Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 66


__ADS_3

Happy Reading...


Waktu cepat sekali berlalu. Tidak terasa sudah 6 bulan Aidan hadir menjadi anggota baru di keluarga mereka.


"Bun, kakak seneng deh adek udah bisa guling guling." kata Aina.


"Iya dong adek kan udah gak sabar mau main sama kakak."


"Yeee adek cepat besal ya. Nanti main sama kakak. Main sepeda."


"Iya kakak." jawab Haifa sambil meniru suara anak-anak. Sedangkan Aidan hanya tersenyum sambil menggerakan kaki dan tangan.


"Assalamu'alaikum. Sayang-sayang ku." kata Alvin yang baru saja datang dan langsung menghampiri mereka di ruang keluarga dan langsung mencium satu persatu orang tersayangnya.


"Wa'alaikumsalam." kawab Haifa dan langsung mencium tangan Alvin kemudian diikuti Aina. Haifa bangun dari duduknya dan berjalan ke dapur mengambilkan minum untuk Alvin.


"Ni minum dulu." kata Haifa sambil menyerahkan satu gelas besar air putih pada Alvin.


Aina masik asik main bersama Aidan. Bukan main sih lebih tepatnya Aina heboh sendiri, Aidan mah stay cool aja sambil tengkurap dan ****-**** mainan. Hanya sesekali senyum tipis-tipis ketika sang kakak menggodanya.


"Pijat dikit dong Bun di sini." kata Alvin sambil menepuk pundaknya sendiri.


"Yaudah papa duduknya di karpet biar gampang pijatnya." kata Haifa.


"Senang ya lihat mereka semakin besar." kata Haifa.


"Iya Aidan juga dari tadi guling-guling terus. Sekarang aja capek kayaknya tuh jadi diam." kata Haifa.


"Aidan udah boleh jalan-jalan jauh belum sih bun?" tanya Alvin.


"Kenapa emang? Mau ajak jalan-jalan?" tanya Haifa.


"Ada pekerjaan kantor di luar kota."


"Kapan?"


"Minggu depan."


"Harus banget mas yang berangkat?"


"Iya soalnya ini kan mau pembukaan cabang baru."


"Kemana?"


"Surabaya. Bisa gak kamu ikut sama anak-anak juga?"


"Emang berapa lama?"


"Tiga hari. Ikut ya nanti kita sempatkan jalan jalan." jawab Alvin.


"Gimana ya. Jalan-jalannya sih mau banget pa. Tapi gimana ya mas kan kerja. Kalaupun menyempatkan jalan-jalan juga pasti gak akan nyantai. Yang ada repotnya aja bawa anak-anak. Tahu sendiri kan bawa dua anak mah jalan-jalan ke mall aja udah kayak mau nginep bawaannya. Apalagi sekarang si adek udah mpasi. Jadi harus bawa alat steam segala macam." kata Haifa.


"Iya juga sih." kata Alvin.


"Hm mas jadi malas perginya. Gak mau jauh-jauh sama kalian. Mas gak tega tinggal kalian di rumah." kata Alvin sambil memijat pelipisnya.


"Jangan gitu dong mas kan kerja. Kayak baru pertama aja kerja ke luar kota." kata Haifa Jadi kamu belum terlalu repot. Sekarang udah ada Aidan nanti kamu jadinya ngurus mereka sendirian." kata Alvin.


"Atau ke rumah mama aja ya? Selama mas ke luar kota. Kamu sama anak-anak nginap di rumah papa mama dulu aja ya?" kata Alvin.


"Enggak ah. Haifa gak apa apa kok. Waktu dulu aja mas ke luar kota Haifa baik-baik aja kan di rumah berdua sama Aina." kata Haifa.


"Yang, mas tuh khawatir."


"Mas gak apa apa. Haifa sama anak anak di rumah. Lagian kan tiap hari di luar juga ada pak satpam." kata Haifa.


"Tetap aja. Satpam itu orang luar sayang, orang asing."


"Kalau mas gak percaya sama mereka kenapa mas pekerjakan mereka?" kata Haifa.


Alvin diam sejenak.


"Yaudah kalau emang gak mau ikut, gak mau nginap di rumah papa mama. Di rumah ayah ibu mau?" tanya Alvin.


Haifa langsung diam tangannya juga berhenti memijat pundak Alvin.

__ADS_1


"Becanda sayang." kata Alvin menarik tangan Haifa yang ada di pundaknya kemudian menciumnya.


"Mas becanda, gak usah tegang." kata Alvin.


"Mas punya satu pilihan lagi. Ini pilihan terakhir dan kamu harus setuju."


"Apa?" tanya Haifa.


"Kamu di rumah sama anak-anak. Tapi ditemani bang Ken ya."


"Ish gak usah." kata Haifa.


"Kan udah dibilang harus setuju gak ada penolakan. Mas juga udah bilang sama bang Ken dan bang Ken juga setuju."


"Ish kok gitu. Terus kenapa mas tanya ke Haifa mau ikut gak mau di rumah mama gak. Kalau ternyata mas udah punya keputusan sendiri."


"Ya kan mas usaha dulu siapa tahu kalian mau ikut."


"Untung si kakak gak dengar loh mas." kata Haifa. Karena Haifa tahu, Aina itu gak bisa jauh dari Alvin. Walaupun kalau dekat ada aja yang diributkan. Tapi sebenarnya Alvin dan Aina itu sangat dekat, tentu saja karena sebelum ada Haifa, mereka kan hanya berdua.


"Salah ya, tadi tuh harusnya mas bilang sama si kakak dulu. Kalau kakak udah maksa pasti kamu gak bisa nolak kan?"


"Haha minggu depan papa kerjanya sama teman teman dulu yaa. Lain waktu deh kerja ditemani anak-anak." kata Haifa sambil menyisir rambut Alvin dengan jarinya.


"Ya Allah keasikan ngobrol. Udah mau magrib. Mas bersih-bersih dulu sana."


"Kiss dulu di sini." kata Alvin sambil menunjuk keningnya sendiri.


Haifa ikuti saja kemauan Alvin agar tidak lama.


"Tumben cepat. Biasanya punya banyak alasan kalau suaminya minta dicium." kata Alvin.


"Salah terus deh Haifa. Udah cepat bersih-bersih."


"Yaudah ayooo."


"Kok ayo?"


"Temani."


"Kenapa?"


"Te.. temani gimana maksudnya?"


"Hahaha gak nyantai banget mukanya. Mikir apa sih bunda?"


"Maksud mas itu, ayo kamu sama anak-anak juga mainnya di kamar gitu." kata Alvin sambil menyentil dahi Haifa.


"Ish nyebelin."


"Iya mas juga sayang kamu kok."


"Kakak mainnya di kamar papa yuk. Adek juga yuk." kata Alvin sambil menggendong Aidan dan menuntun Aina.


"Ayo bunda." kata Alvin ketika Haifa masih saja duduk.


"Iya. iya." jawab Haifa.


***


Sudah seminggu setelah Alvin memberitahu Haifa kalau dirinya ada pekerjaan di luar kota. Sekarang Alvin sudah siap untuk bernagkat. Sopir kantornya sudah menunggu di depan rumah. Tapi rasanya Alvin malah ingin membatalkan agenda kerjanya. Bagaimana tidak, jika sejak pagi diberitahu papanya akan pergi ke luar kota, si kakak tidak mau lepas dari papanya.


"Kakak, papanya kan kerja sayang. Cuma tiga hari, nanti papa pulang lagi main lagi sama kakak." bujuk Haifa sambil mengambil Aina. Tapi tangan Aina tetap saja melingkar kuat di leher Alvin.


"Sayang. Papa kerja dulu ya. Nanti selesai kerja papa dapat uang. Nanti papa pulang langsung ajak kakak sama adek jalan-jalan." kata Alvin.


"Namau. Papa jangan kelja." katanya.


"Kok gitu, kalau papa gak kerja nanti papa gak punya uang. Kalau papa gak punya uang, kitabgak bisa makan, kakak gak bisa jajan, gak bisa sekolah, gak bisa beli baju, beli mainan." kata Alvin.


"Beli e klim bisa?"


"Gak bisa, kan papa gak punya uang."


"Beli pelmen?"

__ADS_1


"Gak bisa juga."


"Satu yang kecil bisa?"


"Bisa, tapi papanya harus kerja dulu biar dapat uang. Kalau papa punya uang, terserah deh kakak mau jajan apa aja."


"Hallo. Assalamualaikum, om ganteng datang." kata Keanu yang baru turun dari mobil.


"Loh kok ponakan om yang paling cantik nangis?" kata Keanu.


"Oh iya, om Ken bawa ini loh buat kakak." kata Keanu sambil menunjukan papper bag di tangannya.


"Itu apa?" tanya Aina.


"Kita buka di dalam yuk." ajak Keanu.


Aina melihat Alvin. Aina galau antara tetap bersama papa atau ikut keanu membongkar papper bag.


"Ayo kakak ikut om Ken buka ini. Papanya biar aja kerja. Cari uang banyak-banyak buat jajan kakak." kata Keanu langsung mengambil Aina dari gendongan Alvin. Mumpung pegangan Aina di leher Alvin rada kendor gara-gara terdistrack oleh papper bag warna pink bergambar barbie itu.


"Salam dulu sama papa." kata Keanu mengulurkan tangan Aina. Aina mencium tangan Alvin. Dibalas Alvin mencium kening dan pipi Aina.


Sekali lagi Keanu memanfaatkan kesempatan dengan cepat, membawa Aina ke dalam sebelum kembali rewel.


"Bisa loh abang narik mengalihkan perhatian Aina." kata Haifa.


"Udah cocok ya bang Ken punya anak." kata Alvin.


"Iya."


"Yaudah. Mas berangkat ya. Jaga diri baik-baik ya. Jangan kemana-mana kalau gak sama bang Ken. Handphone harus selalu aktif ya mas gak mai tahu." kata Alvin.


"Iya mas. Haifa jalankan semua perintah mas."


"Mas juga hati-hati di perjalanan ya. Makan yang teratur. Inget jangan minum kopi colongan."


"Iya. Mas usahakan biar kerjaannya selesai lebih cepat."


"Enggak."


"Kenapa? Kan biar cepat pulang."


"Haifa tahu. Mas itu kalau punya mau itu keras banget. Kalau pekerjaannya pengen selesai lebih cepat mas pasti bakar porsir tenaga, begadang, padatkan jadwal, skip makan. Ah jangan deh. Ingat mas gak kerja sendiri. Mas punya karyawan mereka butuh istirahat. Begitu juga mas. Jadi ya sesuai jadwal aja udah." kata Haifa.


"Iya sayang iya. Yaudah mas berangkat ya." kata Alvin sambil mengulurkan tangannya pada Haifa. Haifa mencium tangan Alvin dan Alvin mencium kening Haifa tapi kali ini agak lama. Soalnya kata Alvin buat stok tiga hari.


"Hati-hati ya." kata Haifa yang masih memegang tangan Alvin. Sebetulnya Haifa juga merasa berat ditinggal Alvin.


"Kamu juga."


"Mas..." panggil Haifa.


Alvin langsung memeluk Haifa erat-erat. Haifa menarik nafas, menghirup banyak banyak aroma parfum Alvin.


"Udah nanti keburu siang." kata Haifa.


Alvin mengurai pelukannya.


"Yaudah mas berangkat ya. Assalamualaikum."


"Tunggu dulu." Haifa mendekat dan berjinjit di depan Alvin.


"Wa'alaikumsalam." jawab Haifa dengan wajah yang memerah sambil memundurkan diri dari depan Alvin.


"Kalau mau jauh aja berani." kata Alvin kemudian kembali mencium kening Haifa.


"Cium terus cium lagi. Gitu aja terus gak beres beres." teriak Keanu dari pintu.


"Hahaha ketahuan abang. Udah ya mas berangkat. Assalamualaikum lagi."


"Wa'alaikumsalam lagi."


***


To be continued...

__ADS_1


See you next part...


__ADS_2