
Happy Reading...
Pukul 22.00 waktu Swedia. Novia dan Brian sudah berada di atas tempat tidur bersama Aina tidur ditengah mereka serta baby yang tidur di dalam box di samping Novia. Mungkin hal seperti ini yang membuat abang tirinya Aina jadi sulit menerima Aina dan kesal dengan keberadaan Aina.
Novia mengusap sambil memandangi wajah Aina.
"Dia dari kemarin murung terus mas kenapa ya? Apa dia udah mulai bosan di sini?" kata Novia pada sang suami sambil matanya menatap Aina yang sedang nyaman dalam tidurnya.
"Yang. Maaf ya."
"Maaf? Kenapa?" tanya Novia.
"Hm. Begini kayaknya mas tau kenapa Aina jadi murung begini."
"Kenapa? Aku ada yang salah ya dalam memperlakukan Aina?"
"No. Bukan kamu. Tapi Beryl, maaf ya."
"Beryl kenapa? Iya memang mereka sulit akrab tapi aku gak melihat yang aneh."
"Kemarin mas di ruang kerja gak sengaja denger baby nangis. Terus mas hampiri. Gak sengaja mas dengar Beryl bentak Aina. Mas gak tau apa saja yang sudah Beryl katakan yang mas dengar cuma kata jangan buat nangis adiku. Iya memang Beryl menyampaikan dengan nada tinggi dan marahnya. Tapi mas yakin kalau Aina sampai begini pasti bukan cuma itu yang Aina dengar."
Novia diam, ia tidak bisa berbuat apa apa. Brian bisa menerima Aina dengan baik, bukankah timbal baliknya Novia juga harus bisa menerima Beryl dengan baik. Karakter Beryl memang anak yang keras dan tempramen.
"aku kok bisa sampe gak perhatikan ya mas."
"Besok kita bawa Aina jalan jalan aja. Baby biar titip sama mama dulu. Aina juga kan gak lama lagi sama kita kali aja dia mau beli mainan atau oleh oleh gitu. Biar Aina gak murung lagi juga."
"Iya ya gak terasa sebentar lagi dia di sini dan aku gak tau kapan lagi bisa ketemu dia. Apalagi kalau Alvin tahu Aina murung begini pasti aku susah buat dapat kepercayaan Alvin lagi."
"Yang maaf ya. Nanti mas bilang deh sama Beryl."
"Gak usah mas. Beryl itu anaknya keras semakin diberitahu semakin jadi harusnya dia yang sadar sendiri. Ini juga mungkin salah kita. Semenjak ada Aina kita terlalu berusaha buat Aina nyaman di sini sampai Beryl merasa kita terlalu fokus sama Aina."
"Yaudah tidur yuk. Dua jam lagi kamu harus bangun kan buat kasih baby ASI."
Novia mengangguk. Ia memejamkan mata sambil memeluk Aina. Seorang ibu tetaplah ibu yang tidak akan pernah terima anaknya dibenetak orang lain. Begitu juga Novia tapi bagaimana lagi yang membentak Aina juga putranya.
***
Setelah kemarin sempat tak enak badan dan masih memaksakan bekerja, hari ini Alvin tumbang juga. Saat bangun tidur tadi badannya menggigil tapi suhu tubuhnya panas.
"Nih mas minum dulu obatnya." kata Haifa sambil menyerahkan dua butir obat yang tadi pagi diberikan oleh Arvan.
"Kalau mas tetap mau sabtu besok kita pergi ke Swedia. Haifa mau tiga hari ini mas istirahat di rumah."
Alvin hanya mengangguk.
"Tapi kalau mas masih begini kita batalkan aja ya."
"Enggak sayang!" tegas Alvin.
"Yaudah mas harus sehat kalau gitu."
"Mas istirahat ya. Haifa ke bawah dulu mau buat makan siang mas."
"Sayang." panggil Alvin.
"Iya."
"Mas kok kepikiran waktu semalam kita skype sama Aina ya?"
"Orang mas cuma ngobrol sebentar sama Aina."
"Justru itu kenapa semalam mas tinggal dan gak minat lanjutin obrolan sama Aina. Karena mas lihat tadi malam itu dia gak seceria biasanya."
Haifa diam sejujurnya Haifa tahu karena semalam Aina cerita jika dirinya sempat dimarahi oleh abangnya.
"Udah ah mas istirahat biar cepet sembuh dan sabtu nanti kita bisa tetep berangkat jemput Aina." kata Haifa.
"Apa kita percepat aja ya? Mas kok jadi gak enak."
__ADS_1
"Mas udah ya istirahat jangan dipikirkan terus. Nanti yang ada bukan bisa cepat ketemu Aina. Tapi malah gak jadi berangkat karena mas sakit. Tidur ya." kata Haifa sambil mengusap pipi Alvin.
"Iya. Kamu juga jangan capek capek sayang."
"Iya Haifa cuma mau jemur pakaian terus masak. Abis itu nyicil packing."
Haifa sedang berada di meja makan duduk sendiri sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit menonjol.
"Dede nanti kalau udah bisa lihat dunia harus rukun rukun ya sama kakak Aina. Harus saling menjaga." kata Haifa sambil mengelus perutnya.
Tidak lama dalam posisi itu Haifa langsung bangkit dan melanjutkan memasak makan siang untuk Alvin.
Pukul 13.00 sudah waktunya Alvin dibangunkan untuk shalat, makan dan minum obat.
Sebelum membangunkan Alvin, Haifa lebih dulu mengecek suhu tubuh Alvin.
"Alhamdulillah udah turun." ucapnya saat melihat angka di termometer menunjukan 36,7.
"Mas... Bangun yuk shalat, makan, terus minum obat."
Alvin yang tidak begitu nyenyak tertidur langsung terbangun.
"Masih pusing?" tanya Haifa sambil membantu Alvin duduk.
"Sedikit."
"Kita shalat dulu ya. Nanti makan."
Alvin mengangguk sambil beranjak ke kamar mandi. Sementara itu Haifa sedang menyiapkan alat shalat.
***
Dan di belahan bumi yang lain. Aina sedang makan sereal sambil menonton tayangan anak anak di televisi.
Pagi pagi mama akan sibuk dengan baby dan daddy sibuk bersiap siap pergi bekerja. Jadilah ya Aina sendiri.
"KAMU KENAPA MAKAN SEREALKU?" bentak Beryl saat melihat Aina sedang memakan sereal kesukaannya.
"BERYL!" tegur Brian.
"Dia makan sereal aku dad."
"Itu mama yang buatkan untuk Aina. Kamu ini udah besar harusnya bisa berbagi." tegur Brian.
"Tapi kalau setiap hari dia makan juga lama lama serealku cepat habis juga." katanya membela diri.
"Dad bisa belikan lagi yang lebih banyak!"
"Ada apa sih?" tanya Novia yang baru turun dari lantai 2 rumah mereka.
"Loh Aina kok nangis?" tanya Novia.
"Kamu bawa Aina ke kamar aja. Biar mas urus anak nakal ini."
Novia menurut ia langsung menggandeng Aina ke kamar.
"Dad aku gak nakal!"
"Kamu bilang gak nakal? Hanya karena Aina makan sereal kesukaanmu itu kamu bentak dia?"
"Daddy juga tahu kalau kemarin kamu juga bentak dia kan?"
"Kemarin dia buat baby Ze nangis dad."
"Tapi apa baik kamu membentak Aina? Dia juga adik kamu Beryl."
Anak lelaki itu hanya diam.
"Sekarang cepat sarapan dan kita pergi ke sekolah." perintah Brian.
Dan di kamar Novia sedang berusaha menenangkan Aina yang sedang menangis sambil memanggil manggil Papa.
__ADS_1
"Sayang udah dong. Maaf ya mama gak bisa jaga Aina." kata Novia yang hampir menangis terbawa suasana.
"Udah ya nangisnya kita main aja yuk sama baby." ajak Novia.
Aina menggeleng.
"Kalau gitu kita jalan jalan yuk kita beli mainan."
Aina menggeleng.
"Papa." hanya satu nama itu yang terus terucap dari bibirnya.
Novia membawa Aina kepelukannya dan memeluknya dengan erat sambil mengelus punggung Aina. Novia tidak tahu apa yang terjadi tapi sebagai ibu ia juga ikut sakit melihat putrinya seperti ini.
"Aina jangan nangis dong sayang. Mama jadi sedih. Aina mau apa? Bilang sama mama, mama pasti ikuti maunya Aina."
Aina masih terisak sambil terus menyebutkan kata papa.
"Iya nanti ya. Nanti mama antar Aina ke Papa. Tapi Aina jangan nangis lagi."
***
Pagi ini sesuai waktu yang tertera di tiket pesawat. Mereka akan pergi ke Swedia.
Setelah menempuh hampir 22 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di hotel.
Alvin yang belum betul betul sehat langsung merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Pusing?" kata Haifa sambil menghampiri Alvin.
"Sedikit."
"Minum obat ya."
Alvin hanya mengangguk.
"Mas udah ksih kabar sama mbak Novia kalau kita jemput Aina ke sini?" tanya Haifa sambil mengambil gelas air dari tangan Alvin.
"Belum. Besok kita langsung ke alamatnya aja. Biar kejutan buat Aina."
"Yaudah kalau begitu tidur deh." kata Haifa.
"Sini kamu tidur juga pasti cape kan?"
Mereka memilih istirahat terlebih dahulu dan rencananya baru besok akan menemui Aina.
Pukul 09.00 waktu di wilayah setempat. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke alamat rumah Novia.
"Assalamualaikum." ucap Alvin dan Haifa saat Brian membukakan pintu.
"Wa'alaikumussalam." jawab Brian.
"Loh kalian masuk masuk." Brian mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
"Kok gak kasih kabar mau kesini?"
"Iya biar kejutan aja buat Aina." jawab Alvin.
"Oh iya sebentar saya panggilkan Aina dan Novia dulu." kata Brian kemudian berjalan meninggalkan mereka.
"Siapa?" tanya Novia saat Brian menghampiri dirinya yang sedang bermain dengan Aina.
"Kedepan aja dulu yuk. Aina juga ikut yuk."
Mereka berjalan beriringan ke arah ruang tamu.
"Tuh lihat siapa yang datang?" kata Brian pada Aina.
***
***To be continued...
__ADS_1
See you next time***...