
Happy Reading...
Alvin menarik Haifa menjauh beberapa meter dari teh Fitri. Betul memang yang tadi datang adalah Alvin. Bahkan Alvin mendengar semua perkataan teh Fitri. Alvin marah? Sebenarnya Alvin marah, ia tersinggung anaknya yang masih kecil dan tidak tahu apa apa harus dikatai demikian. Hanya saja ketika melihat Haifa yang marah juga. Sepertinya bukan saatnya Alvin marah. Ia harus bisa meredam Haifa. Bagaimana juga yang berada di hadapan Haifa saat ini adalah sepupunya Haifa sendiri. Jika Alvin membiarkan Haifa bereaksi dengan amarah makan bisa jadi akan merusak hubungan kekeluargaan.
"Lepas mas!"
Alvin berhenti ketika merasa sudah cukup jauh.
"Mas kenapa tarik Haifa."
"Sayang udah ya. Gak usah dijawab lagi."
"Gak bisa gitu dong. Enak aja."
"Yang..."
"Mas tapi ucapannya itu udah kelewatan."
"Yang..."
"Mas, dia itu gak tau apa apa tapi seenaknya aja bicara."
"Sayang..."
"Enggak bisa dia uda hmptt."
"Udah diam." kata Alvin sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Haifa. Haifa langsung menghambur memeluk Alvin.
"Udah ya gak usah dijawab. Semakin dijawab justru nanti semakin panjang. Gak usah ditanggapi berlebihan ya. Kita buktikan kalau kita gak terpengaruh sama ucapannya." kata Alvin sambil mengusap punggung Haifa.
"Mas gak marah." kata Haifa sambil mendongak menatap Alvin.
"Marah atau enggak. Bukan berarti harus ditunjukan dengan perlakuan yang sama kan?"
"Kita pulang aja yuk." ajak Haifa.
"Ngaco deh, di sini ada nenek, kakek ada mama papa dan banyak lagi. Kalau kita langsung pulang sama aja gak menghargai mereka. Yang ada nanti mereka nanya macem macem. Gak enak kan jawabnya." kata Alvin.
"Tapi Haifa udah malas mas. Kasihan juga Aina."
"Insya Allah gak apa apa. Sabar ya."
Haifa terlalu fokus berdua dengan Alvin. Tudak sadar jika sepupunya sudah tidak ada di sana entah sejak kapan.
"Yaudah sana kamu bantu masak lagi. Gak usah menampakan kekesalan ya." kata Alvin sambil melepaskan pelukan Haifa.
"Malas ah. Yang ada nanti Haifa kesal lagi."
"Yang, udah dong."
"Yaudah iya." katanya masih dengan wajah kesal.
"Senyum dong." kata Alvin sambil menarik pipi Haifa ke kanan dan kekiri sehingga menampakan bibir yang tersenyum.
"Kan cantik."
"Ih bisa aja gombalnya."
"Haha udah sana bantu masak masak lagi. Mas mau nyusul bang Ken sama anak anak."
"Yaudah. Haifa ke dapur lagi. Do'akan ya biar Haifa gak kesal lagi."
__ADS_1
"Sini deh mas kasih obat biar gak kesal." Alvin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.
Cup.
"Udah kan gak kesel."
Haifa tersenyum dengan pipinya yang bersemu merah.
"Udah sana ke dapur." kata Alvin sambil mengusap pipi Haufa yang memerah.
"Yaudah. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
***
Saat ini mereka sedang makan bersama, lesehan di ruang keluarga. Sedangkan anak anak tidak ikut serta, mereka sedang asik bermain bersama.
Sejujurnya Haifa sudah sangat tidak ingin berada di sana. Tapi lagi lagi betul kata Alvin. Di sana ada kakek, nenek dan keluarga yang lain. Tidak enak jika pergi begitu saja, bahkan bisa malah menimbulkan kecurigaan dan bahkan masalah baru.
Selesai makan bersama, Alvin bersama papa dan para lelaki lainnya mengobrol di teras rumah. Beberapa orang sedang merokok. Kecuali Papa, Alvin dan Keanu. Para sopir pun tidak dibedakan. Mereka ikut mengobrol bersama.
Sementara itu di dapur, Haifa yang selesai mencuci piring. Menghampiri teh Fitri atau kakak sepupunya yang sedang duduk santai dan fokus pada layar handphonenya.
Haifa lebih dahulu melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan.
"Teh, Haifa boleh ngobrol sama teteh sebentar?" kata Haifa sambil duduk di kursi meja makan sebelah sepupunya. Haifa tahu yang Haifa lakukan sekarang ini menentang apa yang Alvin katakan. Tapi rasanya Haifa benar benar harus berbicara dengan kakak sepupunya ini. Haifa hanya takut kejadiannya akan berulang jika Haifa diam saja.
"Mau apa? Kamu mau marah sama teteh? Kamu mau bilang kalau kamu benci sama teteh?" kata Fitri dengan sinisnya.
"Enggak enggak bukan itu maksud Haifa."
Haifa terlebih dahulu menarik nafas dalam dalam. Untuk menenangkan dirinya agar tidak terbawa emosi.
"Haifa mau minta maaf sama teteh. Haifa gak tahu apa salah Haifa, apa salah mas Alvin dan Aina. Sampai teteh tega berbicara seperti itu tentang Haifa dan keluarga Haifa. Haifa minta maaf kalau ada salah." kata Haifa.
Fitri hanya tersenyum mengejek.
"Perihal yang teteh bilang. Kok Haifa mau mauan nikah sama duda. Teteh gak tau prosesnya. Untuk Haifa menikah sama mas Alvin itu yang Haifa lewati itu banyak hal. Haifa juga gak langsung mengiyakan ketika mas Alvin mengungkapkan niat baiknya. Banyak juga yang Haifa pikirkan." Haifa berhenti sejenak sambil menoleh kearah kakak sepupunya yang masih saja asik dengan ponselnya.
"Tapi yaudahlah gak perlu juga Haifa jelaskan prosesnya. Untuk masalah Haifa yang belum berpengalaman mengurus anak. Iya Haifa mengakui itu. Itu juga yang menjadi hal utama yang Haifa pikirkan ketika mau menentukan jawaban untuk mas Alvin."
"Nah kamu sadarkan kalau kamu belum pengalaman!" katanya menanggapi ucapan Haifa.
"Iya Haifa mengakui. Apalagi di sini, Haifa harus pandai menempatkan posisi Haifa sebagai ibu sambung dan bukan menggantikan posisi ibu kandung. Haifa harus bisa menjalin hubungan yang baik dengan Aina. Tanpa memutus hubungan antara Aina dan mama kandungnya. Haifa akui itu sulit. Maka dari itu yang Haifa butuhkan itu dukungan dan masukan mungkin dari orang yang lebih berpengalaman. Tapi ketika Haifa tidak mendapatkan dukungan dari keluarga besar. Haifa gak masalah."
"Sombong."
"Untuk hal Aina yang kata teteh rewel, cengeng, nakal dan selalu manja sama Haifa. Haifa sangat menyayangkan sih teteh bisa menilai begitu. Teteh baru sehari ini bertemu lama dengan Aina. Kalau teteh melihatnya karena kemarin di acara nikahan Aina selalu nempel sama Haifa dan rewel. Itu karena lingkungan yang kurang nyaman buat dia. Teteh pernah mikir gak, kita aja orang dewasa terkadang kalau masuk atau berada di lingkungan baru itu jarang sekali bisa langsung nyaman. Apalagi anak kecil. Bedanya, ketika orang dewasa berasa di lingkungan yang kurang nyaman. Orang dewasa bisa berkamuflase seakan baik baik saja. Kalau anak seusia Aina, mereka belum bisa begitu teh. Mereka itu masih sangat jujur. Yang mereka rasakan maka itu yang mereka tampilkan."
"Dan lagi kalau teteh mempermasalahkan kedekatan Haifa dan Aina. Haifa rasa itu wajar. Meskipun Haifa ibu sambungnya. Tapi saat ini posisinya Aina lebih sering bersama Haifa. Aina hanya anak kecil yang butuh disayang oleh orang tuanya. Dan soal manjanya Aina, Haifa rasa untuk anak usia 4 tahun masih manja itu sangat wajar. Malah jatuhnya aneh kalau anak 4 tahun udah bisa melakukan semuanya sendiri."
"Teteh marah sebegininya sama Haifa, mas Alvin dan Aina hanya karena makanan Akbar yang jatuh karena gak sengaja kesenggol Aina kan? Hehe apa teteh gak malu? Anak anaknya aja udah main sama sama lagi. Udah ketawa ketawa lagi. Lagipula makanan itu bisa dibeli lagi. Tapi teteh reaksinya malah sebegitunya. Malah mengungkit Aina yang bukan anak kandung Haifa. Jadi sebetulnya yang kekanakan itu siapa? Aina yang memang masih anak anak atau teteh?" kata Haifa.
Fitri langsung menoleh ke arah Haifa dengan tatapan tajamnya.
"Kamu bilang teteh yang kekanakan? Haha hebat ya. Kamu rela loh sebegininya buat bela anak tiri kamu. Padahal sekuat apa kamu membela dia tetap aja gak akan merubah status dia dari anak tiri ke anak kandung."
"Teh. Haifa gak pernah mengklaim kalau Aina itu anak kandung Haifa. Yang selalu Haifa tanamkan dan yang selalu mas Alvin tekankan sebelum kami menikah itu ketika Haifa mengiyakan ajakan mas Alvin untuk menikah. Maka sejak saat itu Haifa harus menerima mas Alvin begitu juga dengan Aina. Maka sejak saat itu juga, anak mas Alvin itu juga anaknya Haifa. Apapun dan bagaimanapun latarbelakangnya Haifa harus terima. Kalaupun teteh gak suka atau gak setuju sama pernikahan mas Alvin dan Haifa. Bukan berarti teteh harus melampiaskannya ke Aina. Dia masih kecil teh. Gak tau apa apa." jelas Haifa lagi.
"Yayaya. Udah udah cukup. Kamu gak usah cape bela bela mereka di depan teteh. Kamu fokus aja ya jadi bunda yang hebat buat anak anak kamu. Hehe." katanya sambil menepuk pundak Haifa dan pergi meninggalkan Haifa.
__ADS_1
Entahlah penjelasan Haifa didengar atau tidak oleh sepupunya itu. Tapi setidaknya Haifa sudah lebih lega karena merasa sudah menjelaskan.
Sementara itu di luar anak anak sedang bermain.
"Akbal itu apa?" tanya Aina ketika melihat Akbar membawa rumah besar yang terbuat dari busa karet yang berisikan beberapa kelomang.
"Ini kumang (dalam bahasa sunda)." jawab Akbar.
"Kumang itu apa?" tanya Aina bukan Aina tidak mengerti bahasa sunda. Hanya saja sampai sekarang usianya 4 tahun Aina belum pernah tahu kelomang atau kumang itu.
"Ini itu kumang." kata Akbar sambil mengeluarkan salah satu kelomang berukuran sedang itu dari rumahnya.
"Aina boleh pegang?"
"Adek takut enggak?" tanya Arsyad.
"Adek jangan. Nanti dimarahi tante Fitri lagi." kata Dikta berbisik pada Aina.
Aina menoleh ke kanan dan kiri.
"Tapi tante Fitli gak ada abang." kata Aina balas berbisik di telinga Dikta.
"Tante Fitri suka tiba tiba muncul kayak jin Aladin tau." kata Dikta berbisik lagi. Aina menjadi terkekeh dengan perkataan Dikta.
"Kalian kenapa sih bisik bisik?" tanya Akbar.
"Gak apa apa kok. Kumangnya lucu." kata Dikta.
"Nih Aina mau pegang enggak?" tanya Akbar.
"Enggak deh Aina takut." jawab Aina.
"Ih gak apa apa kok." kata Akbar.
"Enggak nanti gigit." kata Aina.
Tapi Akbar tidak mau kalah ia membuka tangan Aina dan meletakan kelomang di telapak tangan Aina. Awalnya masih aman karena kelomang itu tidak keluar dari cangkangnya. Lama kelamaan kelomang itu mulai bergerak dan keluar dari cangkang. Aina yang kaget karena kelomang itu sudah keluar dari cangkang, tidak sengaja melemparkan kelomang itu. Hingga jatuh cukup jauh dari mereka.
"Ih tangan kamu nakal." kata Akbal sambil memukul tangan Aina cukup keras.
"Akbar jangan pukul pukul." kata Arsyad.
"Biar aja. Dia nakal. Kumang aku dibuang."
Sedangkan Aina hanya menunduk sambil memegangi ujung kaos Arsyad.
"Kan Aina udah bilang gak mau tapi kamu paksa." kata Arsyad.
"Dasar cengeng, penakut." kata Akbar.
"Mama Kumang akuuu..." kata Akbar berteriak sambil berlari ke dalam rumah.
***
Nah loh apa lagi?
To be continued...
See you next part...
Kritik dan saran boleh di sampaikan di komentar atau grup chat ya kawan kawan ❤
__ADS_1