
Happy Reading...
Selesai memasak mie instan, Haifa langsung menghampiri Alvin yang duduk sendiri di ruang makan.
"Nih, mudah matang mienya." kata Haifa sambil meletakkan mangkuk tersebut di depan Alvin.
"Kenapa sih ini muka? Kayak Aina kalau gak dikasih izin makan permen. Kenapa sih hmm?" tanya Haifa sambil menangkup wajah Alvin lalu mencium pipi kanan Alvin.
"Kamu, mas ajak ngobrol serius malah dibikin becanda." kata Alvin.
"Hm? Kapan?" kata Haifa yang sudah duduk disamping Alvin dan mulai memakan mie nya.
"Ya tadi. Mas ajak bicara serius buat tambah anak, adeknya Aidan. Malah bahas tambah cabe." omel Alvin yang membuat Haifa tersedak.
Uhukk Uhukk...
"Mas perih." kata Haifa.
"Nih minum. Mangkanya makan pelan-pelan." kata Alvin.
"Ya mas yang bikin kaget."
"Udah mendingan kan? Yaudah makan lagi. Mas mau, suapin." katanya.
"Gak mau."
"Bener ya gak mau. Buat mas semua." kata Alvin beranjak dari ruang makan. Sambil membawa mangkuk mie tersebut.
"Enak aja, Haifa yang laper, Haifa yang masak mas yang abisin." omel Haifa sambil menyusul Alvin.
Alvin duduk di sofa ruang keluarga, sedangkan Haifa duduk di bawah kaki Alvin.
"Mas mau, jangan dimakan sendiri." kata Haifa sambil mendongak menatap Alvin.
"Tadi katanya gak mau."
"Ya tadi karena masih perih abis tersedak."
"Aaa." kata Alvin sambil menyuapkan sesendok mie ke mulut Haifa.
"Mas tadi yang mas bilang di dapur itu gak serius kan?" kata Haifa sambil menyalakan televisi.
"Maunya?" tanya Alvin.
"Maunya sih becanda. Gini ya mas. Bukan Haifa gak mau tambah momongan. Haifa mah ya kalau Allah kasih ya terima aja. Tapi kalau untuk dalam waktu dekat, jujur aja Haifa belum kepikiran. Aidan aja belum selesai ASI." jawab Haifa.
"Iya sayang. Mas juga becanda." jawab Alvin sambil menyuapkan sesendok mie lagi ke mulut Haifa.
"Terus tadi sok sok ngambek kenapa?"
"Ya becanda aja. Pengen tahu reaksi kamu."
"Syukur deh. Haifa kira emang mas sengebet itu pengen punya anak lagi." kata Haifa.
"Haha enggak lah. Punya anak kan bukan hanya tentang proses pembuatan, hamil, melahirkan dan menyusui. Kita juga harus mikirin calon kakaknya udah siap belum kalau punya adik lagi. Harus mikirin bundanya juga." kata Alvin.
"Uh sayang. Pengertian banget sih." kata Haifa berpindah duduk di samping Alvin lalu mencium pipinya.
"Kalau gitu, Haifa boleh pasang KB dong?"
"GAK."
"Kenapa? Nanti kalau sampe kebobolan gimana?"
"Kita gak lagi main bola, ngapain takut kebobolan?"
"Ih bukan gitu maksudnya. Tapi kalau misal nanti tiba-tiba Haifa hamil lagi gimana?"
"Ya gak apa apa, kamu punya suami."
"Ih mas mah."
__ADS_1
"Kita pake tanggalan aja. Kamu haidnya teratur kan?" tanya Alvin. Haifa mengangguk.
Haifa semakin merapatkan tubuhnya ke badan Alvin.
"Mas, kita sejak nikah belum pernah loh jalan-jalan ke luar kota gitu yang jalan-jalan keluarga kecil kita."
"Enggak mau kenyang. Buat mas aja." kata Haifa saat Alvin hendak menyuapkan mie lagi ke mulutnya.
"Sebentar lagi kan libur akhir tahun. Gimana kalau kita buat plan pergi liburan gitu. Aidan juga kan udah setahun. Aina juga udah mulai besar dia butuh banyak pengalaman." kata Haifa.
"Pengen pergi kemana?" tanya Alvin.
"Kemana ya? Yang bisa terjangkau pakai mobil pribadi aja. Biar gak naik transportasi umum. Soalnya bawa dua anak pakai transportasi umum, kebayang sih hebohnya."
"Kemana dong? Tangkuban perahu?" saran Alvin.
"Ah mas, ke tangkuban perahu mah gak perlu nunggu akhir tahun, weekend juga bisa."
"Katanya yang deket."
"Ya enggak gitu juga. Sebel deh."
"Haha iya udah gak usah manyun, jelek. Nanti kita ngobrol lagi. Mas mau cuci mangkok dulu. Kamu matiin tv. Terus kita tidur, udah pagi ini." kata Alvin.
*
Pukul 11.00 kebetulan hari ini Haifa tidak hanya berdua dengan Aidan di rumah. Karena hari ini jadwalnya bude Ani sang ART part time.
"Si adek udah makin besar aja ya mbak." kata bude Ani.
"Iya bude, soalnya Alhamdulillah, Aidan ini minum ASI nya kuat banget. Makannya juga Alhamdulillah gak rewel."
"Bagus tuh mbak soalnya biasanya anak seusia Aidan tuh makannya suka susah. Lebih senang main."
"Iya bude Alhamdulillah."
"Oh iya bude. Anak bude yang paling kecil itu, jadinya kuliah dimana?" tanya Haifa.
"Udah bude. Itu emang udah rezeki keluarga bude. Kami cuma perantara." kata Haifa.
Drrttt... Handphone milik Haifa bergetar. Sebuah panggilan masuk ia terima.
"Bude, Haifa titip Aidan dulu ya. Haifa mau angkat telepon dulu."
"Oh iya mbak silakan."
Haifa pergi sedikit menjauh dari bude Ani dan Aidan.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam. Haifa apa kabar?" tanya seseorang di seberang sana.
"Maaf ini siapa ya?"
"Andi."
"Andi?"
"Ketua OSIS pas SMA."
"Oh iya ada apa?"
"Atur waktu yuk. Kita ketemu, buat jadwal reunian angkatan kita di libur tahun baru nanti."
"Maaf bukannya ada grup ya? Kenapa gak di grup aja?" kata Haifa.
"Em anu itu mm. Aku... Aku hubungi satu persatu kok."
"Ratusan orang dihubungi satu per satu?"
"Engga cuma kamu. Eh maksudnya, gimana bisa enggak?"
__ADS_1
"Kok jadi gak jelas begini ya?"
"Yaudah sih Haifa kamu bisa enggak?"
"Belum tahu. Mesti izin suami dulu."
"Ya ampun kolot banget sih. Mau pergi mesti izin-izin segala. Suami kamu ngekang banget ya?"
"Maaf ya. Bukan masalah kolot atau ngekang. Tapi adabnya memang seorang istri harus begitu."
"Ya ya terserah. Kalau suami kamu kasih izin, kabari ya. Nanti aku jemput."
"Maaf saya gak segaptek itu buat sekedar pesan taksi online. Jadi gak harus sampai merepotkan. Terimakasih tawarannya. Assalamualaikum." jawab Haifa dan langsung menutup teleponnya.
Sementara itu di kantor Alvin yang baru selesai rapat sedang terburu-buru untuk menjemput Aina.
Saat sampai di sekolah, Alvin melihat sekolah yang sudah sepi. Alvin segera turun dari mobil, lalu bertanya pada satpam.
"Siang pak. Ini udah pulang semua pak?"
"Iya pak sekitar 30 menit yang lalu."
Saat tahu anak-anak di sekolah tersebut sudah pulang dari 30 menit yang lalu. Alvin segera menelepon Haifa.
Hingga penggilan ketiga, Haifa belum menjawab panggilan dari suaminya. Bukan karena sedang bertengkar. Hanya saja setelah menerima telepon tidak jelas dari Andi tadi. Haifa meletakkan handphonenya begitu saja di ruang keluarga. Sedangkan saat ini Haifa sedang menyusui Aidan di kamar.
Alvin menjadi kesal sendiri. Ia kembali memastikan pada satpam, jawaban satpam tetap sama dan begitu yakin jika anak-anak sudah pulang semua. Alvin meminta izin untuk mencari Aina ke ruang kelasnya. Dan setelah di beri izin memang kelas sudah kosong.
Alvin mengendarai mobilnya kembali ke r UH mah. Harapannya satu, jika Aina sudah dijemput oleh Haifa. Di perjalanan Alvin menelepon Haifa kembali. Belum juga ada jawaban.
Tok... tok... tok...
Pintu kamar Haifa diketuk.
"Masuk aja bude."
""Mbak maaf ini ada telepon dari mas Alvin. Daritadi gak berhenti." kata bude sambil menyerahkan handphone milik Haifa.
"Oh iya. Makasih bude."
"Sama sama mbak."
*
"Akhirnya diangkat juga. Kamu kemana aja sih lama banget angkat teleponnya." omel Alvin.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Ada apa? Pelan pelan bicaranya."
"Aina udah kamu jemput kan Yang?"
"Hah? Enggak kok. Haifa di rumah aja dari tadi."
"Jangan bercanda. Ini anak loh."
"Serius mas. Kan tadi pagi, mas yang bilang mau jemput Aina."
"Serius kamu gak jemput Aina?"
"Iya."
"Terus Aina kemana?"
***
To be continued...
See you next part...
__ADS_1