Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 96


__ADS_3

Happy Reading...


"Itu vitamin Aina."


"Masa?"


"Buka aja."


"Kok enggak ada labelnya?"


"Kemarin digigit-gigit Aidan daripada nanti labelnya ke makan ya Bunda lepas," jawab Haifa.


Haifa sempat deg-degan. Tapi untungnya obat yang barusan Alvin tanyakan adalah vitaminnya Aina yang labelnya sudah terlepas.


"Papa sini obat pelmen Kakak. Papa jangan minum, ini buat Kakak-kakak bukan buat Papa-papa," kata Aina sambil merebut botol obat tersebut dari tangan Alvin.


"Bunda Kakak mau minum ini ya?"


"Kakak mau cali yang gambal beluang. Papa bukain tolong," kata Aina sambil menyerahkan kembali botol obat tersebut pada Alvin.


"Mmmm enak," kata Aina sambil mengemut vitamin rasa buah-buahan tersebut.


"Adek mau?" tanya Aina ketika Aidan merebut rebut botol obat tersebut dari tangan Aina.


"Tatata," celoteh Aidan sambil tangannya menggapai-gapai Aina.


"Bunda Adek mau ini boleh?" tanya Aina.


"Belum boleh Kak," jawab Alvin.


"Beneran vitamin Aina ya. Mas kira kamu nyembunyiin sesuatu," kata Alvin yang duduk di samping Haifa.


"Hah, nyembunyiin apa maksudnya?"


"Kalau Mas tahu ya namanya kamu enggak sembunyi-sembunyi Yang."


"Mas bahas apa sih? Haifa enggak ngerti. Udah dulu ya. Haifa bawa anak-anak tidur siang dulu. Mas di minum vitaminnya," kata Haifa


"Kakak ayo bobo siang dulu," ajak Haifa pada Aina.


"Adek juga?"


"Iya Adek juga."


***


"Mas lagi apa?" tanya Haifa menghampiri Alvin di ruang kerjanya.


"Ini lagi cek email aja. Anak-anak udah pada tidur siang?"


"Udah."


Alvin mengangguk dan kembali fokus pada laptopnya.


"Mas," kata Haifa sambil mendekat ke arah Alvin.


"Enggak juga. Kenapa?" tanya Alvin sambil menatap wajah Haifa.


"Haifa pengen cerita. Kalau Mas enggak sibuk,"


"Kenapa kok tegang banget mukanya?" kata Alvin sambil mengelus pipi Haifa.


"Haifa mau minta maaf," kata Haifa sambil menunduk.


Setelah berpikir selama menidurkan anak-anaknya. Sekarang Haifa memutuskan untuk membahas masalah ini dan meminta maaf langsung pada Alvin.


"Minta maaf?" tanya Alvin.


Haifa mengangguk.


"Yaudah sini kita bahas di sofa," kata Alvin sambil menuntun Haifa agar duduk di sofa ruang kerjanya.


"Ada apa Yang?"


"Haifa mau minta maaf."


"Iya untuk apa?"


"Pokoknya Haifa minta maaf. Mas maafin ya," bujuk Haifa.


"Ya poinnya apa dulu. Mas aja belum ngerti kamu minta maaf untuk apa."


"Coba kamu cerita dulu, apa yang membuat kamu merasa bersalah sampai harus minta maaf."


Belum bercerita apapun, mata haifa sudah berkaca-kaca.


"Kok nangis. Jangan nangis dong cerita dulu ada apa?"


"Mas enggak ngerti, kamu tiba-tiba minta maaf terus sekarang nangis," kata Alvin sambil mengusap mata Haifa.


"Udah jangan nangis."

__ADS_1


"Haifa minta maaf, Mas jangan marah ya."


"Iya apa dulu."


"Tuh kan Mas kayaknya bakal marah."


"Ya Mas enggak akan tahu apa yang harus Mas perbuatan kalau pokok permasalahannya aja mas enggak tahu."


"Coba cerita dulu. Kalaupun menurut Mas kamu salah, Mas akan coba menghargai karena kamu udah mau mengakui kesalahan lebih dulu."


"Mas,"


"Apa sayangku."


"Maaf."


"Yaudah kalau emang belum siap cerita sekarang enggak apa-apa. Daripada kamu tertekan begini."


"Mungpung anak-anak tidur kita nonton aja yuk," ajak Alvin.


"Enggak. Haifa harus bilang sekarang."


"Haifa kepikiran terus. Kalau enggak sekarang, Haifa enggak tahu bakal berani cerita lagi atau enggak," kata Haifa.


"Yaudah coba pelan pelan bicara ada apa?"


"Haifa, Haifa minta maaf."


"Yang udah keberapa kali bilang maaf. Sekali lagi Mas kasih payung loh."


"Ih. Serius Mas."


"Haifa minta maaf, kemarin sebelum kita liburan. Haifa pergi ke dokter dan enggak bilang-bilang," kata Haifa sambil menunduk.


"Ke dokter? Ngapain?"


"Ih dengerin dulu."


"Oke. Oke."


"Haifa... Haifa pergi ke dokter, buat... buat."


"Buat apa?"


"Buat konsultasi tentang.. tentang, alat kontrasepsi," kata Haifa semakin menunduk.


"Alat kontrasepsi? KB maksudnya?" tanya Alvin.


Haifa melihat ke arah Alvin, ingin tahu ekspresi Alvin. Melihat Alvin yang tanpa ekspresi membuat Haifa kembali tertunduk.


"Terus gimana?"


"Te.. terus sejak konsultasi hari itu Haifa jadi..."


"Jadi minum pil KB?" kata Alvin memotong ucapan Haifa.


Haifa yang awalnya menunduk menjadi menatap Alvin. Rasa bersalahnya yang besar membuat Haifa tidak bisa mengontrol air matanya.


"Mas maaf."


"Kamu enggak tanya Mas tahu darimana?"


Haifa menggeleng.


"Mas tahu sejak kita di Jogja. Kamu tahu kenapa semalam mas mendadak bahas tentang anak? Kamu tahu enggak kenapa tadi Mas tiba-tiba bahas tentang obat?"


Haifa menggeleng lagi.


"Bukan tanpa alasan. Mas sengaja mancing kamu biar mau cerita."


"Kenapa kamu enggak tanya dulu pendapat Mas?"


"Haifa, Haifa.."


"Kenapa? Takut? Belum siap? Atau apa alasanya?"


"Mas maaf," kata Haifa sambil berurai air mata.


"Lihat sini," kata Alvin sambil mengangkat wajah Haifa agar menatapnya.


"Kamu mau tanya kenapa Mas enggak bahas lebih dulu dari kemarin-kemarin?"


"Mas udah mau bahas. Mas juga udah pengen marah rasanya. Bukan marah karena kamu minum pil KB nya. Tapi marah karena kamu sama sekali enggak kasih tahu Mas. Padahal yang kamu lakukan ini harusnya persetujuan dari kedua belah pihak loh. Namanya aja keluarga berencana kan? Harusnya keputusan yang diambil juga berdasarkan kesepakatan keluarga."


"Mas mau marah, tapi di satu sisi mas juga pengen tahu alasan kamu sampai berani ambil keputusan sendiri."


"Mangkanya tadi malam Mas coba bahas hal yang menyerempet ke arah itu."


"Dan Mas udah dapat poinnya. Kurang lebih Mas bisa menyimpulkan alasan kamu."


"Mas enggak akan marah. Mas hargai apapun alasan kamu sampai berani bertindak seperti ini. Mas juga hargai karena sekarang kamu udah berani jujur."

__ADS_1


Haifa memeluk Alvin sambil menagis.


"Maaf Mas."


"Sekarang Mas tanya, Mas ini siapa bagi kamu?"


"Suami," jawab Haifa dengan suara yang amat pelan.


"Apa? Enggak kedengeran."


"Suami," jawab Haifa dengan suara yang lebih jelas.


"Penting enggak peran suami buat kamu?"


Haifa mengangguk.


"Enggak kedengaran."


"Penting," jawab Haifa.


"Kalau bagi kamu peran Mas ini penting, tolong libatkan Mas dalam setiap keputusan yang kamu buat. Bisa?" tanya Alvin.


Haifa mengangguk.


"Maaf ya," kata Haifa sambil mendongak menatap wajah Alvin.


"Jangan diulang ya?"


Haifa mengangguk.


"Dan jangan diminum lagi pil-pil itu."


Haifa mengangguk lagi. "Beneran enggak marahkan?"


"Mau lihat Mas marah marah?"


"Jangan. Haifa minta maaf."


"Sama-sama belajar ya. Kedepannya kita harus sama sama terbuka. Besar ataupun kecil, menyenangkan atau menyedihkan. Selagi itu bukan aib orang lain. Maka harus cerita ya."


"Mas juga."


"Iya kan mas bilang kita. Berarti aku sama kamu."


"Makasih ya Mas karena enggak marah-marah. Walaupun Haifa tahu, sebenarnya Mas ini marah. Tapi Mas mau mengerti dan mau mencoba melihat dari sudut pandang Haifa."


"Haifa benar-benar minta maaf. Haifa bukan enggak mau cerita. Tapi Haifa takut harus mulai pembahasannya darimana."


"Maaf ya Mas, Haifa bukan enggak menghargai Mas. Haifa minta maaf."


"Kalau Mas bilang, Mas belum maafin kamu. Kamu bakal apa?"


"Nangis lagi. Sambil terus minta maaf sampai dimaafin."


"Udah gitu aja?"


"Sama satu lagi."


"Apa?"


"Sini bisik-bisik."


"Yaudah belum dimaafin biar dapat yang tadi dibisik-bisik."


"Ih kok gitu. Tadi udah bilang dimaafin."


"Kapan? Mas belum bilang. Mas cuma bilang kalau Mas enggak mau marah-marah karena mencoba mengerti alasan-alasan dan cara berpikir kamu."


"Mas, Haifa beneran minta maaf. Janji enggak begitu lagi."


"Rencananya juga Haifa mau langsung buang itu pil-pil KB itu."


"Mangkanya tadi Haifa sempat kaget waktu Mas nanya tentang obat."


"Terus sekarang udah dibuang?"


"Belum. Tapi enggak Haifa minum."


"Yaudah bagus enggak usah diminum lagi. Lagipula emang aman ya, kamu kan masih kasih ASI buat Aidan."


"Aman kok. Ini rekomendasi dokter juga. Katanya pil yang ini aman buat ibu menyusui mangkanya Haifa berani."


"Termasuk berani bohong sama suami ya?"


...****************...


To be continued...


See you next part...


-Selamat Tahun Baru ya untuk kakak, adek dan bunda bunda semua yaa. Semoga tahun 2021 kita semua bisa menjadi lebih baik dari segala aspek kehidupan. Semoga yang belum tercapai di tahun 2020 bisa terkabul di 2021.

__ADS_1


-Dan semoga di tahun 2021 ini kita bisa kembali bernapas tanpa menghalang, bisa kembali berjabat tangan, bisa kembali berkumpul bersama teman-teman, keluarga, sahabat, kerabat, rekan kerja tanpa ada jarak 1-1,5 meter. Aamiin.


__ADS_2