
Happy Reading...
Tidak seperti biasanya, hari ini Alvin sangat sulit dihubungi. Padahal sebelum berangkat, Alvin sempat berkata 'Kalau butuh apa hubungi aja.' kenyataannya sampai malam hari ia belum pulang juga. Bahkan sejak tadi siang Alvin sulit dihubungi.
"Alhamdulillah anak anak tidur juga." kata Haifa sambil memandangi anak-anaknya yang sudah tertidur di tengah kasur milik Alvin dan Haifa. Haifa sangat senang ketika anak-anaknya bisa tidur nyenyak juga. Setelah seharian ini selalu drama dengan kerewelan Aidan. Serta kehebohan Aina yang ikut menjaga Aidan.
"Tidur nyenyak ya anak-anaknya bunda." kemudian mencium kening anaknya satu persatu.
"Jam 09 malam belum pulang juga. Sebelum berangkat aja ngomongnya 'Kalau ada apa apa hubungi aja.' Buktinya tadi siang ditelepon gak ada satupun yang diangkat. Bikin hilang mood aja emang bapak satu itu." gerutu Haifa
"Bodo amat ah mending tidur. Daritadi anak anak pada rewel cape juga."
Hampir setengah jam Haifa berubah ubah posisi. Badannya lelah tapi matanya belum juga bisa terpejam.
"Huh. Gak bisa tidur lagi. Papa kalian juga kemana sih nak. Gak berkabar sama sekali." kata Haifa sambil memandangi anaknya satu persatu.
"Kalian bobo yang nyenyak ya. Bunda mau ke bawah. Nunggu papa kalian. Di kamar juga percuma gak bisa tidur."
Haifa mengikat sembarangan rambutnya. Kemudian memberikan penghalang dimasing masing sisi ranjang.
"Nonton apa ya yang enak?" kata Haifa sambil memilah deretan film di televisi berlangganan miliknya.
Belum lama Haifa menonton. Terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya. Tapi yasudah biarkan saja. Haifa memilih untuk diam, berpura-pura tidak mendengar.
"Assalamu'alaikum." ucap Alvin saat memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam." jawab Haifa dalam hati.
"Kok belum tidur?" tanya Alvin kemudian mencium kepala Haifa. Tidak peduli dengan status mereka yang masih mode pesawat. Alvin sangat lelah hari ini. Jadwalnya sangat padat dan banyak yang di luar jadwal.
"Kenapa belum tidur?" tanya Alvin lagi.
Haifa tidak menjawab.
"Sayang aku capek loh." Kata Alvin.
Lagi lagi tidak ada tanggapan.
"Ada suaminya loh di sini. Masa lebih menarik manusia manusia di layar kaca." kata Alvin lagi.
"Yang ngajak ngobrol kamu ini suami loh. Gak akan jawab sekata pun?" kata Alvin.
"Adilkan?" jawab Haifa.
"Maksudnya?"
"Tadi siang aku telpon aku WA. Ada uang kamu jawab? Gak adakan? Jadi sekarang adilkan?" jawab Haifa ketus.
"Ngomongnya dong. Kalau ada apa apa, kalau Aidan rewel telepon aja. Percuma juga ditelepon berulang ulang juga gak jawabkan? Lain kali aku sarankan gak usah ya kayak begitu lagi. Kalau memang gak bisa. Kalau sibuk mending bilang. Gak usah pake acara..."
"Hari ini di kantor padat banget jadwalnya. Banyak yang diluar rencana. Beberapa pertemuan juga berjalan alot. Jadi cukup makan waktu lama. Aku ini pulang kerja. Capek. Berharap pulang itu disambut senyum. Ditanya dengan pertanyaan pertanyaan yang menenangkan. Bukan malah didiamkan."
"KAMU CAPEK? AKU JUGA DI RUMAH CAPEK. AIDAN REWEL TERUS. AINA JUGA JADI IKUT REWEL KARENA AIDAN NANGIS TERUS. TERUS TIBA-TIBA IBU KESINI. SAAT AKU BELUM SEMPAT BERES BERES RUMAH, BELUM SEMPAT APA APA." kata Haifa dengan nada tinggi dan air mata yang berjatuhan.
__ADS_1
Mendengar itu, Alvin sudah terbayang seperti apa kondisinya. Ibu pasti akan memberikan 1001 nasihatnya tanpa melihat situasi dan kondisi. Alvin mendekap Haifa dan membiarkan Haifa terus mengoceh mengeluarkan segala isi hatinya dengan air mata yang terus mengalir membasahi kemeja Alvin.
Saat Haifa sudah mulai tenang. Alvin, mengendurkan pelukannya. Alvin mengangkat dagu Haifa agar menatapnya.
"Maafkan ibu ya." hanya kata itu yang bisa diucapkan Alvin.
Haifa tidak menjawab. Tapi air matanya kembali meleleh. Tapi Alvin dengan cepat menyekanya.
"Kamu tadi bilang capek kan? Yaudah bersih-bersih aja sana. Terus istirahat." kata Haifa sambil mengalihkan pandangan dari Alvin.
Alvin tahu bukan saatnya membahas lebih jauh. Sekarang lebih baik diam terlebih dahulu. Menunggu situasi lebih tenang.
Menjelang pagi Haifa baru benar benar masuk kamar. Ia melihat Alvin sudah terlelap bersama anak-anak.
Haifa diam sambil memandangi ketiganya. Ia merasa sudah lepas kontrol saat mengobrol dengan Alvin tadi. Haifa takut setelah ini hubungan Alvin dan ibu akan tidak baik.
"Ceroboh banget sih Haifa." tegurnya pada diri sendiri. Mungkin efek hubungannya dengan Alvin yang masih dingin ditambah lelah menjaga Aina dan Aidan ada juga inspeksi mendadak dari ibu mertua membuat moodnya hari ini benar benar rusak.
Tapi yang sudah terjadi tidak bisa di ulang lagi. Besok saat semua sudah lebih tenang. Haifa bertekad untuk berbicara dengan Alvin. Mengenai mereka dan mengenai ibu.
***
Ash-shalaatu khairum minan-nauum.
Adzan subuh sudah berkumandang. Alvin yang mendengar suara adzan langsung bangun.
"Kesiangan." gumamnya dan langsung beranjak ke sisi tempat tidur Haifa.
"Yang..." panggil Alvin sambil mengusap kepala Haifa.
"Udah adzan." kata Alvin.
Mendengar kata adzan mata Haifa langsung terbuka sempurna. Sangat jarang sekali Haifa bangun bertepatan dengan adzan subuh.
"Kamu bersih bersih di kamar mandi kamar. Mas di luar. Biar cepat. Kita shalat berjamah. Sekalian ada yang perlu kita bicarakan." kata Alvin.
Selesai shalat subuh mereka belum beranjak dari posisinya. Anak anak pun belum ada yang bangun. Biasanya setiap shalat subuh Aina selalu dibangunkan untuk shalat bersama, agar nantinya terbiasa. Tapi kali ini karena faktor kesiangan dan kedua orang tua yang butuh waktu lebih untuk berdua. Jadi dapat dipastikan pagi ini Aina tidur lebih lama.
"Kemarin ibu bicara apa aja?" tanya Alvin setelah mencium kening Haifa. Kebiasaan mereka memang seperti itu. Ba'da shalat berjamaah Haifa mencium tangan Alvin, dan Alvin mencium kening Haifa.
"Enggak kok."
"Jujur."
"Bukan masalah kok. Yang ibu katakan kemarin benar kok. Haifanya aja yang lagi gak baik kemarin jadi ya begitu. Maaf ya." kata Haifa.
Alvin mendekat ke arah Haifa.
"Yang, jangan terbiasa membenarkan yang salah. Sekalipun itu ibu. Tapi kalau dirasa apa yang ibu katakan atau lakukan kurang tepat kita sebagai anak perlu memberitahu. Apalagi ini berkaitan langsung dengan rumah tangga kita." kata Alvin.
"Iya tapi kemarin yang ibu katakan itu emang betul semua. Isinya nasihat semua. Jadi gak ada yang salah. Ibu cuma bilang, kalau istri itu gak boleh malas. Anak itu bukan alasan buat malas malasan. Istri itu harus sekatan. Harus bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Harus diusahakan, biar pas suami pulang rumah udah bersih, rapi, enak dipandang. Gak ada yang salahkan sama perkataan ibu. Cuma Haifanya aja yang berlebihan."
"Mas pikir penyampaian dan waktunya yang salah. Ibu kasih nasihat ini itu, pasti tanpa tahu situasi dan kondisi yang sebenarnya."
__ADS_1
"Jujur mas malu dengan ucapan ibu. Mas merasa gagal jadi suami."
Haifa menatap Alvin.
"Mas malu sama mama papa. Mereka percaya banget sama mas. Percaya kalau mas bisa bertanggung jawab penuh atas kamu. Mereka gak pernah tanya apa kamu bahagia sama mas. Mereka gak pernah ikit campur rumah tangga kita. Padahal kalau mau, mereka sangat punya alasan. Apalagi dengan masalalu yang aku punya. Mereka lebih punya alasan buat khawatir sama kamu. Tapi mama papa gak melakukan itu. Mereka percaya penuh sama mas. Lain dengan ibu yang selalu ingin tahu."
"Maaf yaa. Mas berani mengambil kamu dari keluarga kamu. Tapi mas gak bawa kamu ke keluarga yang lebih baik dari keluarga kamu." kata Alvin.
"Setelah kejadian ini. Mas gak akan biarkan lagi ibu ikut campur terlalu jauh di rumah tangga kita." kata Alvin lagi.
Bukan saatnya Haifa menimpali Alvin dengan emosi. Haifa tahu saat ini Alvin sedang emosi. Walaupun tidak disalurkan dengan kata kata yang keras.
"Haifa gak pernah merasa mas gagal kok. Walaupun tidak selalu manis perjalannya. Tapi bukan berarti gagalkan? Yang Haifa pelajari, tahun tahun pertama rumah tangga itu ya kurang lebih begini. Karena pada dasarnya kita masih sama sama perlu lebih memahami satu sama lain. Begitu juga perihal masalah denga ibu. Ibu hanya belum terlalu mengenal Haifa. Mangkanya ibu sebenarnya ingin berkenalan lebih jauh dengan Haifa. Tapi mungkin caranya aja yang kurang pas. Bukan salah, hanya kurang pas. Sebelum menikah kan masa perkenalan antara mas, haifa dan keluarga waktunya gak begitu banyak." kata Haifa coba kembali menenangkan Alvin.
"Mengenai ibu selama ini. Kalau dipikir pikir sebetulnya yang ibu bicarakan itu. Walaupun memang pedas. Tapi sedikit banyak memotivasi tahu. Buktinya, karena kata kata ibu. Haifa jadi belajar masak kan? Sayangnya Haifa manusia biasa punya hati yang kadang sehat dan juga sakit. Punya kadar keimanan yang kadang tebal dan tipis. Jadi kadang gak bisa menangkap maksud baiknya."
Alvin menatap Haifa dalam dalam.
"Sekarang mas lebih malu. Karena kamu, bisa mengajarkan mas untuk tidak memandang dari satu sudut pandang. Tapi apapun alasannya, rumah tangga yang terlalu dicampuri peran orang lain sekalipun orang tua yang berlebihan itu mas rasa kurang baik juga. Dari kejadian saat ini kita bisa ambil dua contoh. Pertama saat kita diusik oleh uwa dan kakak sepupu kamu. Karena mereka yang tidak tahu apa apa itu sok tahu. Akhirnya kita yang bermasalah. Kedua ibu, dampaknya kita juga yang bermasalah."
"Sepertinya kita harus belajar untuk tidak banyak mendengar dan menyaring apa yang kita dengar. Karena jika tidak akan menjadi boomerang bagi kita sendiri." kata Alvin.
"Seperti pepatah kan? Kita cuma punya dua tangan, tidak cukup untuk menutup mulut mereka yang senang berkomentar. Lebih baik kita gunakan buat menutup telinga agar tidak banyak mendengar komentar komentar. Begitu kan pak dosen?" kata Haifa.
Alvin tersenyum.
"Pintar juga mahasiswa saya."
"Oh jelas. Belajarnya aja privat."
"Haha jadi kita baikan nih?"
"Maunya gimana?"
"Baikanlah. Gak seru diam diaman terus."
"Siapa yang mulai?" tanya Haifa.
"Iya iya mas yang salah. Suami yang salah."
"Gitu dong. Kalau di kampus kan ada istilah dosen selalu benar. Kalau di rumah, mohon maaf anda kalah sama say..."
"Ih apa sih deket banget." kata Haifa sambil menjauhkan wah Alvin dari wajahnya.
"Kangen tahu yang kayak begini."
***
**To be continued...
Diriku ini minta maaf dulu ya. Part ini terlalu lama Publish.
Kedepannya mungkin BUA akan diusahakan up seminggu sekali.
__ADS_1
Tetapi jika ada waktu luang selalu diusahakana up kok (Insya Allah)
Terimakasih bagi yang masih berkenan untuk membaca**.