
Alvin sudah berada di rumah mereka sekarang. Mereka sama sama diam, Alvin berharap Haifa yang akan bertanya lebih dahulu. Tapi sepertinya Alvin harus mengalah.
"Ada yang mau kamu jelaskan?" tanya Alvin dengan dinginnya.
Haifa menggeleng.
"Yakin?"
Haifa mengangguk.
"Apa kamu tidak mau menjelaskan kenapa kemarin kamu pergi ke rumah sakit sendiri? Padahal sebelumnya kamu hanya izin untuk pergi ke rumah mama."
"Ma... Mas tau?" tanya Haifa gugup.
"Kenapa gugup? Jadi kenapa?" tanya Alvin dengan intonasi yang lebih tegas.
"Itu... Itu... Mas tau darimana?"
"Jelaskan sama saya, ada kepentingan apa kamu ke rumah sakit?"
"Haifa cuma, cuma itu anu em."
"Jawab Haifa."
"Maaf." jawab Haifa.
"Saya tidak perlu kata maaf saya hanya butuh penjelasan. Untuk apa kamu datang ke rumah sakit tanpa seizin saya? Kamu sakit apa sampai harus disembunyikan dari saya?" tanya Alvin.
Tunggu Haifa jadi diam seketika. Oh Haifa tau, suaminya itu hanya tau jika dirinya pergi ke rumah sakit. Tapi belum tau apa apa mengenai untuk apa Haifa ke rumah sakit.
"Yaudah iya Haifa jelasin tapi gak usah marah marah."
"Tunggu sebentar." ucap Haifa sambil berjalan menuju ke kamar.
Tidak lama Haifa sudah kembali lagi dengan membawa sebuah amplop. Haifa menyerahkan amplop tersebut pada Alvin kemudian Haifa duduk diposisi semula.
Alvin menerima amplop tersebut matanya memandangi amplop berlogo rumah sakit tersebut sambil melirik Haifa.
"Bukanya bismillah dulu. Gak usah pake marah marah." ucap Haifa.
"Saya gak butuh ini. Saya butuh penjelasan langsung dari kamu." ucap Alvin sambil meletakan amplop tersebut keatas meja.
"Yaudah terserah kalau emang gak mau tau. Haifa mah gak rugi. Haifa malas jelasin kalau mau tau ya buka aja. Kalau enggak yaudah terserah." ucap Haifa sambil berjalan kearah kamar meninggalkan Alvin yang masih memandangi amplop tersebut.
Daripada penasaran Alvin membuka amplop tersebut. Ada selembar kertas yang terlipat serta selembat foto hasil USG. Tanpa membaca suratnya lagi Alvin langsung berlari ke arah kamar menaiki satu persatu anak tangga dengan tidak sabaran. Walaupun Alvin bukan seorang dokter seperti abangnya. Tapi hanya melihat kertas USG tersebut Alvin juga bisa tahu.
Alvin melihat istrinya baru saja keluar kamar mandi. Ia langsung memeluk Haifa sambil menciumi kepala Haifa.
"Ih mas lepas ah. Jauh jauh sana." ucap Haifa sambil berusaha mendorong tubuh Alvin.
Alvin tidak peduli ia masih memeluk Haifa. Dorongan Haifa sama sekali tidak berpengaruh bagi Alvin.
"Mas lepas." rengek Haifa.
"Kenapa gak bilang? Terus kamu tahu ini sejak kapan?" tanya Alvin sambil melonggarkan pelukannya dan menuntun Haifa untuk duduk di tepi ranjang.
"Jadi sudah sejak kapan?" tanya Alvin sekali lagi.
"Haifa taunya kemarin." jawab Haifa.
"Kenapa gak bilang dari kemarin? Berarti kalau mas gak tau kamu kemarin pergi ke rumah sakit, dan mas gak nanya berarti kamu gak akan bilang?"
"Bukan gitu, Haifa mau kasih tau. Menurut mas kenapa kemarin Haifa mendadak nanya terus mas pulang kapan? Karena Haifa pengen kasih tau mas."
"Kenapa gakblangsung kasih tau aja? Kalau gitukan mas bisa usahakan gak pulang malam kemarin."
"Masa iya kabar bahagia cuma Haifa sampaikan lewat chat."
"Terus kenapa gak bilang dari semalam?"
"Gak mood aja. Udah cape." jawab Haifa seadanya.
"Lagian mas juga udah pengalaman punya Aina, masa iya gak peka." lanjut Haifa.
"Bukan gak peka. Mas udah curiga juga lihat kamu tiap pagi selalu mual dan muntah muntah. Mas beberapa kali ajak kamu ke dokter. Tapi kamu yang selalu bilang gak apa apa. Yaudah mas percaya mas gak mau kamu nantinya merasa seolah olah dipaksa untuk cepat hamil."
"Iya tapi curiganya mas itu selalu ke arah sakit. Kesel Haifa dengernya dikira Haifa penyakitan kali."
"Ya karena mas gak mau dikira mendesak kamu biar cepet hamil."
"Mas bahagia enggak?"
"Kamu becanda?"
"Haifa serius."
"Pertanyaan bodoh."
Haifa memanyunkan bibirnya. Alvin merapatkan duduknya dengan Haifa. Kemudian menangkup wajah Haifa.
"Mas seneng banget sayang. Terimakasih yaa." ucap Alvin sambil mencium kening Haifa kemudian memeluknya. Sebenarnya Haifa sudah busa melihat raut kebahagiaan dari wajah Alvin. Tapi rasanya kurang afdol jika Haifa tidak mendengar langsung dari Alvin.
"Emm. Mas bau." ucap Haifa sambil mendorong tubuh Alvin.
Alvin melepaskan pelukannya, ia langsung menciumi ketiak kiri dan kanan secara bergantian.
"Enggak kok. Ini masih wangi parfum malah. Bau apa sih, nih coba cium." kata Alvin sambil mendekat.
"Enggak mau. Mas bau, jangan deket deket." ucap Haifa sambil menjauh.
Alvin hanya menghela nafas. Alvin tidak terima sebenarnya ketika harus berjauhan tapi bagaimana berdebat juga sepertinya Alvin kalah.
__ADS_1
"Kamu udah kasih tahu mama, papa, ibu dan ayah?" tanya Alvin.
Haifa menggeleng.
"Kenapa? Ini kabar bahagia pasti mereka ikut bahagia."
"Sebentar mas kasih tau mereka dulu." kata Alvin sambil mengambil handphone dari saku celana miliknya.
"Jangan dulu mas." ucap Haifa sambil memegang lengan Alvin.
"Kenapa?"
"Takut."
"Kok takut?"
"Dokter bilang usianya masih sangat muda, untuk kehamilan pertama ini masih sangat rawan terjadinya keguguran. Haifa takut kalau kita kasih tahu sekarang." jawab Haifa.
"Sayang, justru kita harus kasih tahu dari sekarang. Selain berbagi kebahagiaan. Biar mereka juga sedikit banyak bisa bantu jagain kamu." ucap Alvin sambil mengelus kepala Haifa.
"Tapi nanti kalau sampe..."
"Udah ah gak usah mikir yang belum tentu. Sekarang kita fokus aja jaga yang di sini biar bisa tumbuh dengan baik dan nanti kalau udah waktunya dia bisa ikut berkumpul sama kita." ucap Alvin sambil mengelus perut rata milik Haifa. Posisi duduk mereka memang cukup jauh tapi tangan Alvin masih sampai jika hanya menggapai perut dan kepala.
Setelah mengabari kedua pasang orang tua, Alvin berpamitan untuk kembali ke kantor. Tentu saja sebelum berangkat ia sudah memberikan petuah petuah untuk sang istri.
Jika boleh jujur sebetulnya Haifa takut memberitahu mertuanya jika dirinya hamil. Karena Haifa takut jika mertuanya tau ia tengah mengandung mertuanya itu jadi akan rajin berkunjung ke rumah mereka. Bukan tidak mau dikunjungi. Tapi ya seperti biasanya setiap kali bertemu ibu oleh olehnya pasti selalu sampai ke hati.
Pukul 15.30 Alvin sudah sampai di rumah. Ia langsung pergi ke kamarnya, yang dicari tidak ada ia langsung ke kamar putrinya. Alvin melihat Haifa baru saja selesai memandikan Aina. Ketika Haifa hendak menggendong Aina, Alvin spontan menghentikannya.
"Eh. Aina jangan di gendong dong kan udah besar." larang Alvin.
Haifa dan Aina yang baru menyadari kehadiran Alvin mereka sama sama mengerutkan kening. Alvin menghampiri keduanya lalu menggantikan Haifa menggendong Aina dari kamar mandi ke tempat tidur.
"Kenapa?" tanya Aina menjawab pertanyaan Alvin yang sudah terjeda cukup lama.
Alvin dan Haifa saling pandang, mereka belum sempat berbicara bagaimana penyampaian yang baik pada Aina.
"Iya kan Aina udah besar. Udah mulai berat. Jadi harus belajar gak digendong dong." kata Alvin menyampaikan dengan sangat lembut.
"Aina gak belat papa."
"Berat sayang."
"No. Papa Aina kan matih kecil. Papa yang belat."
"Iya memang Aina gak seberat Papa. Tapi tetep aja gak boleh terlalu sering minta di gendong bunda ya sayang. Kalau mau di gendong sama papa aja." kata Alvin.
"No. Aina mau tama bunda."
"Sayang, kok gak nurut sama papa?"
"Aina gak boleh gitu dong sayang. Bunda kan lagi..."
"Papa." ucap Haifa memotong ucapan Alvin.
"Papa mending mandi dulu deh." lanjut Haifa.
"Tana papa mandi, bial papa gak bau. Wlee." kata Aina sambil menjulurkan lidahnya pada Alvin.
Tak terima diledek oleh anaknya Alvin sengaja menghampiri Aina. Memeluknya kemudian mendekatkan wajah Aina ke ketiaknya.
"Ahahaha no papa no." rengek Aina sambil meronta ronta.
"Ini hukuman buat Aina yang berani ngeledek papa." ucap Alvin sambil menggelitiki Aina. Aina terus meronta, jika dilihat sekilas mungkin tampak seperti sedang baku hantam. Tapi percayalah setiap pergerakan yang dilakukan Alvin sama sekali tidak menyakiti. Hanya jari jarinya yang sesekalo menggelitiki perut dan pinggang Aina. Serta bibirnya yang terus menciumi dan menggigit pelan putrinya.
"Hahaha papa monstel. Aina putli." kata Aina malah merasa sedang perang perangan dengan Alvin.
"Oke." jawab Alvin menerima.
"Papa udah dong." melihat Alvin dan Aina tidak berhenti dengan kegiatannya.
"Diam bunda ini urusan monster sama tuan putri." jawab Alvin.
Haifa hanya geleng geleng kepala.
"Sayang udahan yuk." kini Haifa mencoba membujuk Aina.
"No bunda. Tuan putli halus melawan monstel." jawabnya sambil menaiki punggung Alvin.
Anak dan papa itu memang sifatnya tidak jauh beda.
Setelah beberapa menit peperangan antara tuan putri dan monster itu akhirnya di menangkan oleh tuan putri. Ya tentu saja si monster pasrah.
"Udah selesai?" tanya Haifa setelah keduanya sama sama terkapar diatas tempat tidur.
Mereka berdua hanya mengangguk.
"Siapa yang menang?"
"Tuan putli." "Monster." jawab mereka bersamaan.
"Tuan putli yang menang papa." kata Aina sambil bangkit dan duduk diatas perut Alvin yang masih berbaring.
"Monster sayang."
"Tuan putli."
"Monster."
"Bundaaa tuan putli yang menang kan?"
__ADS_1
"Hm bunda gak tau kan tadi bunda disuruh diam."
Aina mengerucutkan bibirnya.
"Haha kasian gak dibelain bunda." ledek Alvin.
"Papa." tegur Haifa.
"Haha oke oke tuan putri yang menang."
"Holee Aina menang papa kalah wlee."
"Iya papa kalah kalau perangnya lawan Aina. Tapi papa menang kalau perangnya lawan bunda. Iya gak bun?" kata Alvin sambil mengedipkan mata pada Haifa.
"Papa gak boleh pelang pelangan tama bunda." ucap Aina kemudian beralih memeluk Haifa.
"Yee kenapa suka suka papa dong."
"Enggak boleh papa."
"Boleh dong."
"Enggak papa."
"Papa udah deh. Ribut terus. Sana bersih bersih." tegur Haifa.
"Iya iya." kata Alvin mengalah kemudian pergi ke kamar untuk membersihkan diri.
Sudah pukul 20.30, Aina sudah tertidur sejak tadi. Haifa dan Alvin juga sudah berada di kamar. Haifa masih dalam mode tidak mau berdekatan dengan Alvin dan tidak nyaman menghirup bau tubuh Alvin.
"Kamu udah coba ngobrol sama Aina sayang?"
"Ngobrol apa? Tiap hari juga ngobrol." jawab Haifa.
"Ngobrol perihal Aina yang bakalan punya adik."
"Kalau ngobrol secara langsung kalau Aina bakal punya adik sih belum. Tapi Haifa tadi sempet ngobrolin Fiqri. Ya gitulah Haifa tanya Aina suka enggak liat bayi kaya adek Fiqri. Dia jawab suka karena lucu. Ya begitu aja."
"Kamu kapan periksa ke dokter lagi?"
"Awal bulan depan sih dokter mintanya."
"Yaudah sebelum ke dokter lagi kita harus udah kasih tau Aina. Biar nanti kalau kita ajak dia buat liat calon adeknya dia gak kaget."
Haifa mengangguk.
"Kemarin waktu periksa ke dokter. Dokter ada bilang gak yang di dalam dua atau satu?" tanya Alvin.
"Belum kelihatan katanya masih terlalu kecil."
"Kok mas jadi berharap pengen dapat twin ya."
"Aamiin. Tapi apapun itu harus tetap di terima loh mas."
"Ya iya lah sayang. Mau tunggal atau kembar. Laki laki atau perempuan mas mah gak jadi masalah."
"Yang penting selama prosesnya kamu sehat, dedenya juga sehat."
"Mas dulu waktu mamanya Aina lagi hamil Aina gimana?" tanya Haifa.
Alvin menatap Haifa. Terkejut dengan pernyataan yang diucapkan oleh Haifa.
"Kenapa? Haifa salah ya?"
"Bukan salah sayang. Tapi yang mas tau kondisi ibu hamil itu jauh lebih sensitif. Mas cuma gak mau kamu sekarang bisa bertanya begini. Tapi nanti setelah mas jawab kamu jadi kesel atau uring uringan."
"Enggak kok. Serius, Haifa cuma mau tau aja."
Alvin menatap Haifa dalam dalam. Memastikan sekali lagi.
"Mas..." panggil Haifa.
"Udah ah. Tidur aja yuk."
"Mas..." rengek Haifa.
"Sayang udah ya tidur." kata Alvin sambil hendak memelul Haifa.
"Ih dibilang jangan deket deket. Sana jauh." usir Haifa masih tampak kesal karena Alvin yang tak mau menjawab pertanyaannya.
"Mas gak boleh lewatin guling ini ya. Haifa kesel. Awas aja kalau pas bangun Haifa lihat mas lewatin guling ini. Haifa marah." ucapnya setelah meletakan sebuah guling di tengah mereka.
"Yakin gak mau di peluk?"
"Gak!"
"Dingin loh sayang."
"Biarin."
"Nanti kamu kedinginan sayang."
"Gak."
Alvin menarik nafas pasrah menuruti kemauan sang istri.
***
**To be continued...
See you next part**...
__ADS_1