
Happy Reading...
Lima hari mereka berada di Jogja. Tapi lebih banyak digunakan dengan berdiam diri di rumah. Hanya pada sehari sebelum pulang mereka pergi ke pantai dan ke gembira loka zoo itupun karena Aina yang merengek ingin jalan-jalan.
Seharusnya mereka hanya tiga hari berada di Jogja, kemudian setelah dari Jogja seharusnya mereka pergi lagi ke Labuan Bajo. Tapi sayangnya rencana ke Labuan Bajo terpaksa harus dibatalkan.
Liburan belum usai. Tapi keluarga Alvin sekarang sudah kembali ke rumah. Karena rencana liburan yang tidak berlanjut.
"Tidur Mas, enggak usah main games dulu baru sembuh," omel Haifa.
"Enggak main games Yang. Ini lagi balas pesan. Suudzon terus deh,"
"Ya biasanya kalau jam segini kalau Mas belum tidur pasti lagi main games."
"Enggak Yang."
"Yaudah."
"Yang kamu isi ya?" tanya Alvin tiba tiba.
"Isi apa?"
"Hamil Yang."
"Iya ya jangan-jangan kamu hamil. Dan jangan jangan kemarin Mas sakit begitu karena kamu hamil Yang."
"Apa sih Mas, Haifa aja enggak ngerasain apa apa."
"Iya kamu enggak. Tapi Mas yang ngerasain."
"Kamu telat kan?" tanya Alvin lagi.
"Telat haid?"
Alvin mengangguk. "Iya telat ya?"
"Enggak telat. Emang belum tanggalnya."
"Udah telat aja deh. Biar positif," paksa Alvin.
"Kok maksa. Itu kan kehendak Allah."
"Tapi Allah itu tergantung prasangka hambanya."
"Besok pagi test ya," kata Alvin.
"Test apa? Test hamil?"
"Iya. Mau ya."
"Mas kenapa sih ngotot banget. Haifa aja enggak ngerasain apa apa."
"Ya cuma test aja Yang, pake alatnya yang kaya termometer itu loh namanya apa?"
"Testpack?"
"Nah iya pake itu. Mas tuh curiga, soalnya aneh aja gitu. Mas tiba tiba sakit terus Aina sama Aidan juga mendadak rewel dan pada cari cari perhatian kamu."
"Mas itu sakit emang ada pemicunya karena emang begadang terus, main games terus tambah lagi pas perjalanan ke Jogja minum kopi terus udah tahu enggak boleh minum kopi."
"Tapi Yang kalau karena kopi yang kena lambung. Dan kemarin kemarin mas sakit enggak berhubungan sama lambung."
"Mas kemarin sakit mual sama muntah loh yakin gak berhubungan sama lambung?"
"Yaudah besok cek aja dulu ya."
"Kenapa sih ngotot banget suruh cek."
"Soalnya kata Bang Arvan kak Zia hamil lagi. Kan lucu kalau misal kalian hamil barengan."
"Astagfirullah Bapak Alvin yang terhormat, kok ucapan anda itu kayak Aina minta jajan ya. Liat teman jajan permen mau juga. Nah Bapak Alvin ini lihat istri orang hamil pengen istrinya hamil juga. Ada ada aja."
"Tapi enggak salah kan?"
"Salah."
"Kok salah."
"Ya dipikir aja Aidan masih 1,5 tahun. Masih ASI, Aina juga baru mau 5 tahun. Mereka berdua aja masih sering berebut cari perhatian. Ini Bapaknya malah mau minta tambah anak."
"Tapi rezeki enggak boleh ditolak Yang."
__ADS_1
"Iya emang kalau misal di rahim Haifa emang udah ada janinnya ya enggak boleh ditolak. Tapi sekarang kan belum ada jadi yaudah lah nyantai aja Mas."
"Enggak ada KB tapi ya,"
Haifa diam. "I... iya."
"Kok gugup?"
"Enggak. Udah ah tidur cepat idah malam jangan bergadang nanti mas sakit lagi."
"Tapi besok cek ya."
"Astagfirullah. Bodo amat ah Mas. Haifa mau tidur."
Matanya terpejam, tapi Haifa tidak tidur. Ia memikirkan beberapa waktu lalu tepatnya setelah Alvin menyampaikan rencana akan liburan. Haifa pergi ke dokter untuk konsultasi masalah penggunaan kontrasepsi. Dokter menyarankan beberapa jenis kontrasepsi yang aman untuk Ibu menyusui. Dengan beberapa pertimbangan akhirnya pilihan Haifa jatuh pada pil KB. Sayangnya tindakan Haifa kali ini tidak terbuka pada Alvin atau bisa dibilang tanpa sepengetahuan Alvin. Haifa ragu untuk membahas bersama Alvin takut Alvin marah dan tidak setuju.
"Mas Alvin kok bisa tiba-tiba bahas ini ya. Mas Alvin curiga atau gimana sih?" kata Haifa di dalam hatinya.
"Gimana ya bahasnya sama Mas Alvin?"
"Yaudah lah nanti tinggal jangan di minum lagi aja. Terus buang deh jangan sampai ketahuan," kira kira seperti itu isi kepala Haifa saat ini.
"Yang," panggil Alvin.
"Hm,"
"Mikirin apa? Mas tahu kamu cuma merem dan belum tidur daritadi."
"Enggak. Haifa cuma enggak bisa tidur aja."
"Beneran?"
"Iya."
"Yaudah kalau gitu kita main aja yuk. Mas juga gak bisa tidur."
"Main games? Enggak mau!"
"Bukan."
"Haifa udah ngantuk. Ini udah mau tidur. Bye."
"Ih bawa-bawanya malaikat."
"Jadi?"
*
"Bundaaa," teriak Aina sambil berlari ke arah dapur menghampiri Haifa. Diikuti Alvin di belakang Aina.
"Lihat Adek."
"Astagfirullah Papa itu nanti sesak anaknya," omel Haifa ketika melihat Aidan dipakaikan jaket dinosaurus dan disleting sampai kepalanya terturup.
"Tapi anaknya senang Bun."
"Enggak enggak buka buka. Anak Bunda sesak nanti."
Alvin membuka resleting hingga leher Aidan dan benar saja saat wajahnya terlihat Aidan malah tertawa sambil tepuk tangan.
"Kok malah senang sih nak," kata Haifa.
"Agi agi," celoteh Aidan.
"Tuh Bun malah minta lagi."
"Ya Allah kelakuan anak sama Papanya emang heuh," gemas Haifa.
"Bunda malah?" tanya Aina.
"Enggak Kak. Bunda gemas aja. Kenapa kalau masalah main mainan kalian itu pro sama Papa semua."
"Papa ayo main ail," ajak Aina.
"Mau berenang?" tanya Haifa.
"Iya Kakak mau belenang sama Papa. Mau ajalin Adek belenang," kata Aina kemudian menoleh ke arah Papanya. Sepertinya ada kode kode yang diberikan Papa Alvin pada Aina.
Sampai sampai Aina berkata, "Boleh kan Bunda ku yang cantik."
"Ini diajarin Papakan?"
__ADS_1
"Enggak kok," kilah Aina.
"Masa?"
"Iya. Kakak tahu sendili."
"Bener enggak diajarin Papa?"
"Enggak."
"Tadinya kalau Kakak jujur Bunda mau kasih Kakak izin berenang pagi-pagi. Tapi karena Kakak bohong jadi Bunda enggak jadi deh kasih izinnya."
Alvin dan Aina saling lihat-lihatan.
"Iya Bunda Kakak diajalin Papa."
"Tadi kata Papa kalau Bunda enggak kasih izin, Kakak bilang aja, boleh ya Bundaku yang cantik. Telus nanti Bunda kasih izin. Begitu."
"Begitu ya Pa?"
"Hehe."
"Boleh kan Bunda Kakak mau belenang. Plis. Sebental aja."
"Boleh aja kenapa sih Bun. Berenang di rumah ini."
"Enggak ingat ya siapa yang baru bangun dari sakit?"
"Bunda Plis," rengek Aina.
"Daa piss," kata Aidan mengikuti Kakaknya.
"Bunda Please," dan sekarang Papanya.
"Kok jadi Bunda dikeroyok."
Alvin dan Aina saling pandang dan saling mengedipkan mata.
"Mau apa?" tanya Haifa ketika melihat anak dan Papanya itu.
"Bunda Please." "Bunda Pliss." kata Alvin dan Aina bersamaan.
Aidan lagi lagi tertawa dan tepuk tangan.
"Iya boleh. Sarapan dulu tapi. Satu jam aja enggak boleh lebih."
*
Hatcimmm (gimana sih suara bersin nulisnya? Enggak tahulah ya. Tapi ini ceritanya lagi bersin.)
Hatcimmm
Alvin dan Aina bersin bersamaan.
"Nah bersin bersin kan. Udah dibilang sebentar aja. Malah lupa waktu,"
"Masih pagi, mendung, musim hujan malah pengen berenang aneh aneh aja. Papa juga udah baru..."
Cup... Cup...
Alvin dan Aina mencium pipi Haifa bergantian.
"Maaf Bunda Hehe."
"Bisa banget ngerayu rayunya."
"Bun kemarin vitamin yang baru beli dimana?"
"Masih di tas Bunda."
Alvin beranjak ke lantai dua rumahnya.
"Bun ini obat apa?"
...****************...
To be continued...
See you next part...
*Nulis part ini berasa jari doang yang bekerja wkwk.
__ADS_1