Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 27


__ADS_3

"Assalamualaikum." suara dari luar menghentikan obrolan mereka.


"Wa'alaikumussalam."


Nampaklah keluarga kakak ipar mereka yang baru datang.


"Abang gak telat kan?" tanya Arvan.


"Abang rumah deket masa kesusul Alvin yang jauh." ucap Alvin.


"Ya maklum lah abang yang perlu di urusnya tiga." ucap Arvan.


"Halah paling juga kak Zia yang urus."ledek Alvin.


"Jangan salah abang bantuin tahu. Iya gak dek?" tanya Arvan pada Zia.


"Iya bantu banget." jawab Zia.


"Tuh kan kamu suka gak percaya sama abang." ucap Arvan merasa terbela.


"Bantu do'a tapi." ralat Zia.


"Ah sayang kok gitu." protes Arvan.


"Haha syukurin." ledek Alvin.


"Kalian ini dari kecil sampe tua kerjaan berantem terus." tegur Ayah.


"Abang belum tua." "Alvin belum tua." ucap mereka bersamaan.


"Giliran ngejawab Ayah aja kompak kalian tuh."


"Heuh ribut terus kalian tuh. Udah ah ibu mau main sama cucu cucu di atas. Abang bawain sikembar juga ke atas." ucap Ibu.


Ya biarlah ibu melepas rindu bersama para cucu. Itung itu mencharge energi positif kan.


Tersisa Ayah, Alvin, Haifa, Zia dan Arvan yang baru turun.


"Vin kamu gak jadi cuti seminggu? Katanya mau cuti seminggu?" tanya Ayah.


"Siapa gak jadi cuti?" tanya Arvan yang baru bergabung.


"Alvin." jawab Ayah.


"Sombong banget dikasih cuti gak mau." ucap Arvan.


"Bukan gitu bang. Tapi kemarin tuh mau ambil seminggu mikir dua kali. Soalnya Haifanya lagi gak bisa di apa apain."


"Awww. Sakit sayang." ucap Alvin karena baru saja lengannya di cubit oleh Haifa. Sedangkan muka Haifa sudah memerah menahan malu sekarang. Bisa bisanya hal begitu diceritakan.


"Hahaha jadi puasa? Kasian adek abang. Tapi kuat kan? Kuatlah 3 tahun aja kuat." tanya Arvan.


"Kuat sih kuat. Tapi ya tetep beda lah, selama 3 tahun mah jelas kan gak ada lawannya. Kalau udah ada lawan mah beda."


"Mas Alvin ih." kesal Haifa dengan wajah yang sudah memerah.


Merasa tidak nyambung dengan obrolan para lelaki, Zia mengajak Haifa untuk menjauh dari tempat itu.


Ya begitulah kebiasaannya mereka berkumpul tapi terbagi menjadi 3 kubu. Dengan topik yang berbeda.


"Papa bunda mana?" tanya Aina yang berjalan ke arah Alvin.


"Di belakang tuh sama aunty Zia." jawab Arvan.


Aina berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Arvan. Benar saja di sana ada Haifa, Zia, Vina serta bayi Vina yang sedang digendong oleh Haifa. Melihat itu Aina langsung berlari kearah Haifa kemudian langsung menangis sambil memukuli Haifa.


"Aina kenapa kok nangis. Sini sama aunty." ajak Zia.


"Bunda nakal." ucapnya sambil memukuli Haifa.


Haifa langsung memberikan Fiqri pada Vina.


"Aina kenapa?" tanya Haifa sambil membawa Aina ke pangkuannya. Tangan Aina langsung melingkar erat dileher Haifa.


"Bunda nakal." jawabnya sambil terisak.


"Nakal?" tanya Haifa.


"Tadi bunda gendong dede. Gak gendong Aina." jawabnya sambil tetap menangis.


"Haha Aina cemburu sama dede bayi ya?" tanya Vina.


Aina tidak menjawab. Ia hanya tetap menangis. Hari itu Aina tidak mau lepas dari Haifa dan semangatnya untuk main bersama sepupunya pun mendadak tidak ada. Aina tidak pernah mau lepas dari Haifa, karena dia takut bundanya itu kembali menggendong sepupunya.


Seharian berada di rumah ibu dengan segala macam hal yang baru Haifa ketahui dari keluarga Alvin.


Pukul 20.00 mereka sudah kembali berada di rumah. Mereka sampai malam karena terlebih dahulu mengajak Aina jalan jalan untuk mengembalikan moodnya agar tidak terus rewel.


Haifa sudah tampak biasa saja seperti tidak terbebani dengan apapun yang terjadi saat di rumah ibu. Sementara Alvin, ia masih merasa ada yang mengganjal. Alvin harus membahasnya bersama Haifa. Dan meminta maaf atas perlakuan ibu pada Haifa.


"Kenapa sih dari tadi kayaknya bayak pikiran banget?" tanya Haifa pada Alvin yang sedang duduk di samping tempat tidur.


"Aina udah tidur?" tanya Alvin.


"Udah. Mas kenapa sih?" tanya Haifa sekali lagi.


"Kamu bersih bersih dulu deh. Abis itu baru ngobrol."


Haifa bergegas ke kamar mandi. 10 menit Haifa sudah bergabung bersama Alvin di tempat tidur.


Alvin menatap Haifa.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kamu gak marah?"


"Marah?"


"Soal ibu."


"Oh."


"Gak marah?"


Haifa menggeleng.


"Tapi sedih sih sedikit." lanjutnya.


"Tapi gak apa apa. Haifa pikir wajar kok. Sebelum mas menikahkan bisa dibilang hampir seriap hari mas ke rumah ibu walaupun cuma antar jemput Aina. Tapi seenggaknya kalian ketemu saling sapa. Nah sekarang 10 hari mas sama Aina gak kesana. Jadi wajar kalau ibu merasa kehilangan."


"Tapi tetep aja gak seharusnya ibu begitu. Harusnya ibu ngerti setiap anak yang udah menikah itu pasti tanggungjawabnya udah beda."


"He'em. Tapi mas juga harus ngertiin kalau semuanya perlu proses. Ibu juga mungkin sama perlu proses buat nerima keadaan yang baru."


"Maafin ibu ya."


"Kenapa minta maaf?"


"Haifa, mas tau seberusaha apapun kamu menutupi dan mencoba mengerti ibu. Dalam hati kamu pasti ada perasaan gak nyaman. Kamu sendiri tadi bilang sedihkan? Anggap aja mas mewakili ibu, mas minta maaf ya."


"Iya mas. Udah ah. Mas mau langsung tidur?" tanya Haifa.


"Masih jam sembilan." ucap Alvin.


"Yaudah. Haifa mah mau nonton ya." ucap Haifa sambil beranjak dari tempat tidur untuk mengambil laptopnya.


"Nonton apa?" tanya Alvin ketika Haifa mulai membuka laptopnya.


"Drama. Seru loh mas mau ikutan?"


"Gak!" tolak Alvin.


"Dih biasa aja dong."


"Dari pada nonton drama gimana kalau kita aja yang buat drama?" ucap Alvin sambil menaik turunkan alisnya.


"No."


"Ayolah." bujuk Alvin dengan tangannya yang tidak bisa diam.


"Mas ih."


"Sayang."


"Mas Alv..."


***


"Sayang." panggil Alvin. Walaupun tidak sering namun sesekali Alvin memang suka manggil Haifa dengan sebutan itu.


"Tidur?" tanya Alvin.


Haifa menggeleng dan Alvin bisa merasakan itu di dadanya.


"Kamu pengen punya anak berapa?"


"Apa sih mas bahasannya."


"Ih serius gak salahkan? Kita suami istri."


"Ya nggak salah sih. Tapi emang mas yakin pengen cepet punya anak lagi?"


"Kamu mau nunda?" tanya Alvin.


"Enggak bukan begitu. Haifa cuma belum yakin sama Aina."


"Kenapa?"


"Lihatkan tadi di rumah ibu. Waktu Aina lihat Haifa gendong Fiqri (Bayi Vina), Aina langsung nangis terus minta gendong juga."


"Ya mas kan udah pernah bilang dia itu sekarang lagi euforia punya bunda. Dia mendapatkan sosok ibu yang selama ini bisa dibilang dia gak dapat itu. Apalagi kan yang dia dapat itu sesuai dengan keinginannya. Jadi dia pasti lagi happy banget. Dan sebagai anak kecil dia membuat pertahanan untuk melindungi yang dia punya ya dia berlaku posesif. Tapi kalau misalkan suatu saat di sini ada calon adeknya, mas yakin dengan dijelaskan pelan pelan dan dilibatkan dalam setiap proseanya juga Insya Allah dia bakal ngerti."


"Mas itu pengennya sebelum usia 30 udah punya 2 anak."


"Kenapa? Emang targetnya banyak?"


"Ya kalau kamu siap sih mas mah hayo aja kalau mau banyak."


"Kok jadi Haifa."


"Ya kan kamu yang bakal mengandungnya."


"Udah ah. Tidur yuk." ucap Haifa sambil membenamkan wajahnya di dada Alvin.


"Kenapa sih malu malu terus." ucap Alvin.


"Tidur mas. Besok kerja loh inget."


"Lagi yuk biar cepet prosesnya."


"Mas, tidur dong. Gak ada capek capeknya deh heran."


"Haha iya iya. Yaudah selamat tidur bunda jangan lupa baca do'a." ucap Alvin lalu mencium kening Haifa.

__ADS_1


***


Waktu terus belalu, tiga bulan sudah usia pernikahan Alvin dan Haifa.


Yang pasti mereka sudah sangat banyak perubahan.


"Ini belum ada tanda tanda kehidupan disini?" tanya Alvin sambil mengelus perut Haifa.


Alvin sengaja tidak pergi ke kantor karena sejak kemarin ia melihat Haifa mengeluh tidak enak badan dan tampak sangat lemah. Awalnya Alvin kira itu tanda tanda Haifa mengandung. Tapi ternyata setelah dilakukan pengecekan menggunakan tespack hasilnya belum positif. 


"Ya gimana belum rezekinya mungkin."


"Kata dokter jangan capek capek, jangan stres terus makanan juga harus sehat. Kamu pasti kecapean nih mangkanya sampe tumbang begini."


"Hm butuh refreshing kayaknya." ucap Haifa. Percaya atau tidak sekarang sudah pukul 10 dan mereka masih berada di bawah selimut. Jika Haifa jelas karena merasa badannya tidak enak dan lemas. Sedangkan Alvin ia beralasan ingin menemani Haifa.


"Kode nih minta jalan jalan?" tanya Alvin.


"Ya siapa tau aja kan ada yang mau ngajakin kan." ucap Haifa.


Alvin diam ia berharap semoga deh dalam waktu dekat dirinya bisa mengatur waktu untuk cuti.


"Haha becanda mas gak usah dipikirin. Haifa ngerti kok mas sekarang lagi sibuk karena baru aja gantiin posisi ayah. Pasti butuh waktu buat penyesuaian kan."


"Tapi gak salah juga sayang kalau kamu pengen pergi jalan jalan. Tiga bulan nikah kita belum pernah pergi pergi. Malah pas baru nikah mas cuma libur sebentar dan langsung kerja. Semoga deh dalam waktu dekat mas bisa atur waktu buat kita jalan jalan."


"Haifa mah asal mas gak kerja full 24 jam dan masih bisa luangin waktu di rumah sama Aina sama Haifa itu udah cukup. Walaupun gak menampik pengen juga pergi jalan jalan gitu sama keluarga baru. Tapi ya gak perlu memaksakan kalau memang belum ada waktunya."


"Ini istri siapa sih pengertian banget." ucap Alvin sambil memeluk Haifa.


"Ih jangan deket deket mas. Nanti malah ketularan."


"Biarlah biar bisa punya alasan gak ngantor dan dua duaan gini sama kamu kan." ucap Alvin.


"Dih jangan gitu dong. Pimpinan tuh harus kasih contoh yang baik."


Sekarang memang mereka hanya berdua di rumah eh ralat bukan berdua deng. Tapi bertiga dengan sopir yang berada di post depan. Dan Aina putri kecil mereka itu sejak sebulan yang lalu sudah bersekolah ditempat yang sama dengan Azzam, hanya mereka beda tingkatan.


Setelah Aina sekolah memang mereka mempekerjakan seorang sopir. Untuk mengantar dan menjemput Aina ketika sekolah tapi tetap Haifa akan ikut mengantar dan menjemput tidak membiarkan hanya dengan sopir.


"Mas udah waktunya jemput Aina." ucap Haifa.


"Yaudah biar mas aja yang jemput kamu istirahat aja di rumah."


"Makasih yaa."


"Sama sama sayang."


Walau sudah sering tapi tetap saja pipi Haifa suka memerah jika Alvin memanggilnya begitu.


"Haha masih aja merah yaa ini pipi."


"Mas ih becanda terus."


"Mas panggil lagi deh biar makin merah."


"Sayang sayang sayang sayang sayang." panggil Alvin tidak jelas.


"Kenapa sih mas Ya Allah gak jelas banget sih tingkahnya."


1 jam perjalanan Alvin sampai di sekolah Aina.  Alvin menunjukkan ID card nya kepada satpam untuk bisa masuk dan menjemput Aina. Tidak menunggu lama Aina sudah keluar dari gedung bertingkat itu.


"Assalamualaikum. Anak cantiknya Papa." ucap Alvin yang berada di luar mobil untuk menyambut putrinya.


"Wa'alaikumuttalam Papa. Bunda mana?" tanya Aina setelah mencium tangan Alvin karena biasanya selalu Haifa yang menjemputnya.


"Bunda di rumah sayang. Bundanya lagi sakit mangkanya Papa yang jemput Aina."


"Bunda takit? Aina mau pulang tekalang papa."


"Iya yuk kita pulang."


Aina berjalan lebih dulu ke arah mobil mereka.


Sekarang mereka sudah sampai di depan rumah.


"Bunda..." ucap Aina sambil langsung memeluk Haifa yang membukakan pintu.


"Sayang. Gimana sekolahnya seru?"


"Selu. Aina main banyak."


"Alhamdulillah. Sekarang Aina ganti baju yuk." ajak Haifa sambil menuntun Aina.


"Aina sama papa aja yuk. Bundanya biar istirahat." ucap Alvin.


Aina mengannguk.


"Bunda bobo aja. Aina tayang bunda. Bunda tepet tembuh."


"Terimakasih sayang. Tapi bunda gak apa apa kok. Bunda udah sembuh." ucap Haifa sambil berjongkok di depan Aina.


"Bun. Udah deh istirahat aja ya. Aina biar sama Papa." tegas Alvin.


"Gak apa apa Papa. Yaudah yuk kita ganti baju." ajak Haifa sambil menuntun Aina.


Saat sudah melewati anak tangga dan hendak masuk ke kamar Aina. Haifa merasa kepalanya semakin berat dan matanya semakin kabur. Tangan Haifa menggapai gapai mencari pegangan. Alvin yang melihat itu langsung memegang tangan Haifa. Alvin geram ternyata betul kata mama mertuanya jika Haifa itu memang belum merasa sakit jika belum masuk rumah sakit.


"Dibilang juga apa diem istirahat. Gak nurut sih. Bener kata mama ya kamu itu belum merasa sakit kalau belum sampe masuk rum...."


***

__ADS_1


**To be continued...


See you next part**...


__ADS_2