Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 91


__ADS_3

Happy Reading...


"Mas," panggil Haifa yang sudah duduk di samping Alvin yang sedang bermain game.


"Hm."


"Tadi siang ada yang antar undangan ke rumah."


"Undangan apa? Reunian bukan?" tanya Alvin.


"Mas udah tahu?"


"Iya, tadi ada yang kasih kabar lewat pesan juga."


"Oh."


"Mas mau datang?" tanya Haifa setelah beberapa saat diam.


"Boleh?"


"Terserah."


"Yaudah berarti gak usah."


"Haifa kan enggak bilang jangan."


Alvin meletakan handphonenya di atas meja. "Kamu jawab terserah aja Mas udah tahu kalau kamu keberatan."


"Boleh kok kalau Mas mau. Karena Mas pasti udah lama juga kan gak ketemu sama teman-teman Mas?"


"Nanti deh dipikirkan lagi."


"Sini deh Yang," kata Alvin memberikan gesture agar Haifa lebih mendekat. Alvin menarik Haifa kedekapannya.


"Udah lama ya gak begini," kata Alvin sambil menciumi rambut Haifa. Haifa membalas mengeratkan pelukan pada Alvin.


"Sekarang Papanya susah banget loh kalau mau dua-duaan sama Bundanya. Selalu aja diganggu sama anak shaleh dan shalehah."


"Apalagi semenjak ada Aidan, si Kakak juga jadi pengen tidur bareng-bareng terus," kata Alvin.


"Lagi cemburu sama anak-anak?" tanya Haifa sambil mendongak menatap Alvin.


"Sempat."


"Serius?"


"Menurut kamu kenapa sampe Mas ambil keputusan biar Bude kerja tiap hari?"


"Kok bahas itu lagi. Kan udah lama, kita juga udah baikan dari seminggu yang lalu," kata Haifa.


"Iya, tapi kamu harus tahu juga. Salah satu alasannya adalah karena Mas jadi gak punya banyak waktu buat berdua sama kamu Yang."


"Maksudnya?"


"Kok kamu jadi bolot sih."


"Kok mas jahat sih ngatain istrinya bolot."


"Jahat mana sama kamu Yang sedikit waktu buat Mas."


"Tiap malam kan Haifa selalu ada waktu buat ngobrol sama Mas."


"Ngobrol tapi berasa Mas lagi dongeng pengantar tidur. Karena pasti obrolan belum selesai kamu udah ketiduran."


"Maaf."


"Itu karena kamu capek Yang. Terlalu capek."


"Tapi itu kan emang tugas Haifa."


"Bukan cuma tugas kamu sayang. Sebagai suami Mas juga harusnya bisa membantu supaya kamu enggak capek sendirian."


"Mas juga capek kerja."


"Karena itu, mankanya pas pulang ke rumah itu Mas maunya quality time sama kamu."


"Maaf yaa."


"Enggak perlu minta maaf sayang. Cuma mas minta, kamu enggak perlu merasa sebagai istri kamu harus bisa semuanya."


"Kamu ada mau sesuatu enggak Yang?'


"Hm Mas kenapa sih?"


"Enggak apa apa, Mas cuma mau tahu aja. Kamu saat ini lagi ingin sesuatu enggak."


"Enggak ada yang pengen pengen banget sih kenapa emang?"

__ADS_1


"Kalau liburan akhir tahun, mau gak?"


"Serius?" tanya Haifa antusias.


"Mau enggak?"


"Mau."


"Yaudah siap-siap ya. Kita berangkat sabtu besok."


"HAH!"


"Yang berisik udah malam."


"Iya maaf. Kok dadakan sih."


"Enggak dadakan. Mas udah siap siap dari sekitar seminggu yang lalu."


"Kok enggak bilang?"


"Sengaja."


"Ih."


"Kenapa enggak senang?"


"Senang banget malah. Tapi enggak sukanya karena dadakan."


"Masih ada dua hari Yang. Cukup buat packing. Lagipula masih di dalam negeri enggak perlu bawa yang macem-macem."


"Emang kemana?"


"Kita ke Jogja dulu sama Bang Arvan, sama Vina juga. Jenguk Tante katanya sakit. Terus setelah itu baru kita jalan."


"Bareng-bareng juga?"


"Enggak. Bang Arvan mah cuma 2 hari terus pulang. Karena emang gak libur dari rumah sakitnya. Kalau Adam sama Vina mah mau liburan di Jogja aja."


"Yah padahal seru pasti kalau bareng-bareng."


"Maunya juga gitu."


"Terus kita perginya kemana?"


"Rahasia."


"Oh iya dong. Lihat aja nanti ya."


"Ih sebal."


"Sebal sebal. Gak mau bilang terimakasih sama suaminya?"


"Hehe terimakasih Mas suami," kata Haifa kemudian mencium pipi Alvin dan memeluknya erat.


"Cuma gitu aja?" protes Alvin.


"Yaudah sini," Haifa membingkai wajah Alvin dengan tangannya. Kemudian menciumi wajah Alvin.


"Enggak cukup Yang," protes Alvin lagi.


"Terus maunya gimana?"


Alvin berbisik-bisik di telinga Haifa.


"Mas anak-anak udah tidur. Tidurnya juga di kamar kita. Kalau mereka kebangun gimana?"


Alvin tidak menjawab, ia malah menyelipkan tanyannya di lipatan bawah lutut dan di punggung Haifa kemudian menganggkatnya.


"Aaa Mas nanti anak-anak bangun."


"Di rumah kita enggak cuma ada satu kamar sayang," kata Alvin sambil membawa Haifa ke lantai atas.


"Mas tapi Haifa..."


"Kamu mau dilaknat malaikat sampai pagi?"


"Ih," Haifa yang sebal langsung memukul pelan tangan Alvin.


"Diam Yang. Kamu berat sekarang, kalau kita jatuh di sini malah gak lucu jadinya."


"Yaudah turunin kalau berat."


"Enggak jadi berat, kamu enteng kok. Lebih enteng dari Aina beneran deh," kata Alvin dan membawa Haifa masuk ke kamar yang lain.


*


Pukul 04.30 Alvin dan Haifa masih nyaman bergelung di balik selimut. Mereka sudah terbangun dari 30 menit yang lalu tapi masih terlalu malas untuk beranjak.

__ADS_1


"Jam berapa?" tanya Alvin.


"04.30."


"Bangun sana siap siap ke masjid," kata Haifa.


"Telat Yang. Masih betah begini," kata Alvin sambil memeluk erat tubuh Haifa.


"Mas kalau sabtu kita pergi, berarti Mas enggak bakal datang ke acara reuni dong?"


"Iya enggak apa apa."


"Kadang malas juga datang ke acara begitu. Bahasannya itu enggak jauh-jauh dari bahas masalalu," lanjut Alvin.


"Ya enggak apa apa dong. Nostalgia."


"Iya kalau yang baik-baik. Tapi kadang yang sering diingat dan diceritakan lagi itu yang buruk-buruk," jawab Alvin.


"Seperti kenakalan, terus kisah percintaan semasa sekolah gitu ya?" tanya Haifa.


"Ya kurang lebih," jawab Alvin.


"Padahal tadinya kalau mas mau datang, Haifa pengen ikut. Haifa pengen tahu cerita masa sekolahnya Mas. Terus pengen tahu juga Mas itu pernah enggak, suka sama perempuan. Dan siapa tahu kan perempuan yang Mas pernah suka itu datang."


"Enggak usah cari perkara deh Yang. Kamu itu nanti, nyalain api sendiri tapi kamu sendiri yang terbakar. Kamu yang pengen tahu, tapi nanti setelah tahu kamu sendiri yang kesel. Dan ujung-ujungnya Mas yang diambekin."


"Ih enggak gitu," elak Haifa.


"Masa?"


"Iya lah."


"Mas serius deh. Masa masa sekolah dulu Mas pacaran enggak?"


"Enggak."


"Tapi pernah suka sama orang?"


"Yang ah basasannya," protes Alvin.


"Haifa cuma pengen tahu Mas. Pernah enggak? Jawab aja, enggak akan kesel kok janji."


"Pernah."


"Serius pernah?"


"Mas juga laki-laki normal Yang. Walaupun gak mau pacaran ya suka-suka mah pasti pernah. Apalagi mas sekolahnya di umum."


"Mbak Novia bukan yang Mas suka?"


"Bukanlah. Mas sama Novia itu enggak kenal dari dari masa sekolah."


"Terus siapa?"


"Udah dong Yang. Ini dari bahas reuni kok jadi kayak mengulik masalalu begini sih."


"Haifa pengen tahu mas."


"Tapi kalau ceritanya dilanjut dan gak sesuai ekspektasi kamu, kamu kesel terus ngambek sama Mas. Mas gak suka Sayang."


Haifa diam. Alvin yang merasakan Haifa menjadi diam langsung mengelus kepala Istrinya.


"Sekarang mending ayo bangun. Bersih-bersih. Kamu di kamar kita. Mas di kamar ini. Terus kita shalat subuh jama'ah."


"Mas maaf Haifa enggak maksud begitu."


"Jangan diulang ya. Masalalu yang udah terkubur enggak perlu digali lagi. Ke depan lebih indah kok. Ngapain harus bahas yang lalu lalu."


"Maaf mas."


"Dimaafkan. Udah enggak usah sedih gitu, Mas enggak marah kok."


"Ayo bangun," ajak Alvin.


"Bener enggak marah?"


"Enggak sayang."


"Yaudah cium dulu sini kalau gak marah."


"Jangan Yang malu sama readers."


...****************...


To be continued...


See you next part...

__ADS_1


__ADS_2