Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 53


__ADS_3

Happy Reading...


Pukul 02.00 Alvin yang baru selesai dengan shalat malamnya bergabung kembali di atas kasur bersama sang istri. Diciuminya Haifa berkali kali.


"Udah dong mas. Pusing tahu baru tidur satu jam. Diganggu terus, semalam mau tidur diganggu. Gak ada capenya apa? Heran." jawab Haifa dengan mata terpejam.


Alvin hanya terkekeh. Ia memang ini semua karena kelakuannya.


"Mas malah belum tidur sama sekali loh." jawab Alvin sambil mengusap kepala Haifa.


Haifa tidak menanggapi.


"Bangun yuk. Kamu mandi, abis itu kita sama sama masak untuk sahur." kata Alvin.


"Beneran ya bantu?" kata Haifa.


"Iya. Udah sana mandi."


"Yaudah. Mas juga ganti baju." kata Haifa saat melihat Alvin masih mengenakan baju koko dan sarungnya.


Keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian, Haifa melihat Alvin tertidur. Tidak tega jika harus membangunkan suaminya. Biarlah suaminya itu tidur.


Sebelum ke dapur Haifa terlebih dahulu melihat Aidan yang terlelap di dalam box nya. Putra kecilnya itu nampak masih sangat nyenyak dalam tidurnya setelah beberapa jam lalu terbangun dan membuat papanya merengut.


***


"Capcai, udang dan tempe goreng cocok kayaknya." ucap Haifa sambil mengeluarkan beberapa bahan masakan dari dalam kulkas.


Ketika sedang asik memasak, Haifa dikagetkan dengan kedatangan Alvin.


"Kok Mas gak dibangunkan?" tanya Alvin.


"Katanya mas belum tidur. Jadi yaudah Haifa gak bangunkan biar mas tidur. Mas kan harus kerja, nanti gak fokus kalau kurang tidur." kata Haifa sambil membalik tempe yang sedang ia goreng.


"Hari ini kantor udah mulai libur sayang." kata Alvin.


"Loh kok? Emang ini udah ramadhan ke berapa?" tanya Haifa.


"Ini udah h-3 sayang." kata Alvin.


"Wah iya ya Haifa lupa."


"Kebiasaan. Mikir apa sih sampe lupa." kata Alvin.


"Enggak sih. Haifa cuma menikmati aja. Jadi gak berasa udah mau berakhir aja. Pantesan dari kemarin Aina udah ngerengek terus minta baju lebaran." kata Haifa.


"Oh iya? Terus gimana? Mau belanja sekarang?" tanya Alvin.


"Kalau baju sih Haifa udah minta dibuatkan sama teh Hilya. Jadi nanti kita berempat bajunya samaan. Lucukan?"


Alvin tersenyum lalu mengangguk.


"Sini mas bantu." kata Alvin.


"Udah selesai kok. Tinggal ditata aja. Mas tolong bawakan udang dan capcay nya ke meja aja ya." kata Haifa sambil menunjuk kearah piring yang berisikan capcay dan udang.


"Udah beres. Mas tunggu ya. Haifa bangunkan Aina dulu."


Tidak lama Haifa sudah kembali ke ruang makan sambil menggendong Aina.


"Kok digendong. Sini sama papa." kata Alvin.


Aina menggeleng sambil menyembunyikan wajahnya dileher Haifa.


"Kakak duduk ya." kata Haifa.


"Sama bunda."


"Iya di sini dekat bunda. Kakak duduk dulu, bunda ambilkan makan buat papa sama buat kaka dulu."


Aina mengangguk patuh.


Setelah makan sahur seperti biasanya Alvin pergi ke masjid.


"Bunda puasanya belapa hali lagi?" tanya Aina ketika selesai shalat subuh bersama Haifa.


"Tiga hari lagi. Kakak hebat ya, ikut puasa terus. Pintar sekali anak bunda ini."


"Telus lebalan?"


"Iya."


"Kakak mau beli baju lebalan bunda." rengeknya.


"Kan baju kakak banyak."


"Tapi kakak mau beli baju lebalan."


"Boleh. Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Kalau kakak beli baju baru. Berarti baju kakak bertambah banyak kan?"


Aina mengangguk.


"Kakak tahu enggak. Kalau di luar sana, banyak loh teman teman kakak yang bajunya gak sebanyak kakak."


"Kakak tahu. Kemalin pas belangkat sekolah. Di jalan kakak lihat kakak kakak minta uang sama papa lewat jendela. Baju kakaknya jelek, bolong bolong, kotol."


"Nah, kakak mau kan kalau baju baju kakak sebagian dikasih buat teman teman kakak di luar sana?"


"Mau!" jawabnya dengan antusias.


"Alhamdulillah. Nah berarti sekarang kakak pilih ya baju baju yang mau kakak kasih."

__ADS_1


"Banyak atau sedikit?" tanya Aina.


"Terserah kakak. Yang udah gak mau kakak pakai aja."


"Oke deh. Kakak ke kamal ya bunda. Assalamualaikum." katanya sambil berlari.


Gadis kecil itu membuka lemari pakaiannya.


"Yang mana ya?" katanya sambil memiringkan kepala ke kanan dan kekiri.


"Oh aku tahu." katanya lagi.


***


"Assalamualaikum." ucap Alvin yang baru pulang dari masjid dan baru memasuki kamar.


"Wa'alaikumsalam."


"Aidan belum bangun?"


"Belum. Udah jangan di ganggu dong papa." kata Haifa saat Alvin hendak menciumi Aidan.


"Sedikit bunda. Oh iya kakak mana? Tidur lagi?"


"Enggak. Kakak lagi pilih pilih baju."


"Hm? Buat apa?"


"Buat disumbang papa. Kan dia minta beli baju baru. Haifa bilang aja. Boleh tapi ada syaratnya. Syaratnya kakak harus mau baju baju lamanya dibagi ke orang lain gitu."


"Oh iya. Kemarin juga pas berangkat sekolah. Dia lihat pengemis anak anak. Dia langsung bisik bisik. Ih papa kakaknya banyunya kotol, bolong telus jelek. Mau kakak kasih tapi kakak gak bawa baju."


"Iya dia juga tadi cerita sama Haifa."


"Kita lihat coba yuk." kata Haifa.


Saat mereka masuk ke kamar Aina. Gadis kecil itu sedang mengeluarkan hampir semua isi lemari yang terjangkau olehnya.


"Assalamualaikum." ucap Alvin dan Haifa saat memasuki kamar Aina.


"Wa'alaikumsalam. Papa papa tolong ambil semua yang di atas. Kakak gak sampai. Loncat loncat juga susah." katanya sambil menarik tangan Alvin dan mendekat ke lemari pakaiannya.


"Ini semua baju baju kakak mau dibagi?" tanya Alvin.


Aina mengangguk cepat. Lalu menoleh ke arah Haifa.


"Yakin kak semua?" tanya Haifa.


"Iya."


"Nanti kakak pakai baju apa dong?"


"Ini." katanya menunjuk baju yang ia pakai.


"Emang cukup satu?"


"Kalau papa gak mau belikan gimana?" tanya Alvin.


"Bialin. Nanti kakak minta belikan. Sama umi sama kai, sama kakek sama nenek, sama om Ken. Nanti papa dimalahi nenek kalena papa nakal wle."


Haifa dan Alvin hanya geleng geleng kepala.


Setelah drama menyumbangkan seluruh isi lemari yang dibuat oleh Aina. Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Karena kebutuhan Hilya, kakaknya Haifa mengantarkan baju yang dipesan Haifa.


"Nih baju lebaran kakak. Sini coba dulu." kata Haifa.


Aina dibantu Haifa untuk mengenakan baju tersebut.


"Bagus gak? Kakak suka gak?" tanya Haifa.


"Bagus. Kakak suka. Cantik kan." katanya sambil berputar putar.


"Kalau kakak suka. Bilang apa dong sama aunty. Auntykan yang buat."


"Telimakasih aunty Ilya." katanya sambil berlari dan memeluk Hilya.


"Sama sama sayang. Kalau kakak suka nanti aunty buatkan lagi baju baju gamis mau?"


"Mau aunty. Holeee nanti kakak punya banyak baju balu."


"Berarti papa gak harus belikan baju baru ya."


"Halus dong."


"Loh. Kan udah dapat dari aunty."


"Pokonya halus bial baju balu kakak banyak." kayanya sambil bertolak pinggang menghadap Alvin.


Semuanya hanya tersenyum melihat tingkah Aina.


***


Setelah heboh perihal baju. Tidak lama kemudian Aina meminta izin untuk bermain ke rumah Thania yang rumahnya hanya terhalang satu rumah.


"Bunda, kakak mau main ke lumah Thania boleh?"


"Boleh. Tapi diantar papa ya." Kaya Haifa.


"Oke bunda." jawabnya.


"Papa..." panggilnya sambil berlari ke luar rumah. Karena Alvin sedang berada di luar.


"Ayo papa!" katanya sambil mengamit tangan Alvin.


"Loh mau kemana kak?" tanya Alvin.

__ADS_1


"Ih papa. Kakak mau main ke lumah Thania." jawabnya.


"Udah izin bunda?"


"Udah."


"Kata bunda apa?"


"Boleh. Tapi diantal papa."


"Papa gak mau ah. Sana kakak sendiri aja." kata Alvin sambil melepaskan tangannya dari genggaman Aina.


"Ih papa mah. Ayo papa sayang." bujuknya.


"Enggak ah."


"Papa sayang please." katanya sambil menggoyangkan tangan Alvin. Alvin tidak merespon.


"Papa ganteng deh." rayunya lagi.


"Papa udah tahu." jawab Alvin.


Aina yang sudah sebal, melipat tangannya di dada sambil cemberut.


"Ih papa nakal. Kakak sebel sama papa." katanya sambil menghentakan kaki dan berjalan kedalam rumah.


Alvin hanya terkekeh. Setelah ini putrinya pasti akan mengadu pada bundanya.


"Huaaaaa Bundaaaaa..." teriak Aina sambil menangis.


Dugaan Alvin tidak salahkan. Menjahili putrinya sepertinya adalah kesukaan Alvin. Alvin ikut masuk ke dalam rumah. Benarkan sekarang Aina sedang memeluk kaki bundanya yang sedang menimang Aidan.


"Bunda papa nakal."


"Nakal kenapa sayang?" kata Haifa kemudian duduk di sofa agar tingginya sepadan dengan Aina.


"Papa gak mau antal kakak ke lumah Thania."


"Kakak minta tolong sama papanya baik baik gak?"


"Baik baik kok. Kakak udah bilang papa sayang, papa ganteng, please gitu. Tapi papa nakal gak mau antal."


Alvin yang memang berada tidak jauh dari mereka bisa mendengar dengan jelas segala pengaduan Aina.


"Siapa bilang? Papa mau kok." kata Alvin sambil mendekat dan tersenyum sebaik mungkin.


"Bohong. Tadi papa gak mau!" jawab Aina.


"Papa mau. Tadi papa becanda sayang."


"Yaudah yuk papa antar." kata Alvin sambil meraih tangan Aina.


"No. Tadi papa bilang enggak."


"Becanda sayang."


"Enggak mau!" tolak Aina.


"Mau sama bunda aja." kata Aina sambil kembali memeluk kaki Haifa.


"Kenapa sih. Iseng terus sama anaknya." kesal Haifa sambil menatap Alvin.


"Ya kan becanda sayang. Maaf."


"Bunda ayo." kata Aina.


"Yuk sama papa yuk. Bundanya mau lagi sama ade." kata Alvin.


"Enggaaaakkkk." kata Aina sedikik kencang. Menyebabkan Aidan yang sudah tidur kembali bangun dan menangis.


Haifa hanya menarik nafas panjang.


"Pelan pelan sayang. Adeknya sampe bangun loh." kata Haifa.


"Maaf bunda. Maaf adek." katanya.


Haifa tersenyum sambil mengelus pipi Aina. Untuk anak seusia Aina, sepertinya belum saatnya ditegur terlalu keras. Cukup diberitahu hingga ia menyadari kesalahannya dan berani meminta maaf saja rasanya sudah cukup.


"Jangan diulang ya. Janji?"


"Janji." katanya sambil menautkan kelingkingnya dengan kelingking Haifa.


"Papa juga gak boleh jahil teris sama kakak." kata Haifa.


"Iya bunda." jawab Alvin.


"Wleee." kata Aina sambil mengulurkan lidah ke arah Alvin.


"Kok jadi kakak yang usil?"


"Hehe maaf lagi bunda."


"Sama papa?" tanya Haifa.


"Maaf papa."


"Udah baikan kan? Yuk sama papa." kata Alvin.


"No. Kakak masih sebel." jawabnya.


***


To be continued...


See you next part...

__ADS_1


Dan maaf ya kalau lama menunggu.


__ADS_2