Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 65


__ADS_3

Happy Reading...


Setelah makan, mereka langsung jalan pulang karena sudah malam. Acara makan tadi menjadi pucak quality time mereka hari ini. Tiga jam mereka menghabiskan waktu di sana. Selain makan, mereka juga banyak ngobrol empat mata dari hati ke hati. Karena tempatnya juga nyaman.


"Yang."


"Hm."


"Fokusnya ke handphone terus. Padahal kita lagi quality time loh." protes Alvin.


"Ya mas kan lagi nyetir. Haifa lagi tanya anak anak ke mama. Sebentar ya." kata Haifa sambil mengusap pipi Alvin.


"Yang next time kita jalan-jalannya pake motor ya. Mau nggak?"


"Boleh. Seru pasti, Haifa juga udah lama gak perjalanan jauh naik motor." jawab Haifa.


"Eh mas, ini bang Ken video call ke hp mas." kata Haifa.


"Angkat aja Yang."


Saat Haifa menerima panggilan video dari Keanu yang muncul bukan hanya wajak Keanu. Tapi tampak juga punggung Aina yang sedang nemplok di dadak Keanu sambil menangis.


"Assalamualaikum." sapa Haifa.


"Wa'alaikumsalam. Itu bundanya, tadi nyari bunda." kata Keanu sambil berusaha merubah posisi Aina agar menghadap ke depan. Tapi tangan Aina begitu erat di leher Keanu.


"Na-ma-u." jawab Aina sambil menangis.


"Sayang, kok gak mau bicara sama bunda." kata Haifa.


"Nangis?" tanya Alvin. Haifa mengangguk.


"Kakak, kok nangis? Udah dong nangisnya. Papa sama bunda udah di jalan nih. Sebentar lagi pulang mau dibelikan apa?" kata Alvin ketika Haifa mengarahkan handphone pada Alvin.


"Na-ma-u. Na-kal, pa-pa ta-ma bun-da na-kal. Heu heu." katanya sambil menangis sesenggukan.


"Bunda tadi belikan baju loh lucu buat kakak sama adek. Nanti samaan sama bunda sama papa juga." kata Haifa.


"Tuh dibelikan baju katanya." kata Keanu sambil sebelah tangannya mengelus punggung Aina.


"Pu-lang bun-da na pu-lang." katanya tersendat-sendat karena menangis.


"Iya ini pulang sayang sabar ya nak. Bunda lagi di perjalanan." kata Haifa.


"Te-pat."


"Iya sayang ini cepat kok. Kakak tadi main apa aja sama abang Dikta sama abang Arsyad?" tanya Haifa mencoba menarik perhatian Aina.


"Tuh cerita dong sama bunda." kata Keanu.


"Na-ma-u."


"Pu-lang. Bun-da ti-ni." katanya sambil tetap sesenggukan. Haifa jadi kasihan dan semakin tidak tenang. Apalagi perjalanan masih cukup jauh.


"Bunda, tadi kakak abis beli es krim sama abang sam om. Iya kan?" kata Keanu bertanya pada Aina. Aina hanya mengangguk di dada Keanu.


"Terus apalagi selain jajan?" tanya Haifa.


"Kakak Aina main apa lagi ya? Aduh om Ken lupa." kata Keanu.


"Ma-in a-il." kata Aina masih dengan sisa-sisa bekas menangis.


"Oh iya tadi main air ya sama abang. Terus main apalagi?"

__ADS_1


"U-dah. Na-ma-u ce-li-ta." jawabnya.


"Haha gemes banget sih." kata Keanu sambil mendekap Aina dengan sebelah tangannya.


"Udah lama bang nangis gitu?" tanya Haifa.


"Enggak. Tadi mah anteng main sama Arsyad sama Dikta. Tapi barusan pada pulang. Terus Aidan juga tidur. Gak ada teman jadi nyari-nyari." kata Keanu.


"Bun-da pu-lang ka-kak ma-u ta-ma bun-da." katanya kembali merengek.


"Iya sayang sabar ya nak."


Sampai video call berakhir Aina tidak mau menunjukan muka. Setelah video call berakhir Aina yang awalnya sudah tenang kembali menangis dan meminta menelpon lagi.


"Tadi ditelpon kakaknya gak mau lihat bunda. Sekarang mau telpon lagi?" tanya Keanu. Aina mengangguk.


"Tapi berhenti dulu nangisnya." kata Keanu sambil ngusap air mata Aina. Video call kembali dilakukan dan baru berakhir ketika Alvin dan Haifa sampai di parkiran rumah mamanya.


"Assalamualaikum." kata Haifa langsung masuk ke dalam rumah. Karena pintunya belum terkunci. Aina yang sudah hapal dengan suara Haifa, langsung berlari dan menghambur memeluk Haifa.


"Sayang." kata Haifa sambil memcium dan menggendong Aina. Alvin yang berada di belakang Haifa ikut mengelus kepala Aina.


"Kenapa nangis?" tanya Alvin yang melihat kepala Aina di bahu Haifa. Aina tidak menjawab malah menyembunyikan di leher Haifa.


Haifa membawa Aina duduk di ruang keluarga, di sana juga sudah ada Keanu dan Papa.


"Bunda punya ini buat kakak. Mana pa, yang buat kakak." kata Haifa.


"Nih buat kakak." kata Alvin menyerah sebuah paper bag pada Aina. Aina langsung menerimanya.


"Mama mana pa?" tanya Haifa.


"Ikut tidur kayaknya sama Aidan." jawab papa.


"Aidan rewel gak pa?"


"Papa tama bunda nakal tinggal kakak." katanya.


"Kan tadi papa sama bunda beli ini buat kakak." kata Alvin.


"Dibuka dong." kata Haifa. Aina langsung membukanya dan isinya beberapa jenis mainan.


"Suka?" tanya Haifa.


"Nggak." jawab Aina.


"Nggak suka. Belina gak tama kakak." katanya. Dasar Aina, bilannya gak suka. Tapi sekarang ia sudah duduk di karpet dan mainan tersebut satu persatu ia keluarkan dari kardusnya.


"Kok dibuka? Sini kembalikan lagi ke papa. Kakak kan gak suka." kata Alvin.


"Aaaa gak mau." kata Aina.


"Tadi katanya gak suka?" kata Haifa.


"Kai. Papa tama bundana nakal. Mau ambil mainan kakak." Adunya Aina, berlari kearah kai sambil membawa mainan barunya. Semua yang ada di ruang keluarga tertawa dengan tingkat Aina.


"Pa, Aidan di kamar papa?"


"Iya tadi sama mama di kamar papa."


"Haifa lihat Aidan ke kamar ya."


"Iya sok aja."

__ADS_1


Hampir tengah malam Aina baru tidur. Beberapa jam sebelumnya juga sempat ada drama. Ketika Haifa akan mandi, Aina tidak mau ditinggal sampai harus dibujuk Alvin dan sampai rela menunggu di depan pintu kamar mandi.


"Gimana hari ini, senang gak?" tanya Alvin saat mereka masih duduk berdua di sofa kamar. Sedangkan kedua anaknya sudah terlelap di tengah tempat tidur.


"Senang banget makasih ya." kata Haifa sambil memeluk pinggang Alvin dari samping.


"Anyting for you." jawab Alvin sambil menciun puncak kepala Haifa.


"Bisa aja." kata Haifa sambil mencubit perut Alvin.


"Kok dicubit sih." Alvin mengelus perutnya.


"Yang?"


"Sayang gak sama mas?"


"Harus banget ditanya?"


"Kamu kan gak pernah manggil sayang."


"Tapi bukan berarti gak sayang kan?"


"Jadi sayang gak?"


"Sayang." jawab Haifa.


"Iya kenapa sayang?" jawab Alvin.


"Dih apaan sih." kata Haifa. Alvin tertawa puas melihat Haifa yang malu-malu.


"Berisik anak-anak bangun nanti." kata Haifa.


"Gak mau banget diganggu anak anak?"


"Ih bukan gitu. Tapi nanti rewel kalau tidur keganggu tuh." kata Haifa.


"Pegel Yang. Tolong pijat dong." kata Alvin sambi memegang pundaknya.


"Yaudah duduknya di bawah."


Haifa merasa terabaikan. Karena saat Haifa memijat pundak dan punggung Alvin, suaminya itu malah enak-enakan main game. Bahkan beberapa kali Haifa mengajak ngobrol diabaikan Alvin.


"Mas ih."


"Lagi Yang sebelah sini." katanya.


"Males." jawab Haifa. Haifa langsung berganti posisi yang awalnya duduk dibelakang Alvin. menjadi masuk ke pelukan Alvin dan duduk menghadap Alvin diatas kaki Alvin yang bersila. Berharap Alvin akan terganggu. Tapi tidak sama sekali.


"Mas!"


"Apa?" kata Alvin mengusap punggung Haifa. Tapi matanya tetap fokus pada game nya.


"Tau ah." kata Haifa memilih memejamkan mata dan membenamkan wajahnya di leher Alvin. Melihat itu Alvin menengok sedikit kearah Haifa. Mencium sekilas rambut Haifa.


"Selamat tidur." bisiknya.


***


To be continue...


See you next part...


Mohon maaf ya kalau ada adegan yang rada jauh dari dunia nyata, sedikit-sedikit ada adegan ala ftv gak apa lah ya namanya juga fiksi 😁

__ADS_1


Kritik dan saran boleh banget, bisa disampaikan di komentar atau di grup chat ya ☺


Terimakasih 🤗


__ADS_2