
Happy Reading...
Pukul 10.30 Waktu Indonesia Bagian Rumah Alvin, Alvin baru saja sampai di rumah. Di rumah sudah ada Mama yang menunggu mereka. Mama memang menawarkan diri untuk menunggu di rumah serta beres-beres, katanya "Namanya rumah seminggu enggak ditempati pasti dingin. Biar mama rapi-rapi sedikit terutama kamar anak-anak." begitu katanya. Padahal Haifa sendiri sudah meminta tolong pada bu Ani dan pak Ari yang biasa membantu di rumah untuk membereskan rumah. Tapi yang namanya orang tua sudah punya keinginan itu kadang susah dibantah seperti Mama saat ini.
"Alhamdulillah cucu-cucunya Umi udah pulang semua. Sini kakak sama Umi." kata Mama sambil mengambil Aina dari gendongan Haifa.
"Kakak mau boboan di kamar?" tanya Mama saat mereka sudah duduk di ruang keluarga. Aina menggeleng "Di sini aja." jawabnya, sambil merebahkan diri di sofa.
"Di kamar aja yuk sama bunda." ajak Haifa sambil mengelus kepala Aina. Aina menggeleng, "Di sini aja. Mau tonton tv, boleh?" tanya Aina. Haifa mengangguk lalu menyalakan televisi dan mencari channel kids education favorite Aina.
"Ma, maaf ya. Alvin jadi merepotkan Mama."
"Repot apa atuh. Kan Mama yang mau."
"Udah gak usah mikir repot-ngerepotin. Kalian udah sarapan belum? Sana makan dulu udah siang. Mama tadi bawa makanan tuh di meja makan. Sok sini Aidannya sama Mama. Kalian makan, jangan sampai anak-anak sembuh kalian yang sakit." kata Mama.
"Ayo makan dulu." ajak Haifa pada Alvin.
"Sini Aidannya." kata Mama mengambil Aidan dari Alvin.
"Bunda mau mana?" tanya Aina saat melihat Haifa dan Alvin beranjak dari sofa.
"Mau makan dulu. Kakak mau makan?" tanya Haifa. Aina menggeleng.
"Kakak sama Umi dulu ya. Bunda sama Papa biar makan dulu." kata Mama. Aina mengangguk dan kembali merebahkan diri di sofa.
"Mau teh anget?" tanya Haifa pada Alvin ketika mereka sudah berasa di meja makan.
"Enggak usah deh. Air putih aja tolong Yang." kata Alvin. Haifa menuangkan segelas penuh air putih dan menyerahkannya pada Alvin.
"Mau sama apa aja?" tanya Haifa setelah menyendokan nasi untuk Alvin.
"Sama sop ayam sama tempe goreng aja." mereka makan dengan tenang.
"Yang..." panggil Alvin setelah selesai makan.
"Apa?"
"Mas besok mulai ngantor boleh?"
"Kenapa gak boleh, kan emang kewajiban mas."
"Tapi nanti kamu jaga anak-anak sendiri. Sementara mereka masih belum pulih." kata Alvin.
"Ya gak apa apa. Asal jangan susah dihubungi aja." kata Haifa. Alvin tersenyum.
"Masih dibahas ya. Belum dimaafkan sepenuhnya berarti ya?" kata Alvin sambil menatap Haifa.
"Ya kesel aja sih kalau sampe keulang. Berarti keluarga gak sepenting itu buat mas." jawab Haifa. Alvin tidak menanggapi lagi.
Ba'da dzuhur, setelah drama minum obat Aina yang harus sedikit dipaksa karena rasa dari obat tablet yang dihaluskan itu pahit, Aina yang lelah dan mungkin pengaruh obat juga akhirnya tertidur. Begitu juga dengan Aidan yang sejak tadi ikut menangis karena kakaknya menangis, sekarang ia tertidur juga. Mama sendiri sudah pulang sebelum dzuhur tadi.
"Yang sini." Alvin berdiri dari tempat tidur dan menarik pelan tangan Haifa.
"Kemana?" tanya Haifa.
"Sebentar." Alvin membawa Haifa keluar kamar.
"Ada apa sih? Anak-anak lagi tidur loh nanti kalau bangun gak ada di sana mereka rewel."
"Sebentar sayang. Kalau di kamar justru nanti anak-anak merasa terganggu ." kata Alvin. Haifa diam saja dan mengikuti Alvin yang membawanya ke ruang kerjanya.
"Yang dengar, kita perlu bicara." kata Alvin sambil menggenggam kedua tangan Haifa yang sudah duduk di sofa ruang kerja Alvin.
"Gak usah dibahas lagi Haifa malas ribut." ketus Haifa.
__ADS_1
"Justru kita harus bahas biar semuanya selesai. Biar gak ada lagi kamu yang mengira kalau Mas gak memprioritaskan kalian karena kesalahan Mas kemarin." kata Alvin sambil menggenggam tangan Haifa dan menatap dalam dalam matannya.
"Setelah mas menikah, gak ada yang lebih Mas prioritaskan selain kalian yaitu, kamu dan anak-anak. Masalah yang kemarin, yang Mas susah dihubungi itu murni kesalahan Mas. Bukan berarti Mas gak memprioritaskan kalian. Mas usahakan gak akan terulang lagi."
"Mas minta maaf. Benar-benar minta maaf, gak ada saat kalian butuh. Tapi Demi Allah, kemarin saat mas susah dihubungi Mas benar-benar kerja gak macam-macam. Waktu itu sengaja jadwal dipadatkan biar cepat pulang."
"Mas sengaja bahas masalah ini lagi. Karena beberapa waktu lalu waktu kita bahas masalah ini kita lagi sama-sama capek. Kamu juga lagi emosi banget. Jadi gak hasil apa-apa. Seminggu ini juga kita gak bahas karena kita selalu sama anak-anak dan kondisinya gak memungkinkan."
Haifa diam, ia jadi diingatkan lagi bagaimana emosinya Haifa waktu itu. Sampai berani menaikan suara di depan Alvin, memanggil Alvin dengan hanya menggunakan nama tanpa panggilan hormat. Haifa meresa kurang ajar sekali dirinya, membentak suami.
"Mas mau masalah ini benar-benar selesai. Karena terselesaikan dengan baik, bukan selesai karena dianggap selesai atau dilupakan dan suatu saat bisa terungkit lagi."
"Lagi-lagi mas minta maaf. Tapi Mas di sana benar-benar kerja. Gak sesuai dengan prasangka kamu yang mengira Mas di sana terlalu asik dengan rekan kerja perempuan yang cantik-cantik, sampai lupa dan mengabaikan kalian. Gak begitu Yang. Ya memang rekan kerja yang perempuan ada, karyawan Mas yang perempuan juga banyak. Tapi gak pernah sedikitpun Mas berinteraksi diluar konteks pekerjaan dengan mereka." kata Alvin.
Haifa diam dan ia merasa benar-benar kurang ajar sekarang, karena emosinya Haifa berani berpikir jika Alvin sedang bermain-main dengan wanita lain saat Alvin jauh dari pandangannya. Alvin juga sudah membuktikan bahwa dirinya sangat peduli dengan keluarga, terbukti dengan satu minggu penuh menemanani di rumah sakit. Walaupun Haifa tahu setiap malam saat Haifa dan anak-anak tertidur, Alvin malah bekerja menyelesaikan tanggung jawabnya.
"Mas..." panggil Haifa. Alvin tidak menanggapi karena sejak tadi Alvin tidak lepas memandang wajah Haifa. Haifa mencium punggung tangan Alvin lama.
"Maafin Haifa." katanya pelan. Alvin tersenyum.
"Maafin Haifa, udah kurang ajar sama Mas. Haifa berani bentak Mas, Haifa juga..." Alvin menghentikan ucapan Haifa dengan caranya.
"Mas maafkan. Justru Mas yang merasa bersalah. Melihat kemarin kamu semarah itu Mas merasa benar-benar bersalah karena Mas gak ada saat kamu sangat butuh Mas, yang akhirnya kamu semarah dan sekecewa itu sama Mas. Maaf ya sayang."
"Mas, Haifa juga salah." kata Haifa dengan air mata yang tidak sadar sudah membasahi pipinya. Alvin balas mencium punggung tangan Haifa lalu menghapus air mata Haifa.
"Gak penting mencari siapa yang salah dan siapa yang paling bersalah. Kita saling belajar ya dari kejadian ini. Kita belanja saling memaafkan, kita belajar saling mengerti, memahami satu sama lain lagi, kita belajar menjalin komunikasi yang lebih baik lagi, kita belajar untuk lebih percaya satu sama lain lagi dan banyak lagi yang harus kita pelajari sama-sama. Mau kan belajar lagi sama-sama?" tanya Alvin. Haifa mengangguk. Alvin tersenyum kemudian membawa Haifa kepelukannya. Haifa diam dan memejamkan matanya. Ini yang Haifa mau dari beberapa waktu lalu, saat sedang penat menghadapi kedua anaknya yang sakit. Berada dalam pelukan suaminya, Haifa meresa nyaman, tenang dan terlindungi. Haifa mengeratkan lengannya yang memeluk perut Alvin dari samping.
"Kangen ya seminggu lebih gak bisa begini?" tanya Alvin kemudian mencium kepala istrinya. Haifa mengangguk di dada Alvin.
"Mas juga kangen. Banget malah. Tapi ya Mas tahu diri kamu masih marah sama mas." kata Alvin.
"Maaf." kata Haifa.
"Istirahat yuk di kamar sama anak-anak." kata Haifa sambil mendongak menatap Alvin.
"Kamu duluan ya. Mas mau cek email dulu."
"Gak mau." kata Haifa sambil menggeleng.
"Tadi katanya kangen. Tapi sekarang malah mau kerja. Kangennya sama Haifa apa sama pekerjaan sih?" kata Haifa sambil cemberut.
"Alhamdulillah, istri Mas yang lemah lembut, manja dan gemesin udah kambali."
"Ish emang Haifa kemana?"
"Gak tahu kemana ya? Kemarin beberapa hari mas taunya cuma ibu-ibu yang galak, judes gitu."
"Mas Alviiiinnn ih." kata Haifa mencubiti perut Alvin dengan brutal.
"Haha iya iya maaf. Ampun sayang sakit." kata Alvin sambil memegangi kedua tangan Haifa agar berhenti mencubitnya.
"Yaudah istirahat yuk." ajaknya pada Haifa.
"Gak mau. Sana sendiri." ketus Haifa.
"Kok judes lagi."
"Sendiri yang bilang kalau Haifa ibu ibu yang galak, judes." kesal Haifa.
"Becanda sayang ku, istriku." kata Alvin.
"Terserah gak mood." jawab Haifa.
"Baru baikan kok udah marah-marah lagi. Katanya kangen, hm?"
__ADS_1
"Gak jadi."
"Ada ya kangen gak jadi?"
"Ada. Cuma ibu ibu yang galak dan judes yang bisa. Kenapa gak suka?" sewot Haifa.
"Hahaha becanda sayang. Udah ah ayo kita bobo siang sama anak-anak." kata Alvin sambil mengangkat paksa tubuh Haifa.
"Mas Alviiiin turuniinn! Turuniin sekarang!" kata Haifa sambil meronta.
"Jangan berisik sayang. Nanti anak-anak rewel kalau tidurnya terganggu."
Haifa diam, Alvin terus membawanya ke kamar. Alvin mendudukan Haifa di sofa kamar kemudian dengan enaknya Alvin merebahkan diri di sofa dengan berbantalkan kaki Haifa.
"Ngapain tidur begini? Sana tidur di tempat tidur." kata Haifa.
"Gak mau enak begini. Kalau di tempat tidur nanti kehalang Aina." kata Alvin.
"Dih manja. Gak takut dijudesin sama ibu ibu galak?"
"Enggak." jawabnya sambil gerasak gerusuk mencari posisi nyaman.
"Gak nyaman kan? Haifa bilang juga di tempat tidur, tidurnya. Ini tuh sofa kecil Mas."
"Yaudah iya bentar. Betulin posisi Aina nya dulu. Atau Mas pindah Aina ke kamarnya aja ya?"
"Jangan, nanti bangunnya rewel." kata Haifa.
"Lagian kenapa sih ini tempat tidur masih luas juga. Aina mah kecil gak akan makan tempat." kata Haifa.
"Yaudah geser dikit aja Ainanya." Alvin menggeser sedikit posisi Aina. Sehingga yang semula Aina tidur ditengah, sekarang menjadi agak bergeser ke tepi. Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena sekalipun Aina tidur di tepi ia tidak akan jatuh karena tempat tidur sudah dipasangi bed rail semenjak ada Aidan.
"Kenapa sih mas mau tidur aja riweuh. Capek sendiri Haifa lihatnya."
"Nggak kok udah. Nah sekarang yuk tidur. Enak gak kesekat Aina." kata Alvin.
"Yuk tidur udah ngantuk banget ini." kata Alvin.
"Ya Mas selama di rumah sakit tidurnya malah gak teratur. Lihat tuh mata udah kayak zombie. Tiap malam bukan tidur malah pacaran sama laptop."
"Hahaha ya gimana namanya juga masih punya tanggung jawab. Abisnya gak ada yang ngingetin juga. Yang biasa ngingetinnya lagi error waktu itu."
"Lagi apa mas?"
"Enggak. Udah ah ayo istirahat bunda." kata Alvin sambil menarik Haifa kepelukannya dan memejamkan matanya.
Sudah cukup lama berada dalam posisi seperti ini. Tapi Haifa belum tidur juga, Haifa malah mendongak menatap wajah Alvin. Tampak tenang. Namun terlihat juga wajah yang lelah dari bawah mata yang menghitam.
"Tidur bunda." kata Alvin sambil mengelus punggung Haifa. Haifa tahu Alvin juga belum benar benar tidur.
"Mas aja yang tidur." kata Haifa sambil bangun dari tidurnya dan duduk bersila sambil bersandar ke kepala ranjang.
"Sini. Sambil Haifa pijit, capek kan?" kata Haifa sambil menepuk pahanya.
Alvin yang memang lelah dan sejak tadi tidak nyenyak tidurnya karena badanya yang kurang enak akhirnya menurut dan meletakkan kepalanya di paha Haifa. Jemari Haifa bergerak memijat kepala dan pundak Alvin sampai beberapa menit kemudian Alvin tertidur pulas.
"Kasihan capek ya kurang istirahat." kata Haifa sambil memperhatikan wajah damai Alvin, Haifa sedikit menunduk untuk mencium kening Alvin.
"Maafin Haifa ya. Udah mengabaikan mas belakangan ini." kata Haifa sambil terus mengelus kepala Alvin.
***
To be continued...
See you next part...
__ADS_1