
Happy Reading...
Haifa beserta Abangnya sedang dalam perjalanan pulang lagi, karena tadi rumah milik keluarga mamanya Aina seperti tidak ada penghuninya.
"Dek tunggu deh. Ini kalian udah nyari ke sekolahannya belum? Tanya satpamnya, kalau perlu lihat cctv."
"Haifa gak tahu. Tadi gak sempat nanya mas Alvin."
"Kalian ini pada kenapa sih pikirannya. Yang diutamain selalu marah duluan, ribut terus yang diduluin. Heran." omel Keanu.
"Abang yakin Alvin juga belum sampe lihat cctv di sekolahnya Aina. Dia pasti anggapannya kalau Aina kamu jemput."
"Sekarang kita ke sekolahan Aina dulu." kata Keanu.
"Emang masih buka ya jam segini?" tanya Haifa.
"Ya gak ada salahnya kan kita coba."
Sampai di sekolah, sekolah memang sudah tampak sepi.
"Permisi pak." sapa Keanu pada satpam yang sedang berjaga.
"Ada yang bisa saya bantu pak?"
"Keponakan saya, namanya Aina dia sekolah di sini juga di TK nya. Nah daritadi dia belum pulang pak. Papanya juga udah jemput udah lihat ke kelas tapi gak ada. Kami juga udah cari ke beberapa saudara yang mungkin menjemput Aina. Tapi gak ada juga pak. Kalau boleh dan harus boleh saya mau lihat cctv di sini pak." kata Keanu.
"Maaf pak. Tapi cctv tidak bisa dilihat oleh sembarangan orang."
"Pak, keponakan saya sekolah di sini dia anak kecil. Dan sampai jam segini belum pulang. Bapak pikir kami gak khawatir? Kalau sampai 1x24 jam keponakan saya gak ketemu, saya bakal lapor ke pihak yang berwajib. Dan mau tidak mau sekolah ini juga akan terbawa karena posisinya keponakan saya hilang saat sedang di sekolah. Dan yang pertama akan dianggap lalai pasti pihak keamanan di sekolah ini. Karena bisa bisanya sampai kecolongan."
"Saya gak akan macam macam sama cctv di sekolah ini pak. Saya cuma pengen lihat posisi terakhir keponakan saya. Kalaupun dia pulang dan sudah ada yang jemput, biar kami tahu siapa yang jemput. Biar gak kecarian begini" kata Keanu.
"Baik pak. Tapi bapak hanya saya perbolehkan melihat cctv gerbang depan saja."
"Oke."
Keanu dan Haifa benar benar melihat dengan seksama.
"Nah tu Aina." tunjuk Haifa. Mereka mengamati pergerakan Aina hingga. Gadis kecil itu berlari kearah gerbang kemudian memeluk seorang wanita.
"Kamu kenal?" tanya Keanu pada Haifa.
"Gak jelas bang. Tapi kayaknya bukan orang asing. Karena Aina gak mungkin begitu kalau sama orang asing."
Karena hanya boleh melihat satu cctv, alhasil yang didapat juga kurang maksimal.
"Abang kita harus cari kemana lagi?" tanya Haifa.
"Kamu telepon Alvin deh. Siapa tahu Alvin udah ketemu Aina."
"Percuma bang. Mas Alvin gak akan ngangkat."
"Kalian bisa gak sih kesampingkan dulu ego masing-masing?"
"Ego terus yang dijunjung. Ini demi anak loh."
"Yaudah iya Haifa telepon."
Panggilan kedua Alvin baru mengangkat telepon dari Haifa.
"Assalamualaikum." sapa Haifa.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Kamu dimana?" tanya Alvin.
"Maaf Haifa gak bilang. Haifa juga lagi cari Aina sama abang. Haifa juga tadi lihat di cctv sekolahnya Aina. Aina dijemput sama perempuan mas. Haifa gak tahu siapa, karena gak jelas. Tapi Aina kayaknya emang udah kenal karena langsung dia peluk. Jadi satpam juga gak mempermasalhkan." jelas Haifa.
"Kamu sekarang dimana?" tanya Alvin.
"Di jalan ABC. Mas dimana?"
"Di rumah." jawab Alvin.
"Yaudah Haifa pulang sekarang."
"Ya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Gimana?" tanya Keanu.
"Mas Alvin udah di rumah. Belum ketemu juga sama Aina."
"Jadi pulang?"
"Iya pulang aja dulu. Paling obrolin dulu sama mas Alvin. Dia juga pasti belum makan dari siang."
"Yaudah. Nanti abang juga minta tolong orang juga deh buat bantu cari Aina."
"Makasih ya bang."
"Sama-sama. Kalian jangan malah ribut ya. Harus akur akur cari Aina bareng bareng jangan malah saling menyalahkan."
Tidak sampai satu jam Haifa dan Keanu sudah sampai di rumah.
"Assalamualaikum." ucap Haifa dan Keanu saat memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam." jawab Alvin yang sedang terduduk lesu di ruang tamu. Melihat ada papanya Aidan langsung meronta ingin digendong oleh papanya.
"Kangen papa ya?" kata Alvin sambil mencium pipi Aidan.
"Nen papa." katanya.
"Mas udah makan?" tanya Haifa.
"Belum. Gak selera." jawab Alvin.
"Mas harus makan. Haifa siapin dulu ya."
"Gak usah! Gak selera."
"Mas Haifa tahu mas khawatir sama Aina. Haifa juga khawatir. Tapi bukan berarti mas sampe gak makan dan mengabaikan kebutuhan badan mas. Cari Aina juga kan perlu tenaga." kata Haifa.
"GAK USAH. KAMU NGERTI KAN?"
"Wets sabar bro. Depan mata kamu ada anak bayi. Gak pantes denger papanya ngebentak bentak." lerai Keanu. Alvin langsung diam.
"Maaf nih ya. Bukan mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. Tapi pantes gak sih anak hilang, orangtua bukannya kompak nyari tapi malah kompak saling tinggi ego. Kompak ribut."
"Terus atas dasar apa kamu marah sama Haifa?"
"Abang." tegur Haifa.
__ADS_1
"Kamu nyalahin Haifa karena Aina hilang? Saya tanya posisi Aina hilang dimana? Di rumah? Karena lalai dari pengawasan Haifa? Bukan kan? Aina hilang di sekolah dan Haifa gak ada di sana. Terus atas dasar apa kamu nyalahin Haifa?"
"Abang udah."
"Biar dek. Biar Alvin gak semena mena sama kamu. Abang sama papa gak menyerahkan kamu ke Alvin buat dibentak bentak."
"Saya minta maaf." kata Alvin.
"Minta maaf, terus besok ngulang?"
"Kalau mau gitu balikin aja Haifa ke..."
"Enggak!" jawab Alvin tegas.
"Abang udah dong jangan memperburuk keadaan. Gak usah begini bisa gak? Kita fokus ke Aina dulu."
"Kita sama sama khawatir karena hilangnya Aina."
"Maaf saya gak maksud begitu Vin. Tapi saya serius." kata Keanu. Alvin mengangguk.
Bagi Alvin, Keanu benar. Seharusnya Alvin bisa lebih bijak. Tidak asal melampiaskan emosinya pada semua orang. Iya Alvin memang terlewat khawatir. Sampai tidak sadar jika kekhawatirannya menjadi emosi yang ia lampiaskan pada orang yang tidak bersalah. Alvin lupa jika saat ini bukan hanya ia sendiri yang khawatir.
"Maafin mas ya." kata Alvin sambil menggenggam tangan Haifa lalu menciumnya. Haifa tersenyum.
Aidan yang melihat Alvin sedang mencium tangan bundanya langsung menepis nepis.
"Ngan ngan." katanya.
"Sukurin diganggu anak." ucap Keanu.
"Kenapa sih bang. Berantem salah. Akur salah." protes Alvin.
"Ya bagus kalau akur. Tapi inget yang hidup di dunia ini bukan cuma kalian. Dan yang hidup di dunia ini gak semuanya udah punya pasangan." kata Keanu.
"Iya abang contohnya yang belum punya pasangan ya." ledek Haifa.
"Bodo ah. Ribut lagi gak usah cerita dan minta solusi sama abang ya."
"Ya jangan dong. Sayang abang." kata Haifa sambil beralih posisi ke samping Keanu.
Drttt Drttt... Telepon pintar milik Haifa bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.
"Assalamualaikum..." sapa Haifa.
"Wa.. wa.. heu... heu Alaikum... heu... heu... salam." jawab seseorang di seberang sana sambil menangis.
Haifa tampaknya mengenal suara ini...
"Hallo..." panggil Haifa.
"Heu... heu... heu.. Bun... da..." kaynya sambil menangis.
"AINA?" teriak Haifa.
***
To be continued...
See you next part...
Note : Mohon maaf karena up nya yang telampau lama. Dan mungkin beberapa readers kesal dan kecewa karena lamanya. Gak mau kasih pembelaan apa apa. Aku minta maaf aja gitu intinya. Gak mau banyak janji. Tapi ku usahakan, semoga kedepannya bisa up lebih cepat.
__ADS_1