Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 48


__ADS_3

Happy Reading...


Setelah perdebatan di meja makan tadi. Alvin pergi ke ruang kerjanya, bukan untuk bekerja melainkan untuk bermain play station hobinya sejak dulu.


"Bun papa gak ikut unboxing kadonya dede?" tanya Aina ketika Haifa masuk ke kamar bayi hanya sendirian.


"Enggak. Papanya gak mau." jawab Haifa.


"Ayo bunda buka kadonya dede. Kakak gak sabal."


"Iya ayo." kata Haifa sambil mengacak rambut Aina.


"Wah bunda ini bagus baju buat dede." kata Aina saat melihat beberapa pasang baju dari box yang baru dibuka.


Banyak sekali kado yang mereka dapat dari mulai pakaian, mainan dan banyak lagi, bahkan ada beberapa barang yang sudah mereka punya karena membeli. Karena semangat dan antusiasnya Aina semua kado sudah terbuka. Hanya tersisa sebuah box berukuran sedang.


"Ye satu lagi." kata Aina hendak menggapai kado tersebut.


"Eh sayang. Yang itu nanti aja ya bukanya." kata Haifa mencegah pergerakan Aina.


"Kenapa?"


"Nanti aja ya sama papa."


Bagaimana juga Haifa tidak mau membuat Alvin semakin marah dengan ia membuka kado pemberian Rayhan.


"Please bunda sekalang aja. Kakak penasalan."


"Sayang. Yang ini kapan kapan ya. Kakak sabar dulu. Kan dari tadi kakak udah buka banyak kado."


Aina hanya diam sambil cemberut.


"Jangan cemberut dong. Nanti gak cantik lagi." kata Haifa sambil mengusap pipi Aina.


"Ih bunda mah. Kakak cantik tau."


"Iya cantik tapi kalau kakak cemberut jadi gak cantik."


"Kakak gak cembelut kok nih." katanya sambil tersenyum menampakan jajaran gigi susunya.


"Adudu cantiknya putli bunda kalau senyum begini." kata Haifa kemudian mencium pipi Aina.


"Hehe Kakak kan cantik kayak bunda. Kalena kakak pelempuan. Kalau dede tampan kayak papa kalena dede laki laki. Iyakan bunda?" tanyanya sambil menatap Haifa.


"Iya sayang. Pintar banget sih anak bunda."


"Iya dong. Kakak kan halus pintal bial bisa ajali dede."


Haifa tersenyum, harapannya hanya satu walau terlahir dari rahim yang berbeda. Tapi Haifa sangat berharap putri dan putranya ini kelak bisa saling menyayangi, saling menjaga dan saling mengingatkan.


"Oh iya sayang. Kemarin katanya aunty Zia, hari ini mereka mau main ke rumah kita mau liat dede katanya." kata Haifa.


"Abang Azzam sama abang kembal mau kesini lagi bunda?"


(Azzam, Azhar dan Azfar adalah kakak beradik putra dari kakaknya Alvin atau sepupu Aina).


"Iya sayang. Katanya abang Azzam sama abang kembar senang ketemu dede."


"Holeee Kakak bisa main sama abang Azzam sama abang kembal."


Ini ketiga kalinya keluarga Arzia (Arvan dan Zia atau Kel. Kakaknya Alvin) berkunjung ke rumah mereka. Rupanya kehadiran Aidan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi Azzam dan sikembar. Mereka yang selalu memaksa kedua orang tuanya untuk mengunjungi dede bayi.


"Assalamualaikum adek..." kata Azzam menyapa Aina yang sedang duduk sendiri di teras. Sejak di kabari jika keluarga Arzia sudah dalam perjalanan. Aina memang memilih menunggu di luar sambil bermain barbie.


"Wa'alaikumsalam Abaaaangggg." kata Aina sambil menghambur memeluk Azzam. Azzam balas memeluk Aina dan disusul oleh sikembar yang ikut berpelukan.


"Abang. Aina lindu." katanya sambil mendongak menatap Azzam.


Kedua orang dewasa yang menyaksikan interaksi bocah bocah kecil itu hanya tersenyum.


"Masa rindu, dua hari yang lalu juga kan abang kesini." kata Azzam.


"Tapi Aina lindu sama abang abang."


"Aban duga lindu." kata Azhar berceloteh.


"Atu duga." kata Azfar menimpali.


"Belum selesai nih berpelukannya?" tanya Arvan yang ikut berjongkok menyamai anak anaknya.


Haifa yang mendengar ramai di luar jadi ikut pergi ke luar sambil menggendong Aidan.


"Eh Kak Zia sama bang Arvan udah datang. Masuk Kak,  Bang."


Mereka pun langsung masuk ke dalam.


Mereka duduk berkumpul di ruang keluarga. Aidan langsung beralih ke pangkuan Zia. Dan Haifa pamit ke atas untuk memberitahu Alvin.


"Assalamualaikum." kata Haifa mengetuk ruang kerja Alvin.


"Wa'alaikumsalam."


"Ada bang Arvan sama kak Zia. Temui dulu. Setelah itu terserah kalau mau main ps lagi." kata Haifa sambil keluar tanpa menunggu Alvin. Alvin mengikuti Haifa untuk menemui abang dan kakak iparnya.


Setelah beberapa menit mengobrol Zia dan Haifa asik mengobrol mengenai anak. Alvin dan Arvan pun sama sama berpamitan untuk ke atas. Tahukan kebiasaan mereka jika sudah bersama.


"Bun. Ayah ke atas ya, ngegame sama Alvin." pamit Arvan. Zia hanya mengangguk karena ia terlalu fokus dengan Aidan.


"Tifa (aunty Haifa) dedena kenapa melem telus. Tapi tanan na gelak gelak." kata Azfar pada Haifa.


"Iya abang Azfar. Dedenya kan masih baby jadi pengennya bobo terus."


"Tifa dedena boleh aban bawa pulang gak?" tanya Azhar.


"No abang. Ini kan dedenya Aina." kata Aina dan langsung memeluk sang Adik yang sedang dipangku Zia.


"Kan aban pindem sebental dedena." kata Azfar.


"No. No. No. Kalau abang abang mau main di sini sama dede boleh. Tapi kalau dibawa pulang gak boleh." kata Aina.


"Kalau abang kembal mau punya dede. Abang beldoa sama Allah." kata Aina.


"Bun. Bun. Aban mau puna dede." kata Azfar sambil menggoyangkan tangan Zia.


"Aban duga aban duga." kata Azhar.


"Eh haha. Kok jadi pada minta dede. Azhar sama Azfar kan udah punya banyak dede."


"Tapi dedena dak bisa dibawa puang." kata Azhar.


"Aban mau dedena dilumah." tambah Azfar.

__ADS_1


Haifa hanya ikut tersenyum melihat Zia ditodong oleh kedua anaknya.


"Bun, emang cala na buat dede gimana?" tanya Azfar.


"Hah." kata Zia dan Haifa bersamaan.


"Beldo'a abang. Abang halus beldo'a" kata Aina. Kali ini Azzam tidak ikut ikutan ia lebih asik menciumi pipi dede bayinya. Apalagi sekarang mata Aidan sudah terbuka dan tangan dan kakinya selalu bergerak gerak.


"Teus nanti kalau aban beldo'a sama Allah. Tling dedena ada di sini?" tanya Azhar sambil menepuk tempat di depannya.


"Bukan begitu dek. Tapi kalau dede berdo'a sama Allah. Terus Allah kabulkan do'anya dede. Nanti Allah kasih dedenya dititip di perut bunda." kata Azzam kali ini ikut dalam obrolan.


"Kenapa di peut?" kata Azfar.


"Kan dedenya masih kecil sekali. Kalau gak dititip di perut bunda, nanti dedenya kedinginan." jelas Azzam. Penjelasan Azzam memang sangat jauh dari kata benar. Tapi setidaknya berhasil membuat ketiga anak kecil itu mengangguk dan berhenti bertanya tentang proses pembuatan dede.


"Kalau abang Azzam mau punya dede lagi gak?" tanya Haifa pada Azzam.


"Mau tapi Azzam mau dedenya perempuan. Kalau laki laki lagi Azzam pusing. Rebutan mainan terus." jawabnya.


Di ruang tamu para bunda dan anak anak sedang asik mengobrol sementara itu di ruang kerja Alvin kedua lelaki itu sedang fokus dengan gamenya dan sesekali ada yang ketawa bahagia karena kemenangannya dan ada juga yang mengumpat kesal karena kekalahannya.


"Bang, pas kak Zia baru melahirkan. Dia jadi sibuk sendiri gak?" tanya Alvin.


"Haha kamu lagi ngambek gara gara kurang perhatian dari Haifa?"


"Ketawa aja terus bang. Belum aja tahu rasanya diadu sama domba hago."


"Badan keker, tinggi boros, jabatan dirut. Tapi ngambek gara gara kurang perhatian istri." ledek Alvin.


"Gaji abang masih cukup kan buat beli kaca?"


"Adek kurang ajar."


"Dahlah malas gak usah dibahas. Main lagi ayok."


Pukul 16.30 tepatnya setelah mereka shalat ashar, keluarga Arzia pamit pulang. Sekarang kembali hanya ada mereka berempat di rumah ini.


Hening kembali, hanya ada suara Aina yang sedang berbicara dengan barbie barbienya.


"Kakak bunda ke atas ya, dedenya mau *****." kata Haifa.


Aina menoleh "Iya bunda."


Haifa bergegas ke kamarnya karwna sejak tadi Aidan sudah mengendus endus di dadanya.


"Kakak." panggil Alvin sambil mendekati Aina.


"Apa?" jawabnya sambil tetap fokus menyisir rambut barbie.


"Papa mau tanya boleh?"


"Iya. Tapi jangan banyak banyak. Jangan nanya telus."


"Haha oke oke. Papa mau tanya kak, waktu ada om Ken ke rumah kenapa kakak ajak om Ken main di kamar? Kenapa gak temani bunda?"


"Kakak gak ajak main di kamal."


"Tapi waktu papa pulang om Ken ada di kamar kakak terus bunda di ruang tamu."


"Itu Kakak mau ambil mainan balu di lemali di atas. Kakak loncat loncat gak bisa. Jadi minta tolong om Ken."


"Telus udah om Ken kelual lagi. Katanya gak boleh tinggal bunda beldua sama om lay. Telus Aina main sendili di kamal dede sambil jaga dede." katanya.


"Iya Papa. Kalau gak pelcaya jangan nanya."


"Haha kok gitu sama papa?"


"Abis papa malah malah telus." jawab Aina.


"Emang iya?"


"Iya malah telus. Sama kakak malah, sama bunda juga malah."


"Papa minta maaf yaa." kata Alvin sambil mengacak rambut Aina.


Aina mendongak menatap Alvin.


"Jangan ulang. Plomise." katanya sambil mengulurkan jari kelingking.


"Promise." kata Alvin.


"Kata bunda kalau minta maaf itu halus plomise gak ulang lagi."


"Iya sayang papa janji."


"Jadi papa dimaafkan?"


"Iya. Tapi papa Kakak mau jajan."


"Jadi gimana?" tanya Alvin.


"Kakak maaf tapi papa halus jajan sama kakak."


"Emang kakak punya uang?"


Aina menggeleng.


"Papa punya?" tanya Aina.


Alvin menggeleng.


"Yah."


"Aha. Kakak punya ide." katanya.


"Apa?"


"Kakak mau minta bunda. Sut papa jangan belisik." katanya sambil berlari menaiki anak tangga.


"Jangan lari kak." kata Alvin mengingatkan. Tapi Aina tetap saja berlari.


"Bundaaa.." katanya pelan sambil mengendap ngendap ke kamar Aidan.


"Kenapa?" kata Haifa pelan karena Aidan sudah tertidur.


"Bunda, Kakak mau minta uang."


"Minta uang?"


Aina mengangguk.

__ADS_1


"Buat apa?"


"Jajan."


"Kakak mau jajan?"


"Bukan."


"Terus?"


"Papa."


"Iya. Papa di bawah nangis pengen jajan tapi papa gak punya uang bunda." katanya dengan wajah yang dibuat memelas.


Haifa sudah ingin tertawa.


"Ah masa? Yang pengen jajan papa atau kakak?"


"Papa bunda."


"Kakak tahu kan kalau bohong itu dosa. Allah gak suka sayang. Nanti kalau Allah gak suka Allah bisa marah. Kalau Allah marah nanti setiap kakak berdo'a minta sesuatu nanti Allah gak mau kasih. Kakak mau?"


Aina menggeleng.


"Jadi gimana?"


"Solly bunda."


"Jangan diulang ya?"


"Plomise."


"Jadi siapa yang mau jajan?"


"Kakak mau jajan sama papa. Tapi papa gak punya uang."


"Kakak bilang sama papa. Papa jangan bohong. Kalau bohong dosa. Nanti Allah marah."


"Oke bunda." katanya sambil berlari keluar kamar.


"Papaaaaa." teriaknya sambil menghampiri Alvin yang masih di ruang keluarga.


"Pelan pelan sayang." kata Alvin.


"Hehe." Aina nyengir menunjukan deretan gigi susunya.


"Papa punya uang?" tanya Aina lagi.


Alvin menggeleng.


"Papa jangan bohong. Bohong itu dosa. Nanti Allah malah. Kalau Allah malah nanti Allah cabut cabut bulu kaki papa." kata Aina sambil berjongkok di depan Alvin.


"Awww." teriak Alvin saat Aina mencabut beberapa helai bulu kaki Alvin.


"Sakit?"


Alvin menggeleng sambil mengelus betisnya.


"Hehe solly papa. Gak ulang plomise."


"Papa sih bohong."


"Huh. Yaudah kita jajan yuk." kata Alvin sambil menggendong Aina.


"Ih tulun papa. Kakak mau jalan sendili. Kakak kan udah besal."


"Beneran udah besar?"


Aina mengangguk.


"Coba bicaranya yang betul. Besar gitu."


"Besallr."


"Besar kakak bukan besall"


"Besallrr."


"Besarrrrr." kata Alvin.


"Besallllrrr. Ah susah papa." katanya.


"Haha gemas banget sih." kata Alvin sambil menciumi pipi Aina.


Alvin membawa Aina keluar untuk jajan. Tidak lama mereka berada di izinmart tapi jajanan Aina sudah sangat banyak.


"Kak ini udah banyak loh udah ya."


"Uang papa gak cukup ya?"


"Bukan begitu. Tapi kalau terlalu banyak nanti bunda marah loh."


"Udah. Yuk pa kita pulang."


"Yuk. Tapi papa bayar dulu ya."


Sampai di rumah Aina langsung membongkar semua jajanannya.



"Kakak beli apa aja?" tanya Haifa.


"Beli snack bunda."


"Ya Allah kak banyak sekali."


"Ini besok kakak bawa ke sekolah. Nanti kakak mau kasih teman teman."


"Boleh kan pa? Boleh kan bun?" tanya Aina sambil menengok ke arah papa dan bundanya bergantian.


"Boleh banget sayang." jawab Haifa.


"Kenapa kakak gak bilang. Kalau gitu kan kita bisa beli lebih banyak."


"Tadi papa bilang jangan banyak banyak nanti dimalahi bunda." jujur Aina.


Haifa langsung menatap Alvin. Yang ditatap hanya nyengir sambil garuk garuk tengkuknya.


###


Ada kritik saran gak nih buat part ini?  Kalau ada silahkan sampaikan aja ya. Karena Ku belum berpengalaman berumahtangga apalagi punya anak. Untuk buat cerita ini aja perlu banyak tanya sama kawan yang sudah berpengalaman hehe.

__ADS_1


Terimakasih ♥


__ADS_2