Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 94


__ADS_3

Happy Reading...


"Assalamualaikum," ucap Alvin yang baru masuk kamar setelah shalat subuh berjamaah di masjid bersama keluarganya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Haifa kemudian mencium tangan Alvin.


"Yang badan Mas enggak enak banget Yang. Kretek-kretek kayak mau patah," kata Alvin sambil memijat tengkuknya.


"Pijatin dong Yang."


"Iya sana ganti baju dulu."


Pagi ini sebagian besar keluarga sedang pergi jalan jalan ke pantai. Tapi sangat disayangkan Alvin dan Haifa tidak bisa Ikut serta karena kondisi Alvin bukan malah membaik tapi malah demam.


"Mas kenapa sih enggak sayang banget sama diri sendiri?"


Alvin tidak menjawab ia lebih memilih diam menikmati pijatan Haifa di kepalanya sambil memejamkan mata.


"Udah Haifa bilang semalam selesai bakar-bakar tidur cepat istirahat. Tapi enggak mau denger malah ngegames bareng sama yang lain."


"Enggak ngegame Yang."


"Enggak ngegame ya? Terus semalam suara You have slain the enemy, An enemy has been slain. Double kill. Triple kill. Savage. Itu suara apa? Suara operator lagi ngasih tahu pulsa abis?"


"Semalam badan belum sakit begini Yang rasanya, masih biasa aja. Lagian enggak enak juga, masa pamit istirahat duluan sementara yang lain masih pada ngumpul," kata Alvin membela diri.


"Belum begini gimana? Orang dari kemarin Mas udah mulai gak enak badan kan? Mereka juga pasti ngerti kalau Mas bilang mau istirahat duluan karena enggak enak badan."


"Sekarang efeknya kayak begini kan. Niatnya mau liburan tapi malah tumbang."


"Enak enggak coba sekarang. Udah perjalanan jauh ke Jogja tapi malah sakit."


"Jadi malah ngerepotin semuanya karena dititipin anak-anak."


"Yang kamu ini kenapa sih? Suaminya lagi sakit malah dimarah-marahin."


"Sekarang maunya gimana? Kamu mau pergi? Mau jalan jalan? Ya ayo mau pergi kemana? Kuat kok aku," kata Alvin sambil bangkit dari tempat tidur.


"Cepat siap siap. Mau pergi kemana aku turutin."


"Enggak usah."


"Cepat. Daripada kamu terus ngomel dan gak ikhlas rawat suami. Enggak enak dengarnya."


"Haifa begini itu biar Mas lebih care sama diri sendiri. Bukan Haifa pengen-pengen banget jalan jalan di Jogja bukan. Bukan karena Haifa enggak ikhlas ngerawat mas bukan."


"Haifa ngomel gini itu biar Mas sadar. Siapa tahu semakin sering Haifa omelin Mas jadi risih dan mau berubah."


"Mas itu udah sering banget bergadang karena kerjaan. Haifa ngerti kalau itu emang tanggungjawab Mas. Haifa enggak protes. Tapi waktu mas libur, Ya tolong lah take your time buat istirahat."


"Haifa enggak larang Mas mau main games apapun itu, karena kalau emang Mas suka games ya mungkin itu salah satu cara me time nya Mas. Tapi satu yang Haifa mau, Mas ingat waktu. Jangan kira Haifa enggak tahu kalau Mas sering banget bergadang karena games."


"Mas tahu kan sekarang Aina udah bisa protes kalau waktu main sama Papanya berkurang? Ya masa sih mau lebih banyakin waktu buat main games dari pada main sama anak."


Alvin kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dan menggunakan kaki Haifa sebagai bantalan seperti posisi sebelumnya.


"Maaf ya. Ayo pijat lagi, biar besok sembuh biar kita bisa jalan-jalan sama anak-anak," kata Alvin sambil memegang tangan Haifa dan membawa ke kepalanya.

__ADS_1


"Haifa juga minta maaf, harusnya enggak ngomel waktu Mas lagi sakit begini."


"Udah ah ayo pijat lagi atau pengen kerokan aja deh Yang," kata Alvin.


Alvin itu termasuk orang yang jarang sakit, biasanya kalau sekedar pusing sedikit sedikit, lebih baik enggak terlalu dirasakan dan tetap dibawa beraktivitas sampai akhirnya sembuh sendiri. Begitu prinsip Alvin. Tapi kalau sekalinya sakit dan banyak keluhannya seperti sekarang ini biasanya itu kondisi Alvin bakal benaran drop, lemas dan manjanya luar biasa. Begitu mangkanya Haifa sampai ngomel-ngomel.


"Bundaaaa," teriak Aina sambil berlari ke kamar


"Loh kok nangis? Kenapa?" tanya Haifa saat membuka pintu dan melihat Aina sedang menangis.


"Pas udah main lama, dia baru sadar kalau kalian enggak ikut. Jadi pas tau enggak ada kalian langsung rewel pengen pulang. Untung adeknya anteng," kata ibu yang mengikuti Aina.


"Bunda nakal," kata Aina sambil merangkul erat leher Haifa.


"Bunda sama Papa nakal enggak main sama Kakak," kata Aina lagi.


"Kan Papanya sakit sayang. Jadi Bunda di rumah temani Papa."


"Papa kan udah besal."


"Iya tapi kan lagi sakit, kasian kalau enggak Bunda temani."


"Gimana Alvin, udah mendingan?" tanya Ibu Aliya.


"Alhamdulillah bu. Abis minum obat sekarang tidur."


"Yaudah kalau gitu kamu sama Aina aja dulu. Biar Aidan sama Ibu."


"Iya Bu. Makasih ya Bu. Maaf Haifa jadi merepotkan Ibu."


"Enggak repot. Yang udah jadi Nenek kayak Ibu begini, malah senang kalau momong cucu."


"Iya udah Bu. Udah Haifa kasih tadi."


"Bagus kalau gitu. Yaudah Ibu ke yang lain ya."


"Iya Bu. Makasih Bu."


"Udah dong jangan ngambek sama Bunda. Mending kita lihat Papa yuk. Kakak pijat-pijat Papa biar cepat sembuh nanti Kakak bisa cepat main sama Papa lagi deh," kata Haifa pada Aina.


"Mana Papa?"


"Ada di kamar lagi bobo."


"Kakak mau ke Papa."


"Boleh tapi udahan dulu nangisnya."


"Kakak enggak nangis."


"Loh terus ini air mata tandanya apa?" kata Haifa sambil mengusap air mata Aina.


"Mata Kakak lagi pipis."


"Hahaha aduh ada ada aja sih anak Bunda."


"Kakak udah makan belum?" tanya Haifa sambil membawa Aina ke dalam kamar.

__ADS_1


Aina mengangguk. "Apa? Udah makan belum? Bunda enggak dengar Kakak jawab apa?"


"Udah," jawab Aina.


"Pintar. Gitu baru anak Bunda yang baik, kalau ada yang tanya itu jawabnya pakai mulut ya, pakai suara," kata Haifa.


"Iya Bunda."


"Ih pintar banget anak Bunda. Cantik lagi."


"Kayak Bunda kan?" kata Aina.


"Iya dong cantik kayak Bunda juga kayak Mama."


"Papa..." panggil Aina sambil mencium pipi Alvin yang masih memejamkan matanya.


"Papa cepat sembuh ya. Kakak sayang Papa. Kakak mau main lagi sama Papa."


"Papa tadi nakal enggak ikut main sama Kakak. Kakak jadi nangis. Eh enggak nangis. Mata Kakak jadi pipis."


"Kakak sayang Papa," kata Aina sambil mencium kening Alvin hingga berbunyi.


"Kok berasa ada yang cium Papa ya?" kata Alvin sambil membuka matanya perlahan.


"Papa bangun hole," kata Aina antusias.


Alvin tersenyum. "Papa mau Kakak pijat-pijat?"


"Mau dong. Aduh kepala Papa berat nih," kata Alvin yang agak mendramatisir keadaan.


"Sini kepala papa bobo sini," kata Aina sambil menepuk pahanya.


"Kepala jangan nakal sama Papa Kakak. Kasian Papa Kakak jadi sakit. Kamu jangan nakal. Sekalang kamu Kakak pijat-pijat, nanti besok kamu jangan nakal ya. Kakak mau main sama Papa," kata Aina sambil memijat kepala Alvin.


"Emang kepala Papa bisa nakal ya Kak?" tanya Haifa.


"Bisa."


"Itu sih bukan kepala Papa yang nakal Kak. Tapi Papanya sendiri yang nakal," kata Haifa.


"Papa nakal?" tanya Aina.


"Kalau Kakak nonton terlalu lama, Papa suka bilang apa?" tanya Haifa.


"Bilang begini, Kakak jangan lama lama lihat handphonenya nanti sakit kepala terus mata Kakak rusak, begitu," kata Aina sambil menuruti gaya bicara Alvin.


"Nah itu, Papa bisa bilang gitu sama Kakak tapi Papanya malah nakal."


"Bunda jangan malah-malah. Kasian Papanya lagi sakit," kata Aina.


Alvin bersorak dalam hati.


...****************...


To be continued...


See you next part...

__ADS_1


*Ada yang suami, pacar, kakak, adik, saudara dll yang suka main games? Coba tanya siapa tahu ada yang suka mabar sama Alvin 😂😂😂


__ADS_2