
...Happy Reading......
Sekitar pukul satu siang, anak-anak mereka sudah diambil oleh Keanu. Hanya tersisa mereka berdua di dalam kamar.
"Yang," panggil Alvin lalu mendudukan diri di samping Haifa.
"Kenapa?" jawab Haifa yang fokus pada handphone nya.
"Mas mau bicara,"
"Bicara aja,"
"Mas mau bicara serius."
Haifa mengalihkan fokusnya pada Alvin.
"Obrolannya bikin happy atau bikin sedih?"
"Apapun itu, kamu harus dengar Yang."
"Kalau sedih, Haifa enggak mau," tolak Haifa.
Selama ini, Haifa tidak bertanya mengenai kondisinya bukan berarti Haifa tidak memikirkan. Haifa tahu, ketika ia sakit, masuk rumah sakit, rawat inap sampai harus dioperasi itu artinya ada yang tidak beres dengan dirinya. Hanya, Haifa mencoba menutupi keingintahuannya. Lebih baik tidak tahu.
"Yang, dengar ya."
"Please mas, kalau menyedihkan Haifa enggak mau."
"Mas, mau membahas tentang kondisi aku beberapa bulan lalu kan?" tebak Haifa.
Alvin menatap lekat mata Haifa.
"Yang," bujuk Alvin.
"Fine, apa yang Mas mau bicarakan?"
"Mas mau bilang kalau aku sakit parah?"
"Dengar Mas dulu bisa? Enggak usah asal nebak-nebak dulu bisa?" kata Alvin dengan nada yang cukup keras.
Haifa langsung diam.
"Semua orang enggak ada yang mau berada dalam posisi ini."
"Sekalipun sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Tapi Mas enggak mungkin selamanya enggak kasih tahu hal ini ke kamu Yang."
"Enggak akan ada hal yang berbeda setelah kamu tahu semuanya."
"Seburuk apapun yang bakal kamu dengar, kehidupan kita enggak akan berubah."
Alvin menggenggam tangan Haifa.
"Iya kamu benar, Mas mau bicara sesuatu mengenai kondisi kamu beberapa waktu lalu."
"Jadi beneran Haifa sakit parah?"
Alvin tersenyum lalu mencium punggung tangan Haifa.
"Kenapa senyum? Mas senang Haifa sakit?"
"Yang dengar dulu."
"Kamu enggak sakit. Kamu baik-baik aja. Kamu sehat."
"Mas kira Haifa enggak mikir, dari awal Haifa sakit, dirawat terus harus dioperasi, semua proses itu menunjukkan kalau aku ini enggak sehat Mas. Aku tahu, aku cuma belum siap dan mungkin enggak akan pernah siap mendengar kebenarannya."
"Yang, Mas tegasin lagi nih kamu enggak sakit. Semua proses yang kemarin kita lalui itu bukan karena kamu mengidap suatu penyakit."
"Terus apa? Terus kenapa?"
"Dengar baik-baik ya. Jangan dipotong dulu suaminya lagi bicara."
"Kamu pasti ingat waktu kamu dinyatakan hamil anak ketiga," kata Alvin. Haifa menunduk, seperti ada rasa sakit tapi tidak ada luka yang terlihat.
"Kamu dinyatakan hamil, terus enggak lama kamu dinyatakan keguguran. Saat itu kita sama-sama sedih. Sama-sama merasa lalai."
Haifa masih menunduk dan matanya sudah berkaca-kaca.
"Sampai kita bisa sama-sama ikhlas. Tapi ternyata usaha kita untuk ikhlas belum cukup untuk kita menjadi manusia yang lebih kuat. Kehilangan calon anak kita kemarin belum cukup untuk membuat kita naik kelas."
"Kemarin waktu kamu sakit bukan cuma kamu yang sedih, bukan cuma kamu yang tersiksa dengan sakit yang kamu rasakan saat itu. Mas, anak-anak dan keluarga juga ikut sedih, enggak tega melihat kamu kesakitan seperti itu."
"Sampai Mas dapat kabar dari dokter bahwa ada sesuatu yang serius, yang harus segera diatasi karena jika tidak, akibatnya bisa fatal."
"Ujian kita belum berakhir, sampai dokter menjelaskan..." Alvin menjeda ucapannya, ia menarik napas dalam-dalam. Berat rasanya membuka kembali kajadian ini. Belum lagi Alvin harus siap dengan apapun respon yang Haifa berikan setelah tahu yang sebenarnya.
"Dokter bilang apa?" tanya Haifa. Matanya sudah berkaca-kaca.
Alvin tersenyum lalu mengusap kepala Haifa, "Dokter bilang, kalau ujian kita belum selesai. Janin yang sempat dinyatakan keguguran itu, ternyata belum gugur, ia tetap tumbuh. Tapi sayangnya dia tumbuh bukan di tempat yang seharusnya."
Alvin melihat Haifa sudah menangis dan sedang berusaha untuk menyeka air mata.
"Enggak usah ditahan Yang, lepasin aja. Kamu nangis sekalipun, kamu tetap jadi wanita yang kuat bagi aku," kata Alvin.
Alvin menarik napas dalam, "Jadi, sakit luar biasa yang kamu rasakan waktu itu, itu disebabkan karena janin yang tumbuh bukan pada tempatnya, sehingga merusak organ yang tidak seharusnya menjadi tempatnya."
"Dokter bilang, janinnya berkembang di tuba falopi, yang menyebabkan tuba falopinya robek. Sehingga ada luka dan perdarahan di dalam tubuh kamu. Itu yang menyebabkan kamu merasakan sakit yang luar biasa."
"Mas sebagai suami, yang enggak tega melihat kamu kesakitan seperti itu. Ingin dokter benar-benar melakukan tindakan yang terbaik untuk kamu. Sampai dokter bilang, kalau harus dilakukan tindakan operasi, operasi pengangkatan saluran tuba falopi kiri kamu."
__ADS_1
Alvin kembali menjeda ucapannya, berat sekali menceritakan hal ini. Apalagi sambil melihat Haifa yang terus berurai air mata. Sialnya saat ini Alvin tidak boleh menangis, ia harus kuat untuk Haifa.
"Jadi hari itu Mas sebagai suami, diminta persetujuan oleh tim dokter untuk dilakukan tindakan operasi pengangkatan saluran tuba falopi tersebut. Dokter juga menjelaskan segala macam konsekuensinya. Bukan hal mudah buat Mas untuk membubuhkan tanda tangan dilembar persetujuan tersebut. Sampai dokter kembali menjelaskan, tindakan operasi memang beresiko. Tapi akan lebih beresiko lagi ketika pasien tidak mendapatkan penanganan."
"Akhirnya Mas diskusi sama kedua orangtua kita dan mereka juga sama-sama ingin yang terbaik untuk kamu. Barulah Mas benar-benar yakin untuk membubuhkan tanda tangan di lembar persetujuan itu."
"Sampai operasi selesai dilakukan dan kondisi kamu berangsur membaik, Mas mulai tenang. Mulai bisa kembali merasakan kehidupan. Apalagi saat ini ketika kamu sudah benar-benar sembuh."
"Jadi sekarang aku sudah bukan lagi wanita yang seutuhnya?" tanya Haifa sambil berurai air mata."
Haifa tidak bodoh. Tanpa dijelaskan lebih detail, Haifa tahu jika resiko dari pengangkatan saluran tuba fallopi sendiri ialah memperkecil kemungkinan untuk bisa hamil. Karena fungsi tuba fallopi sendiri adalah sebagai tempat bertemunya sel telur dengan sel ******.
"Enggak Yang. Justru setelah kejadian itu, Mas malah semakin sayang dan bangga sama kamu. Kamu adalah definisi wanita kuat yang sesungguhnya versi Mas."
"Jangan bohong, Mas bicara begitu cuma sebatas mau membesarkan hati Haifa aja kan? Mas bilang begini biar Haifa enggak sedih."
"Yang, apapun resikonya kehidupan kita enggak berubah. Hidup kita terus maju."
"Tapi aku ini enggak bisa punya anak lagi Mas, aku bukan lagi wanita yang sempurna."
"Enggak sempurna sebelah mananya? Sebagai wanita kamu sudah menjadi seorang istri, kamu juga sudah menjadi seorang ibu. Terus letak ketidak sempurnaannya sebelah mana?"
"Bagian yang kamu merasa enggak bisa mengandung lagi? Yang, kita bukan pasangan yang sedang berjuang untuk mendapatkan anak. Anak itu amanah, datangnya dari Allah. Kita udah punya tiga orang anak. Kalaupun memang Allah enggak memberikan amanahnya lagi, yasudah. Tinggal kita fokus, menjaga, merewat, mendidik dan membesarkan yang sudah ada dengan sebaik-baiknya."
Haifa memeluk Alvin sangat erat, menangis sesenggukan.
"Kamu pasti tahu di luaran sana banyak pasangan yang berjuang mati-matian demi mendapatkan buah hati, anak. Tapi ketika Allah belum beri mereka amanah, ya manusia bisa berbuat apa lagi?" kata Alvin sambil mengusap punggung Haifa.
"Kenapa Allah kasih ujian ini sama aku?" kata Haifa dalam tangisnya.
"Yang, nangis boleh, marah boleh. Tapi jangan sampai kecewa dan menyalahkan Allah. Ketika Allah beri ujian setiap manusia pasti akan merasa ujian uang Allah beri itu berat, sangat berat. Bahkan tidak sedikit orang yang merasa dirinya tidak mampu. Tapi sebenarnya Allah yang paling tahu kalau siapapun yang diberikan ujian, berarti dialah yang mampu menanggungnya."
"Setiap masalah yang Allah beri, Allah juga sertakan jalan keluarnya. Begitu juga setiap ujian yang Allah beri, disertakan juga kemenangannya. Kita hanya perlu berserah, bersyukur dan nikmat prosesnya."
"Aku enggak bisa."
"Enggak mudah. Tapi kamu enggak menghadapinya sendirian Yang. Kita sama-sama, kita harus saling menguatkan. Hidup kita enggak cuma sampai di titik ini."
"Kalau kamu menyerah di titik ini, anak-anak kamu gimana? Suami kamu ini gimana? Keluarga yang lain gimana?"
"Masih banyak yang bisa kita syukuri daripada hanya sebatas berdiam diri menyalahkan takdir. Kalau kamu terus menyalahkan takdir, tandanya kamu enggak besyukur, padahal Allah kasih lebih banyak kesenangan. Tapi kamu malah terfokus pada satu kesedihan."
Haifa malah semakin menangis. Alvin diam, ia membiarkan Haifa menangis sepuasnya, membiarkan Haifa melepaskan kesedihannya.
Beberapa menit, hanya ada isak tangis Haifa. Alvin terus mengelus punggung Haifa.
"Mas," panggil Haifa sambil terisak.
"Hm,"
"Mas terima Haifa?"
"Haifa sekarangkan..."
Alvin tahu arah pembicaraannya.
"Enggak ada alasan buat Mas buat enggak terus sama kamu. Kamu enggak melakukan kesalahan apapun. Kamu istri yang baik, kamu ibu yang baik. Terus alasan aku enggak nerima kamu apa?"
"Mas enggak akan ninggalin Haifa?"
"Kamu berpikir terlalu jauh sayang."
"Jawab!"
"Enggak sayang."
"Walaupun rencana kita enggak terwujud."
"Rencana manusia itu ibarat proposal Yang. Ada yang disetujui ada yang tidak. Satu rencana kita enggak di acc bukan artinya kita harus membubarkan diri dari kehidupan kan? Banyak kok rencana kita yang Allah acc. Sisanya ya kita bisa susun rencana yang lain lagi."
"Udahan ya nangisnya. Hidup kita enggak berhenti di sini Yang," kata Alvin sambil mencoba melepaskan Haifa dari pelukannya.
"Jangan dilepas," kata Haifa sambil mengeratkan kembali pelukannya pada Alvin.
"Aku mau lihat wajah istrinya aku."
"Enggak mau."
"Kenapa? Pasti lagi cantik banget nih sekarang, hidungnya merah, terus pipinya juga..."
"Jangan becanda, enggak mau becanda," kata Haifa sambil menangis.
"Iya udah enggak, maaf ya."
"Nangis aja nangis sepuasnya. Tapi setelah itu jangan pernah menangisi lagi kejadian ini," kata Alvin sambil mengusap rambut Haifa.
Alvin membiarkan Haifa terus berada dalam pelukannya. Alvin sesekali mencium kepala istrinya.
"Ashar Yang," kata Alvin ketika mendengar suara adzan yang berkumandang.
"Udah ya. Wudhu, terus kita shalat ashar. Abis itu kita jalan-jalan deh. Sebelum anak-anak diantar pulang."
Berdo'a bersama setelah shalat ashar membuat Haifa kembali menangis. Mengikhlaskan dirinya keguguran saja waktu itu Haifa butuh waktu. Apalagi saat ini, Haifa harus ikhlas jika kemungkinan untuk memiliki keturunan lagi kecil.
"Kok nangis lagi?"
"Sini," kata Alvin membawa Haifa kepelukannya.
"Kuat sayang. Kita punya lebih banyak nikmat yang bisa kita syukuri daripada menangisi sesuatu yang tidak pernah bisa kembali."
__ADS_1
"Jangan tinggalin Haifa."
"Kalau ketakutan kamu itu. Mas janji, sebisa mungkin untuk selalu mempertahankan kamu dan rumahtangga kita dalam kondisi apapun."
"Udah ya. Kalau kamu nangis terus, mata kamu bengkak. Nanti kalau anak-anak lihat mereka ngiranya Papanya ini yang ngapa-ngapain bundanya."
"Mas bisa didiemin Aina, dimarahin Aidan dan dijauhin Aizar kalau sampai mereka ngira Ma yang apa-apain kamu."
"Jalan-jalan aja yuk. Kamu mau kemana? Mau ke mall, belanja? Beli tas, sepatu, baju? Mau makan? Hayu kulineran kemana? Mau tempat tempat sejuk yang menenangkan? Hayu," tawar Alvin.
"Enggak mau,"
"Kenapa?"
"Malu."
"Malu kenapa?"
"Mata Haifa pasti udah bengkak banget. Hidungnya juga udah merah banget."
"Hahaha."
"Tuhkan diketawain."
"Yaudah kita motoran aja yuk sambil cari makanan. Motoran kan enggak ketemu banyak orang. Terus pakai pakai masker dan helm jadi amankan, ketutup wajahnya."
***
Malam-malam anak-anak baru dipulangkan oleh Keanu.
"Gimana Vin? Ngamok enggak?" tanya Keanu ketika Haifa sedang di kamar bersama anak-anaknya.
"Ya denial sih Bang awalnya. Nangis terus, sampai bengkak gitu tadi mata sama hidungnya."
"Tapi ya dikasih penjelasan-penjelasan Alhamdulillah sih udah enggak nangis lagi. Walaupun yakin hatinya belum bisa kuat menerima sepenuhnya. Itu tugas aku buat terus menguatkan."
"Nitip Ya. Haifa itu anaknya overthing. Hal-hal yang belum tentu kejadian aja suka benar-benar dia pikirin."
"Iya Bang tenang aja. Itu Abang enggak perlu menitipkan. Karena menjaga istrinya itu emang tugas sebagai seorang suami."
"Yaudah. Kami pulang ya. Assalamualaikum."
"Iya. Hati-hati Bang, Kak. Wa'alaikumsalam."
Sementara di kamar.
"Bunda abis nangis ya?" tanya Aina.
"Papa nakal sama Bunda ya, Bunda bilang sama Aidan. Nanti Aidan pukulin Papa," kata Aidan sambil mempraktekannya dengan memukul guling.
"Enggak sayang. Tadi Bunda abis jalan-jalan pake motor sama Papa. Terus lupa enggak pake kacamata. Jadi kena debu mata Bunda."
"Beneran?"
"Iya. Udah sekarang Kakak sama Abang bersih bersih ya. Terus bobo."
"Iya Bunda."
Saat Alvin masuk ke kamar, Ia melihat anak-anaknya sudah tertidur di kamar Alvin dan Haifa.
Haifa juga tampak sedang mengusap sambil memandangi anak-anaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Yang, udah ah jangan nangis terus."
"Mas Haifa enggak bersyukur banget ya. Allah kasih sepuluh. Tapi Haifa malah kecewa karena Allah ambil nikmat nya satu."
"Jangan kecewa lagi ya. Menurut Mas, kamu itu wanita beruntung sayang. Kamu bisa menjadi istri. Bahkan kamu bisa menjadi ibu yang baik ketika kamu belum pernah melahirkan."
"Semua wanita, mungkin bisa menjadi istri. Tapi semua wanita belum tentu bisa menjadi ibu."
"Dan Allah kasih kamu semuanya. Kamu bisa jadi istri, kamu juga bisa menjadi seorang ibu. Bersyukur sayang."
"Terimakasih banyak ya Mas. Hidup Haifa banyak berubah ketika menerima tawaran Aina untuk menjadi Bundanya. Haifa belum sempurna sebagai istri dan juga Bunda. Tapi terimakasih buat Mas dan Anak-anak yang enggak pernah komplain karena kekurangan Haifa.
"Hidup memang tidak akan pernah terasa sempurna sayang. Maka dari itu kita sendiri yang harus pandai bersyukur agar terasa sempurna."
"Tidak asa yang bisa menjanjikan jika kehidupan akan selalu bahagia. Tapi sudah bisa dipastikan kita akan selalu bahagia. Jika kita pandai bersyukur."
...SELESAI...
...****************...
Alhamdulillah bisa menyelesaikan sampai tuntas cerita ini.
Sampai bisa menamatkan cerita ini, diri ku hanya bisa mengucapkan "Terimakasih dan Maaf"
Terimakasih buat pembaca yang selalu mau bersabar menunggu tanpa kepastian.
Dan mohon maaf sebesar-besarnya jika dalam cerita ini tidak ada nilai positif yang bisa diambil. Mohon maaf jika cerita ini menyebalkan karena harus menunggu waktu update yang lama sekali.
Ambil baiknya, buang buruknya ya kawan. Jika dalam cerita ini ada nilai baiknya yang bisa dijadikan pelajaran ua silakan. Dan jika banyak buruknya maka cukup diketahui saja, tidak untuk ditiru.
Sekali lagi terimakasih banyak karena pembaca adalah motivasi penulis untuk bisa menyelesaikan ceritanya.
Mohon maaf untuk menunggu yang terlalu lama, membosankan dan sampai membuat lupa alur cerita. Saya mohon maaf, kare banyak kejadian di dunia nyata yang menyita perhatian dan tidak etis jika harus dipresentasikan.
Jaga kesehatan ya teman-teman semua.
Salam Sehat 🤗
__ADS_1
Terimakasih, semoga bisa bertegur sapa kembali di cerita cerita selanjutnya ❤