Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 11


__ADS_3

Alvin menunggu jawaban dan Haifa masih tetap dalam diamnya.


Sepertinya di sini Alvin harus mengerti sekarang belum waktunya.


"Ah sudah terlalu malam. Saya mau pamit saja kalau begitu." ucap Alvin.


Haifa mengangguk pelan. Tapi Alvin tak kunjung pergi. Hingga Haifa menatap Alvin sambil mengerutkan kening.


"Kamu masuk dulu. Baru saya pergi." ucap Alvin.


Tanpa kata Haifa langsung membuka gerbang kemudian masuk.


"Assalamualaikum." ucap Alvin setelah Haifa menutup gerbang.


"Wa'alaikumsalam." balas Haifa.


Pagi ini tidak seperti biasanya, Haifa sedikit memiliki beban untuk pergi ke kampus. Bagaimana tidak jadi beban, semalam bisa dibilang Haifa menggantungkan Alvin dengan membiarkan Alvin pergi tanpa jawaban. Dan pagi ini Haifa harus bertemu dengan Alvin selaku mahasiswi dan dosen.


"Haifa kenapa sih dari sampe ke kelas tadi kayaknya tegang banget?" tanya Dinda.


"Eh kenapa? Emang Haifa kenapa?" tanya Haifa.


"Dih balik nanya."


"Assalamu'alaikum." ucap seseorang dari arah pintu. Tentu sudah bisa dipastikan siapa yang masuk kan?


Selama 3 jam Alvin menjelaskan dan selama itu pula Haifa berusaha untuk tetap berkonsentrasi.


"Oke materi hari ini sudah selesai. Apa ada yang ingin di diskusikan?"


Beberapa mahasiswa mengangkat tangan untuk bertanya.


"Apa masih ada yang ingin didiskusikan lagi?" tanya Alvin setelah menjawab semua pertanyaan.


"Cukup pak." jawab mahasiswa serentak.


"Kalau begitu saya cukupkan materi kali ini. Assalamualaikum." kata Alvin mengakhiri pertemuan.


"Wa'alaikumsalam." jawab Mahasiswa.


Tidak ada kontak apapun antara Alvin dan Haifa. Bahkan keduanya terkesan sama sama menghindar.


"Haifa." panggil Dinda.


"Iya?"


"Jujur deh kamu kenapa sih gak konsen banget kayaknya."


"Hah."


"Tuh kan."


"Eh Haifa gak apa apa kok. Cuma lagi haid hari pertama jadi ya biasa lah." Haifa tidak berbohong. Haid pertama dan bertemu Alvin lagi setelah kejadian semalam itu rasanya cukup mengaduk aduk moodnya.


"Oh pantesan. Nah kebetulan hari ini gak ada kelas lagi karena bu Anggi katanya gak bisa masuk. Jadi aku saranin mending kamu pulang deh. Istirahat di kostan, aku hapal kalau kamu haid kesakitannya dan uring uringannya kayak gimana."


"Serius?"


"Mangkanya kalau grup itu di baca."


"Ya maaf Dinda. Yaudah deh Haifa pamit duluan ya."


"Iya yaudah sana. Inget istirahat di kostan jangan malah ketemu pak Alvin ya haha."


"Apaan sih Dinda. Yaudah duluan ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Haifa bergegas keluar kelas. Rebahan di kostan sambil mengompres perut dengan air hangat adalah solusi terbaik saat ini.


Alvin yang masih berada di parkiran melihat Haifa yang berjalan sendiri. Setelah memastikan lokasi cukup aman. Alvin berjalan mendekat.

__ADS_1


"Assalamualaikum." sapa Alvin.


"Astagfirullah." jawab Haifa.


"Anak sekecil Aina aja tau kalau kalau orang salam jawabnya apa."


"Wa'alaikumsalam. Maaf ada apa ya pak?"


"Hmm. Bisa bicara sebentar? Tapi tidak di sini,  lingkungan kampus cukup riskan."


Haifa sedikit melirik Alvin. Haifa pikir mungkin dengan mengikuti mau Alvin sekali saja. Dirinya akan terbebas dari perasaan tak enak hati atau anggap saja terimakasih  untuk kebaikan Alvin semalam.


"Dimana?" jawab Haifa sambil melihat Alvin.


"Kamu sakit?" tanya Alvin saat melihat sekilas wajah Haifa pucat.


"Lebih baik kamu pulang sekarang. Kemudian istirahat."


"Terimakasih. Kalau begitu saya duluan pak. Assalamualaikum."


Haifa bergegas pergi, bahkan sebelum Alvin menjawab salamnya. Bodo amatlah dirinya dinilai tak sopan. Karena kalian tak merasakan apa yang dirasakan Haifa.


Sebenarnya ada rasa tak enak hati. Tapi bagaimana lagi kondisi saat ini benar benar tidak memungkinkan.


"Wa'alaikumsalam." jawab Alvin bahkan saat Haifa sudah tidak terlihat lagi di hadapannya.


Alvin kembali melanjutkan kegiatannya hari ini sesuai rencana setelah selesai mengisi kuliah Alvin harus ke kantor untuk beberapa agenda.


Sementara itu Haifa sedang berbaring di atas tempat tidur sambil mengangkat kakinya ke tembok dan mengompres perutnya dengan air panas dalam botol. (ada yang sama? Haha)


Ada terbesit perasaan tak enak hati dalam benak Haifa. Kedua kalinya Alvin mengajaknya berbicara tapi tak satupun yangbia respon dengan baik. Penasaran juga apa yang ingin dibicarakan oleh bapak dosennya itu.


'Pak Alvin mau ngomong apa sih pake harus ketemu segala gak bisa gitu tinggal bicara tadi atau semalam. Kalau ginikan jadi Haifa yang ngerasa bersalah. Ah Ya Allah.' ucap Haifa merutuki dirinya sendiri.


'Lagian pak Alvin kenapa sih aneh. Kemarin kemarin ngeselin banget gak bisa menghargai orang lain. Tapi semalam jadi baik banget. Mau kesel terus gak enak. Mau baik juga masih kesel. Astagfirullah aku ini kenapa sih?' Haifa lagi lagi merutuki dirinya sendiri.


Besoknya semua sudah terasa lebih normal bagi Haifa. Setidaknya ia tidak perlu bertemu Alvin hari ini.


Haifa : Assalamualaikum.


Xxx : Alaikum talam. Aty tantik (panggilnya dengan suara pelan dan lemah)


Haifa : Eh ini Aina?


Aina : (mengangguk padahal tidak bisa dilihat oleh Haifa)


Haifa : Hallo


Aina : Iya aty (jawab Aina lemah)


Haifa : Kenapa sayang ada apa?


Aina : Papa nakal aty. Tangan Aina di tuntik. Tatanya bial tembuh tapi takit. (adunya pada Haifa)


Haifa : Loh Aina sakit?


"Boleh Papa bicara sama auntynya?" tanya Alvin pada Aina. Aina hanya mengangguk sambil menyerahkan handphone pada Alvin.


Alvin : Assalamualaikum.


Haifa : Wa.. Wa'alaikumsalam.


Alvin : Saya minta maaf sebelumnya mungkin sudah mengganggu kamu. Saya juga tidak mengerti kedekatan seperti apa yang kalian bangun. Tapi sekarang anak saya jadi bergantung pada kamu.


Haifa : Maksud bapak?


Alvin : Semalam Aina demam. Suhunya sampai 40 derajat.


Haifa : Astagfirullah. Terus sekarang gimana?


Alvin : Aina sekarang di rawat di RS. S.  Sebenarnya saya tidak mau melibatkan kamu. Tapi sejak tadi dia selalu nanyain kamu.

__ADS_1


Haifa : Pak boleh saya bicara sama Aina lagi?


Alvin menyerahkan kembali Handphonenya pada Aina.


Haifa : Aina?


Aina : Iya aty.


Haifa : Aunty belajar dulu ya. Nanti selesai belajar aunty kesana. Aina mau aunty bawain apa?


Aina : aty tini. (rengeknya)


"Sayang gak boleh gitu dong auntynya kan harus belajar dulu." ucap Alvin sambil mengelus kepala Aina.


Aina : Jangan lama aty.


Haifa : Iya sayang sabar ya.  Yaudah aunty tutup dulu ya. Assalamualaikum.


Aina : Aikum talam.


Aina menyerahkan handphohenya pada Alvin.


"Udah?"


Aina mengangguk.


"Jangan sedih lagi dong. Auntynya nanti kan ke sini."


"Lama papa."


"Sabar sayang. Innallaha..."


"Ma'a thobilin (Ini dari sudut pandang anak kecil ya. Todak bermaksud melecehkan atau mempermainkan ayat)." lanjut Aina.


"Pinter. Sekarang Aina makan dulu terus minum obat ya."


"Tama Papa."


"Iya sayang sama papa."


"No. Obat."


"Aina mau sembuh gak?"


Aina mengangguk.


Dengan segala bujuk rayu akhirnya Aina mau makan.


Pukul 13.30 Aina baru bangun dari tidur siangnya.


"Papa." panggilnya.


"Sama aunty Vina ya. Papanya lagi ke mesjid sebentar." kata Vina sambil mengusap rambut Aina.


"Papa. Tama Papa." rengek Aina.


"Iya sayang sebentar ya papanya lagi shalat dulu."


"Mau tama papa, aunty. Tama papa." rengek Aina.


"Sayang anak shalehah sebentar ya nak." bujuk Vina.


"No. Papa nakal tinggal Aina." rengeknya lagi sambil menangis.


Vina masih berusaha menenangkan Aina yang menangis.


"Assalamualaikum."


Terdengar suara seseorang yang baru datang di arah pintu.


**To Be Continued...

__ADS_1


See You Next Part**...


__ADS_2