Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 72


__ADS_3

Happy Reading...


Sudah seminggu setelah pulang dari rumah sakit. Bersyukur saat ini baik kondisi Aina ataupun Aidan sudah pulih kembali. Bahkan saat ini diusianya yang ke 28 minggu Aidan sudah bisa belajar merangkak walaupun masih sedikit-sedikit. Aina juga sudah mulai kembali sekolah.


"Kakak pertama lagi masuk sekolah. Ingat kata bunda ya, kakak gak boleh jajan sembarangan. Makan aja bekal dari rumah oke." kaya Haifa ketika mereka sudah sampai di depan sekolah Aina.


"Iya bunda."


"Ingat ya sayang. Bunda pasti tahu kalau kakak bohong." kata Haifa lagi.


"Iya bunda kakak janji." katanya sambil mengacungkan jari kelingking. Haifa menautkan jari kelingkingnya di jari Aina.


"Pintar. Udah kakak masuk. Nanti tunggu papa atau bunda jemput ya. Gak boleh pulang kalau bukan papa atau bunda yang jemput ya kak."


"Iya bunda."


"Ainaaaa ayo masuk!" ajak salah satu temannya.


"Sebental." katanya.


"Bunda salim." katanya sambil mengulurkan tangan kepada Haifa.


"Mau cium dede." katanya. Haifa langsung berjongkok agar Aina bisa sejajar dengan Aidan yang sedang Haifa gendong.


"Dadah dede. Kakak sekolah dulu ya." katanya setelah mencium Aidan.


"Iya kakak. Sekolah yang pintar yaa." kata Haifa meniru suara anak. Aina tersenyum kemudian mengangguk. Haifa mencium kening Aina.


"Kakak masuk ya bunda. Assalamualaikum." katanya.


"Wa'alaikumsalam." jawab Haifa.


Setelah mengantarkan Aina ke sekolah Haifa dan sopirnya langsung kembali ke rumah. Baru saja sampai di rumah. Haifa sudah ditelepon oleh papanya anak-anak.


"Assalamu'alaikum mas." kata Haifa.


"Wa'alaikumsalam. Sayang udah di rumah belum?"


"Iya udah baru aja sampai. Kenapa?"


"Aidan rewel gak?"


"Enggak kok?"


"Mas mau minta tolong boleh?"


"Apa?"


"Ada bekas yang ketinggalan di ruang kerja mas. Sama hard disk mas juga ketinggalan dan ada file yang di perlukan banget buat nanti siang."


"Kebiasaan. Pelupa banget sih, umur belum tua-tua banget tapi pelupanya udah subhanallah." omel Haifa.


"Hehe iya maaf sayang."


"Jadi gimana? Haifa antar ke kantor mas?" tanya Haifa.


"Iya sayang. Tolong banget, sambil bawa makanan buat makan siang juga boleh. Terus nanti kamu sama Aidan tunggu aja di sini. Nanti mas antar pulang sekalian jemput Aina." kata Alvin.


"Mau bawa makan siang apa? Haifa belum masak lagi. Ada juga bekas sarapan tadi pagi. Ini berkasnya buru-buru gak? Kalau enggak Haifa masak dulu."


"Eh jangan masak dulu. Udah kesini aja, kamu sama Aidan. Bawa berkasnya sama hard disk nya ya. Makan mah nanti beli aja." kata Alvin.


"Yaudah."


"Makasih ya sayang. Mas tutup ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Papanya dede tuh kebiasaan lupaan." kata Haifa berbicara pada sang putra. Seakan mengerti bocah yang memiliki wajah bayi copy paste papanya itu tersenyum bahkan tertawa.


Haifa ini bukan tipikal istri yang senang berkunjung ke kantor Alvin. Sudah setahun lebih menikah ia baru hitungan jari pergi ke kantor Alvin. Itu juga hanya jika ada acara penting ataupun mendesak seperti saat ini.


"Permisi mbak saya mau bertemu dengan pak Alvin ada gak ya?" tanya Haifa pada resepsionis yang ada di lobi kantor Alvin.


"Maaf dengan mbak siapa? Sudah ada janji sebelumnya?" tanya resepsionis tersebut sambil melihat Haifa dari atas ke bawah. Haifa tersenyum saja menanggapinya.


"Iya mbak sudah." jawab Haifa.


"Kalau begitu mbak bisa duduk saja dulu. Sementara menunggu, soalnya pak Alvin sedang ada rapat internal." kata seorang resepsionis dengan name tag bernama mita tersebut.


Haifa berjalan hendak menuju ruangan Alvin. Karena ia cukup repot membawa dua tas dan menggendong Aidan.


"Mbak mau kemana?" cegahnya.


"Saya mau ke ruangan pak Alvin."


"Maaf mbak tidak bisa. Menunggunya di sini saja." katanya sambil menunjuk sofa yang ada di lobi.


"Oh begitu?" tanya Haifa kemudian duduk di sofa yang diarahkan.


"Mbak maaf pak Alvinnya masih lama gak ya?" tanya Haifa setelah hampir setengah jam menunggu di lobi. Sebetulnya Haifa tidak masalah kalau menunggu di lobi. Karena sofanya juga empuk nyaman. Tapi yang jadi masalah Aidan sejak tadi sudah merengek sambil mencari-cari di dada Haifa. Bayi kloningan pak Alvin ini sudah haus. Haifa tidak mungkin kan kasih ASI di lobi.


"Sabar sebentar kenapa sih mbak?" katanya.


"Bukan begitu mbak. Ini anak saya haus. Saya gak mungkin harus menyusui di lobi." jawab Haifa. Resepsionis tersebut melirik kearah Aidan yang memang benar sedang merengek sambil mengangkat-angkat jilbab Haifa.

__ADS_1


"Aduh gimana ya mbak. Saya gak bisa mempersilakan sembarangan orang masuk ke ruangan pak Alvin tanpa konfirmasi beliau. Nanti malah saya yang kena marah. Sebentar ya mbak saya coba tanya dulu." kata resepsionis tersebut sambil mencoba menelepon entah siapa.


Tidak berapa lama datang seorang perempuan berstelan kerja, yang sudah Haifa kenal.


"Bu Haifa." kata Lusi resepsionis sebelumnya.


"Mbak Lusi, gak perlu panggil ibu." kata Haifa.


"Maaf ya jadi ketahan di lobi. Mita ini mahasiswa magang. Jadi belum tahu, maaf ya bu." kata Lusi merasa tidak enak dengan Haifa. "Iya gak apa apa mbak Lusi." jawab Haifa.


"Mita, ini bu Haifa. Istrinya pak Alvin." kata Lusi. Wajah mita si mahasiswa seketika menjadi pias.


"Ibu maaf saya tidak tahu." katanya sambil menunduk.


Haifa tersenyum, "Iya tidak masalah. Saya juga pernah mengalami menjadi mahasiswa magang yang harus sangat hati-hati dan banyak takutnya. Gak apa-apa gak usah takut, kamu bagus malah, selektif." kata Haifa.


"Sekali lagi saya minta maaf." kata Mita.


"Iya. Gak apa apa."


"Yaudah bu silakan. Itu kasian si adek." kata Lusi.


"Iya haus dia. Saya permisi mbak Lusi, Mita." kata Haifa berpamitan pada keduanya. Haifa berjalan menuju lift dan naik ke lantai dimana ruangan Alvin berada.


"Huh, untung bu Haifa. Bukan bu Aliya." kata Lusi.


"Mbak Mita minta maaf."


"Iya gak apa apa. Kamu gak tahu juga kan."


"Saya juga lupa kasih tahu kamu."


"Oh iya kamu buka aja website perusahaan. Nah kamu baca deh di sana ada tentang perusahaan ini. Ada nama-nama dan fotonya juga. Jadi kamu nanti gak salah lagi. Takutnya nanti bu Aliya yang kesini. Bahaya kalau sampai ketahan di lobi." kata Lusi.


"Iya mbak siap."


*


"Eh udah ada bunda sama jagoan papa di sini." kata Alvin yang baru masuk ruangan dan langsung melihat Haifa dan Aidan.


"Haifa telat ya?" tanya Haifa setelah mencium tangan Alvin.


"Engga kok."


"Mas udah beres rapatnya terus ini yang Haifa bawa buat apa?"


"Oh itu mah buat nanti jam 1." kata Alvin.


"Ini anak papa haus banget ya. Sampe papanya dicuekin." kata Alvin sambil menciumi pipi Aidan dan mengganggu kesejahteraan Aidan dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya.


"Hm ngapain di lobi? Ketahan di lobi?" kata Alvin.


"Iya. Sebentar kok."


"Kok bisa."


"Resepsionisnya baru."


"Oh iya tahu. Mangkanya bunda itu sering-sering main ke kantor. Temani suaminya kerja. Biar semua karyawan itu tahu."


"Apa sih. Buat apa coba. Mending di rumah ya dek."


"Susah emang, bunda kamu ini gak sayang papa dek." adu Alvin pada putranya.


"Udah ah. Nih berkas sama hard disk yang ketinggalan. Sana kerja lagi, nanti satu jam lagi jemput kakak." kata Haifa.


"Nanti abis jenput kakak jangan pulang ya. Ke sini lagi. Nanti pulangnya bareng." kata Alvin.


"Kenapa sih tumben banget, biasanya juga kerja sendiri anteng-anteng aja gak pernah minta ditemani." kata Haifa sambil menatap Alvin yang duduk di sampingnya.


"Sesekali Yang. Kamu tuh sekarang perhatiannya ke anak-anak terus."


"Mas..."


"Hm..."


"Papa..."


"Hm..."


"Sayang..."


"Iya sayang." jawab Alvin langsung menegakkan duduknya dan merapat ke Haifa.


"Coba lihat wajah Aidan." Alvin memandangi wajah Aidan.


"Kenapa? Ganteng kok. Kayak papanya. Tapi gantengan papanya."


"Idih gak mau kalah banget sama anak."


"Lihat wajah Aidan mirip banget siapa?" tanya Haifa.


"Mirip banget papanya asli ini mah 99%" jawab Alvin dengan bangganya.


"Yaudah taukan ini anak siapa? Terus kenapa masih dicemburuin sih?"

__ADS_1


"Ya tapi sayangku, papanya juga butuh perhatian." kata Alvin sambil mengendus-endus di bahu Haifa.


"Kamu tuh sekarang gak pernah telepon mas duluan. Gak pernah inisiatip gitu buat manjain suami duluan. Peluk gitu, cium gitu suaminya. Gak ada. Sekarang mah tidur juga seringnya ke sekat Aidan kalau enggak Aina. Kapan sama papanya coba."


Bukan marah, Haifa malah tertawa mendengar penuturan Alvin, "Ya Allah parah banget sih cemburunya suami aku."


"Sini..." Haifa menyuruh Alvin mendekatkan kepalanya. Cup... satu mendarat di pipi Alvin.


"Tuh udah ya papa." kata Haifa.


"Kalau udah gini aja baru berani."


"Haha kenapa sih manja banget. Malu tuh dilihat Aidan." kata Haifa menunjuk Aidan yang sedang melihat kedua orangtuanya.


"Apa Aidan liat liat papa?" kata Alvin. Ditegur papanya bukan menangis, Alvin versi kecil itu justru malah tertawa.


"Malu tuh diketawain anaknya."


"Apa kamu ketawa ketawa Hmmm." kata Alvin sambil menciumi Aidan membuat bayi itu semakin tertawa.


"Udah mas, masih ada kerjaan gak? Cepat kerjakan sebentar lagi waktunya jemput kakak loh."


"Kenapa sih gak betah banget dekat suami."


"Bukan begitu sayang. Tapi ini di kantor. Nanti deh di rumah. I'm Yours." kata Haifa.


"Bener ya?"


"Iyaa."


"Awas bohong loh."


"Iya papa. Udah sana kerja."


"Sebentar kalau di rumah your mine. Anak anak titip di mama atau di ibu berarti ya?"


"Ya enggak lah enak aja. I'm yours nya kamau anak anak udah tidur." Alvin diam.


"Yaudah gak apa apa deh. Sampai pagi tapi ya." kata Alvin sambil mencium sekilas pipi Haifa.


"Apa yang sampe pagi?"


"Ya terserah mas lah. Kan katanya kamu your mine."


"Ih mas Alvin jangan aneh aneh yaa."


"Gak janji." jawab Alvin sambil melenggang ke arah meja kerjanya.


*


"Hali ini kakak seneng deh." kata Aina saat sedang dalam perjalanan menuju kantor Alvin.


"Kenapa? Emang abis ngapain di sekolahnya kak?" tanya Haifa sambil menengok ke belakang.


"Kakak seneng soalnya kakak sekolah lagi. Telus ketemu teman-teman. Telus pulangna dijemput sama papa sama bunda dua dua." jawabnya.


"Emang kakak lebih suka di jemput papa atau di jemput bunda?" tanya Alvin.


"Emmm. Kakak suka sama dua dua. Tapi suka sama baunda. Sama papa juga suka Tapi sama papa suka bulu-bulu kakak gak suka. Sama papa suka disuluh cepat-cepat kakak gak suka. Kalau sama bunda kan pulang sekolah kakak boleh jajan dulu. Kalau sama papa, jangan kak kita halus cepat ke lumah. Papa halus kelja lagi.' Kakak kan mau jajan." katanya.


"Udah bisa curhat tuh pa anak gadisnya." kata Haifa sambil menepuk pelan pipi Alvin.


"Hahaha ya maaf kak. Kan emang benar papa harus ke kantor lagi harus kerja." kata Alvin.


"Sekalang kakak mau jajan bole gak?" tanya Aina.


"Mau jajan apa? Ini kita kan mau ke kantor papa. Nanti aja jajannya di izinmart dekat kantor papa ya?"


"Di kantol papa masih ada tante melah melah gak?" Alvin seketika tertawa keras.


"Tante merah merah siapa?" tanya Haifa.


"Itu dia dulu karyawan di kantor. *** manager tepatnya. Itu Aina di ajarin Vina bilang tante merah merah karena kalau make up selalu tebal terus lipstiknya juga selalu merah banget."


"Kok apal banget?"


"Cie cemburu."


"Nggak apa sih."


"Ciee cemburu..." kata Alvin sambil menoel pipi Haifa dengan sebelah tangannya.


"Enggak ih dibilang enggak juga."


"Kak masa bunda cemburu sama tante merah merah."


"Cembulu itu apa papa?"


"Iya cemburu itu apa sih papa?"


"Heh kompak kalau udah nistain papa."


***


To be continued...

__ADS_1


See you next part...


__ADS_2