
Happy Reading...
Lima tahun berlalu...
Hari rabu pukul 16.00 WIB. Alvin sedang menunggu di depan ruangan yang bertuliskan kamar operasi. Harap-harap cemas menunggu dokter ataupun perawat memberitahu jika operasi sudah selesai.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, setahun pasca melahirkan anak ketiga mereka dua tahun lalu, enam bulan lalu Haifa sempat di diagnosa kembali mengandung. Tapi sayangnya kehamilannya kali ini, tidak Allah izinkan sampai darah dagingnya terbentuk sempurna, hingga berujung di meja operasi seperti saat ini. Alvin dan Haifa mengira jika calon anak ke empat mereka sudah gugur di usia ke 10 minggu beberapa bulan lalu. Ternyata tidak, Haifa merasakan sakit di seluruh tubuhnya, sakit yang terasa menusuk dibagian perutnya. Alvin membawa Haifa ke rumah sakit. Setelah dilakukan segala bentuk pemeriksaan, dokter mengatakan jika Haifa mengalami kehamilan ektopik atau janin yang berkembang di luar kandungan.
Janin yang mereka kira sudah gugur beberapa waktu lalu, ternyata masih terus berkembang tapi bukan di tempat yang seharusnya. Janinnya berkembang di saluran tuba falopi, yang menyebabkan saluran tersebut rusak dan Haifa mengalami perdarahan di dalam tubuhnya.
Dokter bilang harus segera diatasi jika tidak ingin kondisinya semakin memburuk. Saat itu Alvin mengatakan, lakukan apapun yang terbaik dok.
"Istri anda harus segera dioperasi pak. Kondisinya saat ini istri anda mengalami perdarahan di dalam tubuhnya. Kondisi ini harus segera diatasi. Sebab akan lebih membahayakan jika cairan akibat perdarahan tersebut sudah sampai ke paru-paru."
"Kami perlu mengangkat tuba falopi istri bapak yang sebelah kiri. Karena kondisinya sudah robek."
Alvin diam, tunggu dulu, dokter bicara apa tadi? Tindakan operasi untuk mengangkat tuba falopi? Setahu Alvin tuba falopi itu saluran penghubung indung telur dan rahim, fungsinya juga sebagai berjalannya sel telur dari ovarium menuju rahim dan sebagai tempat pertemuan sel telur dengan ******. Lalu jika tuba falopi milik Haifa diangkat apa artinya Haifa tidak akan bisa mengandung lagi?
Jika iya, sebetulnya tidak masalah bagi Alvin. Satu putri dan dua orang putra sudah membuat Alvin sangat bersyukur. Tapi yang Alvin pikirkan saat ini bagaimana nanti dia mengabarkannya pada Haifa? Saat dinyatakan keguguran saja, Haifa begitu sedih dan kerap menyalahkan diri sendiri karena lalai. Lalu bagaimana cara mengabarkan berita yang satu ini? Apalagi kondisi Haifa saat ini sangat lemah. Tersentuh sedikit saja, Haifa sudah meringis kesakitan.
"Bagaimana pak? Kami butuh keputusan bapak sesegera mungkin."
Oke, Alvin harus ambil keputusan. Nanti lagi Alvin pikirkan caranya untuk memberitahu Haifa. Yang lebih penting saat ini adalah kondisi Haifa. Haifa harus bisa sehat kembali, anak-anak dan juga Alvin sangat butuh keberadaan Haifa.
"Lakukan dok."
"Kalau begitu bapak perlu menandatangani surat pernyataan terlebih dahulu sebelum kami melakukan tindakan."
Begitu kira-kira cerita sebelumnya hingga berujung di hari ini, Haifa berjuang sendiri di kamar operasi. Alvin hanya bisa membantunya melalui do'a dari luar ruang operasi.
Satu jam berlalu, tapi belum ada juga perawat yang memanggil Alvin dan memberitahu jika operasi sudah berhasil dilakukan. Selain harap-harap cemas menunggu kabar keberhasilan operasi Haifa. Alvin juga selalu mendapat teror dari keluarga besarnya yang sebentar sebentar selalu menghubunginya. Menanyakan apakah operasinya berhasil? Belum lagi Aina yang saat ini sudah kelas 4 SD. Gadis kecil itu hampir sepuluh menit sekali selalu menelepon Alvin.
"Papa gimana, Bunda udah bangun?"
"Papa, nanti Bunda sembuhkan?"
"Papa, Kakak mau ke rumah sakit. Kakak pengen ketemu bunda. Tapi kata Umi belum boleh."
"Papa Aidan malem-malem nangis pengen sama Bunda."
"Papa, juga nangis terus pengen bobo sama Bunda."
"Kakak berdo'a ya."
"Kakak bantu Papa jaga Adek sama Dede ya."
__ADS_1
"Bundanya masih diobati sama dokter."
"Nanti kalau Bunda bangun, Papa kasih kabar sama Kakak. Kakak sama Adek dan Dede kesini ya. Bu da pasti kangen sama Anak-anaknya."
"Kakak juga rindu Bunda."
"Iya sayang, Papa juga sama."
"Kita berdo'a sama sama ya. Papa berdo'a di sini. Kakak berdo'a di rumah."
"Iya Papa."
...----------------...
"Keluarga ibu Haifa," panggil perawat dari pintu ruangan operasi.
Alvin segera menghampiri perawat tersebut.
"Operasinya Alhamdulillah sudah selesai. Tapi untuk saat ini pasien masih di bawah pengaruh anastesi ya Pak. Jadi belum sadar sepenuhnya. Beberapa jam ke depan nanti kami observasi terus perkembangannya untuk menentukan tindakan selanjutnya," kata perawat tersebut menjelaskan pada Alvin.
"Kira kira berapa lama sus pengaruh anastesinya? Terus sadarnya berapa lama?"
"Ini, sekarang juga langsung bangun Pak."
"Ibu... Ibu Haifa..." panggil suster sambil menggoyangkan bahu Haifa.
"Alhamdulillah," satu kata itu yang mampu Alvin ucapkan. Syukur kepada Allah. Operasinya berhasil, Haifa sudah sadar meskipun masih tampak bingung dan belum sadar sepenuhnya.
Setelah menunggu sekian lama di ruang operasi, akhirnya sekarang Haifa sudah kembali ke ruang perawatan.
Jujur saja sampai saat ini Haifa belum tahu operasi apa yang dilakukan. Sebelumnya Alvin hanya memberitahu jika operasi ini sangat sangat diperlukan agar Haifa bisa kembali pulih. Haifa yang saat itu sedang merasakan kesakitan yang luar biasa. Ketika bernapas saja harus dibantu oleh alat. Rasanya sudah tidak punya tenaga lagi untuk banyak bertanya. Haifa hanya mengiyakan apapun keputusan Alvin.
"Mas harus kabari anak-anak dan keluarga di rumah. Mereka pasti senang banget kammu udah bangun Yang," kata Alvin.
"Assalamu'alaikum," ucap Alvin ketika panggilannya diangkat oleh Mama Anna.
"Wa'alaikumsamalam. Gimana Vin operasinya lancar? Haifa udah sadar?" tanya Mama Anna.
Alvin tersenyum sambil menatap Haifa.
"Alhamdulillah Ma. Berkat do'a Mama."
"Alhamdulillah. Anak-anak pasti senang banget nih dengernya."
"Video call aja Ma," kata Alvin.
__ADS_1
"Aina sama Aidan masih ngaji sama Kai. Kalau si dede lagi sama Keanu."
"Nanti malam deh, Mama sama Papa ke rumah sakit bawa anak-anak juga," kata Mama lagi.
"Tapi kayaknya mending besok aja deh Ma. Sekarang udah sore, besok juga Aina sama Aidan sekolah. Haifa juga masih recovery harus betul-betul istirahat. Kalau ada anak-anak nanti pasti heboh sama-sama mau sama Bundanya."
"Iya benar juga. Yaudah Mama ke rumah sakitnya besok aja sama anak-anak pulang sekolah. Mama titip jaga Haifa ya Vin. Kamu juga istirahat jangan sampai sakit dua duanya."
"Mama enggak perlu bilang titip jaga Haifa sama Alvin. Tanpa Mama bilang begitu juga, bakal Alvin jaga Ma. Haifa istri Alvin, tanggung jawab Alvin."
"Iya. Iya. Yaudah. Ini kamu loudspeaker kan?"
"Iya Ma."
"Mama mau bilang sama Haifa. Nak Sayang, Haifa anak Mama. Cepat sembuh ya nak. Allah kasih ujian sama kamu karena Allah tahu bahu kamu yang kuat menanggung ujian ini."
"Beban itu enggak akan pernah salah pundak nak. Kalau beban ini dilimpahkan ke pundak yang tidak tepat mungkin mereka akan langsung hancur. Tapi kamu bisa bangun lagi, tandanya kamu yang kuat. Sembuh ya nak," kata Mama pada Haifa.
Haifa meneteskan air mata.
"Jangan nangis ah. Kuat ya nak. Udah ya Mama tutup dulu. Assalamualaikum," Mama Anna segera mengakhiri panggilannya. Bukannya tidak ingin berlama-lama. Tapi Mama Anna takut tidak kuat menahan air mata. Masih terbayang jelas kejadian saat Alvin menitipkan anak-anaknya ke rumah Mama dengan wajah panik karena terburu-buru harus membawa Haifa yang pingsan untuk segera mendapatkan pertolongan dari dokter di rumah sakit. Masih jelas diingatan Mama Anna ketika melihat anaknya meringis kesakitan. Bahkan disentuh sedikit saja Haifa kesakitan. Masih jelas juga diingatan Mama Anna ketika melihat Haifa harus dipasangkan alat pacu jantung.
"Jangan nangis sayang," kata Alvin sambil mengusap air mata Haifa. Alvin berkata jangan nangis. Tapi matanya sendiri sudah memerah. Alvin terharu, Alvin bahagia bisa kembali melihat Haifa membuka mata tanpa meringis kesakitan.
"Kenapa?" tanya Haifa sangat pelan ketika melihat Alvin mengusap mata.
"Aku bahagia kamu mau bangun, kamu mau buka mata lagi. Jangan kayak kemarin lagi ya Yang. Mas enggak mau. Mas enggak bisa."
"Maaf."
...****************...
To be continued...
See you next part...
Seperti kata terakhir yang Haifa ucapkan diriku juga ingin meminta maaf karena mungkin update-update seperti kata terakhir yang haifa ucapkan diriku juga ingin meminta maaf karena mungkin update up date kali ini lebih lama dari biasanya.
Karena katanya permintaan maaf itu harus disertai alasan yang logis maka sedikit banyak akan kujelaskan.
Part ini bertema rumah sakit. Kenapa?
Sebulan ini aku itu lagi ada praktik di rumah sakit. Menyempatkan menulis disela sela mengelola pasien dan tuga tugas, itu rasanya ah mantap. Apalagi praktik di tengah pandemi.
Bukan mau jual iba. Cuma mau kasih penjelasan aja kenapa updatenya jadi lama sekali. Semoga penjelasan dari hatiku yang disalurkan melalui jempolku ini bisa menjadi alasan yang masuk akal buat teman-teman semua.
__ADS_1
Salam sehat ya semuanya ❤🙏🏻
...****************...