Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 21


__ADS_3

Sudah sebulan setelah acara khitbah atau lamaran. Haifa dan Alvin semakin sering berkomunikasi tentu saja untuk membahas masalah pernikahan. Kedua keluarga juga sudah semakin dekat dan sama sama terlibat mengurus persiapan pernikahan Alvin dan Haifa.


Bagaimana dengan Aina? Bocah kecil itu bukan hanya semakin lengket dengan calon bundanya. Ia juga sudah semakin dekat dengan calon nenek dan kakeknya. Bahkan beberapa kali Aina sempat menginap di rumah keluarga Haifa.


Haifa dan Alvin sekarang sedang berada di butik untuk fitting baju pengantin yang ke sekian kalinya. Setelah itu rencananya mereka akan ke toko perhiasan untuk mengecek pesanan cincin nikah mereka. Kemudian ke tempat undangan dan yang terakhir rencananya mereka akan ke tempat pemesanan souvenir.


Alvin yang sibuk dengan pekerjaannya di kantor dan juga Haifa yang harus membagi fokus dengan penyusunan skripsi. Membuat  mereka harus pandai pandai mengatur waktu untuk mengurus persiapan pernikahan.


"Ini jadinya undangannya mau kayak gimana?" tanya Haifa pada Alvin saat mereka sedang di tempat undangan.


"Terserah kamulah. Maunya yang mana." ucap Alvin.


"Kok jadi terserah?"


"Iya udah itu kan tadi udah dipilih beberapa model tinggal pastiin mau yang mana."


"Yaudah pilih."


"Ya kamu pilih."


Sementara si pembuat undangan hanya diam mengamati percekcokan mereka.


"Terserah ah."


"Pak maaf. Kayaknya lain waktu lagi ya pak buat undangannya. Assalamualaikum." pamit Haifa.


Alvin ikut berpamitan dan segera menyusul Haifa yang ternyata sudah berada di dalam mobil.


"Kenapa sih? Saya salah?"


"Gak!"


"Saya minta maaf."


"Bapak ini niat gak mau nikah. Serius gak sih?" tanya Haifa.


"Pertanyaannya ada yang bisa lebih becanda lagi gak?" tanya balik Alvin.


"Haifa serius bapak niat gak sih mau nikah?"


"Ya saya serius apa pertanyaan itu masih pantas ditanyakan?"


"Kalau bapak serius mau nikah. Kenapa bapak itu kesannya kayak gak punya semangat. Sejak tadi fitting tiap dimintain pendapat jawabnya selalu terserah. Di tempat perhiasan juga begitu. Barusan juga begitu. Kenapa sih? Kalau emang gak niat yaudah. Biar gak usah capek capek. Kesannya kaya Haifa yang nyeret nyeret bapak buat menikah. Kalau emang gak mau yaudah. Mumpung belum 100%. Masih ada waktu kalau mau batalin. Belum banyak yang tau juga."


"Udah cukup bicaranya?"


Haifa malah membuang muka ke arah luar jendela.


"Dengar, saya serius. Kalau saya berniat main main gak akan sejauh ini. Saya menyerahkan semuanya sama kamu, saya ikut keputusan kamu. Itu karena saya menghargai kamu, saya mengerti ini yang pertama bagi kamu. Dan setiap perempuan pasti punya wedding dreamnya masing masing. Mangkanya saya ikuti semua yang kamu mau. Saya gak mau egois, ini bukan yang pertama buat saya. Jadi saya menghindari percekcokan karena perbedaan pendapat mengenai pernikahan. Begitu bukan berati saya gak serius." kata Alvin menjelaskan.


"Oh iya lupa. Pernikahan kedua. Jadi udah gak penting lagi ya. Udah masabodo, udah gak mau peduli lagi masalah pernikahan gitu maksudnya?"


"Bukan begitu. Saya cuma mengikuti dan menerima apapun agar sesuai keinginan kamu."


"Tapi catet ini tuh yang mau nikah berdua bukan cuma Haifa. Seenggaknya kontribusi dong kasih masukan. Ini mah sejak awal persiapan apa apa terserah. Gak salah kan kalau Haifa jadi ragu bapak serius atau enggak."


"Oke kalau pemikiran saya malah menjadi masalah saya minta maaf. Tapi saya tegaskan bahwa saya serius sama kamu. Saya Serius. Gak usah mikir macem macem."


"Oke kalau bapak serius. Sisa sisa persiapan yang belum selesai, Haifa mau semunya bapak yang ambil keputusan!"


Alvin menatap Haifa.


"Kenapa gak bisa? Gak mau? Terbuktikan kalau bapak bukan mau ngikutin kemauan Haifa. Tapi bapak gak peduli."


"Fine. Sisanya saya yang handle. Saya yang ambil keputusan!" putus Alvin.


Mereka sama sama diam.


Haifa berkali-kali beristighfar dalam hatinya. Biasanya ia tak pernah sampai seemosi ini.


Begitu juga Alvin dalam diamnya. Alvin juga menyadari dan mengakui jika sejak awal ia tak banyak berkontribusi. Lebih banyak Haifa yang mengurusi dan menentukan pilihan.


"Saya minta maaf ya." ucap Alvin sambil menolehkan kepala ke belakang menatap Haifa yang masih diam.


Tak mendapatkan jawaban Alvin memilih untuk keluar dari mobil.


Tapi tak lama Alvin kembali lagi ke dalam mobil.


"Nih minum dulu." ucap Alvin sambil menyerahkan sebotol air mineral pada Haifa. Haifa belum mau menerima air yang diberikan Alvin.


"Bersih. Baru saya beli. Gak mungkin juga saya kasih racun. Gak sempat."


"Terimakasih." ucap Haifa pelan.


"Apa? Gak kedengeran." ucap Alvin.


"Makasih."


"Sama sama Bundanya Aina."


"Becanda terus."


"Iya kan seriusnya udah sama kamu."


Haifa lagi lagi memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Untuk menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah memerah karena malu.


"Udah cepet jalan kemana lagi nanti keburu malam." ketus Haifa.


"Baikan dulu. Gak enak jalannya juga kalau sambil marah marah."


"Yaudah."


"Yaudah apa? Di maafin?"


"Hm."


"Yang jelas dong."


"Iya bapak dimaafin. Tapi tetep sisa persiapan semuanya bapak yang handle."


"Haha. Oke oke."

__ADS_1


"Yaudah jalan."


"Ini undangan juga belum beres loh mau balik lagi ke dalem?"


"Enggak."


"Kenapa?"


"Malulah tadi udah ribut ribut di sana."


"Oke. Ke souvenir ya berarti?"


"Terserah."


Alvin menghembuskan napas pasrah kemudian mulai mengemudikan mobilnya.


Pukul 19.00 mereka sudah dalam perjalanan pulang setelah tadi singgah sebentar di masjid untuk shalat maghrib.


"Langsung pulang?"


Haifa mengangguk.


"Ke minimarket sebentar yaa?"


"Iya." jawab Haifa.


Haifa yang sudah lelah memilih menunggu di dalam mobil sedangkan Alvin masuk ke mini market.


"Nih." kata Alvin sambil menyodorkan plastik minimarket berukuran sedang.


"Apa?" tanya Haifa sambil menerima plastik tersebut.


"Buat di rumah. Masih punya tugas revisian skripsi kan? biar gak badmood terus." ucap Alvin.


"Banyak banget pak." kata Haifa setelah mengetahui isinya.



"Ya gak harus habis sehari juga."


"Berasa Aina banget. Disogok pake snack."


"Jadi gak mau?"


"Mau. Makasih ya."


Alvin hanya mengangguk kemudian menjalankan mobilnya.


"Masuk dulu?" tanya Haifa setelah sampai di depan rumah.


"Udah malam. Langsung pulang aja. Pamitin aja sama Mama Papa."


"Pak."


"Iya."


"Minta maaf juga ya, tadi udah emosi. Bentak bentak bapak."


"Pak Serius."


"Iya kan saya udah serius. Perasaan dari tadi minta di seriusin terus."


"Yaudah terserah bapak."


"Saya juga minta maaf dari awal gak kontribusi. Coba kalau kamu bicara dari awal mungkin gak akan meledak kayak tadi. Tapi gak apa apa saya jadi tau kan kalau ternyata yang menurut saya baik. Belum tentu menurut kamu sama."


"Tapi tolong dong sisa persiapan jangan saya semua yang handle. Bagi dua deh, bukan apa apa saya cuma takut malah berantakan dan gak sesuai harapan." tambah Alvin.


"Haha. Yaudah iya barengan. Tapi gak mau terserah terserahan lagi."


"Janji nih kelingking." ucap Alvin sambil menunjukan kelingking pada Haifa.


"Udah ah. Hati hati di jalan." ucap Haifa sambil keluar dari mobil Alvin.


"Iya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


***


Dua minggu menjelang pernikahan kebetulan juga hari ini Haifa wisuda. Akhirnya setelah melewati masa yang cukup sulit untuk membagi waktu antara pernikahan dan skripsi. Sekarang masa itu akan segera berakhir. Haifa sudah bersiap siap pergi dari rumah bersama kedua orangtuanya. Sedangkan kakak kakaknya menyusul karena kebetulan jatah kursi pun dibatasi sehingga tidak semua bisa masuk ke dalam gedung.


Setelah selasai prosesi resmi wisuda, Haifa kembali ke rumah bersama mama dan papa walaupun ia harus kesulitan untuk menemui mama papa karena jumlah wisudawan yang terlalu banyak.


"Alhamdulillah. Akhirnya sampe ke rumah juga."


"Papa, Mama susah banget sih tadi pengen ketemu adek."


"Ya maklum pa, yang wisudakan bukan cuma adek sendiri."


"Haha iya juga. Papa sampe pusing nyariin adek. Untung pas mau pulang ketemu."


"Iya. Kalau gak ketemu adek paling pulang sendiri ke kostan."


"Alvin tau kan kalau adek wisuda sekarang?" tanya mama.


"Ya tahu lah kali dosennya gak tau."


"Oh iya. Ma, Pa adek besok ke kostan ya. Mau nyicil beberes sama adek juga mau ketemu temen temen."


"Yaudah. Besok minta anterin aja sama Ken." ucap Papa


"Siap."


"Tapi agak lama di kostan gak apa apa ya mungkin 2 atau 3 harian gitu."


"Yaudah. Mau sama temen temen ya?"tanya Mama.


"Iya di grup sih katanya pengen foto studio buat kenang kenangan. Tapi musim wisuda ginikan pasti studio foto pada penuh jadi harus booking dari jauh jauh hari."


"Yaudah gak apa apa. Nikmati sama temen temen. Setelah ini kan pasti kalian di jalan masing masing."

__ADS_1


"Yaudah adek istirahat sana."


Hari ini pukul 10.00 Haifa sudah berada di kamar kost miliknya.


"Haifaa." panggil ketiga sahabatnya sambil memasuki kamar Haifa tanpa izin.


"Kalian ngagetin aja."


"Jadi yaa besok kita foto studio. Soalnya kemarin aku udah booking dan kita kebagiannya besok." ucap Dinda.


"Iya harus jadilah. Pokoknya Haifa gak boleh pulang sampe besok."ucap Inara.


"Iya Ina. Haifa juga kayaknya beberpa hari di sini. Kan mau beberes juga."


"Alhamdulillah ya temen temen. Akhirnya kita bisa wisuda sama sama." kata Aulia.


"Iya walau kemarin sempet kesel kita gak bisa ketemu." keluh Dinda.


"Tapi Ina ngerasa ada sedihnya juga tau kita udah wisuda."


"Loh kenapa sedih?" tanya Haifa.


"Ya dalam artian setelah ini kita akan jalan masing masing. Punya kesibukan masing masing. Mungkin nanti ketemu aja kita bakal sulit." ucap Ina.


"Ah iya juga ya." sambung Aulia.


"Temen janji ya kalau nanti diantara kita ada yang menikah duluan ataupun ada yang punya acara apapun itu. Sebisa mungkin kita usahakan datang ya. Anggap aja itu sebagai kesempatan kita buat kumpul lagi menjalin silaturahim." ucap Dinda.


"Pasti. Kira kira siapa ya diantara kita yang bakal nikah duluan?" tanya Aulia.


Ucapan Dinda dan ucapan Aulia barusan berhasil membuat Haifa terdiam. Bagaimana Dinda dan Aulia sama sama membahas tentang pernikahan. Hal yang selama ini Haifa sembunyikan dari mereka. Ada rasa bersalah, Haifa pikir mungkin ini sudah saatnya umtuk jujur. Haifa harus siap dengan segala konsekuensi nya.


Tapi Haifa harus sabar sedikit lagi. Karena tidak mungkin ia ungkapkan sekarang sebab Haifa tidak mau apa yang sudah direncanakan dari jauh jauh hari rusak oleh rencana spontan darinya. Haifa memutuskan akan berbica dengan mereka setelah rencana foto studio selesai. Setidaknya ketika nanti mereka marah dan menjauhi Haifa mereka masih punya kenangan bersama walau hanya dalam selembar foto.


Sesuai rencana, sekarang mereka sedang berkumpul di kamar Haifa.


"Ayo Haifa mau cerita apa?" todong Aul.


"Haifa mau jujur sama kalian. Kalian orang pertama yang Haifa kasih tahu. Haifa juga gak tau gimana reaksi kalian nantinya tapi setidaknya Haifa udah jujur sama kalian."


"Apasih jangan bikin penasaran." kata Dinda tidak sabaran.


"Iya apasih." tambah Inara.


Haifa menarik nafas panjang.


"Haifa sebenarnya udah dikhitbah. Bahkan kalau semuanya berjalan sesuai rencana 2 minggu lagi Haifa menikah."


"Hah serius?" kaget Aul.


"Iya."


"Alhamdulillah. Barakallah Haifa." ucap Dinda.


"Selamat Haifa. Eh tapi sama siapa kok gak cerita sama kita?" tanya Inara.


Haifa mulai menceritakan sejak awal pertemuannya dengan Aina. Tapi Haifa belum menyebutkan jika orang itu adalah Alvin.


"Ya Allah jodoh itu emang random banget ya." ucap Inara.


Haifa menatap Inara. Dalam hatinya berkata. 'Setelah Ina tahu siapa orangnya apa Ina akan tetap begini sama Haifa?'


"Kan udah cerita tuh awal kenal dan awal pertemuannya. Tapi dari tadi Haifa belum nyebutin siapa orangnya. Kasih tau dong. Aul penasaran."


"Nah iya bener. Daritadi  udah cerita panjang tapi belum dikasih tahu identitasnya." ucap Dinda.


"Ayo dong siapa calonnya Haifa. Kita kenal gak?" tanya Inara.


Haifa mengangguk.


"Hah serius kita kenal?" kata Aul heboh.


"Iya." jawab Haifa.


"Wah siapa siapa?" tanya Inara dengan antusias.


Sementara Dinda. Ia menatap Haifa lekat lekat. Sepertinya sahabat Haifa yang satu itu sudah mulai menebak nebak.


"Siapa orangnya Haifa?" tanya Dinda.


Haifa diam sejenak.


"Tapi sebelumnya Haifa minta maaf. Terutama sama Ina."


"Hah kenapa? Kok jadi minta maaf sama Ina?" ucap Inara.


Mendengar Haifa mengatakan itu Dinda merasa semakin yakin dengan tebakannya.


"Siapa sih Haifa. Jawab aja jangan main tebak tebakan." ucap Aul.


Haifa masih diam.


"Haifa jawab atau aku yang nebak." kata Dinda.


Haifa menatap Dinda sekilas.


"Oke Haifa jawab."


"Orangnya itu. Orangnya itu. Dia. Dia."


"Dia siapa?"


"Dia Pak Alvin." ucap Haifa.


Seketika kamr Haifa menjadi hening.


***


**To be continued...


See you next part**...

__ADS_1


__ADS_2