Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 41


__ADS_3

Happy Reading...


"Sayang beli apa sih kok lama?" tanya Alvin yang menghampiri Haifa. Alvin belum menyadari siapa yang ada di depan Haifa.


"Eh i...itu mas." kata Haifa terbata sambil menunjuk seseorang di depannya dengan lirikan mata.


"Assalamualaikum Pak Alvin." sapa seseorang di depan Haifa.


"Eh iya Wa'alaikumussalam." jawab Alvin. Alvin pun terkejut melihat seseorang di depannya. Karena bisa dibilang hubungan kedua wanita itu merenggang juga karena ada keterlibatan dirinya.


"Kalau perlu waktu ngobrol kayaknya gak di sini deh. Mending kalian sama sama bayar dulu." kata Alvin mencoba menengahi kedua wanita yang sama sama saling diam.


"Boleh kita ngobrol dulu?" tanya Inara pada Haifa.


Haifa mengangguk.


"Yaudah sini mas yang bayar." kata Alvin sambil mengambil alih dua botol minuman dingin dari tangan Haifa. Sementara Inara dia memang belum mengambil apapun.


Haifa dan Inara berjalan keluar duduk di kursi panjang yang ada di depan izinmart.


"Haifa." panggil Inara.


"Iya." jawab Haifa.


"Haifa masih marah sama Ina?"


Kening Haifa mengkerut. Tunggu bukannya sebelum pernikahannya Inara lah yang marah pada Haifa?


"Bukannya Ina yang marah sama Haifa?"


Inara tersenyum.


"Kalau kita bertemu siang hari mungkin bisa mencari tempat yang lebih nyaman." kata Inara.


"Haifa maaf ya sikap Ina beberapa waktu lalu gak baik sama Haifa."


Haifa menatap Inara.


"Maaf Ina gak bisa berpikir dewasa saat itu. Ina merasa Haifa berkhianat sama Ina. Tapi sebenarnya tidak ada unsur mengkhianati dan dikhianati. Ina yang terlalu berlebihan menanggapinya. Maaf ya."


"Boleh peluk gak?" tanya Haifa.


Ina lebih dulu memeluk Haifa.


"Sekali lagi maafkan Ina ya Haifa."


"Haifa juga minta maaf ya. Kalau waktu itu Haifa cerita sejak awal mungkin gak seperti ini kejadiannya."


Alvin yang baru keluar dan melihat keduanya sedang berpelukan ia tak mau mengganggu. Alvin lebih memilih mendekati gerobak penjual jasuke lalu duduk dan mengobrol di sana.


Ina mengurai pelukannya.


"Ina juga minta maaf gak datang ke pernikahan Haifa sama pak Alvin. Memang waktu itu pak Alvin sudah menjelaskan. Tapi memang Ina yang masih keras dan gak mau nerima. Ina lebih milih pulang kampung waktu itu. Sampai akhirnya Ina beberapa bulan menganggur di rumah. Dan bulan lalu Ina di khitbah sama seseorang yang baru Ina kebal selama di kampung. Dari situ Ina sadar kalau memang jodoh itu sudah diatur dan semua orang punya jalannya masing masing. Awalnya Ina ragu karena Haifa dan pak Alvin dulunya baru sebentar saling mengenal tapi sudah langsung mau menikah. Ina pikir mungkin Haifa bohong dan udah kenal pak Alvin lebih lama. Tapi melihat kejadian yang Ina alami sekarang Ina jadi sadar, untuk bisa menikah satu sama lain tidak ada kewajiban untuk mengenal bertahun tahun. Melainkan hanya perlu keyakinan yang dasarnya dari hati dan meminta petunjuk Allah melalui do'a." kata Ina panjang lebar. Haifa tersenyum mendengar penuturan Inara.


"Ah coba aja kita bertemu lebih sore ya. Mungkin bisa ngobrol lebih lama." kata Ina yang menyadari jika saat ini sudah larut malam.


"Iya ya." jawab Haifa.


"Oh iya tadi Ina bilang sudah di khitbah kan?" tanya Haifa.


Inara mengangguk.


"Barakallah. Jadi kapan pernikahannya?" tanya Haifa.


"Sebulan lagi."


"Loh nikahnya di Bandung?"


"Enggak nikahnya di Kuningan. Ina ke Bandung karena abis jenguk neneknya mas Bima yang sakit. Terus Ina juga ada sedikit urusan di sini."


"Mas Bima?"


"Calon suami Ina hehe."


"Oh. Jadi mas Bima itu asli Bandung?"


"Iya tapi kami ketemu di Kuningan."


"Oh iya. Bukan cuma Ina yang punya kabar baik."


"Maksudnya."


"Haifa juga punya kabar baik dan diantara kita Ina yang pertama Haifa beritahu."


"Wah apa?"


"Insya Allah sebentar lagi bakal ada yang panggil aunty Ina."


"Aa serius?"


"Iya."


"Selamat Haifa." kata Inara sambil memeluk Haifa.


"Belum selesai ngobrolnya? Udah malam loh." kata Alvin yang menghampiri mereka dan berdiri di samping Haifa.


"Ya Allah udah hampir tengah malam." kata Inara sambil melihat jam di tangannya.


"Yah padahal masih pengen ngobrol." kata Haifa.


"Ina sampe lusa Insya Allah masih di Bandung kok."


"Wah kita harus ketemu lagi ya. Nanti kalau Ina nikah juga wajib undang undang ya." kata Haifa.


"Oke nanti kita kontak lagi aja. WA Haifa tetap kan?"


"Iya."


Mereka berpisah untuk malam ini. Tapi keduanya sama sama merasa bahagia dengan adanya pertemuan ini.


"Ngobrol apa aja tadi?" tanya Alvin saat mereka sedang dalam perjalanan.


"Apa?" tanya Haifa.


"Ngobrol apa aja?"


"Mas ngomong apa? Gak kedengeran kebawa angin suaranya."

__ADS_1


Alvin hanya tertewa.


Tidak lama mereka sudah sampai di rumah.


Haifa langsung bergegas naik ke lantai dua.


"Sayang ini jasukenya gak di makan dulu?" tanya Alvin.


"Tolong simpan di kulkas aja mas. Sekarang Haifa udah gak pengen mungkin besok pengen lagi." jawab Haifa.


Alvin menggeleng tapi ia juga maklum.


Pukul 05.30 Haifa sedang memasak di dapur. Alvin yang baru pulang dari masjid sudah kebiasaan untuk menghampiri istrinya di dapur.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab Haifa sambil mencium tangan Alvin.


"Mas Haifa minta izin ya. Haifa mau ketemu Ina hari ini."


"Di rumah aja deh. Kasih aja dia alamat rumah kita. Mas hapal kalau pergi ke luar pasti nanti gak cukup ke satu tempat. Apalagi kalau ke mall pasti muter muter nantinya." kata Alvin.


"Ih mas gak enaklah."


"Mas gak mau kamu nanti kecapean, pegel pegel. Inara juga tahu kan kalau kamu lagi hamil dia pasti ngerti kok. Terus mas juga yakin kalau rumahnya gak jauh dari izinmart."


"Mas kok jadi sok tahu?"


"Bukan gitu sayang. Tapi dia perempuan gak mungkin dikasih izin keluar jauh malam malam."


"Iya juga ya."


"Jadi di rumah aja ya. Ngobrolnya di rumah terserah deh mau ngapain aja tuh berdua."


"Yaudah deh. Sana mas ganti baju."


"Mas mau tidur lagi boleh ya?"


"Loh tumben."


"Sebentar ya. Bangunkan jam 06.30 buat siap siap ke kantor ya sayang." kata Alvin.


"Mas gak enak badan ya?" tanya Haifa. Ia tahu kebiasaan Alvin sehabis subuh itu selalu olahraga di samping kolam renang yang memang terdapat beberapa alat olahraga. Jika ia memilih tidur lagi berarti ada sesuatu yang lain.


"Sedikit. Udah tidur sebentar juga baik lagi." jawab Alvin.


"Mas ke kamar ya." kata Alvin sambil berjalan ke kamar.


'Pasti mas kecapean kan gara gara akhir akhir ini Haifa sering minta yang aneh aneh dan seringnya malam malam tapi mas selalu berusaha carikan buat Haifa.' kata Haifa bergumam sendiri.


Pukul 06.30 sesuai permintaan Haifa membangunkan Alvin.


"Mas..." panggil Haifa sambil mengelus lengan Alvin.


"Mas, bangun yuk sarapan dulu." panggil Haifa.


Sejak memgelus lengan Alvin Haifa memang merasakan jika suhu tubuh Alvin sedikit diatas rata rata. Tega tidak tega tapi tetap Alvin harus dibangunkan. Kalaupub Alvin sakit tetap harus bangun setidaknya untuk sarapan dan minum obat.


"Mas Alvin. Sayang bangun yuk sarapan dulu."


"Hm. Jam berapa sayang?" tanya Alvin pelan.


"Kenapa harus minum obat sih. Mas baik baik aja."


"Demam begini baik baik aja? Yaudah gak apa apa kalau gak mau. Tapi kalau sampe sabtu masih begini kondisinya batalkan aja pergi ke Swedianya."


"Kok gitu. Janganlah tiket udah di beli. Hotel udah booking."


"Ya terserah mas."


"Iya deh sarapan dan minum obat."


"Yaudah yuk turun."


Setelah sarapan dan minum obat. Alvin bergegas bersiap untuk pergi ke kantor.


"Yakin mas mau ke kantor? Gak usah ya."


"Gak apa apa sayang. Mas baik baik aja. Tadi udah sarapan dan minum obat juga udah enakan. Lagian mau ditinggal seminggu jadi mas harus selesaikan sampe pekerjaan mas minggu depan."


"Gak usah diporsir juga mas. Istirahat juga harus."


"Iya sayangku. Udah ya mas berangkat. Yuk antar kedepan." kata Alvin.


"Mas pake sopir ya." kata Haifa saat mereka sudah sampai di depan rumah.


"Gak usah deh."


"Mas biar bisa istirahat. Haifa tau belakangan ini mas kurang istirahat karena beberapa hari ini bawa pekerjaan ke rumah belum lagi belakangan Haifa juga sering minta ini itu sama mas."


"Yaudah mas pake sopir. Kamu hati hati di rumah. Jangan kemana mana, apalagi kan gak ada sopir."


"Iya mas."


"Sini cium dulu." Alvin mencium kening Haifa kemudian merendahkan  badannya untuk mencium perut Haifa.


Sesuai permintaan Alvin hari ini Haifa hanya di rumah dan bertemu Inara pun di rumah.


"Haifa udah berapa bulan?"


"13 minggu."


"Wah sebentar lagi syukuran 4 bulanan dong?"


"Iya rencananya sih begitu. Tapi sabtu besok kami mau ke Swedia dulu. Mungkin setelah dari sana baru adakan syukuran."


"Babymoon nih?"


"Hehe bisa jadi."


"Emang masih boleh ya terbang terbang?"


"Kata mas Alvin sih udah konsul ke dokter katanya boleh."


"Mas nih sekarang?"


"Haha abis pas awal manggil bapak udah gak boleh sama dia."

__ADS_1


Mengobrol dengan sahabat yang sudah lama tidak berjumpa memang tidak ada habisnya walaupun tidak dipungkiri awalnya keduanya sempat sama sama canggung karena hal yang terjadi beberapa waktu lalu.


Sudah pukul 20.00 Alvin belum juga sampai di rumah. Saat ini Haifa sedang melakukan Skype bersama Aina.


"Bunda, papa belum pulang ya?" tanya Aina.


"Belum sayang. Sebentar lagi mungkin."


"Dede udah difoto lagi belum bun?" tanya Aina lagi.


"Belum. Dede mau sama kakak Aina katanya."


Mendengar Haifa berkata seperti itu raut wajah Aina berubah menjadi sedih.


"Kok anak shalehahnya bunda jadi sedih?"


"Aina lindu tama bunda tama dede tama papa."


"Sayang bunda juga rindu. Kan Aina juga di sana udah ada dede." kata Haifa. Novia memang sudah melahirkan beberapa hari yang lalu. Lebih cepat dari prediksi dokter.


Aina masih diam saja.


"Sayang baby nya boy or girl?" tanya Haifa.


"Gil bunda."


"Happy dong. Eh sayang papa pulang tuh. Sebentar ya bunda buka pintu dulu." Haifa meninggalkan laptopnya kemudian berjalan ke arah pintu.


Haifa langsung menyalami Alvin. Wajah Alvin tampak sangat lesu.


"Itu lagi skype sama Aina. Dia nanyain mas tadi. Haifa buatkan teh ya?"


"Susu jahe aja sayang. Adakan?"


"Ada sebentar ya."


Alvin mengangguk sambil berjalan ke ruang keluarga.


"Assalamualaikum putlinya papa yang cantik yang shalehah."


"Alaikumtalam papa."


"Aina lagi apa?" tanya Alvin.


"Aina tadi udah makan tama ikan."


"Pinternya putli papa."


"Mas nih diminum dulu." kata Haifa sambil menyerahkan segelas susu.


"Terimakasih bunda."


Hampir dua jam mereka melakukan skype bersama Aina.


"Sayang udahan dulu ya. Besok disambung lagi oke?"


Aina mengangguk.


"Senyum dong."


"Aina mau tama bunda mau tama papa." katanya.


"Kan ada mama sama daddy."


"Mama tama daddy tama baby telus. Aina tendili." rengeknya.


"Aina ikut dong main sama baby."


"Kemalin Aina main tama baby. Tapi babynya nangis. Aina dimalahin abang." katanya dengan raut wajah sedih. Rasanya semakin susah Haifa ingin menyudahi sambungan skypenya saat ini.


"Sebentar lagi ya sayang."


"Bunda tama papa tini jemput Aina." katanya.


"Aina sayang..." panggil Novia.


"Tuh dipanggil mama Aina samperin mama ya."


Aina menangguk.


"Sama bundanya udahan dulu ya sayang. Assalamualaikum." pamit Haifa.


"Alaikumtalam bunda."


***


"Aina sayang..." panggil Novia lagi.


"Iya Mama."


"Sini dong main sama baby. Udahkan ngobrol sama papa dan bundanya?" tanya Novia.


Aina mengangguk.


"Yaudah main ya di sini sama baby sama abang." kata Novia sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.


Aina hanya diam saja.


"Kok diam aja sayang? Kemarin seneng main sama baby." kata Novia sambil membawa Aina ke pangkuannya.


Aina menggeleng.


"Kenapa mama nakal ya?"


Aina menggeleng.


"Mau pulang kali ma." jawab abangnya.


"Abang." tegur Novia dengan Halus.


Sudah tiga minggu memang Aina tinggal bersama keluarga baru Novia. Bukan hal yang sulit untuk dekat dengan mama dan juga daddy. Tapi tidak dengan abang tirinya. Sejak awal hingga sekarang Aina sangat sulit untuk bisa dekat dengan dia. Usianya memang terpaut cukup jauh dan mereka juga sama sama belum pernah bertemu sebelumnya. Dan satu yang membuat Aina sangat tidak nyaman dengan abangnya karena sikapnya yang pemarah. Puncaknya kemarin saat Novia meninggalkan mereka bertiga. Aina yang terlalu gemas dengan adik bayinya itu tidak sengaja mencium adiknya terlalu kencang hingga menangis dan yang membuatnya lebih syok ketika abang tirinya sampai membentak. Dan berkata "Pulang saja sana kamu. Menyusahkan saja mama dan daddy."


"Jangan pegang pengang lagi adiku." katanya sambil membentak.


***


***To be continued...

__ADS_1


See you next part***...


__ADS_2