Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 76


__ADS_3

Happy Reading...


Pagi-pagi setelah belanja sayur, Haifa pulang dengan wajah yang tidak bersahabat menurut Alvin. Mengherankan, Alvin rasa saat izin pergi ke tukang sayur istrinya itu baik-baik saja. Ditambah lagi saat ini, Haifa yang sedang berada di dapur sepertinya melampiaskan kekesalannya pada alat masak. Sehingga terdengar ramai sekali di dapur.


"Kenapa sayang?" tanya Alvin menghampiri Haifa di dapur.


"Gak apa apa."


"Udah matikan dulu kompornya. Kita ngobrol sini." kata Alvin.


"Apasih Haifa lagi masak juga."


"Kamu masak kayak lagi ngeband tau Yang. Berisik." kata Alvin.


"Mas Alvin ih. Gak usah nambah bikin kesal Haifa deh!"


"Nah kan bener lagi kesel. Udah sini duduk dulu. Cerita sama mas kesal kenapa?"


"Tapi Haifa lagi bikin sarapan."


"Biar nanti Aina bisa sarapan sereal. Mas bisa sarapan roti. Jangan ribet deh. Sini duduk cerita kenapa?" kata Alvin menarik tangan Haifa untuk duduk di meja makan.


"Sekarang cerita, kenapa kok pulang dari tukang sayur jadi kesal gitu? Rebutan sayur sama ibu-ibu yang lain?" tanya Alvin. Haifa menggeleng.


"Terus kenapa? Cerita dong biar mas tahu."


"Kenapa dighibahin ibu ibu ya?" tebak Alvin. Haifa mengangguk.


"Wah serius? Kenapa?"


"Haifa kesal!"


"Iya kenapa?"


"Mas diem gak motong! Haifa belum selesai cerita. Tadi katanya disuruh cerita!"


"Siap salah. Oke lanjut."


"Tadi Haifa belanja di tukang sayur ketemunya sama mbak-mbak asisten rumah tangganya tetangga kita."


"Terus?"


"Ih dibilang diem! Gak usah motong motong dengerin dulu sampe beres. Gak usah motong di tengah tengan nanti lupa!" omel Haifa.


"Iya maaf. Terus?"


"Masa tadi katanya mbak mbak itu bilang kalau keluarga kita itu pelit. Gara-gara kita itu gak punya ART. Sementara tetangga kita hampir semuanya punya ART. Mereka juga bilang masa rumah besar, pekerjaan suaminya bagus. Tapi gak punya ART, kenapa dong alasannya kalau gak pelit. Begitu."


"Terus juga karena mama sering kesini, mereka ngiranya kita gak punya ART karena kita ngandelin bantuan Mama. Haifa dibilang tega, gak sayang orang tua. Padahal Haifa gak pernah minta tolong mama kesini buat bantu Haifa beres-beres. Mama kalau kesini juga selalu dadakan gak pernah kasih tahu Haifa."


"Haifa kesal mereka gak tahu apa-apa. Tapi menilainya seperti yang tahu segalanya. Kalau bicara langsung empat mata sama Haifa bisa aja Haifa ceritakan semuanya. Tapi ini ceritanya di depan banyak orang. Apalagi yang dia ceritakan gak benar."


"Haifa kesal banget pokoknya. Gak ada obatnya, kesal!"


Alvin diam saja belum menanggapi apapun.

__ADS_1


"Ih mas Alvin tadi nyuruh cerita, sekarang Haifa udah cerita masa diam aja!"


"Kan tadi kamu yang suruh mas diam."


"Sekarang udah boleh jawab."


"Obrolan ibu-ibu di tukang sayur itu emang kadang luar biasa ya. Heran."


"Biarin lah mereka mau bicara apa. Toh yang mereka bilang gak benar. Kita dibilang pelit? Gak apa apa karena kita gak punya kewajiban buat cerita ke mereka berapa banyak orang yang kita tolong. Ketika kita memberi tangan sebelah aja gak boleh tahu. Apalagi tetangga. Iya kan?"


"Iya mas enak bicara begitu karena mas gak ketemu mereka setiap hari. Haifa yang ketemu mereka setiap hari, selalu aja di tanya. Mbak Haifa gak capek ya belanja sendiri tiap pagi? Istri bos tiap pagi itu harusnya nyantai di rumah. Urusan belanja sayur mah urusan ART. Mangkanya bu pekerjakan ART aja, jangan pelit jadi orang. Rumah besar, uang banyak, kok pelit banget keluarin uang buat gaji ART aja gak mau. Bayar seorang ART mah gak bikin bangkrut mbak. Begitu terus tiap ketemu. Kesal."


"Kita kan juga ada bu Ani dan pak Wawan. Ada pak Surya sama pak Rahmat juga yang kerja sama kita. Ada tuh lebih dari satu malah yang kerja sama kita." jawab Alvin.


"Iya tapi kan mereka gak tahu. Bu Ani dan Pak Wawan kan mereka kerja seminggu sekali Pak Wawan beresin kolam sama taman. Bu Ani beres beres rumah. Mereka juga kalau kerja jarang kelihatan sama ART tetangga yang pada suka nyinyir itu. Jadi mereka gak tahu. Terus pak Surya sama pak Rahmat sebagai sopir gak masuk itungan mereka karena rata rata di sini kan rumah isinya para pekerja jadi rata-rata ya punya sopir."


"Jadi maunya gimana? Mau bu Ani jadi stay di rumah kerja tiap hari gitu?" tanya Alvin.


"Enggak juga."


"Sayang, gak usah terlalu dipikirkanlah ucapan mereka. Biar aja. Kalau kamu gak suka gak usah ditanggepin. Nanti kalau belanja sayur pake earphone aja." kata Alvin.


"Lagian nih kalau mereka mempermasalahkan tentang ART. Punya ART itu dilihatnya bukan dari sisi kaya atau miskin. Punya ART itu mandangnya butuh sama gak butuh. Meskipun orang kaya bergelimang harta. Kalau mereka ngerasa belum butuh ada ART ya gak masalah kan? Sebaliknya, walau sesorang nampak sederhana dan tidak hidup mewah. Tapi kalau mereka merasa mereka butuh jasa seorang ART mereka pasti bakal mengupayakan."


"Jadi gak perlu memaksakan. Kalau gak butuh ART tapi rekrut ART dengan alasan buat bantu orang. Masih banyak kok cara yang bisa kita lakukan buat bantu orang." kata Alvin.


"Udah ya. Jangan dijadikan beban pikiran. mereka bebas berpendapat tentang keluarga kita. Kita juga bebas untuk menanggapi atau tidak tanggapan mereka. Kita punya dua tangan, gak mampu kalau harus menutup mulut mereka agar tidak bicara buruk tentang kita. Tapi kita mampu menutup telinga kita agar tidak mendengar ucapan yang buruk bagi kita. Ketika kita tidak bisa membahagiakan banyak orang. Setidaknya kita bahagiakan dulu diri kita. Agar kita tidak menyusahkan banyak orang."


"Tapi besok-besok gimana kalau Haifa beli sayur dan ketemu mereka lagi?" tanya Haifa.


"Besok mas temani beli sayurnya."


"Iyaaa..."


"Astagfirullah. Yang jam 07, aduh mas belum siap-siap." kata Alvin mulai heboh.


"Oh iya. Yaudah mas siap-siap."


"Gausah mandi lagi lah ya? Kan tadi mau subuhan ke masjid juga udah mandi." kata Alvin sambil mengendus endus badannya sendiri.


"Gak bau kok. Coba cium." kata Alvin mencondongkan badannya ke arah Haifa.


"Ih apaan sih?"


"Endus Yang. Mas bau enggak? Kalau enggak gak usah mandi lagi." kata Alvin.


"Yaudah terserah mas deh mau mandi lagi atau enggak. Haifa mau bangunin Aina dulu." kata Haifa.


"Gak mau. Endus dulu bau atau enggak." kata Alvin malah memeluk Haifa.


"Mas ih yang ada makin siang nanti. Aina belum bangun, belum siap-siap."


"Iya mangkanya endus dulu biar cepat."


"Yaudah sini." Haifa mulai mengendus tubuh Alvin.

__ADS_1


"Enggak kok gak bau. Udah gak usah mandi lagi ganti baju aja sana."


"Bagian sini belum." kata Alvin sambil mengangkat tangannya dan memposisikan ketiaknya di depan wajah Haifa.


"Mas ih jorok."


"Pas Hamil Aidan aja hobi banget endusin ketek mas."


"Khilaf itu."


"Alasan."


"Iya udah nih. Gak bau. Cepat sana ganti baju." kata Haifa.


"Bajunya udah disiapin?"


"Udah mas ku. Tadi pas mas ke masjid udah Haifa siapin bajunya di gantungan lemari yang paling kanan."


"Yaudah. Kamu bangunin dan bantu Aina siap siapnya jangan lama lama ya. Telat nanti."


"Tadi yang nahan Haifa buat di sini siapa?"


"Hehe yaudah ayo ke atas. Kamu bangunin Aina, mas siap siap."


Pukul 08 tepat Alvin dan Aina sudah sama-sama siap untuk pergi. Seperti biasa Haifa mengantar sampai depan pintu.


"Papa sama Kakak berangkat dulu ya Bun." pamita Alvin.


"Pa... pa..." celoteh Aidan yang digendong Haifa.


"Iya anak soleh. Papa pergi kerja dulu ya?"


"Bunda, adek kakak belangkat ya." pamit Aina kemudian mencium tangan Haifa. Diusianya yang sudah memasuki 4 tahun menuju 5 tahun Aina memang masih belum pasih mengucapkan huruf r.


"Iya kakak baik baik ya. Nurut sama ibu gurunya ya."


"Iya bunda. Bunda nanti jemput kakak kan?"


"Kakak nanti pulang papa jemput aja."


"Yah..."


"Kenapa kok gak senang papa jemput."


"Papa suka lewel. Kakak dadah sama Aillangga atau teman kakak yang lain aja gak boleh. Telus papa cembelut. Telus bilang, Kakak gak boleh dadah dadah sama laki-laki. Padahal Aillangga kan teman kakak dia juga baik."


"Huh dasar papa lewel."


"Anaknya masih kecil pa. Belum mesti posesif begitu."


"Bun. Perlindungan itu harus diperketat sejak dini. Papa gak mau kecolongan. Enak aja. Pokoknya papa mau, ketika anak kita udah tahu cowo ganteng. Cowo pertama yang dia bilang ganteng itu papanya."


"Dih. Udah sana berangkat."


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2