Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 34


__ADS_3

Sudah seminggu setelah mereka mengetahui Haifa sedang mengandung. Reaksi kedua belah orang tua pastinya sangat bahagia. Begitu juga dengan ibu, walaupun sebelumnya selalu sinis terhadap Haifa. Tapi ketika diberitahu jika Haifa sedang mengandung, ibu merasa bahagia dan ikut memberikan nasihat nasihatnya untuk Haifa.


Lain ibu, lain pula dengan orangtua Haifa. Jika nasihat nasihat ibu lebih mengarah ke larangan ataupun anjuran saat hamil. Orangtua Haifa lebih banyak memberikan selamat serta dukungan secara psikologis.


Kebetulan hari ini Aina sedang tidak sekolah. Memang dalam seminggu Aina hanya sekolah sebanyak 4 hari. Karena diluar hujan, Aina hanya menghabiskan waktu untuk bermain didalam rumah bersama Haifa.


"Aina mau punya adek gak?" tanya Haifa saat mereka sedang bermain.


"Kayak adek Fiqli?"


"Iya. Mau kan?" jawab Haifa.


Aina menggeleng.


"Loh kenapa? Kan kalau ada dede nanti Aina jadi punya temen main."


"Jadi seru mainnya gak sendirian lagi."


"Aina kan main tama bunda."


"Iya tapi kalau ada dede kan nanti makin seru."


"Mana dedenya?"


"Nih di perut bunda. Nanti Insya Allah 9 bulan lagi dedenya baru keluar."


"Kenapa dedenya ada di pelut bunda?"


"Ya karena dedenya masih kecil, jadi supaya dedenya bisa tumbuh sehat. Jadi Allah titip dulu dedenya di perut bunda."


Aina langsung melihat kearah perut Haifa. Kemudian menghampiri dan mendekatkan wajahnya ke perut Haifa.


"Dede." panggil Aina di depan perut Haifa.


Haifa tersenyum sambil mengusap kepala Aina. Walaupun bisa dibilang Aina belum mengerti sepenuhnya. Tapi setidaknya melihat reaksi Aina saat ini yang tidak menolak, cukup membahagiakan bagi Haifa. Haifa tahu reaksi anak seusia Aina hari ini dan besok pasti akan berubah rubah sesuai mood mereka. Bisa saja hari ini mereka menerima. Tapi besok saat moodnya sedang tidak baik bisa saja reaksi lain yang ditunjukan.


"Dede kok diem aja?"


"Kan dedenya masih kecil sekali sayang. Jadi belum bisa bicara."


"Aina mau lihat dede."


"Nanti ya. Minggu depan Aina ikut sama bunda ke dokter kita lihat dedenya Aina. Mau kan?"


Aina mengangguk.


"Nanti kalau dedenya semakin besar perut bunda juga jadi gendut loh sayang?"


"Kayak aunty Vina dulu?"


"Iya."


"Hihi nanti bunda kayak badut." kata Aina sambil terkekeh.


"Kok kayak badut sih."


"Kan badut pelutna gendut."


"Bunda marah ah Aina bilang bunda kayak badut."


Mendengar kata kata itu Aina langsung menatap wajah Haifa. Dan Haifa sengaja memasang wajah kesal.


"Bunda..." panggil Aina sambil duduk di pangkuan Haifa dan memeluknya.


Haifa tidak menjawab.


"Tolly bunda." ucapnya sambil mendongak menatap Haifa. Haifa masih diam.


Hormon ibu hamil yang ada dalam tubuhnya jujur saja membuat Haifa kesal dan tak terima dikatai seperti badut. Tapi ia masih bisa berpikir logis dan tak sampai hati jika harus kesal terhadap putrinya itu. Haifa hanya berniat menjahili Aina. Karena putrinya ini sepertinya mengadopsi setengah dari sifat jahil papanya.


"Bundaa..." panggilnya dengan suara yang mengecil.


Haifa sudah tidak tahan sebenarnya, ingin tertawa melihat wajah putrinya sang sangat menggemaskan. Bibirnya sudah mengerucut dan bergetar hendak menangis yang menyebabkan pipi tembamnya itu ikut bergerak.


"Tolly bunda..." ucapnya sekali lagi.


Haifa menatap Aina sambil menahan senyum. Aina menatap Haifa dengan mata yang berkaca kaca.


"Kiss." ucap Haifa sambi menunjuk pipi kananya berlanjut ke pipi kiri.


"Hug." ucap Haifa sambil merantangkan tangannya. Aina langsung memeluk Haifa.

__ADS_1


"Jangan malah." ucap Aina.


Haifa tersenyum sambil menatap Aina.


"Hehe bunda becanda sayang. Sorry baby." ucap Haifa kemudian memeluk dan menciumi Aina.


"Bunda nakal kayak papa." ucap Aina sambil memanyunkan bibirnya.


"Hahaha Aina juga jahil kayak papa." balas Haifa.


Aina semakin cemberut.


"Hahaha putrinya bunda jadi marah nih?" kata Haifa sambil menoel noel pipi Aina.


"Maaf sayang bunda kan cuma becanda. Bunda gak marah beneran."


"Janji deh bunda gak jahil lagi." kata Haifa sambil mengacungkan jari kelingking di depan Aina.


"Janji?" kata Aina sambil menautkan jari kelingking mereka.


"Promise." jawab Haifa.


"Aina mau telepon papa gak? Aina kasih tahu papa kalau Aina mau punya dede gimana?" tanya Haifa.


Aina mengangguk dengan antusias.


Panggilan ke dua Alvin baru menganggkat panggilan video dari Haifa.


Alvin : Assalamualaikum.


Haifa dan Aina : Waalaikumussalam papa.


Alvin : Ada apa ini tumben Aina sama bunda video call papa.


Haifa : Ini Aina mau bicara sama papa katanya pa.


Alvin : Oh iya. Mau bicara apa sayang.


Aina : Papa kata bunda Aina mau punya dede.


Haifa memberikan kode pada Alvin dengan mengedipkan mata. Agar Alvin mengikuti rules nya. Karena anak kecil seusia Aina itu biasanya akan sangat senang jika menyampaikan hal yang baru ia ketahui pada orang lain.


Aina : Teneng. Kata bunda nanti Aina kalau main ada temennya.


Alvin : Iya dong. Jadi nanti Aina gak sendirian.


Aina : Tapi kata bunda dede matih kecil di dalam pelut bunda. Tadi Aina panggil dede gitu tapi diam aja dede nya. Kata papa kan kalau di panggil olang halus jawab.


Alvin nampak tersenyum.


Alvin : Hehe iyaa tapi dede kan masih kecil sekali jadi belum bisa bicara sayang.


Aina : Papa teneng gak mau punya dede?


Alvin dalam hati ya seneng lah. Itukan perbuatan papa haha.


Alvin : Seneng dong. Apalagi kalau dedenya boy. Nanti jadi temennya papa.


Aina : No. Dedena pelempuan. Bial papa tendili wlee.


Alvin : Haha iya deh iya. Sayang udah dulu yaa. Papa kerja dulu yaa.


Aina mengangguk.


Alvin : Yaudah papa tutup ya. Assalamualaikum.


Aina dan Haifa : Wa'alaikumussalam.


Setelah mengakhiri panggilan. Aina kembali bermain bersama Haifa.


Alvin pulang dari kantor ia melihat Aina sedang bermain dengan Haifa. Mereka sedang bermain tikus kucing di halaman belakang. Anak dan istrinya itu tampak saling mengejar.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam. Eh papa udah pulang." ucap Haifa sambil menghampiri dan mencium tangan Alvin kemudian diikuti oleh Aina.


"Lagi main apa seru banget kayaknya."


"Main kejal kejalan papa. Bunda kejal Aina hehe." jawab Aina.


"Udahan ya mainnya."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Aina.


"Aina sekarang gak boleh lagi main yang cape cape sama bunda."


"Mas."


"Aina juga gak boleh lagi sering sering minta gendong sama bunda."


"Kenapa?" tanya Aina pelan.


"Kan sekarang di perut bunda ada dede yang masih kecil sekali. Kalau Aina ajak main bunda yang capek capek atau Aina minta gendong bunda. Nanti bundanya capek, kalau bundanya capek nanti dedenya juga capek. Aina ngerti kan?"


Aina menunduk kemudian mengangguk.


Haifa sudah menatap tajam pada Alvin. Serius kali ini ia tidak setuju dengan yang dilakukan Alvin. Haifa tau Alvin begitu karena menjaga Haifa dan janin dalam kandungannya. Tapi Alvin melupakan perasaan Aina yang belum terlalu bisa mengerti maksud Alvin. Ingin rasanya ia langsung mendebat Alvin. Tapi Haifa berpikir lagi berdebat dengan Alvin di depan Aina bukanlah hal yang baik.


Haifa langsung menggendong Aina dan membawanya ke kamar. Tampa peduli dengan Alvin yang masih dalam posisinya.


***


Sudah satu bulan usia kandungan Haifa. Rencanannya siang ini mereka akan pergi ke dokter.


Dalam perjalanan ke rumah sakit Aina tampak tertidur di pangkuan Haifa.


"Sayang berat enggak?" tanya Alvin.


"Enggak kok udah biasa."


"Itu awas perut kamu nanti ke teken sama Aina loh."


"Enggak mas. Udah dong jangan berlebihan begitu. Udah di rumah kan mas larang Aina biar gak sering minta di gendong sama Haifa. Masa sekarang di pangku aja gak boleh sih."


"Bukan begitu maksudnya."


"Mas. Aina sekarang nerima nerima aja nih kita kasih tau mau punya adek. Tapi kalau dengan dia mau punya adek mas jadi banyak larang Aina buat ini itu, bisa bisa nanti Aina malah jadi cemburu berlebihan."


"Haifa juga tau mas cuma menjaga. Tapi mas gak perlu segitunya. Jangan membuat Aina merasa tertekan karena dia mau punya adek. Biar aja dia seperti biasanya."


"Mas gak banyak larang sayang. Mas cuma minta kalau Aina jangan terlalu minta di gendong kamu. Jangan terlalu sering ajak kamu main yang buat kamu capek. Mas cuma minta Aina bisa faham kalau sekarang kamu itu bukan cuma harus jaga dan priotitaskan Aina."


"Justru itu, larangan mas itu berat buat anak seusia Aina. Anak seusia Aina pekerjaannya apa sih selain main? Gak ada kan? Anak seusia Aina itu justru banyak belajar hal baru dari permainan. Dan sekarang Aina di rumah selain sama Haifa dia main sama siapa? Mas percaya aja sama Haifa ya, Haifa juga gak akan maksain kalau Haifa masih sanggup ya Haifa jalanin kalau Haifa gak sanggup Haifa bisa usahain kasih penjelasan ke Aina."


"Jadi tolong mas gak usah banyak aturan ini itu sama Aina. Kita buat Aina happy aja mau punya adik. Jangan bebani dia buat mengerti yang belum seharusnya menjadi beban pikiran dia."


Alvin melirik Haifa sekilas.


"Makasih ya sayang. Walaupun sekarang kamu lagi mengandung anak kandung kamu sendiri. Tapi kamu tetap mau peduli dan perhatian sama Aina." kata Alvin sambil menggenggam tangan Haifa.


"Mas tahu yang paling Haifa takut sebelum Haifa mengiyakan ajakan mas untuk menikah?"


Alvin menggeleng.


"Haifa takut kalau nantinya Haifa gak bisa jadi ibu yang baik buat Aina dan buat anak anak kita nantinya. Haifa takut kalau suatu saat tanpa Haifa sadari Haifa berbeda perlakuan kepada Aina dan adik adiknya nanti. Mama, teteh selalu wanti wanti masalah itu sama Haifa. Karena perkara menjadi ibu itu bukan hal yang mudah dipelajari dalam waktu sehari dua hari. Menjadi ibu itu belajarnya seumur hidup karena setiap kali anak kita tumbuh dan berkembang pasti berbeda juga cara yang harus kita gunakan buat menghadapi mereka."


"Haifa mau mas bantu Haifa biar apa yang Haifa takut tidak benar terjadi. Mas ingatkan Haifa kalau suatu saat mas lihat hal yang tidak baik dari Haifa. Mas jangan paksakan Aina buat mengerti Haifa. Biar saja dia tumbuh sesuai usianya. Kalaupun dia mau manja sama mas atau sama Haifa wajar kan? Jadi biarkan aja yaa gak usah buat Aina jadi merasa tertekan."


"Kenapa Haifa bilang begini? Karena Haifa tau keseharian Aina. Semenjak mas larang Aina buat minta gendong sama Haifa, semenjak mas larang Aina buat banyak main sama Haifa. Aina jadi banyak diam mas. Dia jadi banyak sendiri buat sekedar minta tolong temani dia tidur pun Aina jadi sungkan. Kalau begini mas jadinya malah jauhkan Aina dari Haifa."


"Maaf sayang maksud mas gak begitu."


"Iya Haifa ngerti tapi Haifa rasa mas berlebihan."


"Maafkan mas ya."


"Bukan sama Haifa tapi sama Aina."


"Iya nanti mas coba bicara sama Aina."


"Ingat bicaranya pelan pelan."


"Iya sayang. Makasih banyak yaa. Udah ingatkan mas. Ternyata mas udah terlalu keras sama Aina."


"Maafkan Haifa juga bukan maksud mau menggurui mas. Tapi Haifa gak mau Aina merasa kehilangan yang biasa ia dapatkan semenjak dia tahu mau punya adik."


"Aku bersyukur dan gak merasa salah memilih kamu jadi istri dan ibu buat aku dan anak anaku."


***


**To be continued...


See you next part**...

__ADS_1


__ADS_2