Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 75


__ADS_3

Happy Reading...


"Bunda waktu masih kuliah sering loh pa main ke daerah sini." kata Haifa saat mereka sudah memasuki sebuah daerah bernama Baros.


"Ngapain?" tanya Alvin.


"Main ke teman. Kebetulan teman bunda juga ada yang kuliah di unjani." jawab Haifa.


"Yakin cuma main?"


"Iya. Biasanya malam minggu sering nginep di teman. Terus pagi nya jalan-jalan ke Brigif. Sekalian cuci mata."


Alvin melirik sekilas ke arah Haifa.


"Cuci mata gimana maksudnya?"


"Ya kan di Brigif itu kalau minggu pake banyak yang jualan. Dari mulai jajanan, pakaian, alat rumah tangga banyak deh pokoknya."


"Jauh-jauh ke Cimahi? Bukannya di daerah dekat rumah Mama juga tiap minggu ada pasar pagi begitu?"


"Iya emang ada. Tapi kalau di sini tuh kayak beda aja."


"Kalau di sini tuh kamu berharapnya bisa lihat tentara gitu ya. Berseragam gagah, keren gitu ya?" tanya Alvin.


"Hehe tau aja."


"Zina mata tahu." ketus Alvin.


"Apasih kok ketus gitu, cemburu?" tanya Haifa. Alvin tidak menjawab.


"Gak usah cemburu gitu jelek, malu sama anak." kata Haifa.


"Kenapa kamu suka sama tentara?" tanya Alvin masih dengan nada yang sinis.


"Kalau Haifa jawab jujur, nanti mas makin panas, hareudang. Gak mau Haifa." jawab Haifa.


Di tengah obrolan orangtua, Aina yang duduk sendiri di kursi belakang malah sedang asik memakani kentang goreng dalam wadah berukuran large.


"Turun udah sampai." kata Alvin setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir berbayar yang letaknya di depan STIKes Achmad Yani.


"Enggak usah judes papa." kata Haifa sambil menepuk pipi Alvin.


"Sini deketan sini." kata Haifa pada Alvin yang sudah melepas sabuk pengaman.


"Ngapain sih?"


"Iya deketan dulu mangkanya." Haifa susah ini Aidannya tidur.


Alvin menurut, ia mencondongkan sedikit badannya ke arah Haifa. Sekian detik bibir Haifa mendarat di pipi Alvin.


"Udah gak usah judes. Sesuka apapun Haifa sama tentara. Haifa nikahnya sama mas kan. Dosen yang galak, yang pernah seenaknya rusak tugas mahasiswinya cuma buat bisa ngobrol empat mata." kata Haifa. Alvin tersenyum, Alvin sedikit mengingat ke kejadian yang Haifa ulas secara singkat.


"Jadi pengen sering-sering judesin bunda deh biar dicium terus." kata Alvin.


"Sekali aja mas judes Haifa cium. Kalau ada kedua, ketiga dan ke sekian kali mah. Malas Haifa. Mending biarin aja. Paling nanti juga kalau udah malam mau tidur nyari sendiri." kata Haifa.


"Hahaha iyalah pasti nyari. Semenjak beristri kan jadi gak enak tidur sendiri." kata Alvin.


"Bunda, kentang goleng kakak habis." rengek Aina.


"Eh kakak bunda kita bobo." kata Haifa.


"Enggak. Kakak juga lihat bunda kiss papa." jawab Aina dengan polosnya.

__ADS_1


"Kakak mau kentang gorengnya lagi?" tanya Haifa mengalihkan topik.


"Mau."


"Nanti kita beli kalau mau pulang ya." kata Haifa. Aina mengangguk.


"Bunda sih nyosor papa. Kelihatan kan sama anaknya." kata Alvin berbisik di telinga Haifa.


"Oke berarti besok-besok gak ada lagi ya adegan kayak begitu." bisik Haifa.


"Loh kok gitu. Janganlah."


"Gak usah protes. Cepat turun." kata Haifa.


"Bun..."


"Turun papa. Cepat nanti keburu sore di sini. Papa kan janji mau ajak bunda buat nyari dan beliin odadingnya mah oleh yang lagi viral, yang katanya rasanya seperti menjadi ironman itu."


"Kenapa sih dari kemarin bahas terus odading mang oleh."


"Kenapa? Keberatan? Gak mau beliin? Gak mau..."


"Nggak. Udah ayo cepat turun." kata Alvin turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Aina. Haifa juga turun sambil menggendong Aidan.


*


Setelah sekitar satu jam melihat-lihat kostan sambil negosiasi masalah harga hingga mencapai kata sepakat dari kedua belah pihak.


"Berarti untuk pembayaran dan penyerahan surat-surat nanti kita atur waktu lagi. Sekalian sama notaris juga ya." kata Alvin.


"Iya. Saran saya sih Vin, nanti kalau udah jadi hak milik kamu. Kamu harus cepat balik nama."


"Iya nanti kalau sudah pembayaran full. Saya langsung balik nama." kata Alvin.


Beres dengan masalah kostan yang akhirnya jadi dibeli oleh Alvin, saat ini mereka sudah dalam perjalanan keluar kota Cimahi.


"Itu rumah kostan kak." jawab Haifa.


"Lumah kostan itu apa? Lumah siapa? Temen papa namanya kostan?" tanya Aina. Alvin dan Haifa tersenyum.


"Bukan sayang, nama teman papa itu tadi pak Bambang." jawab Alvin.


"Telus tadi lumah pak Bambang?"


"Iya." jawab Alvin cepat. Sudah biar saja Aina tahunya itu rumah pak Bambang. Daripada dikasih tahu rumah kostan. Nanti Aina pasti tanya lagi kostan itu apa? Alvin dan Haifa suka bingung sendiri mencari penjelasan yang tidak membohongi tapi mudah dipahami Aina.


"Pa sekalian pergi ke Cimahi gimana kalau kita mampir ke rumah uti dan akunya Kakak. Kakak mau gak main ke rumah uti dan akung?" tanya Haifa pada Aina. Uti dan akung itu ibu dan ayahnya Novia mamanya Aina.


"Bun udah deh, gak usah sekarang. Kalau Aina mau ketemu uti sama akungnya biar nanti Papa sendiri yang antar." kata Alvin. Alvin tidak begitu suka jika Haifa bertemu dengan orangtua Novia. Karena awal, saat Alvin mengenalkan Haifa sebagai istri kepada mantan mertuanya itu. Tampak sekali jika mereka tidak menyukai Alvin menikah lagi.


flashback on


Pada saat itu tanggapan mereka terkesan nyinyir, "Kamu kenapa musti menikah lagi sih Vin? Bukannya fokus ngurusi Aina. Malah nikah lagi. Mending kalau nikah sama yang lebih dari Novi, yang karirnya lebih bagus. Kamu nikah lagi sama mahasiswa, anak bau kencur yang belum punya pengalaman ngurus anak." kata uti, ibunnda Novia.


"Ami gak tahu banyak tentang Alvin dan Haifa dan bagaimana kami bisa menikah. Alvin juga gak cari pendamping yang hanya bisa nerima Alvin. Alvin cari istri yang juga bisa nerima Aina bahkan bisa membantu Alvin mengurus dan mendidik Aina."


"Kamu nikah lagi karena gak sanggup urus Aina sendiri? Kalau gak sanggup sini biar Ami sama Apa yang urus Aina." kata Akung.


"Ami, Apa Alvin menikah lagi karena Alvin ingin memiliki pendamping dalam hidupnya, pendamping dalam membesarkan Aina. Karena Aina itu perempuan beberapa tahun kedepan Aina pasti sangat butuh sentuhan seorang wanita, terutama ketika ia sudah puber. Usia Alvin masih muda, memangnya salah kalau Alvin menikah lagi? Alvin juga pengen punya pendamping yang bakal ngurus Alvin. Alvin gak bercita-cita jadi duda sampai tua." jawaban Alvin pada saat itu.


"Dan untuk perihal mengasuh Aina, Alvin mampu dan sangat mampu malah. Banyak juga yang sayang sama Aina."


"Kamu itu gak ada sopan sopannya. Kami begini-begini juga pernah jadi mertua mu. Dan kami juga uti dan akungnya Aina. Harusnya kamu itu bisa lebih hormat sama kami." kata ibunya Novia.

__ADS_1


"Kamu menikah lagi karena mau punya pendamping buat ngurus Aina. Alasan kamu aja kan itu? Selama ini juga kamu gak urus Aina sendiri. Kamu sering titip Aina di ibu kamu, di kakak kamu." kata ayahnya Novia.


"Ami dan Apa ini kenapa? Egois sekali, saat Novia menikah lagi Ami dan Apa setuju-setuju aja. Sedangkan saat Alvin menikah lagi kalian seperti keberatan. Alvin kesini cuma mau mengenalkan istri Alvin. Mau Alvin menikah lagi atau tidak senetulnya itu sudah tidak ada urusan sama Ami dan Apa. Tapi Alvin masih berusaha buat terus menjalin hubungan baik. Tapi penerimaan Ami dan Apa malah begini."


"Mas." tegur Haifa pelan, sambil tangannya mengelus punggung Alvin.


"Novia itu perempuan Alvin. Wajar dia menikah lagi. Karena perempuan itu butuh laki-laki yang bisa menjadi tulang punggungnya. Lah kamu, laki-laki wes mapan. Menikah sama mahasiswa yang belum pengalaman, buat apa kalau bukan sekedar buat menuhin nafsu. Anak muda begini itu kadang rela nikah sama duda. Yang penting sudah mapan. Masalah anaknya mah gak dipikirin." jawab Ibunya Novia.


"Ami, Apa tujuan Alvin kesini mau mengenalkan Haifa sebagai istri Alvin. Sekarang Ami dan Apa udah tahu kan. Jadi tujuan Alvin kesini sudah selesai. Alvin permisi." kata Alvin kemudian berdiri dan berjalan ke ruang keluarga untuk mengambil Aina.


"Kalau kamu mau pulang. Pulang sendiri Vin. Biar Aina di sini." kata Akung.


"Aina mau ikut papa pulang atau mau main dulu di sini sama uti sama akung?" tanya Alvin pada Aina.


"Tama papa." jawabnya.


"Yaudah. Ami, Apa Alvin permisi. Assalamualaikum." pamit Alvin.


Haifa tidak bicara sedikit pun saat di hadapan orangtua Novia. Karena Haifa sudah merasa tidak enak. Saat masuk rumah saja Haifa sudah mendapat tatapan sinis. Haifa juga dianggap tidak bisa apa-apa di hadapan mereka. Apalagi saat ibunya Novia menganggap Haifa menikah dengan Alvin hanya karena Harta. Haifa tersinggung sebenarnya, tapi yasudah yang penting Haifa tidak seperti yang mereka tuduhkan.


flashback off


Kejadian waktu itu membuat Alvin malas untuk berkunjung ke rumah orangtuanya Novia. Kalaupun mereka meminta Alvin mengantar Aina, Alvin hanya mengantar,tidak pernah mampir. Alvin mengantar, karena Alvin tidak mau egois. Aina juga harua mengenal keluarga besar mamanya.


"Gak usah ya kak. Kita beli kentang goreng sama odading mang oleh aja ya?" kata Alvin pada Aina.


"Iya kakak mau kadi ilonmen." kata Aina.


"Mas mampir ya sebentar aja. Nanti kalau sampai mereka tahu kita ke Cimahi tapi gak mampir. Kan nanti kita tambah buruk di mata mereka. Lagian belum tentu juga kan mereka ada di rumah." kata Haifa.


"Please sebentar ya, nanti cari izinmart atau indobulan aja dulu. Kita beli buah tangan."


"Gak usah bun. Gak usah malah ngerusak suasana!" tegas Alvin. Haifa mengalah.


"Mereka juga gak akan tahu kita habis dari Cimahi." kata Alvin.


*


Pukul 20.30 mereka baru sampai di rumah. Karena setelah dari Cimahi tadi mereka tidak langsung pulang. Karena Haifa dan Aina mau odading viral mang oleh, jadi mereka mencari dulu sekalian jalan-jalan katanya.


"Alhamdulillah, sampai juga di rumah." kata Alvin saat sudah sampai di halaman rumah.


"Capek?" tanya Haifa.


"Pegel dikit. Nanti pijitin ya Bun."


"Papa kakak juga capek. Nanti tulunnya gendong ya pa." kata Aina dari kursi belakang.


"Huhu kakak ikut ikut aja papa." kata Alvin.


"Bialin, kakak kan capek."


"Katanya Ironmen kok capek." ledek Alvin.


"Ilonmennya batlenya abis." jawab Aina.


"Udah ah. Ada ada aja. Ayo turun, kita istirahat." kata Haifa.


Alvin dan Haifa turun. Sedangkan Aina masih di kursi belakang. Ia belum bisa melepas sabuk pengaman dan turun dari babychair nya sendiri. Alvin yang usil, ia sengaja tidak membukakan pintu Aina.


"Huaaaa papa bundaaa buka.. Kakak belum tulun." teriak Aina.


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2