu. Sampe gak nyamperin Mas."
"Seru apanya. Yang ada Haifa... Ah iya Mas, sini coba tangan kanan mas?"
"Ngapian sih?" tanya Alvin sambil menyerahkan tangan kanannya.
"Cincin nikahnya mana?"
"Oh, ada tadi abis subuh kan Mas work out sebentar. Jadi cincinnya Mas lepas. Soalnya udah agak sempit."
Haifa mengangguk, "Kenapa? Marah gara-gara Mas gak pakai cincin?" tanya Alvin.
"Hah. Enggak kok. Tadi ada ibu ibu yang perhatian banget sama Mas. Sampe merhatiin mas gak pakai cincin nikah."
"Bu Gery bukan?"
"Iya. Kok mas tahu?"
"Kayaknya sebelum dia nyamperin kamu, dia nyapa mas duluan. Terus anaknya main sama Aina."
"Haifa jadi makin malas deh mas kalau ada acara kumpul ibu ibu di lingkungan sini."
"Kenapa? Bukannya kata kamu ibu ibunya baik baik."
"Iya emang cuma beberpa aja yang suka berkomentar. Tapi ya dari segelintir ornag yang suka berkomentar itu mereka bisa menggiring pembicaraan dan jadinya malah ghibah."
"Haifa itu bukan orang suci. Mungkin masih banyak dosa dari lubang yang lain. Jadi buat apa Haifa nambahin lubang dosa dari ghibah."
"Terus nih Haifa mau tanya, kalau Haifa masuk suatu grup nih. Terus di grup tersebut ada yang ghibah. Nah kalau gitu Haifa kebagian dosanya gak sih? Haifa gak ikut ghibah. Tapi Haifa ada di grup tersebut. Jadi gimana?"
...****************...
To be continued...
See you next part...
__ADS_1
*Hayoo ada yang bis jawab pertanyaan Haifa gak?