
Happy Reading...
Sudah setahun Aidan hidup di dunia. Sudah cukup banyak yang bisa Aidan lakukan, yang paling jelas ialah Aidan yang sudah mulai bawel. Walaupun kosakata yang ia miliki hanya gumaman gumaman tidak jelas yang hanya ia yang tahu artinya. Aidan juda sudah bisa duduk tegap bahkan sepertinya ia sudah mulai akan belajar berdiri. Semua tumbuh kembang Aidan terpantau dengan baik oleh Haifa.
"Mammmm." gumamnya sambil memasuk-masukan jari jemarinya kedalam mulut.
"Dede ayo bilang Kakak gitu ayo cepat." kata Aina sambil memainkan jari-jari kaki Aidan. Posisinya memang saat ini, Haifa dan anak-anak sedang bermain di ruang keluarga, di atas karpet bulu tebal berwarna abu-abu.
Permintaan Aina tenyata diabaikan oleh Aidan. Adik kecilnya itu sekarang justru sedang berceloteh sesukanya sambil memukul-mukul wajah kakaknya tang sedang berbaring di samping Aidan yang sedang duduk.
"Bunda, adek gak mau panggil kakak. Adek malah pukul-pukul." adunya pada Haifa sambil bangun dan menjauhkan diri dari Aidan.
"Kan Ade nya masikh kecil sayang. Nanti lama-lama juga pasti bisa panggil kakak."
"Benelan?" tanya Aina.
"Iya dong. Nanti gak lama lagi pasti panggil kakak."
"Hihi kakak seneng deh. Jadi gak sabal."
"Mangkanya kakak harus sering-sering ajak ngobrol Adek ya. Biar nanti Adeknya terbiasa cerita sama kakak."
"Huum kakak seneng kok ngoblol sama adek. Tapi kakak suka disembul, telus suka gigit-gigit." kata Aina.
"Haha iya Adeknya kan emang lagi belajar bicara jadi kadang suka sembur-sembur. Terus Adeknya juga kan udah punya gigi jadi sukanya gigit-gigit. Kakak gak marah kan?"
"Enggak kok. Adeknya gemes, kalau abis sembul-sembul suka senyum telus ketawa sama kakak." katanya.
"Itu tandanya Adeknya sayang sama kakak."
"Kakak juga sayang Adek." katanya dan langsung memeluk Aidan. Aidan yang dipeluk tiba-tiba itu tampak kaget dan sedikit merengek.
"Nanana..." sambil memukul-mukul Aina.
"Euh na na." katanya lagi.
"Kenapa kok adek gak mau kakak peluk?" kata Aina sambil cemberut dan terpaksa melepaskan pelukannya pada Aidan.
"Bukan gak mau dipeluk sayang, cuma adeknya kan lagi aktif manunya gerak terus. Kalau kakak peluk kan adeknya jadi susah gerak. Jadi kesel adenya. Kayak kakak kalau lagi main terus diganggu papa, kakak kesel gak?"
"Iya kesel papa itu kalau kakak lagi main suka cium-cium, suka bilang mainan kakak jelek, suka bilang boneka balbie kakak gak cantik. Kakak kan kesel."
"Nah adek juga sama. Kalau lagi main terus diganggu adek juga kesel."
"Hehe maafin kakak ya adek." katanya sambil mengusap kepala Aidan dengan sayang.
"Yaya na na." kata Aidan sambil menunjuk bola yang menggelinding menjauh. Kemudian bayi yang sudah bisa merangkak itu, langsung mengejar bola tersebut.
Semakin bertambah usia Aidan, semakin teratur pula jam tidurnya. Begitu juga Aina yang saat ini sudah menjadi siswi taman kanak-kanak yang sekolahnya lebih sering. Jadi, Aina juga semakin disiplin mengenai jam tidur. Pukul 21.30 anak-anak sudah tidur sejak satu jam yang lalu. Tapi papa dari kedua anak itu belum juga pulang. Suami dan bapak dua anak itu sudah mengabari jika akan pulang telat. Tapi Haifa sama sekali tidak berpikir jika telatnya akan sampai malam begini. Haifa sudah menghubungi Alvin dan jawabannya selalu sama jika ia masih ada urusan dan belum bisa pulang.
Hingga pukul 23.00 Haifa yang masih terjaga sambil menonton drama kesukaannya melalui televisi di ruang keluarga. Mendengar ada suara mobil yang baru saja memasuki halaman rumahnya.
"Huh pulang juga akhirnya." kata Haifa sambil bangkit dari rebahannya kemudian berjalan menuju pintu untuk menyambut suaminya.
"Kok malam banget pulangnya?" tanya Haifa setelah menjawab salam dan mencium tangan Alvin.
"Nanti mas jelasin. Mau teh lemon anget dong Yang." kata Alvin.
"Yaudah tunggu. Haifa buat dulu." Alvin duduk di ruang keluarga. Tidak dapat dipungkiri badannya lelah.
"Nih tehnya." kata Haifa sambil meletakan tehnya di meja dan duduk di samping Alvin. Alvin meminumnya hingga menyisakan setengahnya.
__ADS_1
"Capek banget Yang." katanya sambil merebahkan badannya di sofa dengan paha Haifa sebagai bantalan.
"Jadi kegiatannya apa aja sampai pulang selarut ini?" tanya Haifa sambil memijat kepala Alvin.
"Banyak banget. Tapi Mas seneng." katanya.
"Loh. Mas abis ngapain?" tanya Haifa dengan nada curiga.
"Jangan mikir aneh-aneh. Tadi itu pulang kantor emang telat karena ada sedikit masalah lah biasa. Tapi alhamdulillah bisa beres hari ini juga. Walaupun jadi pada telat pulang semua. Terus mas juga tadi ke Cimahi, karena tanggung udah janji sama teman." katanya.
"Ke Cimahi? Ngapain?"
"Janji ya dengerin dulu sampai abis. Jangan potong ucapan mas."
"Iya."
"Jadi beberapa hari lalu, teman mas itu nawarin kost-kostan. Katanya papanya dia itu punya kost-kostan di daerah Cimahi. Karena papanya udah tua, dan yang biasa dipercaya buat urus kostan juga sama udah tua dan ngerasa gak sanggup lagi urus kotsan. Jadi kostannya mau di jual aja. Anak-anaknya juga pada sibuk gak mau ribet lagi. Jadi tadi ituas abis ketemu dia dan survey kesana. Bagus Yang kost-kostannya masih bagus. Terus lokasinya juga strategis."
"Jadi letaknya itu dekat ke 3 perguruan tinggi. Ada Universitas Jenderal Achmad Yani, Stikes Jenderal Achmad Yani, terus IKIP Silwangi. sekarang juga kondisi kostannya lagi penuh walaupun gak ada penghuninya karena lagi pada libur semester. Mas tertarik deh pengen beli itu kostan. Buat investasi Yang."
"Gini, kan sekarang ini mas kerja di perusahaan keluarga, bukan milik mas sendiri. Jadi, apa yang mas kerjakan sekarang ini gak akan bisa mas wariskan hanya ke anak-anak mas. Karena di tempat mas kerja ini ada hak abang, ada hak Vina. Mangkanya akhir-akhir ini mas udah mikirin. Mas pengen punya usaha sendiri yang nantinya bisa mas turunkan ke anak-anak."
"Mas pikir jadi pemilik kostan itu yang paling baik. Karena mas masih bisa tetap kerja di perusahaan Ayah. Jadi kalau kamu setuju dan kasih izin mas mau beli kost-kosan itu." kata Alvin. Haifa diam, tapi tidak menunjukkan wajah marah atau tidak suka.
"Bukannya cita-cita mas itu pengen jadi guru besar ya? Terus kenapa sekarang malah mau beralih jadi juragan kostan?" Alvin menarik napas dalam. Cita-Citanya sejak kecil memang menjadi seorang guru besar. Guru besar itu maksudnya doktor (bukan dokter) atau profesor bukan guru besar, guru yang berbadan besar.
"Iya tapi udah gak mungkin Yang. Kalau mas ngejar cita-cita mas. Terus siapa yang bakal pegang perusahaan? Abang? Dia udah punya jalannya sendiri. Vina? Dia udah memilih untuk berdedikasi sebagai seorang ibu rumah tangga. Adam? Dia juga sama udah pegang usaha keluarganya. Jadi mau gak mau harus mas kan? Daripada harus orang lain, gak tega lihat perjuangan ayah yang membangun dari nol." kata Alvin.
Menjadi seorang yang berkecimpung di dunia bisnis sebetulnya bukan keinginan Alvin. Cita-cita sejak sekolah menengah adalah menjadi seorang ahli di bidang fisika. Pelajaran kesukaannya sejak sekolah. Tapi sayang cita-citanya terhalang restu Ayah yang ingin Alvin menjadi penerusnya. Alvin meredam ego hingga ia sekarang bisa sampai dikondisi saat ini.
Haifa tersenyum, dibalik sikap Alvin yang kadang aneh, ternyata suaminya ini pemilik hati yang lapang. Bagaimana tidak, ketika abang dan saudari kembarnya di bebaskan menjadi apapun yang mereka mau. Alvin? Ia sudah dibentuk menjadi penerus Ayah. Tapi ia tidak membantah.
"Haifa sebagai istri bakal dukung apa aja yang mas lakukan selagi itu baik."
"Oke kalau gitu berarti besok mas bisa langsung hubungi teman mas. Bilang kalau mas jadi beli kostannya."
"Haifa mau lihat dulu kostannya boleh gak?"
"Boleh dong. Besok ya ikut mas kesana, sekalian ngobrol lagi sama teman mas."
"Boleh. Oh iya, harganya berapa itu kostannya?" tanya Haifa.
Alvin mendadak diam ketika Haifa menanyakan harga.
"Kok diam mas?"
"Em anu itu harganya murah kok Yang."
"iya berapa? Angkanya."
"2 aja Yang."
"Dua apa? Dua juta? Dua ratus juta?"
"2M"
"HAH! APA!" teriak Haifa.
"Kaget Yang." kata Alvin langsung bangun dari tidurnya.
"Mahal banget mas. Berapa kamar emang?"
__ADS_1
"Tiga lantai 25 kamar Yang. Gak mahal kok Yang. Pasaran harga kostan di wilayah Cimahi itu lumayan Yang. Kalau yang kamar mandi di dalam itu udah kisaran lima keatas. Nah itu tuh yang ukuran standar dan posisinya di dalam gang. Kalau yang teman mas itu posisinya benar-benar dekat dari tiga universitas itu tadi. Trrus tiap tahunnya juga selalu penuh."
"Kata dia, kalau setahun penuh aja. Kita udah balik modal. Lumayan kan Yang. Apalagi ini dia gak pasang harga tinggi karena sama teman katanya." kata Alvin.
"Boleh ya? Investasi loh Yang."
"Haifa pengen lihat dulu."
"Iya boleh." Alvin merebahkan kembali tubuhnya seperti tadi.
"Oh iya Yang. Ada kabar satu lagi?"
"Apa?"
"Tapi dengerin lagi jangan marah dulu."
"Iya. Apa?"
"Teman mas juga yang lain. Ada yang nawarin barang dia nawarin..."
"Nawarin apa lagi?" sungut Haifa.
"Denger dulu."
"Dia nawarin itu Yang. Mobil Audi R8 V10." kata Alvin sambil menatap Haifa. Kali ini Alvin melihat tatapan Haifa yang sangat tidak bersahabat.
"Mobil ya? Audi R8 itu bukannya yang cuma dua kursi itu ya?"
"Iya Yang dua kursi. Kayak judul lagu dangdut kan? Nanti bisa kita pake buat pacaran."
"Berapa harganya?"
"Murah kok. Cuma 5,2 M aja."
"APA!"
"Yang ih."
"MAS KAMU ITU TEMENAN SAMA SIAPA SIH? TEMAN KAMU SALES SEMUA YA? PADA HOBI BANGET NAWARIN BARANG SAMA KAMU?" kesal Haifa.
"KAMU JUGA MIKIR DONG. BARU BILANG MAU BELI KOSTAN HARGA 2 M. TERUS DALAM WAKTU YANG BERSAMAAN KAMU BILANG JUGA MAU BELI MOBIL. YANG HARGANYA LEBIH MAHAL DARI KOSTAN. KAMU PUNYA PABRIK UANG? SAMPE MAU NGELUARIN UANG SEBANYAK ITU DALAM WAKTU BERDEKATAN?"
"Ya kan bisa nyicil Yang. Jangan marah marah dulu."
"GAK ADA! POKOKNYA AKU GAK SETUJU KALAU KAMU MAU BELI KEDUANYA. TERSERAH MAU KAMU DENGAR ATAU ENGGAK."
"Tapi Yang... Aduh aww sakit Yang..." kata Alvin yang batu saja terjun bebas dari sofa ke karpet karena Haifa yang bediri tiba-tiba.
"TERSERAH KALAU KAMU MAU MAKSA BELI DUA DUANYA YA SILAHKAN." kata Haifa sambil berdiri dan menatap tajam Alvin.
"Beneran Yang?"
"IYA."
"Wah makasih loh Yang. Kamu emang istri terbaik dan paling pengertian."
"IYA BOLEH. BELI AJA. TAPI SETELAH ITU KAMU PUAS PUASIN TIDUR DI MOBIL. GAK USAH TIDUR SAMA AKU. GAK USAH MINTA KELONAN. SANA MINTA SAMA SI AUDI KAMU ITU AJA." kata Haifa sambil berjalan ke kamar. Meninggalkan Alvin yang masih terdiam mengenaskan di ruang keluarga.
***
To be continued...
__ADS_1
See you next time...