
Happy Reading...
"Dad, kamu kenapa sih gak mau bantu aku buat tetep nawa Aina, kita tinggal beberapa hari lagi di sini. Setelah itu juga Aina sama Alvin lagi. Kenapa kamu gak bantu aku sama sekali!" kata Novia yang marah pada suaminya.
"Bukan aku gak mau bantu Mom. Tapi kita gak bisa maksa anak. Meskipun dia masih kecil, kita harus tetap menghargai pendapatnya."
"Tapi kamu gak mikirin aku kan. Aku itu ibu kandungnya....."
"Cukup ya kamu gak perlu ungkit status kamu sebagai ibu kandungnya. Kamu juga ibu sambung buat Beryl, dan aku gak suka kalau mantan istri aku dan orang lain mengungkit status kamu sebagai ibu sambung. Pasti begitu juga dengan Alvin." Novia mendudukan dirinya di sofa.
"Aku buruk banget ya jadi ibu?" tanya Novia sambil menatap suaminya.
"Kamu ibu yang baik sayang, buat Beryl, buat Ze, begitu juga buat Aina."
"Tapi Aina gak mau sama aku." kata Novia.
"Loh terus kemarin seminggu lebih Aina di sini itu apa? Kalau dia gak mau sama kamu jangankan seminggu sehari aja pasti udah gak betah." kata Brian sambil mengusap kepala Novia.
"Tapi itupun harus aku bujuk-bujuk. Aku bareng dia cuma seminggu dna pisah sama dia berbulan-bulan."
"Sayang, kualitas hubungan itu gak bisa dinilai dari pertemuan, setiap hari bertemu kalau isinya kamu sibuk sama kegiatan kamu dan dia sibuk dengan kegiatannya, sama aja bohong. Walau cuma seminggu, kalau dimanfaatkan dengan baik itu bisa jadi sangat berkualitas."
"Dan kamu udah melakukan itu, kemarin selama Aina sama kita kamu benar-benar mendedikasikan waktu kamu buat anak-anak. Kamu temani tidur, kamu buatkan sarapa, kamu antar jemput sekolah, kamu temani main, kamu temani dia belajar. Itu udah luar biasa sayang."
"Makasih ya, kamu selalu bisa nenangin aku yang emosian." kata Novia sambil memeluk suaminya.
"Yaudah, udah malam. Ze juga udah tidur. Kita juga istirahat yuk."
"Dad, gendong aku ke kamar kuat gak?"
"Siapa takut, waktu kamu hamil Ze aja kamu lagi mekar-mekarnya kuat kok."
"Gak usah pake istilah, bilang aja waktu aku lagi gendut-gendutnya gitu."
"Haha becanda. Udah ah ayok kita ke kamar. Daddy kayaknya pengen punya satu yang made ini Indonesia."
Di rumah yang berbeda, Alvin dan Haifa sedang menidurkan anak-anaknya. Alvin sedang menepuk nepuk bokong Aina dan Haifa sedang memberikan Aidan ASI langsung dari sumbernya. Malam ini Aina lagi manja, gak mau tidur sendiri, jadilah seperti saat ini tidur berempat di satu tempat tidur.
"Abis jalan-jalan pada capek banget kayaknya. Dua-duanya cepat banget tidurnya." kata Alvin.
"Iya capek pasti, seharian gak berhenti main."
"Tapi mereka seneng banget kayaknya mas." tambah Haifa.
"Iyalah seneng banget lari-lari terus sampe gak mau diajak pulang." kata Alvin.
"Aina kayaknya suka main di alam deh mas. Boleh tuh lain kali kita ajak jalan jalan ke alam lagi. Lain kali bisa gitu ngenalin Aina ke pantai gitu misalnya."
__ADS_1
"Kode ya?"
"Kok kode, inget inget deh. Emang kapan kita jalan-jalan se keluarga ke luar kota yang khusus keluarga kecil kita?"
"Belum pernah kan? Jalan-jalan paling di dalam kota. Kalau ke luar kota juga mesti kalau ada acara keluarga besar. Tiap kali Haifa ajak pergi, mas selalu aja punya jawabannya. Heran, kerja di tempat sendiri tapi kok susah banget punya liburnya." omel Haifa.
"Kerja keras boleh mas, harus malah. Tapi bukan berarti jadi gak punya liburkan. Iya emang kamu sering izin gitu dari kantor. Tapi tetepkan selalu bawa pekerjaan ke rumah. Kemarin pas liburan idul fitri, udah rencana mau pergi mas kan yang batalin karena ada urusan mendadak. Kamu itu pemiliknya, tapi kok ada aja kegiatan yang gak terencana. Heran. Gimana sih sekretaris kamu ngatur jadwalnya?"
"Sini deh, Aku aja yang gantiin jadi sekretaris kamu." kata Haifa.
Alvin tersenyum, "Iya sayang, nanti liburan tahun baru kita pergi ya. Janji deh." kata Alvin.
"Bener ya?"
"Iya sayang."
"Oke Haifa anggap mas udah janji nanti set alarm. Kalau misal mas bohong atau gak nepatin janji, Haifa mau pergi aja sama anak-anak. Haifa juga mau puasa ngomong sama mas, gatau berapa lama. Suka suka Haifa."
"Loh bisa gitu ya?"
"Iya bisa lah. Kenapa gak suka?"
"Ya suka lah." kata Alvin.
"Cari masalah kalau sampai bilang gak suka." kata Alvin pelan sekali.
"Apa?"
"Tadi mas bilang apa yang pelan-pelan?"
"Oh itu mas bilang, iyalah pasti suka sekali." bohong Alvin.
"Anak-anak udah tidur mas." kata Haifa.
"Terus kenapa?"
"Mas mau tidur juga?"
"Kamu ngantuk?" kata Alvin balik bertanya.
Haifa menggeleng, "Belum, Haifa mau ke bawah ya, boleh?"
"Mau apa?"
"Mau pengen nonton, mungpung anak-anak udah tidur."
"Nonton film horror yuk." ajak Alvin.
__ADS_1
"Gamau, Haifa nonton mau cari hiburan. Bukan mau nakut-nakutin diri sendiri." kata Haifa.
"Biar menantang Yang."
"Menantang, menantang. Terjun dari rooftop mall tanpa pengaman tuh baru menantang."
"Itu mah bunuh diri namanya sayang."
"Udah Ah Haifa mau nonton. Kalau mas mau tidur, duluan aja ya. Kalau perlu apa-apa Haifa di bawah." kata Haifa, kemudian mencium pipi Alvin.
"Bye sayang." kata Haifa.
Tidak lama setelah Haifa meninggalkan kamar, Alvin ikut menyusul Haifa. Tapi sebelumnya ia juga sudah memasang bedrail terlebih dahulu agar anak-anaknya tetap aman.
"Loh, mau ikut nonton?" kata Haifa yang baru keluar dari dapur saat melihat Alvin turun tangga.
"Apa itu?" tanya Alvin melihat piring dan gelas yang Haifa bawa di tangannya.
"Air putih sama buah buat nemenin nonton." kata Haifa. Alvin mengambil alih piring buah dari tangan Haifa.
"Buahnya buat mas aja. Kamu nontonnya mas yang temani." katanya.
"Ditemani mas mah gak bikin kenyang." kata Haifa menyusul Alvin yang berjalan di depannya.
Haifa sedang adik memilih beberapa film di layanan televisi berlangganan miliknya. Haifa ini memang suka sekali nonton, apapun itu seperti film, drama korea, bahkan menonton MV boy band dan girl band korea kesukaannya. Setiap anak-anak tidur lebih awal, Haifa pasti serang memanfaatkan waktu untuk me time dengan menonton. Alvin juga tidak pernah mengganggu jika Haifa sudah izin untuk me time. Karena bagi Alvin waktu seperti itu sangat diperlukan bagi Haifa. Agar Haifa tidak jenuh dengan rutinitas sehari-harinya. Bahkan kadang Alvin ikut menerima Haifa nonton walau ujungnya, Alvin akan bosan dan tertidur pulas hingga Haifa selesai dan membangunkannya untuk pindah ke kamar.
"Yakin, mau nemani Haifa?"
"Oh iya dong."
"Paling nanti juga tidur."
"Yang penting gak ganggu me time kamu kan?"
"Udah ya Haifa udah nemu film nya. Diam ya jangan ganggu. Nanti kalau mas nya pintar gak ganggu Haifa. Haifa kasih hadiah." kata Haifa.
"Apa?" tanya Alvin.
"Rahasia dong."
"Diam ya. Bayi besar aku makan aja yang anteng." kata Haifa kemudian mencium pipi Alvin sekilas.
...****************...
To be continued...
See you next part...
__ADS_1