Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 8


__ADS_3

"Hayo Haifa ngapain kok senyum senyum sendiri?" tegur Dinda yang sedang di kantin bersama Haifa. Haifa memang lebih sering bersama Dinda dari pada bersama Aulia dan Inara. Ya karena Haifa dan Dinda sekelas.


"Lucu deh Din. Beberapa minggu ini tuh hampir 3 mingguan lah. Haifa itu deket sama anak kecil namanya Aina cantik banget gemesin."


"Ponakan kamu?"


"Bukan, yang Haifa tau sih ponakannya kak Zia. Tapi mama papanya sih Haifa gak tau."


"Kok bisa ketemu dia gimana ceritanya?"


"Random banget sih ketemunya. Waktu lagi di sekolahnya Arsyad. Nah dia gak sengaja nabrak Haifa. Ya salah Haifa juga fokusnya nyari Arsyad. Terus karena dia lagi pegang es krim es krimnya jatuh dong ke gamis Haifa. Nah yang buat gemes itu dia nangis terus minta maaf karena takut di sangka nakal sama papanya."


"Terus sekarang kenapa senyum senyum sendiri?"


"Hm jadi akhir akhir ini tuh Aina sering video call. Gemesnya itu dia sering bilang Aina sayang aunty. Padahal ketemu juga baru berapa kali. Dan satu lagi udah dua kali ini kalau video call dia selalu nanya. Aunty mau gak jadi bunda Aina. Papa bilang papa mau jadiin aunty bundanya Aina. Begitu masa kan Haifa tuh jadi gemes sendiri Din."


Uhuk... Dinda langsung tersedak saliva nya sendiri.


"Kenapa?" tanya Haifa


"Kamu udah kenal bapaknya?" Dinda balik bertanya.


"Enggak, belum pernah ketemu juga. Seringnya ketemu itu kalau lagi sama kak Zia."


"Nah itu vc pake hp siapa masa bocil udah punya hp."


"Pake hp kak Zia lah."


"Terus kamu mengiyakan buat jadi bundanya dia?"


"Ya Haifa selalu alihkan sih biar gak menuntut jawaban itu."


"Dia cuma sama papanya?" selidik Dinda.


"Gak tau Dinda. Haifa gak sepenasaran itu."


"Aku sih curiga kalau bapaknya itu duda dan dia cuma sama bapaknya."


"Jangan menduga duga Dinda. Kalau gak bener jatuhnya fitnah."


"Ya bukan gitu Haifa. Tapi tadi kamu sendiri kan kalau dia sering sama kak Zia dan kak Zia itu tante nya. Terus dia juga tiap selalu nyebutinnya papa gak pernah mama. Coba pikir dari situ, kalau bapaknya bukan duda kenapa harus sering sama tantenya?"


Haifa terdiam. Benar juga ya tiap kali mengobrol dengan Aina. Bocah kecil itu selalu bercerita tentang kegiatannya dan hampir setiap kegiatannya selalu ditemani papa. Jarang sekali Haifa mendengar kata mama dari mulut Aina.


"Nah diem kan." tegur Dinda.


"Ah udah ah. Ke kelas yuk bentar lagi masuk. Bu Dita Amel loh galak dia." kata Haifa mengalihkan.


"Galak mana sama pak Alvin?" goda Dinda.


"Terserah Dinda ah. Lagian salah bahas pak Alvin sama Haifa. Kalau mau bahas pak Alvin tuh sama Inara biar nyambung."


"Oh iya bener. Inara kan bucinnya pak Alvin sementara Haifa kesel banget sama pak Alvin."


Beres dengan kegiatan perkuliahan tidak sengaja Haifa bertemu dengan Inara dan Aulia.


"Ina, Aul." panggil Haifa.

__ADS_1


"Eh Ina kenapa kok kayaknya kesel?"


"Haha si Ina lagi bucin Haifa. Dia gak sengaja denger pak Alvin angkat telepon pake kata kata sayang sayang gitulah. Nah dia sebagai bucinnya jadi kesel berasa hilang harapan."


"Hah serius karena itu?"


"Enggak gak usah didenger Aul mah berlebihan."


"Oh iya Dinda kemana?" tanya Inara mengalihkan.


"Dia pulang ke rumah ada urusan katanya."


"Oh gitu yaudah balik kosan yuk." ajak Inara.


Baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya. Haifa mendapatkan notifikasi pertanda telepon masuk rupanya Zia yang menelponnya.


On the phone.


Haifa : Assalamualaikum kak.


Zia : Wa'alaikumsalam. Haifa maaf yah mengganggu malam malam.


Haifa : Ah gak ganggu kok. Ada apa kak?


Zia : Begini tadi pas Aina lagi video call sama kamu. Gak sengaja aku denger Aina bicara mau enggak kamu jadi bundanya begitu kalau gak salah ya. Nah itu aku minta maaf ya mungkin kamu tersinggung dengan perkataan Aina. Itu sama sekali bukan kami yang mengajarkan.


Haifa : Kakak tenang aja. Haifa gak apa apa kok. Haifa malah seneng.


Zia : Seneng? Maksudnya seneng Aina minta kamu jadi bundanya?


Zia : Hehe aku kira kamu seneng Aina minta kamu jadi bundanya. Tadinya kalau kamu seneng aku mau langsung kenalin kamu sama papanya Aina.


Haifa : Hah gimana kak maksudnya?


"Dek. Sayang. Dimana sih?" suara Arvan terdengar di seberang sana. Oh tidak telinga Haifa tercemar oleh romantisme pasangan suami istri.


Zia : Aduh Haifa maaf ya. Suami aku manggil, kita sambung lain waktu lagi ya ngobrolnya. Aku tutup Ya. Assalamualaikum.


Haifa : Eh iya Kak. Wa'alaikumsalam.


Sudah beberapa hari ini Alvin selalu mengantar Aina ke rumah Zia. Entahlah putrinya itu sekarang lebih senang ke rumah Zia. Padahal biasanya selalu bergantian antara rumah Zia dan Ibu. Tapi yasudahlah asal Aina bahagia.


"Papa kapan aty tantik dadi bundana Aina?" tanya Aina tiba tiba. Yang menyebabkan Alvin kaget dan mengerem mendadak untung saja jalanan masih cukup sepi pagi itu.


"Au takit Papa." memegangi dadanya yang terhimpit seat belt (di sini Aina pake kursi anak yang untuk di kendaraan ya. Soalnya kalau di jok biasa bocah kecil begitu mah jeblos lah gak bisa pake seat belt.)


"Maaf sayang. Mana lagi yang sakit?"


Aina menggeleng.


"Maafin papa ya sayang. Papa kaget tadi." jawab Alvin sambil mengusap dada Aina yang tadi dikeluhkan sakit.


"Napa kaget?" tanya Aina.


"Eh hari ini Aina ikut papa ke kantor aja ya sama Papa." kata Alvin.


"No. Mau ke lumah aty Zia. Aina mau tepon atu tantik. Kalau tama papa Aina da boleh tepon aty tantik."

__ADS_1


"Hah emang aunty Zia punya nomornya aunty cantik?"


"Puna." jawab Aina.


"Oh jadi ini toh kenapa putli papa selalu maunya ke rumah aunty Zia?"


"Iya Papa. Aina udah dua kali tepon aty tantik."


"Masih sakit gak sayang?" tanya Alvin sebelum mulai menjalankan lagi mobilnya.


"Enggak."


"Yaudah kita jalan lagi ya."


"Ati ati papa. Bata do'a bial papa gak kaget."


"Iya sayang ku. Pinternya putli siapa sih ini?"


"Putli na papa Avin yang jelek hehe." kata Aina sambil tertawa.


"Eh kalau papa jelek Aina juga jelek dong. Aina kan anak pap."


"No. Aina tantik."


"Jelek dong kan tadi katanya Papanya jelek."


"Ih tantik."


"Jelek."


"Tantik Papa."


"Jelek sayang."


"Huaaa Aty tantik papa nakal." panggil Aina sambil menangis.


"Haha iya iya enggak. Putli papa ini putli yang paling cantik. Udah dong nangisnya."


"No. Aina mau bilang tama aty tantik kalau papa nakal. Nanti papa dijewel tama aty tantik." jawab Aina sambil mengelap air matanya sendiri.


"Kok ngadunya sama Aunty cantik sih.  Emang Aina anak siapa sih hmm?"


"Anak papa tama aty tantik." ucap Aina dengan tanpa dosa. Entah iya mengerti atau tidak apa yang baru saja di ucapkannya.


Dan ucapan Aina hampir membuat Alvin mengerem mendadak untuk ke dua kalinya. Untung saja Alvin langsung bisa mengontrol diri.


Percayalah Aina seperti ini bukan Alvin yang mengajari. Bahkan Alvin sendiri merutuki dirinya sendiri karena bercanda kepada Aina untuk menawari menjadikan aunty cantik sebagai bundanya.


"Sayang jangan gitu dong Aina kan ada mama."


"Iya talah. Tolly papa. Dadi Aina itu anak Papa, mama tama aty tantik hehe."


'Heh aunty cantiknya tetep di sebut juga ya nak.' ucap Alvin pelan bahkan hampir tidak terdengar.


**To Be Continued...


See You Next Part**...

__ADS_1


__ADS_2