Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 70


__ADS_3

Happy Reading...


Sudah seminggu Aina dan Aidan dirawat di rumah sakit. Selama seminggu juga Alvin masuk kantor. Alvin dan Haifa juga masih dingin-dingin empuk. Berita baiknya besok keduanya sudah diizinkan pulang.


"Bun, nanti papa pulang dulu ya. Soalnya mau ada orang yang fogging rumah."


Semenjak Aina dan Aidan terdiagnosa DBD, Alvin memang meminta jasa fogging untuk menyemprot rumahnya. Walaupun belum tentu Aina dan Aidan terjangkitnya saat di rumah. Tapi tetap saja Alvin ingin menjaga.


"Pulang aja, gak ada yang larang." jawab Haifa seadanya.


"Papa..." panggil Aina.


"Ada tuh yang larang." bangga Alvin.


"Apa sayang." kata Alvin pada Aina.


"Kakak mau pulang sama papa." kata Aina.


"Belum boleh sayang. Besok kakak baru boleh pulang." kata Haifa.


"Gak mau. Mau sekalang. Kakak udah sembuh." katanya.


"Kan kata papa, kalau kakak udah sembuh boleh pulang. Telus boleh beli loti telbang."


uhuk... Alvin tersedak air liur nya sendiri.


Beberapa waktu lalu saat Aina bertanya mengenai roti tebang, dengan percaya diri Alvin menjawab, "Kakak harus sembuh dulu. Nanti kalau kakak udah sembuh papa belikan kakak roti terbang." Saat itu Haifa coba mengintrupsi tapi Alvin sudah terlalu percaya diri dengan jawabannya. Alvin pikir, Aina bakal lupa dan Alvin salah besar. Ingatan Aina terlalu kuat untuk melupakan kata-kata Alvin seminggu lalu. Sekarang Alvin harus menjawab apa lagi? Apa Alvin harus menjawab "nanti papa kasih tahu kakak, kalau kakak sudah besar" begitu? Ah tidak bisa. Alvin sudah terlanjur berkata akan membelikan Aina roti terbang. Haifa sudah ingin tertawa melihat ekspresi Alvin. Tau rasa kan, dikira anaknya ini seperti Alvin yang pelupa.


"Eh anu. Bun kakak emang udah boleh makan roti ya?" tanya Alvin sambil kedip-kedip ke arah Haifa, seakan meminta bantuan.


"Boleh kok." jawab Haifa sangat tidak pro dengan Alvin.


"Tuh kan boleh. Papa kakak mau loti telbang." Haifa sudah benar-benar ingin tertawa sekarang. Melihat wajah bingung Alvin yang tidak berkutik di depan seorang anak kecil.


"Tapi kak. Tadi papa ke izinmart di sana roti terbangnya abis. Nanti ya kalau ada."


"Aaa namau." rengek Aina.


"Yaudah si pa cari di tempat lain." jawab Haifa enteng. Alvin gemas, ini istrinya betul-betul ya memanfaatkan Aina untuk memuaskan sisa sisa kekesalannya pada Alvin.


"Bun..." protes Alvin.


Alvin diam saja. Yang semula ia sudah siap untuk pulang. Kembali duduk di sofa. Sibuk dengan handphone nya, siapa yang tahun di balik handphonenya itu Alvin sedang mencari-cari toko kue yang mungkin saja menyediakan aneka bentuk roti.


"Yaudah nanti papa coba cari. Tapi kakak janji kalau papa gak ada kakak gak boleh marah. Harus terima nanti kita cari lagi lain waktu. Dan kalau papa dapat kakak harus makan dan habiskan janji?" kata Alvin sambil berjalan mendekat ke tempat tidur Aina, kemudian mengulurkan kelingkingnya.


"Janji." katanya. Aina dan Aidan saat ini memang sudah jauh lebih segar dan ceria dari benerapa hari sebelumnya. Bahkan saat ini nafsu makan Aina juga semakin baik terbukti dengan dua hari belakangan ini ada saja pesanan makanan dari Aina. Termasuk saat ini roti terbang.


Setelah perjanjian kelingking dengan kelingking diatas bedcover motif mickey mouse milik Aina. Alvin berpamitan untuk pulang sebentar.


"Ini bawa ini aja kan bun?" tanya Alvin sambil menjinjing tas berisi pakaian kotor yang sebelumnya sudah disiapkan Haifa.


"Bawa handphone, dompet, kunci rumah, kunci mobil." ucap Haifa mengabsen daftar benda yang sering dilupakan Alvin. Alvin mengecek kembali waist bag on white miliknya.


"Kunci rumah bun hehe." ucap Alvin setelah tidak menemukan kunci rumah dalam tasnya. Alvin ini gimana coba mau pulang tapi lupa bawa kunci rumah. Dipikir dia sekecil semut bisa masuk lewat celah bawah pintu?


"Kebiasaan." omel Haifa. Alvin berusaha memberikan senyuman paling manis agar Haifa tidak lanjut mengomel.


"Tuh ambil aja di tas bunda." tunjuk Haifa pada tasnya yang berada di sofa. Ia terlalu malas untuk bangun dari tempat tidur Aina.


"Oke udah. Papa pulang dulu ya. Assalamualaikum." kata Alvin setelah berpamitan dan satu persatu mencium tangannya.


"Waalaikumsalam." jawab Mereka kecuali Aidan yang berada di gendongan Haifa.


"Loti telbang jangan lupa papa." kata Aina. Tuhkan Alvin masih kelihatan saja sudah diingatkan. Bahaya ini kalau sampai tidak dapat.


Dari segi perubahan fisik Aidan dan Aina memang sudah layak pulang. Hanya saja Aidan dan Aina sama-masa masih harus menunggu hasil tes darah dan pemeriksaan dokter hari ini. Apabila hasil cek darah dan pemeriksaan dokter sudah stabil. Maka rencana pulangnya besok bisa lancar.


Siang hari dokter spesialis anak yang memeriksa Aina dan Aidan datang untuk memeriksa keduanya.


"Bagaimana bu masih ada keluhan?" tanya dokter setelah memeriksa Aina.


"Kakak ada yang sakit enggak coba cerita sama dokter." kata Haifa.


"Takit ini." katanya menunjuk tangannya yang masih terpasang infusan.


"Hahaha iya itu besok ya dilepas kalau kakak cantiknya udah mau pulang." kata dokter.


"Besok aja nih dok pulangnya? Gak bisa hari ini?" tanya Haifa.


"Hasil cek darah lengkapnya kan belum keluar bu. Baru tadi pagi kan di ambil darahnya?" tanya dokter.


"Iya sih. Kapan dok, sus hasil darah lengkap keduanya keluar?" tanya Haifa.


"Paling lambat besok pagi bu." jawab suster.


Haifa mengangguk.

__ADS_1


"Ini yang adeknya kelihatannya ada keluhan lagi gak bu? Makan sama minum susunya gimana?" tanya dokter.


"Minum susunya udah bagus dok. Kalau MPASI nya juga lumayan. Tapi gak sekuat minum susunya." kata Haifa.


"Tapi mau makan kan?"


"Mau kok. Cuma belum senafsu biasanya aja dok."


"Kakak cantik gimana makannya abis gak?" tanya dokter. Aina menggeleng.


"Kok gak abis. Kalau mau cepat pulang harus habis dong makannya." kata dokter.


"Nanti yang habis ya makannya. Mau cepat pulangkan?" kata dokter. Aina mengangguk.


"Yasudah bu kami permisi. Advice dari saya saya besok boleh pulang kalau semua hasil cek darah lengkapnya sudah stabil semua." kata dokter sebelum meninggalkan ruangan.


"Terimakasih dok."


"Tuh kan kata dokter kalau kakak mau cepat pulang kakak makannya harus habis. Tadi siang kakak makannya gak habis." kata Haifa.


"Nggak enak bunda. Kakak mau makan sayul blokoli tapi di lumah." katanya.


Untuk anak seusia Aina yang biasanya sulit makan sayur, Haifa bersyukur karena Aina tidak termasuk anak yang sulit makan sayur. Awal Haifa masuk ke kehidupan Alvin dan Aina, memang beberapa sayur saja yang Aina suka. Seperti, brokoli, wortel, kembang kol dan bayam. Sayuran lainnya Aina tidak mau. Tapi bukan karena tidak suka melainkan Aina belum pernah mencobanya. Wajar saja karena sebelumnya Alvin sibuk dan tidak selalu mengontrol apa saja yang menjadi asupan Aina. Makadari itu setahun lebih menikah dengan Alvin dan menjadi ibu sambung Aina. Haifa tidak bosan, untuk menyajikan menu yang selalu ada jenis sayuran berbeda setiap hatinya. Walaupun skil memasak Haifa belum mumpuni dan selalu jadi penilaian sang ibu mertua. Tapi masalah memasak makanan yang simpel, sehat dan tidak perlu banyak bumbu Haifa sangat bisa membuat yang berbeda setiap harinya.


"Iya nanti kalau udah di rumah. Kakak bilang aja sama bunda mau makan apa. Tali sekarang karena kakak belum sembuh betul. Jadi sabar dulu. Kakak makan yang ada di rumah sakit dulu ya. Anak baik kan gak boleh pilih-pilih makanan." kata Haifa.


"Eh papa telepon nih kak." kata Haifa saat handphone di nakas samping tempat tidur Aina bergetar.


"Assalamualaikum bu." panggil Alvin.


"Waalaikumsalam." jawab Haifa dan Aina.


"Eh ada kakak. Bun jangan dispeaker dulu." kata Alvin.


"Sayang papa mau bicara sama bunda dulu ya." pamit Alvin pada Aina.


"Papa loti telbang." kata Aina.


"Iya sayang iya. Sekarang papa ngobrol sama bunda dulu ya." kata Alvin.


"Iya." kata Aina. Haifa menonaktifkan metode speaker.


"Bun, cari roti dimana?" tanya Alvin.


"Hah?"


"Iya cari roti dimana? Ini papa udah beres yang foggingnya. Udah mau ke rumah sakit lagi. Tapi keingetan roti. Beli dimana?" tanya Alvin.


"Sayang ayolah. Skip dulu keselnya. Ini kalau mas gak bawa roti bisa gak mau makan Aina." kata Alvin. Ia memanggil sayang karena memang tidak di dengar Aina.


"Ya mangkanya lain kali kalau jawab pertanyaan itu hati-hati. Jadi susah sendiri kan. Tahu anaknya pintar." kata Haifa.


"Iya maaf sayangku. Sekarang gimana dong. Jangan ngomel dulu. Mas gak bisa lihat wajah ngomel kamu yang bikin gemas." kata Alvin.


"Ih apa sih."


"Udah merah gak pipinya?" tanya Alvin.


"Udah ah."


"Yaudah cari kemana dong?"


"Ketika sari coba." saran Haifa.


"Emang ada?" tanya Alvin.


"Ya kan coba papa." kata Haifa gemas.


"Terus kemana lagi?"


"Apotek."


"Kok apotek."


"Iya atuh emang kalau cari roti harusnya kemana? Emang rencananya mau beli roti apa?" tanya Haifa.


"Gak tau juga. Mana ada roti yang bisa terbang. Rencana sih beli roti yang bentuk burung gitu biar gampang ngejelasinnya." kata Alvin.


"Yaudah bagus." jawab Haifa.


"Pintarkan ide mas Yang? Cerdaskan? Iya emang mas itu idaman. Bangga gak nikah sama mas? Suami dan papa able banget kan?" kata Alvin dengan penuh percaya diri.


"Idih. Bawa dulu roti terbang ke sini baru tuh boleh bangga dan nganggap diri sebagai papable. Tapi bukan suamiable." kata Haifa.


"Ah masa bukan suamiable? Nanti kalau mas dapat rotinya baikan ya? Ah harus pokonya mah. Udah seminggu loh yang gak baik." kata Alvin.


"Gak ada perjanjian begitu."

__ADS_1


"Ya kan diadain."


"Cari dulu itu roti, anaknya bisa gak mau makan nanti."


"Pokoknya kalau dapat baikan ya? Kan setara sama perjuangannya." bujuk Alvin.


"Anaknya aja nanti mau terima gak? Mau makan sampai abis gak." kata Haifa.


"Huh. Yaudah mas jalan dulu. Cari roti dulu. Mau dibelikan apa? Buat makan makan malam nanti sore mungkin? Cemilan?" tanya Alvin.


"Kakak mau titip sesuatu lagi gak sama papa?" tanya Haifa pada Aina yang bisa didengar Alvin. Haifa sudah kembali menggunakan mode speaker.


"Papa kakak mau es klim."


"No." Jawab Haifa segera. Aina sudah cenberut. Alvin terkekeh di balik sambungan telepon.


"Nanti kalau kakak udah sembuh. Bunda gak larang. Sekarang kan kakak masih sakit. Infus aja masih nempel." tunjuk Haifa pada infusan di tangan kiri Aina.


"Mau ini nempelnya lebih lama?" tanya Haifa. Aina menggeleng. "Jadi kakak nurut dulu ya. Gak boleh makan es krim dulu." Aina mengangguk.


"Jadi mau titip apa lagi sama papa?" tanya Haifa pada Aina.


"Susu boleh?" tanya Aina sambil mendongak menatap Haifa. "Boleh dong. Nih kakak bilang sama papa mau susu apa."


"Papa kaka mau susu cokat sama stlawbeli." katanya dengan semangat. "Siap sayang." kata Alvin.


"Bunda titip apa? Udah makan belum? Papa beli makan ya. Nanti makan bareng di sana." kata Alvin.


"Ya." kata Haifa. tidak mungkin menolak juga kan. Haifa belum makan dan meninggalkan anak-anak untuk sekedar makan ke kanti juga tidak memungkinkan.


"Oke papa tutup ya. Assalamualaikum"


Keberuntungan tampaknya berpihak pada Alvin. Di toko kue yang cukup terkenal dan lumayan jauh dari rumah maupun rumah sakit. Alvin menemukan dua, hanya sisa dua roti berbentuk burung. Tidak banyak pikir, Alvin langsung mengambil dua roti berbentuk burung tersebut. Juga membeli beberapa roti lain.


"Papa ini loti telbang?" kata Aina memegang roti berbentuk burung yang baru saja Alvin belikan.


"Iya, kan itu bentuknya burung. Burung bisa terbang gak?" tanya Alvin. Aina mengangguk.


"Yaudah, dimakan dong." kata Alvin.


"Tapi ini lotinya gak telbang papa." protes Aina.


"Sini." Alvin memotong sedikit bagian roti tersebut, kemudian meniupnya.


"Tuh terbangkan?" tanya Alvin. Lagi Aina mengangguk. Dalam hati Haifa ingin menertawakan. Tapi cukup salut juga dengan usaha Alvin.


"Yaudah sekarang makan dong. Papa cape loh carinya." kata Alvin dengan wajah yang dibuat memelas. Aina mulai memakan rotinya.


"Enak." katanya.


"Bilang apa dulu dong udah dibelikan rotinya sama papa." kata Haifa.


"Hehe timakasih papa." katanya.


"Sama sama sayang. Papa senang kakak udah ceria lagi udah mau makan lagi." kata Alvin sambil mengecup kepala Aina.


"Bun, artinya baikan dong. Rotinya diterima, dimakan dan dibilang enak juga." bisik Alvin di telinga Haifa.


"Pintarkan nyarinya. Ini bukan di ketikasari loh bun. Udah ke ketikasari gak ada. Ini papa keliling perjuangan loh bun." kata Alvin.


"Lumayan lah." jawab Haifa.


"Baikan dong?"


"Makan dulu lapar. Mumpung Aina lagi anteng dan Aidan tidur." kata Haifa. Alvin tersenyum, kenapa sih istrinya itu menggemaskan sekali.


"Malu banget sih mau bilang. Iya mas Haifa maafin kita baikan." kata Alvin menirukan Haifa. Saat Haifa sedang menyiapkan makanan di sofa dan meja yang ada di ruangan.


"Ngarep." jawab Haifa.


"Iya kan, Mas harus gimana lagi Yang masa gak percaya juga. Mas juga kan udah ma mmm" kata Alvin sambil mengunyah karena Haifa malah menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke mulutnya. Walaupun sedikit kaget tapi Alvin bahagia. Karena ini perubahan positif. Kalau masih marah mah. Boro-boro mau nyuapin. Ngomong aja sehuruf inget ya huruf bukan kata.


"Lagi..." kata Alvin sambil membuka mulutnya.


"Sendiri." jawab Haifa.


"Tanggung sayang. Pamali gak boleh setengah-setengah kalau berbuat baik. Tadi kan kamu dengan sukarela nyuapinnya." kata Alvin.


"Yaudah sini gantian." kata Alvin sambil menyendokan nasi dan mengarahkannya ke mulut Haifa.


"Enggak. Ih mas apa sih. Dilihat anak juga malu."


"Yang, anak itu sesekali butuh melihat keromantisan diantara orangtuanya. Biar dia tahu kalau orangtuanya itu saling menyayangi. Ketika ia tahu orangtuanya saling menyayangi makan anak akan lebih merasa bahagia, nyaman dan terlindungi." kata Alvin.


Luput dari pengawasan kedua orangtuanya yang sedang makan. Di atas tempat tidur Aina bukan sedang memakan rotinya, melainkan sedang mencubitinya dan meniupinya agar menjadi roti terbang. Menyerupai yang tadi Alvin lakukan.


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2