Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 64


__ADS_3

Happy Reading...


Sudah dua jam mereka berada di TSB beberapa wahana sudah dicoba. Saat ini mereka baru saja selesai menaiki wahana roller coaster.


"Pusing?" tanya Alvin ketika melihat Haifa berjongkok sambil menggenggam tangannya erat. Alvin pun ikut berjongkok di depan Haifa.


"Pusing hm?" tanya Alvin sambil mengusap kepala Haifa.


"Sama mual." jawab Haifa pelan.


Wajar sih Haifa pusing karena bayangkan saja sebelum naik roller coaster, mereka lebih dulu naik giant swing dan vertigo galaxy. Ketiganya merupakan wahana yang memacu adrenalin.


"Yaudah cari tempat duduk dulu yuk jangan jongkok begini." kata Alvin sambil meraih kedua tangan Haifa dan membawanya berdiri.


*


"Mendingan belum?" tanya Alvin sambil menoleh ke sebelah kiri posisi Haifa sedang bersandar ke pundaknya.


"Udahan mainnya ya. Tapi jangan dihukum." rengek Haifa sambil mendongak menatap Alvin.


"Yah K.O hahaha. Baru tiga wahana loh sayang." kata Alvin.


"Ish sebel. Tiga wahana juga kan yang ekstrem semua. Pusing tahu. Coba aja kalau nyobanya yang ringan ringan dulu." protes Haifa.


"Hahaha yang nantang siapa hayo?"


"Ngalah kenapa sih sama istrinya. Senang banget ngejek istrinya."


"Yaudah sekarang mau apa?"


"Beli es krim yuk."


"Es krim terus."


"Biar gak pusing lagi mas."


"Tapi abis itu kita satu wahana lagi ya?" ajak Alvin.


"Magic corner tapi yaaa." ucap Haifa.


"Gak seru ah. Rumah hantu (Dunia Lain) aja gimana?" tawar Alvin.


"Eemm takut mas." rengek Haifa.


"Ya kan masuknya gak sendirian sayang, sama mas juga. Kalau takut terserah deh mau sambil peluk tangan atau mau sambil digendong juga boleh." kata Alvin.


"Ih modusnya mas itu mah."


"Oh jelas."


"Kok ngeselin sih!"


"Hahaha gini deh. Nanti kalau istrinya mas ini berani ke rumah hantu. Setelah itu kita ke trans mall. Terserah kamu mau beli apa aja mas turuti dan temani. Gimana?"


Haifa tampak menimbang-nimbang. Lumayan juga bisa belanja semaunya. Ya walaupun biasanya Alvin juga gak pernah melarang Haifa buat beli apapun yang ia mau. Tapi kali ini kan kesempatan Alvin yang menawarkan.


"Gimana? Deal gak nih?" tanya Alvin.


"Lama amat sih mikirnya?" kata Alvin lagi sambil mengusap kepala Haifa yang masih nyaman bersandar di pundak kirinya.


"Tapi beneran ya, abis itu boleh beli apa aja. Gak pake acara ceramah tentang managemen keungan dll ya." kata Haifa.


"Haha iya sayang. Jadi deal ya?" kata Alvin mengulurkan tangannya di depan Haifa.


"Tapi mau es krim dulu." kata Haifa sambil menerima uluran tangan Alvin.


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk membeli dan makan es krim. Sekarang Alvin sudah mengajak Haifa bersiap untuk mengunjungi wahana rumah hantu.


"Siap?" tanya Alvin.


"Kalau enggak gimana?"


"Ya berarti siap kena hukuman dong."


"Tega emang istrinya dihukum?"


"Harus tega."


"Sayang gak sih sama istrinya?"


"Haha lagi nego ya?"


"Ih serius nanya loh sayang gak?"

__ADS_1


"Sayang dong. Banget malah."


"Berarti gak ada hukuman dong. Ya please."


"No no. Gak ada nego nego ya."


"Mas please."


"No."


"Sayaaang..." bujuk Haifa.


Alvin langsung menoleh, tidak biasanya Haifa memanggilnya sayang.


'Tahan Alvin tahan. Jangan goyah.' ucap Alvin dalan hati.


"Hayu ah. Rumah hantu dong sayang. Gak sampai 1 jam. Selesai itu udah deh mau apa aja mas ikuti." sambil berjalan mendahului Haifa.


"Ih sebel." gerutu Haifa.


"Tungguuu..." panggil Haifa sambil berjalan cepat mengejar Alvin dan langsung memeluk lengan kiri Alvin.


"Belum juga masuk Yang. Udah kenceng aja meluknya." ledek Alvin.


"Ih ngejek terus."


"Haifa tuh udah hafal banget kalau mas itu jahilnya banget. Kalau nanti Haifa tiba-tiba ditinggal gimana?" jawabnya dengan bibir yang mengerucut.


"Iya udah peluk deh yang erat."


*


Baru masuk ke wahana rumah hantu, mereka sudah disuguhu aura aura yang menakutkan. Membuat Haifa semakin kencang memeluk lengan Alvin.


Haifa itu bukan yang penakut-penakut banget. Tapi kalau sudah nonton film horror atau mendengar cerita horror dan semacamnya. Pasti langsung terbayang-bayang dan ketakutan. Jadi Haifa itu mending menghindari dari apapun yang berbau horror.


"Yang jangan merem dong." kata Alvin.


"Emm gak mau."


"Buka aja matanya gak ada apa apa kok."


"Gak mau."


Baru beberapa detik membuka mata, Haifa langsung melihat sesuatu yang menyeramkan dan suara yang menakutkan. Alhasil Haifa langsung memeluk Alvin dan menyembunyikan wajahnya di dada Alvin.


"Takut." rengeknya.


"Hahaha payah nih bunda."


"Biarin."


*


Keluar dari wahana rumah hantu, Haifa masih saja memeluk Alvin.


"Hei sayang udah keluar loh ini." panggil Alvin.


"Bohong."


"Serius."


Haifa perlahan mulai melepaskan pelukannya pada Alvin dan mulai membuka matanya. Ternyata benar mereka sudah keluar dari wahana rumah hantu.


"Gak asik ah masa merem terus." ledek Alvin.


"Ngejek terus."


"Payah ah."


"Biarin."


"Cemen."


"Bodo."


"Sekarang tepati janji. Haifa boleh belanja sepuasnya dan mas gak boleh ceramah tentang managemen keuangan dll."


"Huh giliran belanja aja semangat banget." kata Alvin sambil menyentil dahi Haifa.


"Oh iya dong. Apalagi kan sekarang biaya ditanggung sama mas. Jadi uang bulanan Haifa aman deh."


"Iya nyonya iya."

__ADS_1


"Yaudah yuk." kata Haifa sambil menggandeng tangan Alvin.


"Hikmah keluar dari rumah hantu kamu jadi nempel terus sama mas. Seneng deh."


"Jangan geer. Haifa gandeng mas itu, untuk antisipasi biar mas gak kabur."


"Bisa aja." kata Alvin lagi lagi menyentil dahi Haifa.


"Ih kebiasaan banget. Orang itu dahi istrinya dicium bukan disentil." protes Haifa.


"Mau banget dicium dahinya? Yaudah sini kalau gak malu."


"Ih ya gak disini juga."


"Terus dimana?" tanya Alvin sambil menaik turunkan alisnya.


"Mas jangan mulai jahil deh."


*


Sekarang mereka sudah berada di TSM. Haifa sangat antusias memilih segala macam. Naluri ibu-ibu nya otomatis muncul jika sudah begini. Walaupun kata Alvin, Haifa bebas membeli apa yang ia mau. Tapi tetap saja dasarnya ibu ibu, punya kesempatan belanja pasti yang dibeli untuk sekeluarga bukan hanya untuk dirinya saja.


"Mas ini bagus deh kaosnya, ada ukuran kidsnya juga. Terus panjang juga, jadi nanti kita bisa pakai samaan." katanya sambil menempelkan kaos yang menurut Haifa bagus ke badan Alvin.


"Tuh kan bagus." katanya dan langsung mengambil ukuran Alvin tidak lupa ukuran kecil untuk Aidan.


Sebetulnya Haifa bukan tipe yang suka menyamakan pakaian sekeluarga. Tapi semenjak menikah dengan Alvin. Karena Alvin pada momen tertentu hobi menyamakan atau menyerasikan pakaian yang mereka pakai, jadi lama lama Haifa juga terbawa. Pada kesempatan tertentu Haifa senang menyamakan pakaiannya sekeluarga.


Setelah kaos, masih banyak lagi yang Haifa beli. Malah seperti tidak ada lelahnya Haifa keliling mall. Satu yang membuat Alvin heran itu, terkadang satu store bisa sampai berkali kali dikunjungi, alasannya.


'Kan kita lagi cari yang cocok mas.' kalau sudah begitu kan Alvin kicep.


"Udah?" tanya Alvin ketika Haifa sudah mulai berjalan sambil nyender-nyender ke pundak Alvin. Karena kalau sudah begini pasti tandanya dia udah capek.


"Udah aja deh. Capek." katanya.


"Yaudah ini udah banyak juga." kata Alvin sambil mengacungkan kantong kantong belanjaan yang ada di tangannya.


"Hehe iya. Haifa senang banget deh. Makasih banyak ya mas." kata Haifa sambil mendongak menatap Alvin.


"Sama-sama sayang." jawab Alvin sambil mencuri sekilas ciuman di dahi Haifa.


"Ih jangan cium cium di tempat umum. Malu tau."


"Haha biar aja. Kita udah halal ini. Lihat tuh masa kalah sama yang belum halal. Yang belum halal aja berani pegang pegang, peluk peluk. Masa kita kalah." jawab Alvin sambil menunjuk dengan dagu ke arah beberapa pasang anak SMA yang berkeliaran di mall sambil bergandengan tangan dan saling merangkul.


"Ya zamannya udah begitu mungkin." jawab Haifa asal.


"Gak ada istilah zaman zamanan ya. Mas gak mau kalau Aina, Aidan atau anak anak kita nanti begitu."


"Iya papa iya. Udah jangan mulai emosi deh." kata Haifa sambil mengusap lengan Alvin.


"Lapar gak Yang?" tanya Alvin.


"Lumayan. Mas mau makan apa?"


"Ikan bakar gimana? Di rumah makan yang biasa kita. Gak jauh juga dari sini."


"Boleh. Enak juga di sana kan lesehan. Bisa selonjoran hehe." kata Haifa.


"Capek ya kasihan istri aku." kata Alvin.


*


Di rumah makan, sambil menunggu pesanan mereka menggunakan waktu untuk berbincang.


"Anak-anak rewel gak ya mas?" tanya Haifa.


"Kata mama gimana?"


"Gak ksih kabar apa apa sih."


"Yaudah semoga aja masih aman. Nanti aja kalau kita udah perjalanan pulang baru kita telpon. Kalau sekarang takutnya lagi anteng. Tahu kita telpon jadi rewel."


"Oke deh."


***


**To be continued...


See you next part...


Kritik saran boleh disampaikan melalui komentar atau grup chat ya.

__ADS_1


Terimakasih 🤗**


__ADS_2