
Happy Reading...
"Hah si ayam jago?" kata Alvin tak terima.
"Jugo mas."
"Terserahlah. Kenapa harus dia sih?"
"Kenapa sih cuma gara gara ikan bakar aja heboh." jawab Haifa tidak peduli dengan Alvin yang sudah terbakar matahari.
"Bukan masalah ikannya. Tapi kenapa harus dia yang kasih? Sok perhatian banget sih."
"Mas kenapa sih. Bersyukur harusnya ngidamnya Haifa terpenuhi dan mas gak harus repot repot."
"Lebih baik mas sendiri yang repot. Daripada dibantu seseorang di masalalu."
"Udah dong mas. Jugo juga udah tau kalau Haifa udah menikah. Dia juga bilang kalau kebetulan aja dia baru buka resto dan salah satu menunya ada ikan bakar. Jadi dia pengen bantu sekalian promosi gitu."
"Iya tapi emang harus dia sendiri yang antar? Dia gak punya pekerja lain emang? Harus banget ya pemiliknya sendiri yang ngantar ke pembeli?"
"Kenapa sih mas sekarang jadi sering marah marah."
"Mas marah juga bukan tanpa alasan."
"Iya tahu. Alasannya karena Jugo kan? Mas cemburu ya?"
"Nggak!"
"Masa?"
"Iya mas cemburu puas?"
"Ini nih yang Haifa gak suka. Mas itu cemburu sama hal yang itu itu aja. Padahal Haifa udah pernah jelaskan tentang dia. Mas percaya dong sama Haifa. Kalau mas begini terus yang ada Haifa malah merasa mas gak percaya sama Haifa."
"Mas percaya sama kamu. Mas percaya kalau kamu gak akan macam macam."
"Yaudah terus yang mas permasalahkan apa?"
"Tapi mas gak percaya sama si ayam jago itu. Sampe sekarang dia belum menikah kan? Bisa aja kan kalau sebetulnya dia masih mengharapkan kamu."
"Mas pikir kehidupan ini ftv, yang ketika mencintai seseorang harus selalu bisa memilikinya dengan apapun caranya?"
"Iya mas tahu tapi menghilangkan perasaan buat seseorang yang pernah dicintai itu gak mudah sayang."
"Gak mudah bukan berarti gak bisa kan?"
"Haifa tanya sama mas. Sekarang perasaan mas sama mbak Novia gimana? Apa mas udah bisa lupakan segala perasaan yang pernah ada diantara kalian?" tanya Haifa lagi.
Alvin diam sejenak.
"Kamu gak usah aneh aneh deh. Mas udah gak ada apapun sama Novia selain menjaga hubungan baik demi Aina."
"Nah kan terjawab udah. Mas aja yang sempat berumah tangga dan punya buah dari cinta kalian bisa kan melupakan perasaannya. Apalagi Jugo sama Haifa yang hanya sebatas suka."
"Udah ya. Jangan cemburu lagi karena Jugo atau siapapun yang pernah ada di masa lalu kita. Kita masih punya banyak langkah ke depan daripada harus terus melirik ke belakang."
Alvin menatap Haifa lekat lekat.
"Kenapa? Haifa salah lagi? Gak setuju sama yang Haifa bilang?"
Alvin tersenyum masih sambil menatap Haifa.
"Kamu dewasa banget sih? Jadi sayang." kata Alvin sambil mengacak rambut Haifa.
"Oh jadi sebelumnya enggak?"
"Eh bukan maksudnya jadi makin sayang."
Akhirnya permasalahan mengenai Jugo bisa diselesaikan dan tidak sampai membuat mereka bertengkar.
"Sayang ini kuenya enak loh." puji Alvin terhadap kue yang Haifa buat.
"Mas mah tiap kali Haifa buat apapun pasti bilangnya begitu. Mas bilang begitu cuma biar Haifa senang kan?"
__ADS_1
"Enggak sayang, serius ini enak. Kayaknya cocok deh kalau mau buka toko kue. Mas yakin pasti banyak juga yang suka."
"Eh tapi jangan deh." kata Alvin lagi.
"Kenapa?" tanya Haifa.
"Kalau sekarang karena kamu lagi hamil, kalau ke depannya kamu juga pasti udah repot ngurusi Aina sama baby nantinya."
"Tapi bukan karena mas gak mau Haifa kerja kan? Sebelum menikah mas pernah bilang gak akan melarang kalau Haifa pengen kerja loh."
Alvin menjadi diam. Jujur ada ketakutan ketika harus kembali memiliki seorang istri wanita karir.
"Mas..." panggil Haifa ketika Alvin menjadi diam.
"Eh iya."
"Mas keberatan ya kalau Haifa pengen kerja?"
Alvin menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Kamu mau kerja?" tanya Alvin.
"Kalau mas izinkan dan ada kesempatan."
"Sesuai dengan perkataan mas waktu itu. Mas gak larang kalau kamu mau kerja. Asalkan kamu tahu kewajiban kamu sebagai ibu dan istri."
"Tapi kalau boleh mas jujur. Sejujurnya mas lebih suka kamu seperti ini. Cukup diam di rumah menemani dan mendampingi anak anak kita main dan belajar. Biar aja mas yang kerja. Toh memang itu kan kewajiban mas untuk menafkahi kalian. Tapi balik lagi kalau memang kamu ingin mengembangkan diri dan potensi yang kamu miliki dengan cara bekerja. Mas gak larang."
Haifa tersenyum.
"Serius banget sih menanggapinya. Haifa masih nyaman begini kok.
Untuk saat ini Haifa belu terpikir ingin bekerja, Haifa lebih nyaman begini, Haifa lagi menikmati peran baru Haifa sebagai ibu dan istri yang setiap pagi buatkan sarapan untuk anak dan suami, antar suami pergi kerja, antar anak sekolah, main dan belajar sama anak, terus nunggu suami Haifa pulang kerja. Haifa merasa lebih nikmat seperti ini."
Beberapa waktu berlalu saat ini keluarga besar Alvin dan Haifa sudah berkumpul untuk acara 4 bulanan Haifa.
Acara inti berlangsung sekitar 2 jam. Sisanya adalah acara ngobrol ngobrol bersama keluarga.
"Gimana Haifa gak ada keluhan kan?" tanya mama yang duduk di samping kanan Haifa.
"Ih gak begitu kok ma. Haifa makan kok cuma ya emang sedikit." kata Haifa.
"Jangan begitu dong. Kamu itu jangan cuma ikuti maunya kamu dek. Kamu juga harus pikirkan gizi untuk janin yang kamu kandung."
"Tuh denger kata mama."
"Iya mas iya. Seneng banget sih kayaknya kalau Haifa di tegur karena masalah susah makan."
Obrolan antara mereka dan mama terus berlangsung bahkan papa terkadang ikut mengobrol.
Interaksi mereka tidak luput dari perhatian ibu. Ibu melihat interaksi tersebut bahkan sesekali ibu juga terlibat dalam obrolan.
Sudah hampir maghrib satu persatu keluarga mulai berpamitan. Kini hanya kembali mereka bertiga dalam satu rumah.
"Alhamdulillah akhirnya bisa kumpul kumpul keluarga besar ya mas." (Di sini tidak ada corona dan tidak ada intruksi untuk sosial distancing ya kawan)
"Iya Alhamdulillah." jawab Alvin.
"Aina juga teneng tadi ketemu dan bita main tama umi tama kai tama abang al juga." celoteh Aina.
"Alhamdulillah."
"Bunda dede kapan kelual?"
"Nanti sayang 5 bulan lagi. Insya Allah." jawab Haifa.
"Aina harus rajin berdo'a ya sama Allah biar bunda sama dede selalu sehat." kata Alvin.
"Ya Allah temoga bunda tama dede di dalam pelut bunda telalu tehat Ya Allah. Toalna Aina mau liat dede. Aina janji kalau dede kelual Aina gak akan nakal tama dede. Aina tayang tama dede. Aamiin." kata Aina sambil mengusapkan telapak tangannya ke muka.
"Aamiin." Alvin dan Haifa ikut mengaminkan.
"Anak papa nanti harus sayang sama dedenya ya." kata Alvin pada Aina.
__ADS_1
Aina mengangguk. "Aina tayang dede."
"Shalehahnya anak papa."
"Oh iya Aina mau dedenya girl or boy?" tanya Alvin.
"Gil."
"Kenapa?" tanya Haifa.
"Toalna kalau boy nanti nakal kayak abang." jawab Aina.
Alvin dan Haifa diam dan saling memandang.
"Sayang sini deh duduk sama papa." kata Alvin sambil menepuk pahanya. Aina menghampiri dan duduk di pangkuan Alvin sambil menghadap Alvin.
"Aina dengar Papa ya. Apapun nanti dedeknya Aina boy atau girl. Aina harus tetap sayang. Aina harus jadi kakak yang baik."
"Tapi abang nakal tama Aina."
"Abang siapa yang nakal?"
"Abang belyl."
"Tapi gak semuanya nakal kan?"
"Buktinya abang Azzam nakal gak sama Aina?"
Aina menggeleng.
"Terus abang Arsyad nakal gak sama Aina?"
Lagi Aina menggeleng.
"Nah gak semuanya nakal kan?"
"Aina harus kuat. Biar aja kalau ada yang nakal sama Aina jangan sedih. Aina punya papa yang akan selalu sayang sama Aina, yang akan selalu jaga Aina."
Aina mendongak menatap Alvin.
"Aina tayang papa."
"Papa lebih sayang Aina."
Haifa yang melihatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Papa dan anak perempuannya itu sekarang sedang saling memeluk.
"Sayang sayangku. Ini udah mau maghrib kita siap siap shalat yuk." ajak Haifa.
"Ayo tolat. Aina mau beldoa buat dede." katanya Antusias.
"Bunda Aina juga mau tolat pakai mukena balu dali umi tama kai." kata Aina lagi.
"Loh emang kapan umi sama kai kasih?" tanya Haifa.
"Tadi hehe."
"Kok bunda gak tahu?"
"Bunda tadi lagi ngoblol tama aty Zia."
"Yaudah sekarang kita siap siap ya." ajak Haifa.
Aina mengangguk.
"Papa tunggu di musola ya." kata Alvin.
"Oke papa." kata kedua perempuan itu bersamaan.
Alvin tersenyum memandang kedua perempuannya yang semakin menjauh.
***
To be continued...
__ADS_1
See you next part...