Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 68


__ADS_3

Happy Reading...


"Assalamu'alaikum..." ucap mama dan Keanu dari arah pintu.


"Wa'alaikumsalam." jawab mereka sambil menghampiri dan menyalami mama.


"Alvin pulang kapan?" tanya mama.


"Tadi ma. Sekitar satu jam yang lalu." jawab Alvin.


Keanu yang memang tahu Haifa sedang kesal pada suaminya, diam diam memperhatikan keduanya. Sepertinya memang belum selesai permasalahan antara keduanya.


"Kalian pulang aja sana. Nih bawa mobil abang."


"Nggak mau." tolak Haifa.


"Dek benar kata abang. Kalian pulang dulu aja. Biar siang ini mama sama abang yang jaga anak-anak. Adek juga kan dari semalam belum istirahat, Alvin juga baru pulang butuh istirahat. Jadi mending kalian pulang dulu nanti sore kesini lagi." kata mama.


"Tapi ma, nanti anak anak rewel, Aidan minta ASI gimana? Haifa gak ada stok ASI di rumah sakit." jawab Haifa.


Mama diam, benar juga. Kalau masalah rewel sih mama sama Keanu masih oke. Tapi kalau alasannya tentang ASI ya gimana mama atau Keanu kan gak bisa kasih ASI.


"Yaudah adek pumping dulu sekarang, nanti masukan kulkas."


"Gak bawa alat pumping."


"Ada, nih mama bawa." kata mama.


"Ini bukan punya Haifa."


"Iya emang bukan. Ini punya teh Hanni. Tapi bersih kok udah di sterilisasi dulu. Kan gak pernah dipake lagi lepas Arsyad gak ASI."


"Tapi ma Haifa gak mau pulang."


"Dek kamu itu butuh istirahat. Jangan sampe nanti kamu juga ikut sakit." kata mama.


"Iya Haifa kan bisa istirahat di sini."


"Di sini kamu gak bisa istirahat."


"Kamu juga pasti belum makan kan dari pagi?" tebak Keanu.


"Kenapa abang sok tahu?"


"Tuh lihat nasi yang tadi pagi abang beli buat sarapan masih utuh."


"Kamu mau ikut sakit juga?" kata Alvin sambil menatap Haifa.


"Yaudah iya Haifa pulang. Tapi mau pumping dulu. Sana kalian keluar." usir Haifa pada kedua lelaki itu.


"Kenapa harus keluar?" tanya Keanu.


"Haifa mau pumping abang."


"Ya tinggal pumping aja kenapa mesti ngusir abang."


"Ih mama abang tuh."


"Abang, Alvin keluar. Jangan buat ribut."


"Alvin juga?" tanya Alvin sambil menunjuk dirinya sendiri.


"IYA!" jawab Haifa dengan kesal.


"Iya udah cepat kalian keluar dulu."


"Kamu lagi kenapa dek sama Alvin, ketus banget. Gak baik ketus sama suami. Apalagi dia baru pulang dari luar kota. Pasti capek. Tunggu dia udah makan belum? Sejam yang lalu kamu udah kasih minum belum?" tanya mama.


Haifa diam. Sejak satu jam yang lalu Haifa memang belum melihat Alvin minum apalagi makan. Tapi mungkin saja kan Alvin sudah makan di perjalanan sebelum berangkat.


"Mama tanya loh dek."


"Iya adek gak tahu ma. Lupa nanya tadi. Udah makan mungkin di perjalanan." jawab Haifa.


"Adek kok gitu sama suami?"


"Iya nanti adek tanya."


"Gak boleh gitu dek. Dia pulang kerja dari luar kota, capek terus adek judesin gitu. Gak baik."


"Kalau bahas capek. Adek juga capek ma, jaga dua anak kecil yang sama sama sakit."


"Yaudah yaudah kalian sama-sama capek. Baiknya emang kalian pulang dulu istirahat. Tapi ingat ya sebelum pulang kalian cari makan dulu."


"Iya." jawab Haifa."

__ADS_1


Hampir satu jam Haifa memompa ASI.


"Udah nih ma, dapat 400 ml kalau abis mama telepon aja ya. Haifa langsung simpan di kulkas ya."


"Tuh mangkanya kamu tuh jangan stress. Mood kamu harus dijaga biar ASI nya banyak."


"Iya ma. Ini mungkin karena sejam lalu Aidan juga baru minum susu."


"Yaudah kamu pulang sana. Ingat ya sebelum pulang kalian cari makan dulu."


"Iya mama mah ngusir terus."


Selesai memompa ASI, Haifa bersiap untuk pulang.


"Ma titip anak anak ya. Kalau rewel mama telepon aja. Nanti Haifa langsung ke sini."


"Iya udah cepat. Nanti anak anak kamu keburu bangun kamu malah gak bisa pulang."


"Iya udah Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Haifa keluar ruangan.


"Udah selesai? Mau pulang?" tanya Alvin saat melihat Haifa keluar ruangan.


"YA!" jawab Haifa.


"Yaudah sebentar mas pamit ke mama dulu."


"Gak usah!"


"Judes banget sih dek." Kata Keanu.


"Diam!"


"Haha udah sana kalian pulang. Gak usah pamit Vin. Pasti Haifa juga udah pamit sekalian. Tas sama jaket kamu aja udah dibawakan tuh sama Haifa." kata Keanu menunjuk tangan Haifa yang menenteng tas dan jaket milik Alvin.


Alvin hanya tersenyum. Haifa yang baru sadar langsung menyerahkan yang ia pegang pada Alvin tanpa bicara.


"Bang pinjam mobilnya ya."


"Iya pake aja."


Dalam perjalanan pulang di dalam mobil sangat hening sekali. Haifa juga bingung mau berbuat apa karena handphone milik Haifa kan masih di saku celana Alvin.


Alvin menengok kearah Haifa.


"Hp aku kembalikan." kata Haifa lagi.


"Mau apa?" tanya Alvin.


Haifa tidak menjawab lagi.


"Kamu kenapa sih Yang? Mas bingung pulang-pulang mas langsung didiamkan begini." kata Alvin.


Haifa diam saja, Ia malah memalingkan wajahnya menatap jendela di samping kirinya.


"Kamu marah karena mas gak langsung pulang?" tanya Alvin.


Haifa tetap diam saja.


"Kalau emang karena itu mas minta maaf. Bukan gak mau cepat pulang. Tapi ya mau gimana itubkan diluar kehendak kita."


Tidak ada tanggapan apa apa dari Haifa. Alvin menghela nafas, ia mencoba lebih sabar dan lebih mengerti Haifa saat ini.


"Mau makan dimana?" tanya Alvin.


"Yang, mas tanya loh mau makan dimana?"


"Terserah." jawab Haifa.


Alvin menengok sekilas ke arah Haifa lalu menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Alvin membelokan mobilnya ke arah sebuah tempat makan yang memang sudah pernah ia kunjungi bersama Haifa.


Haifa melepaskan seatbeltnya dan turun lebih dahulu, mendahului Alvin. Alvin mengekori di belakang Haifa.


Sambil menunggu pesanan mereka hanya saling diam.


"Hp aku." lagi lagi Haifa kembali meminta Hp nya.


"Buat apa?"


"Kembalikan hp aku."


"Kita mau makan, gak perlu hp. Hp kamu mas pegang sampai kita ngobrol dan mas tahu alasan kamu jadi begini karena apa." jawab Alvin.

__ADS_1


"Kalau ada perlu, pake aja dulu hp punya mas nih." kata Alvin sambil menyerahkan hp miliknya pada Haifa.


Haifa mengabaikan Alvin yang memberikan hp milik Alvin.


"Mau nggak?"


"Gak!"


Lagi Alvin mencoba untuk lebih sabar. Alvin dan Haifa kembali saling diam. Untung saja makanan segera datang. Mereka langsung cuci tangan, berdo'a kemudian menyantap makanan masing masing. Sebelum pulang mereka menyempatkan dulu untuk shalat dzuhur di mushola yang ada di tempat makan tersebut.


Sampai di rumah Haifa langsung ke kamar, tujuan utamanya memang untuk segera membersihkan diri dan berendam sepertinya akan sedikit menenangkan dirinya. Hampir satu jam Haifa baru keluar kamar mandi sudah lengkap dengan pakaian rumahannya. Selesai mandi niatnya Haifa ingin beres beres rumah sebelum nanti pergi lagi ke rumah sakit. Tapi sayang Haifa harus mengurungkan niatnya. Karena saat hendak keluar kamar Haifa berpapasan dengan Alvin yang hendak masuk kamar.


"Mau kemana?"


"Bawah."


"Masuk dulu kita perlu bicara."


"Gak!"


Alvin tidak berkata lagi. Ia langsung saja menarik Haifa dan menutup pintu kamar dengan kencang.


Saat ini mereka sudah berdiri berhadapan di samping tempat tidur.


"Sekarang kamu bilang kamu kenapa?" tanya Alvin mencoba untuk tidak menyertakan emosi.


"Gak apa apa." jawaban Haifa sangat khas dengan jawaban seorang wanita ketika sedang marah.


"Mana ada gak apa apa. Kalau gak apa apa mana mungkin mas didiamkan begini."


"Kalau mas melakukan kesalahan kamu bilang, jangan tiba-tiba diam begini."


"Kamu kenapa sih? Sampai anak-anak sakit aja mas dikasihtahu bang Ken. Kamu juga susah dihubungi. Mas di sana nahan khawatir. khawatir sama kondisi anak-anak, khawatir sama kamu. Mas bisa marah loh Yang. Mas juga..."


"Masih peduli ya sama anak istri?" tanya Haifa memotong ucapan Alvin.


"Kamu bilang apa sih Yang?"


"Aku bilang kamu masih peduli sama anak istri? Masih ingat punya anak istri? Masih inget hubungi anak istri? Kamu marah karena bukan aku yang kasih tahu anak-anak sakit, kamu tanya kenapa aku gak bisa dihubungi. Kamu marah karena kamu bilang kamu khawatir sama kondisi anak-anak. Kamu bohong Alvin, kamu bohong!" ucap Haifa dengan penuh emosi.


"Kamu gak peduli, kamu gak benar-benar peduli. Kalau kamu peduli, kamu gak akan mungkin kemarin seharian susah dihubungi, kamu bilang aku gak kasih tahu kondisi anak-anak? Kamu baca gak semua pesan dari aku? Aku tanya kemarin kamu baca gak semua pesan dari aku? Kamu angkat gak telepon aku? Angkat gak? JAWAB!" teriak Haifa sungguh saat ini Haifa sangat jauh dari kesan istri yang baik, istri yang patuh, istri yang penurut. Tapi percayalah saat ini kondisinya lain, fisiknya lelah, pikirannya juga cukup kalut ketika harus menghandle kedua anaknya yang sakit.


"Yang kemarin mas itu..."


"Apa? Kamu mau jawab apa? Kamu mau bilang kamu sibuk, handphone kamu rusak, kamu gak pegang handphone, terus apa lagi kamu mau bilang kamu gak punya pulsa? gak ada kuota? Hah kamu mau jawab apa? Kamu bilang kamu peduli tapi telepon dan pesan dari istrinya aja dianggap gak penting. Kamu bilang kamu khawatir? Terus apa kabar aku? Kamu pikir aku gak khawatir ketika gak ada kabar dari kamu? Kamu pikir aku gak khawatir lihat anak-anak yang terus-terusan rewel, Aina yang selalu manggil kamu, Aidan yang gak berhenti nangis sekalipun udah aku kasih ASI. Terus saat itu kamu kemana bapak Alvin yang terhormat? Kamu kemana aku telpon gak bisa, aku chat gak satupun kamu baca, kamu kemana?"


Alvin diam, ia tidak membela diri. Satu jam ngobrol bersama Keanu sementara Haifa memompa ASI membuat Alvin sedikit banyak diberitahu Keanu tentang penyebab kemarahan Haifa. Keanu juga mewanti wanti Alvin agar tidak ikut terbawa emosi karena jika Alvin emosi, Haifa pasti akan lebih meledak lagi.


"Kamu jangan emosi. Sini duduk dulu, mas bisa jelaskan." kata Alvin memegang tangan Haifa dan mengajaknya duduk di tepi tempat tidur.


"Jangan pegang." kata Haifa menghempaskan tangan Alvin. Alvin tidak membantah, ia menjauhkan tangannya dari tangan Haifa.


Haifa duduk di tepi ranjang di sebelah Alvin. Tapi cukup berjarak dengan Alvin.


"Yang" panggil Alvin sambil melihat ke arah Haifa. Haifa diam saja.


"Mas tahu kamu marah, mas terima. Tali tolong kamu dengarkan dulu, mas punya alasan."


"Jadi kemarin itu, jadwal mas full. Oke itu bukan alasan. Karena seharusnya sesibuk apapun keluarga adalah prioritas. Tapi yang jadi masalah utama mas gak bisa angkat telepon atau baca pesan dari kamu itu karena handphone mas ketinggalan di hotel. Iya mas ceroboh memang. Karena mas gak sama kamu, kan biasanya kamu yang selalu ingatkan mas buat bawa handphone, dompet dan barang-barang yang lain."


"Alasan." kata Haifa pelan tapi masih terdengar oleh Alvin.


"Itu bukan alasan Yang. Itu yang benar terjadi. Waktu mas dapat kabar dari karyawan yang dihubungi Bang Ken, mas baru sadar kalau hp mas ketinggalan di hotel. Mas langsung pulang ke hotel. Ambil hp, mas coba hubungi kamu tapi susah. Mas juga gak kepikiran buat cek hp lebih jauh karena yang ada dipikiran mas, mas harus secepatnya dapat kabar dari kamu. Malam itu juga mas langsung ke bandara, ngecek siapa tahu masih ada penerbangan. Tapi gak ada. Kalau naik mobil pribadi itu sampainya sama saja sama naik pesawat yang nunggu pagi."


"Mas gak maksa kamu percaya. Mas minta maaf mas salah. Tapi kalau sekarang kita marahan saat anak-anak lagi sakit lagi butuh kita rasanya kurang baik. Walaupun anak-anak belum ngerti. Tapi mas yakin mereka bisa merasakan. Bunda sama papanya yang biasa hangat, akrab sekarang jadi berjarak." kata Alvin.


"Mas minta Maaf."


"Alasan kamu standar. Kamu bilang handphone kamu ketinggalan. Terus selama itu kamu gak sadar kalau handphone kamu ketinggalan?"


"Kamu pegang dua handphone tapi kok bisa ya handphone kerja kamu bawa dan handphone satunya kamu tinggal gitu? Terus dari pagi sampai malam emang kamu terus terusan di tempat kerja? Gak pulang ke hotel sebentar pun? Gak ada ya waktu sedikit pun buat istirahat, shalat gitu gak ada?"


"Oh atau jangan-jangan kenapa waktu kamu di sana diperpanjang karena rekan kerja kamu di sana banyak perempuannya ya? Cantik-cantik ya? Sampai mengalihkan perhatian. Sampai betah di sana. Sampai gak mau pulang. Yaudah kalau gitu gak usah..."


"Yang udah cukup. Astagfirullah kok malah jadi kemana-mana. Demi Allah Yang. Mas kerja gak macam-macam rekan kerja di sana juga banyaknya laki-laki. Masalah handphone iya mas akui mas salah. Dan kenapa selama itu mas gak sadar kalau mas lupa bawa handphone pribadi. Ya emang karena urusan hubung-menghubungi itu udah dipegang sama sekretaris mas. Jadi mas gak banyak pegang handphone."


"Dari pagi sampai malam memang mas minta jadwal dibuat full. Biar lebih efisien waktu. Biar gak nambah-nambah hari lagi. Karena jujur aja waktu dari tiga hari di perpanjang itu mas keberatan banget. Tapi ya mau bagaimana, sebagai pimpinan kan gak mungkin lepas tanggung jawab begitu saja."


"Mas minta maaf."


***


Puas gak sama alasan Alvin?


To be continued...

__ADS_1


See you next part...


__ADS_2