Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 14


__ADS_3

Beberapa hari setelah pernyataannya Alvin, Haifa belum menjawab apapun. Saat itu Haifa memilih diam. Alvin tidak bisa menyalahkan. Alvin akui juga mungkin prosesnya terlalu cepat.


Sekarang Alvin justru merasa Haifa seperti menghindari Alvin dan Aina. Alvin sudah siap dengan segala macam resiko termasuk saat ini ketika Haifa memilih untuk menghindari dirinya. Tapi tidak dengan Aina, bocah kecil itu kadang merengek bahkan menangis ketika tak satupun panggilannya diangkat oleh Haifa.


Seperti saat ini Alvin sedang menemani Aina bermain lalu tiba tiba Aina meminta menelepon Haifa dan tidak berhasil.


"Papa kenapa dali kemalin kemalin aty tantik gak angkat tepon Aina? Aty tantik malah ya tama Aina? Aina nakal ya?"


"Mungkin auntynya lagi sibuk sayang. Auntynya juga kan harus belajar."


"Tapi biatana aty telalu angkat tepon Aina telus kalau tibuk aty bilang nanti lagi ya aty belajal dulu gitu papa."


Alvin bingung harus menjawab apa lagi pada Aina. Karena tidak mungkinkan Alvin menjawab 'Nak ini semua karena papa. Papa terlalu cepat mengambil keputusan untuk melamar aunty cantik kamu.'


"Nanti ya lain waktu kita hubungi auntynya lagi."


Aina mengangguk tidak semangat.


Haifa sedang duduk di ruang keluarga bersama kedua orangtuanya. Iya Haifa sekarang memang sedang berada di rumah. Sejak waktu itu Haifa memilih pulang ke rumah. Karena jujur Haifa belum siap memberikan jawaban apapun pada Alvin. Jangankan menjawab Ya atau Tidak. Memberikan izin untuk Alvin bertemu dan berkenalan dengan orangtuanya pun rasanya Haifa belum siap.


"Ade itu telepon dari tadi bunyi berkali kali kok didiemin aja gak sopan. Di angkat dong dek siapa tau penting." tegur mama.


"Haifa gak tau dari siapa ma." jawab Haifa.


"Ya gimana mau tau orang ade gak ngangkat." balas Papa.


"Mungkin cuma orang iseng aja." ucap Haifa.


"Iseng berkali kali ya?" jawab mama.


"Mama mah, udah ah Haifa pamit ke kamar. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab mama papa.


"Eh adek ini handphonenya ketinggalan." teriak mama.


Tapi sepertinya Haifa sudah naik sehingga teriakan mamanya pun tidak terdengar.


Handphone Haifa kembali berbunyi.


"Dek ini handphone nya bunyi lagi." panggil mama. Tapi tak ada jawaban.


Sekali, dua kali papa dan mama mengabaikan panggilan di handphone milik Haifa. Untuk kesekian kalinya handphone Haifa kembali berbunyi.


"Ma dilihat dulu coba dari siapa?" ucap papa.


"Dosennya pa. Mama anterin dulu deh siapa tau penting." kata mama sambil beranjak dari duduknya.


Karena sudah mendapat perintah dari sang mama untuk mengangkat teleponnya. Mau tidak mau harus Haifa ikuti. Tapi sejak handphone sudah berada di tangan Haifa telepon sudah terputus dan tidak ada panggilan masuk lagi.


Haifa bersyukur karena ia tahu yang menelponnya sejak tadi adalah Alvin. Haifa belum mau berkomunikasi dengan Alvin. Bukan karena Haifa besar kepala. Haifa hanya belum siap jika Alvin kembali menanyakan hal yang sama. Wajarkan?


Terhitung sudah hampir dua minggu Haifa menghindari Alvin. Menutup segala akses berkomunikasi dengan Alvin. Kekanakan kan? Memang Haifa juga merasa begitu. Karena dirinya malah menghidar bukan menghadapi dan menyelesaikan permasalahannya. Tapi bagaimana lagi Haifa merasa terkejut dan mungkin pada saat itu Haifa belum siap dan tidak pernah menyangka Alvin akan mengungkapkan hal itu.


Tapi selama dua minggu ini diam diam Haifa selalu memikirkan perihal ini termasuk membawanya dalam lantunan do'a.


Haifa tau dirinya tidak boleh terus menghindar apalagi ia selalu diberi kabar oleh Zia jika Aina selalu merengek menanyakan dirinya.


Pak Alvin :


'Assalamualaikum. Mohon maaf saya mengganggu. Sudah cukup lama kamu menghindai saya. Saya tidak pernah mempermasalahkan apa yang akan menjadi jawaban kamu atas pertanyaan saya. Tapi setidaknya saya perlu jawabagn yang pasti. Cukup Iya atau Tidak. Saya sudah mempertimbangkan apapun kemungkinan termasuk dengan kemungkinan terburuk. Saya harap kamu bisa secepatnya memberikan jawaban. Terimakasih.'


Haifa baru membaca chat yang Alvin kirim sekitar 3 hari yang lalu.


Haifa memberanikan diri untuk membalas pesan dari Alvin.


Haifa


'Assalamualaikum. Mohon maaf pak jika saya mengganggu waktu bapak. Jika bapak berkenan saya ingin bertemu dengan bapak. Berbicara 4 mata dengan bapak. Terimakasih.' tulis Haifa dalam pesan yang terkirim pada Alvin.


Entah kebetulan Alvin sedang standby dengan handphone nya atau apapun alasannya. Tapi kali ini Haifa tidak perlu menunggu lama Alvin sudah membalas pesannya.


Pak Alvin


'Wa'alaikumsalam. Sudah cukup masa hibernasi kamu? Saya harap setelah ini saya bisa mendapatkan jawaban yang jelas. Jangan takut saya akan menghargai apapun yang menjadi keputusan kamu.


Silahkan kamu tentukan kapan dan dimana. Biar saya menyesuaikan.' balas Alvin.

__ADS_1


Haifa


'Hari jum'at sore di abc.'


Pak Alvin


'Oke saya bawa Aina juga agar kita tidak berdua.'


Haifa


'Kalau boleh saya minta tolong jangan libatkana Aina dulu.'


Haifa takut jika Alvin melibatkan Aina maka Haifa akan menjadi lemah dengan keputusan yang ia buat.


Pak Alvin


'Baiklah.'


Haifa


'Terimakasih kalau begitu. Assalamualaikum.'


Pak Alvin


'Wa'alaikumsalam.'


Haifa menarik napas lega. Ternyata tidak sesulit itu. Berkomunikasi dengan Alvin mendadak membuatnya rindu pada Aina.


Biasanya setiap hari bocah kecil itu selalu menelponnya. Tapi akhir akhir ini mungkin karena Haifa tidak pernah mengangkatnya Aina sudah mulai bosan menghubunginya.


"Aina lagi apa? Kangen aunty tuh." ucap Haifa.


Waktu yang sudah disepakati oleh mereka akhirnya tiba.


Pak Alvin


'Assalamualaikum. Saya Di Kampus, mau bareng?' tawar Alvin.


Haifa


'Wa'alaikumsalam. Terimakasih tapi saya bisa berangkat sendiri.'


"Haifa mau kemana sih kok buru buru?" tanya Inara.


"Haifa mau pulang Ina. Cukup jauh ke rumah Haifa kalau lama nanti kemalaman." Alasan Haifa.


"Kalau jauh kenapa kamu pulang sih? Ada kostan juga buat apa?" tanya Dinda.


"Bukan gitu tapi Mama sama Papa tuh sekarang di rumah lagi berdua aja Teteh teteh lagi gak ada di rumah. Sepi katanya jadi Haifa pulang." Kembali Haifa harus mencari alasan.


"Oh yaudah kalau gitu. Hati hati ya." kata Inara.


"Terimakasih. Kalau gitu Haifa pamit ya Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Tiga puluh menit Haifa sampai di tempat yang sudah ditentukan. Sengaja Haifa mencari tempat yang cukup jauh dari kampus. Menghindari resiko bertemu dengan teman teman sekampus atau parahnya bertemu salah satu dosen lain atau stap kampus.


Alvin sampai lebih dahulu.


Pak Alvin


'Assalamualaikum. Saya sudah sampai. Kamu dimana?'


Haifa


'Wa'alaikumsalam. Maaf saya masih di perjalanan pak.'


Pak Alvin


'Saya tunggu.'


Haifa tidak membalas lagi, lagian tak tau juga harus membalas apa.


Cukup lama menunggu. Tapi belum ada tanda tanda kedatangan yang ditunggu. Alvin memutuskan untuk menghubunginya lagi.


Pak Alvin

__ADS_1


'Kamu tidak sedang main main kan?'


Haifa tidak membalas karena ia sudah berada di pintu masuk tempat tersebut.


"Assalamualaikum." ucap Haifa.


"Wa'alaikumsalam. Duduk."


Haifa menoleh ke kanan dan kiri. Dalam hatinya berbicara.


'Duh kenapa pak Alvin milih tempat duduknya di yang sepi sih.'


"Tadi penuh dan hanya tersisa di sebelah sini. Kalau kamu tidak nyaman dan ingin mencari yang lebih ramai kita bisa pindah dari sini." ucap Alvin mengerti dengan yang dikhawatirkan oleh Haifa.


"Sepertinya tidak usah pak. Ini juga masih cukup ramai yang penting bukan dalam ruang tertutup dan hanya berdua." jawab Haifa.


"Jadi?" tanya Alvin.


Haifa tampak menarik nafas.


"Begini pak. Sebelum menjawab pertanyaan bapak waktu itu. Saya ingin memberitahu sesuatu yang mungkin bisa membuat bapak memiliki pilihan lain." ucap Haifa.


"Maksud kamu?"


"Bapak tau Inara Managemen 4B?" tanya Haifa.


"Mahasiswa saya bukan hanya satu kelas." jawab Alvin.


"Jadi gini, Inara itu sahabat saya."


"Hubungannya dengan saya?"


"Ih dengerin dulu pak."


"Oke."


"Inara itu sahabat saya. Yang saya tahu sahabat saya itu suka dengan bapak."


"Lalu?" sebenarnya Alvin mulai faham kemana arah obrolan ini. Tapi ia masih mencoba mendengarkan.


"Bapak mungkin bisa mempertimbangkan Inara untuk menjadi pilihan bapak?" ucap Haifa hati hati takut menyinggung Alvin.


"Usia dan status saya bukan waktunya untuk bercanda atau mementingkan perihal perasaan suka."


"Salah satu faktor utama yang saya cari juga yang bisa menerima anak saya dan diterima anak saya."


"Saya bisa bantu bapak buat mendekatkan Aina dengan Inara pak." ucap Haifa.


"Tidak perlu repot repot. Anak saya bukan hewan peliharaan yang bisa dengan mudah berganti majikan. Anak saya tidak semenyedihkan itu."


"Pak Ma... Maksud saya bukan begitu." kata Haifa.


"Saya pikir pertemuan ini akan memberikan sebuah kejelasan. Tapi ternyata tidak ya. Sepertinya kamu masih butuh waktu. Saya beri waktu tambahan kalau begitu. Lain kali jangan repot repot mengajak saya ketemu di tempat yang jauh kalau tidak ada yang penting."


Deg... Haifa merasa bersalah. Haifa salah, Alvin tersinggung dengan ucapannya.


"Pak.." panggil Haifa tapi tidak digubris oleh Alvin.


"Sebenarnya yang saya butuhkan hanya jawaban iya atau tidak. Saya sudah siap dengan apapun jawaban kamu. Jika kamu jawab tidak saya sudah siap dengan kemungkinan kamu akan menghindari saya dan menjauh dari anak saya. Saya sudah siap. Jika kamu jawab Ya, saya juga tidak semata mata akan langsung mengajak kamu menikah. Mungkin nantinya ke arah sana. Tapi tidak secepat itu prosesnya."


"Jika kamu menjawab Ya pun belum tentu keluarga kamu mengiyakan juga. Sebenarnya kamu hanya perlu menjawab Iya atau Tidak. Sisanya apapun jawabannya tetap saya yang akan berjuangkan?"


"Jika kamu jawab Ya. Maka saya harus berjuang dihadapan keluarga kamu. Dan jika kamu jawab tidak saya harus berjuang menormalkan kembali kehiduapan saya terutama anak saya ke titik dimana dia belum mengenal kamu."


"Pak." panggil Haifa tapi lagi lagi tidak ditanggapi oleh Alvin.


"Sudah terlalu sore. Saya masih punya tanggungjawab lain. Saya permisi dulu kalau begitu. Assalamualaikum." pamit Alvin kemudian meninggalkan Haifa bahkan sebelum salamnya dijawab.


Haifa menyesali ucapannya yang sudah menyinggung dan mungkin melukai hati Alvin. Tapi disisi lain Haifa juga terbebani dengan Inara. Iya tau sahabatnya itu sering menceritakan bahwa dirinya menyukai Alvin.


Haifa melipat tanganya di atas meja kemudian menyembunyikan wajahnya di atas lipatan tangan. Air matanya tiba tiba jatuh begitu saja.


Ia menyinggung dan melukai hati dosennya. Kemudian jika Inara tau kejadian ini apa Inara tidak merasa tersinggung juga?


"Haifa bodoh. Haifa bodoh." ucap Haifa merutuki dirinya sendiri.


***

__ADS_1


**To be continued...


See you next part**...


__ADS_2