
Happy Reading...
Hari ini Alvin banyak membawa pekerjaannya ke rumah. Karena siang tadi, Alvin harus bertemu dengan temannya dan juga notaris untuk mengurusi pembelian kostan. Sehingga pekerjaannya di kantor terpaksa ia bawa pulang.
Haifa juga tidak bisa melarang. Sedangkan Aina, sejak tadi gadis kecil itu sudah sangat rewel sekali ketika papanya tidak keluar-keluar dari ruang kerjanya.
"Bunda papa kenapa sih gak kelual-kelual. Kakak kan mau main sama papa." rengeknya. Di rumah mereka memang seperti sudah terjadwal, ba'da isya hingga menjelang tidur itu waktu anak-anak bersama papanya.
"Sebentar ya bunda panggil papa dulu. Kakak jaga Adek ya." kata Haifa. Aina mengangguk.
Haifa berjalan ke lantai dua menuju ke ruang kerja Alvin.
"Assalamualaikum. Mas..." panggil Haifa setelah mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam sayang. Kenapa? Anak-anak udah tidur?"
"Belum. Masih banyak kerjaannya?"
"Hm satu jam lagi lah. Kenapa?" tanya Alvin.
"Aina udah rewel pengen main sama papanya."
Alvin melihat ke arah jam dinding di ruangan.
"Loh udah setengah sembilan lagi?" tanya Alvin.
"Iya mangkanya Aina udah rewel terus. Sejak mas pulang dari masjid kan belum turun-turun."
"Deadline banget ya pekerjaannya?" tanya Haifa.
"Engga juga sih. Cuma tadi awalnya nangung dikit lagi, dikit lagi eh keterusan." jelas Alvin.
"Pending duli deh kerjanya. Temui anak-anak dulu. Anak-anak kapan sih punya waktu main lama sama papanya kalau bukan malam." kata Haifa.
"Janji deh nanti kalau anak-anak udah tidur Haifa bantu pekerjaan mas biar cepat beres. Tapi sekarang tunda dulu kerjanya." kata Haifa lagi.
Alvin tersenyum kemudian ia sedikit mengotak-atik laptopnya. Kemudian segera berdiri.
"Kalau sama kamu pekerjaan mas bukan yang seperti ini sayang." kata Alvin berbisik di telinga Haifa.
"Maksudnya?"
"Pokoknya udah mas catet, nanti kalau anak-anak udah tidur kamu mau bantu mas kerja." kata Alvin.
"Iya Haifa bantu."
"Oke sampe pagi ya?" kata Alvin.
"Emang banyak banget ya pekerjaannya?"
"Gak tahu deh lihat aja nanti banyak enggak."
"Kok Haifa gak mudeng mas ngomong apa."
"Nanti mas ajarin. Ayo turun, nanti keburu ngantuk anak-anak." kata Alvin sambil berjalan mendahului Haifa.
*
"Papa kok balu tulun? Kakak kan mau main." kata Aina.
"Yaudah ayo. Kakak mau main apa sama papa?"
"Kakak mau salon salonan." katanya.
"Loh kalau mau salon salonan kenapa gak sama bunda aja. Bunda kan yang ada rambutnya panjang. Papa mah rambutnya pendek." kata Alvin.
"Kakak gak mau main lambut. Papa diem deh nulut aja." katanya.
"Bunda..." panggil Aina sambil mendekat ke arah Haifa.
"Katanya mau main sama papa. Kok malah nyari bunda."
"Papa belisik deh." kata Aina.
Aina berbisik di telinga Haifa.
"Boleh kan bunda?" katanya.
"Ini kan udah malam kak."
"Plisss." katanya.
"Yaudah."
"Holeee... Ayo bunda kita ambil." kata Aina.
"Ambil apa?" tanya Alvin.
"Lahasia." jawab Aina. Aina berjalan bersama Haifa ke arah kamar di lantai dua rumah mereka. Sedangkan Alvin ditinggal berdua bersama Aidan di ruang keluarga.
"Kakak kenapa tiba-tiba pengen dandanin papa?" tanya Haifa saat mereka sudah ada di dalam kamar. Aina tadi berbisik pada Haifa jika ia ingin meminjam alat dandan Haifa untuk mendandani Alvin. Begitu katanya.
__ADS_1
"Kakak mau salon salonan." jawabnya.
"Yaudah tapi jangan banyak banyak. Ini udah malam nanti papa kasihan bersihinnya." kata Haifa.
"Iya bunda. Ayo bunda, kakak gak sabal mau dandani papa."
Mereka berdua turun dengan beberapa peralatan makeup milik Haifa.
"Papa tidulan di sini." kata Aina sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya. Alvin tidak banyak protes. Karena ini sudah malam kalau sampai maunya Aina gak diikuti dan malah rewel. Artinya agenda kerjanya dengan Haifa akan tertunda.
"Telentang papa." protes Aina ketika Alvin malah tidur tengkurap.
"Oke." kata Alvin sambil merubah posisi tidurnya. Aina yang melihat papanya sudah di posisi yang Aina mau. Anak kecil itu langsung duduk nyaman di perut sang papa sambil mulai menghamburkan peralatan make up milik Haifa.
"Papa mau di apain kak?"
"Dandan." jawabnya sambil membuka lipstik milik Haifa.
"HAH."
"Sttt diam papa." katanya.
"Bun..." kata Alvin mencari pembelaan.
"Ngalah aja pa, biar cepat."
Aina mulai mengaplikasikan lipstik tersebut ke sembarangan arah.
"Bagus." katanya setelah memoleskan lipstik berwarna pink di bawah mata sang papa.
"Papa melem." kata Aina.
"Mau apa lagi."
"Telselah kakak dong."
Haifa hanya geleng-geleng kepala sambil menyusui Aidan. Tadi tidak lama setelah Haifa turun bersama Aina, Aidan langsung merangkak menghampiri Haifa dan mulai mencari-cari sumber nutrisinya di dada Haifa. Putranya itu sepertinya sudah mulai mengantuk.
"Udah boleh buka mata belum?" tanya Alvin.
"Belum mata satunya belum kakak walnain." kata Aina.
"Papa mau matanya satunya walna apa?"
"Yang sebelumnya warna apa?" tanya Alvin.
"Walna olen."
"Jangan. Kan halus beda beda."
"Masa kelopak mata papa warnanya beda beda?"
"Bialin. Oh iya kakak tau, satunya walna hijau aja." Aina mulai mewarnai kelopak mata kiri Alvin dengan eyeshadow warna hijau.
Alvin sudah tidak membayangkan wajahnya akan jadi seperti apa. Segagah-gagahnya pria itu di hadapan orang lain. Ketika anaknya minta main salon salonan begini tetap saja gak sampai hati menolaknya.
"Sekalang kakak mau buat kumis. Papa gak ada kumis kan."
"Hm walna apa ya?"
"Kumis warna hitam kak." kata Haifa.
"Walna pink aja deh." katanya.
Segala warna sepertinya sudah ada di wajah Alvin. Sekarang sudah pukul 09.00 Aina juga sudah mulai menguap.
"Dah ah kakak ngantuk." katanya sambil merebahkan diri di atas badan Alvin. Sedangkan Aidan masih saja menyusu pada Haifa.
"Kakak kalau udah ngantuk kita ke kamar yuk. Kencing, cuci tangan dan kaki dulu." kata Haifa.
Aina langsung bangun dan turun dari badan Alvin.
"Yuk kakak ke kamar sama papa." ajak Alvin.
"Nggak mau papa selem."
"Kan yang dandanin papa kakak."
"Iya tapi kok jadi selem."
"Masa sih coba papa tanya Adek."
"Jangan pa. Anaknya udah ngantuk nanti kaget." larang Haifa. Tapi bukan Alvin namanya kalau gak ngotot.
"Dek papa ganteng kan dek?" tanya Alvin mendekatkan wajahnya ke wajah Aidan yang sedang menyusu sambil mengantuk. Aidan yang matanya sudah mulai sedikit terpejam karena ngantuk menjadi terbuka sepenuhnya dan menangis kencang ketika wajah Alvin mendekat.
"Papa! Dibilang anaknya udah mulai ngantuk juga. Kagetkan. Rusuh deh sebel!" omel Haifa. Haifa kembali memberikan ASI nya pada Aidan agar kembali tenang.
"Papa sana cuci muka. Pakai ini nih biar cepat hilangnya." kata Haifa sambil menyerahkan sebotol cairan pembersih make up dan kapasnya.
"Gimana caranya?"
__ADS_1
"Itu kapasnya basahin pake cairan itu terus tinggal di usap ke wajah." kata Haifa.
Setelah selesai menidurkan Aina di kamarnya dan Aidan di tempat tidurnya, sekarang giliran Haifa yang harus bersih-bersih sebelum tidur.
Pukul 01.00 Haifa dan Alvin masih sama sama terjaga. Alvin benar-benar melancarkan misinya.
"Belum ngantuk?" tanya Alvin sambil mengusap kepala Haifa.
"Lapar." ucap Haifa.
"Segitu capeknya ya sampai langsung lapar." kata Alvin.
"Ih apa sih."
"Mau makan apa?" tanya Alvin sambil mengotak-atik handphone nya yang baru ia ambil dari meja di sampingnya.
"Masak mie instan aja. Tapi mas temenin Haifa ke dapur. Gak mau sendiri takut." kata Haifa.
"Pakai dulu nih." kata Alvin sambil menyerahkan kaosnya pada Haifa.
"Ini mah punya mas."
"Yaudah gak apa apa cuma ke dapur ini." kata Alvin. Haifa langsung duduk dan memakai kaos milik Alvin.
"Udah." jawab Haifa.
"Ayo jalan." kata Alvin yang sudah berdiri di samping tempat tidur dan hanya menggunakan celana pendeknya.
"Gendong."
"Tumben."
"Haifa malas jalan. Ngantuk juga tapi lapar." kata Haifa.
"Ayo sini." kata Alvin sudah setengah berjongkok di pinggir tempat tidur.
"Yeay makasih papa." kata Haifa sambil naik ke punggung Alvin kemudian mencium sekilas pipi Alvin dari belakang.
"Mas mau enggak?" tanya Haifa saat mereka sudah berada di dapur.
"Mau tapi satuin aja." kata Alvin.
"Haifa mau mi rebus."
"Iya samain aja sayang. Satuin." kata Alvin.
"Oke. Udah mas tunggu aja di meja makan jangan sambil peluk peluk gini Haifa susah gerak."
"Yang, kamu WA bu Ani dan nyuruh ke sini nanti siang?" tanya Alvin.
"Iya."
"Besok meskipun cuma di depan bu Ani. Kamu harus pake kerudung ya." kata Alvin.
"Kenapa emang?"
"Harus banget mas tunjuk atau mas kasih tahu?" kata Alvin.
"Iya mas tahu bu Ani gak comel gak akan banyak tanya. Tapi kalau lihat pasti senyum sih dan ketahuan deh rahasia kita." kata Alvin.
"Apa sih gak ngerti."
"Sini mas bisikin."
"Ih gara gara mas sih."
"Tadi pasrah-pasrah aja. Kok sekarang ngomel."
"Udah stt jangan dibahas." Alvin hanya tertawa.
"Yang Aidan udah setahun loh." kata Alvin.
"Terus kenapa?" tanya Haifa.
"Mas minggir sih. Ini Haifa lagi ngiris cabe jadi susah." kata Haifa yang tidak bebas bergerak karena Alvin selalu menempelinya dari belakang.
"Berarti udah bisa nambah." kata Alvin.
"Mas mau tambah cabe? Haifa sih gak masala. Tapi nanti mas kepedesan." kata Haifa.
"Kok jadi cabe?"
"Tadi mas bilang tambah, cabenya kan?" kata Haifa.
"Tau Ah." kata Alvin sambil berjalan ke meja makan meninggalkan Haifa sendiri di dapur.
***
To be continued...
See you next part...
__ADS_1