Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 93


__ADS_3

Happy Reading...


Hari rabu pukul 05.00 mereka sudah berangkat dari rumah menuju ke rumah keluarga Alvin karena mereka akan berangkat bersama dari sana.


Aina agak rewel karena biasanya selepas subuh akan kembali tidur. Hari ini bahkan sebelum shalat subuh Aina sudah dibangunkan dan dimandikan.


Begitu juga dengan Aidan bocah kecil berusia 1,5 tahun itu sempat rewel ketika pagi buta sudah dibangunkan dan dimandikan.


Alvin, Arvan dan Adam memang sengaja pergi melalui jalan darat dan menggunakan kendaraan masing-masing karena setelah menemui keluarga yang di Jogja, mereka punya kegiatan sendiri-sendiri. Dalam pikiran mereka, kan enak kalau bawa mobil sendiri mau jalan kemanapun bebas.


"Aidan bobo?" tanya Alvin dari bangku depan di samping kemudi.


"Iya."


"Yaudah sini Aidan sama Papa," kata Alvin karena sejak tadi ia melihat Aina rewel dan selalu merengek ingin tidur dipangku Haifa.


"Mau bobo," rengek Aina sambil mengucek mata yang berair karena menangis ketika berebut Haifa dengan Aidan.


"Ututu sayang Bunda. Sini bobo, pakai dulu jaketnya ya?" kata Haifa.


"Enggak mau pake ini," kata Aina sambil merebut jaketnya dari Haifa lalu meletakannya asal.


"Yaudah enggak. Sini bobo," kata Haifa sambil menyamankan posisi Aina di pangkuannya.


"Baca do'a dulu," kata Haifa sambil mengelus kepala Aina dan membimbingnya mengucap do'a mau tidur.


"Udah sekarang bobo lagi, jangan nangis. Bunda peluk biar hangat," kata Haifa kemudian mengeratkan peluk pada tubuh kecil Aina.


Ketika sampai di rumah keluarga, ternyata keluarga Arvan dan Adam sudah siap hanya menunggu keluarga Alvin saja.


"Udah siap?" tanya Alvin yang baru keluar mobil sambil menggendong Aidan.


"Udah tinggal nunggu kamu," jawab Arvan.


"Haifa mana?" tanya Vina.


"Di mobil. Aina tidur dan dari tadi lagi rewel."


"Ayolah langsung aja biar cepat berakhir perjalanan panjang kita," kata Adam.


"Bismillah ya kita perjalanan jauh bawa anak-anak," kata Vina.


"Ya rewel dikit-dikit mah wajar orang dewasa aja kadang bosan kalau lama. Apalagi anak-anak," jawab Arvan.


Perjalan Bandung-Yogyakarta melalui perjalanan darat, jika jalanan normal maka akan memakan waktu kurang lebih delapan jam.


"Masih lama enggak?" tidak tahu sudah berapa kali Aina bertanya pertanyaan tersebut.


Sudah empat jam perjalanan, tapi mereka belum juga sampai setengah perjalanan. Karena tadi kendaraan mereka tersedat oleh macet total yang di sebabkan oleh kecelakaan mobil.

__ADS_1


"Bunda kakak mau susu," katanya.


"Mau yang coklat atau yang stroberi?" tanya Haifa sambil membuka tas yang berisi camilan anak-anak.


"Mau lasa pisang."


"Yang pisang tinggal satu. Kalau kakak minum sekarang berarti nanti enggak boleh minta yang rasa pisang lagi ya?" Aina mengangguk, lalu menerima susu kotak rasa pisang dari tangan Haifa.


"Bunda, kok lama sih enggak sampai-sampai?" tanya Aina.


"Iya lama kan jauh. Kemarin kan kakak udah lihat di peta kalau mau ke rumah Nenek Jogja harus lewat kota-kota lain dulu."


"Jauhnya segini," kata Aina mengukur jarak menggunakan jempol dan telunjuk.


"Di buku jalaknya segini tapi kok lama. Kan kalau segini kan Kakak lompat juga cepat," katanya.


"Jarak di buku sama jarak yang sebenarnya, itu beda kak. Kalau di buku cuma segini kalau di dunia nyata bisa segini," kata Alvin sambil mempraktikannya menggunakan tangan.


"Huh Kakak capek tahu mau jajan,"


"Kan ini bunda udah bawain jajanan buat Kakak banyak," kata Haifa sambil menunjuk tas.


"Kakak mau jajan mamang cilok lewat di depan lumah," katanya.


"Nanti di sana juga ada yang jualan cilok Kak," jawab Alvin.


"Mamang cilok ikut lumah Nenek Jogja?" tanya Aina.


"Kakak mau jajan banyak-banyak," katanya sambil merentangkan tangannya.


"Iya nanti boleh jajan sesuka Kakak. Tqpi sekarang Kakaknya harus pintar ya. Bobo aja lagi," kata Alvin.


"Kakak capek tahu dali tadi bobo telus."


Pukul 15.30 mereka baru sampai di Kota yang memiliki julukan kota pelajar.


"Alhamdulillah anak cucuku udah pada datang," ucap Rena tantenya Alvin. Rena ini adik dari Ibu Aliya Ibunya Alvin. Hingga saat ini Rena belum juga diberikan amanah yang berupa buah hati, makanya Rena itu sudah menganggap anak-anak Bu Aliya juga seperti anaknya. Begitu juga dengan cucu-cucunya.


"Ayo masuk," ajak Rena.


"Itu Aina tidur?" tanya Ayah Firman ketika melihat Aina digendong Haifa dan wajahnya bersembunyi di bahu Haifa.


"Masih ngantuk Yah. Capek perjalanan jauh," jawab Alvin.


"Kamu itu Vin, Aina udah besar udah berat malah digendong Haifa dan kamu malah gendong Aidan," omel Ibu Aliya.


"Bukan gitu Bu. Aina lagi super pintar, jadi enggak mau lepas dari Bundanya. Daritadi juga rebutan Bundanya terus," jawab Alvin.


"Sana Haifa ke kamar aja. Kasihan itu Ainanya. Tadi Fika sama Fikri juga tidur di kamar," kata Rena.

__ADS_1


"Ayo Kakak sama Nenek yuk bobo di kamar," kata Bu Aliya hendak mengambil Aina dari Haifa.


"Aaaa sama Bunda aja," rengeknya.


"Sama Nenek yuk,"


"Enggak," jawab Aina sambil memeluk leher Haifa.


"Sana Haifa nawa ke kamar, kasihan enggak enak tidur dipangku begitu," kata Rena.


Malamnya ternyata keluarga di Jogja sudah menyiapkan bahan makanan untuk bakar-bakar.


"Kenapa?" tanya Haifa ketika melihat Alvin sedang duduk di teras samping sambil memijat tengkuknya sendiri.


"Pegal dikit. Anak anak mana?" tanya Alvin.


"Sama Tante Rena. Haifa ambilin obat ya, mumpung belum mulai acaranya."


"Jangan obat. Pijat aja sebentar."


"Di sini?"


"Iya, kalau ke kamar dulu lama. Ini sebentar lagi juga mau mulai bakar bakar di sana," kata Alvin.


"Mas nya hadap sana," kata Haifa mulai memijat pundak Alvin.


"Pake jaket ya?" tawar Haifa.


"Enggak enak Yang masa mau bakar-bakar pake jaket. Mandi keringat yang ada."


"Kemarin Haifa udah bilang, kita mau perjalanan jauh jangan begadang. Malah begadang terus. Push rank, push rank lama lama Haifa hapus juga itu game dari handphone mas," omel Haifa.


"Enggak begadang Yang. Mas tidur jam 01.00."


"Jangan bohong, Haifa tahu mas belum tidur semalaman."


"Iya iya maaf Yang. Abis diajak mabar, sayang kalau enggak di iyain."


"Terus sekarang efeknya begini. Tadi juga sepanjang perjalanan Mas minum kopi terus. Enggak bisa dilarang. Udah tahu enggak bisa minum kopi banyak," omel Haifa.


"Iya kan biar enggak ngantuk enggak enak sama Pak Indra Yang, masa iya ditinggal tidur."


"Salah sendiri begadang."


"Iya udah maaf. Malam ini beres makan langsung tidur deh. Pijatnya pake cinta Yang jangan pake ngomel nanti enggak ngefek."


"Nih pake cinta nih," kata Haifa memijat pundak Alvin sekuat tenaga.


...****************...

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2