
Inara pergi begitu saja dari kamar Haifa. Sedangkan Aulia dan Dinda mereka masih diam.
"Haifa kok tega sih sama Ina? Haifa kan tau kalau Ina suka sama pak Alvin. Ina emang bilang mulai sedikit gak tertarik pas tau pak Alvin duda. Tapi bukan berarti Haifa bisa seenaknya deketin pak Alvin dan sampe sejauh ini ya." ucap Aulia.
"Aul Maaf. Tapi Haifa sama sekali gak pernah deketin pak Alvin. Kita sampai dititik ini juga bukan karena pak Alvin yang lebih dulu suka sama Haifa atau sebaliknya bukan. Haifa kan udah ceritain dari awal. Bahkan Haifa juga sempet mau nolak dan rekomendasikan Inara ke pak Alvin." ucap Haifa.
"Tapi sekarang tetep kan Haifa jadi sama pak Alvin. Udah deket mau menikah lagi. Aul kecewa sama Haifa. Haifa ternyata gak bisa jaga perasaan sahabat sendiri." kata Aulia sambil berdiri dan meninggalkan Haifa bersama Dinda.
Sahabatnya menjauh. Ini sudah diprediksi oleh Haifa. Tapi tetap saja perasaan sedih lebih mendominasi hingga air mata saja tidak mampu ia tahan dan bisa mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Haifa." panggil Dinda.
"Dinda mau marah kan? Dinda juga kecewa kan sama Haifa? Gak apa apa Haifa terima kok. Haifa akui Haifa salah karena gak cerita dari awal." ucap Haifa sambil menyeka air mata dan tetap mencoba tersenyum.
"Iya aku kecewa karena kamu gak cerita dari awal. Tapi aku gak berhak marah sama hubungan kamu dan pak alvin." ucap Dinda.
Haifa menatap Dinda seakan meminta penjelasan atas apa yang baru saja Dinda katakan.
"Kalau kamu cerita dari awal mungkin gak akan terlalu mengecewakan. Tapi sekarang pun dengan kamu udah jujur aku hargai keberanian kamu."
"Dinda gak marah?"
"Sedikit kecewa. Karena aku merasa kamu gak anggap aku sahabat. Gimana bisa seorang sahabat menyembunyikan peristiwa berarti dalam hidupnya dari sahabatnya sendiri."
"Maaf."
Dinda mengangguk.
"Makasih Dinda." ucap Haifa sambil memeluk Dinda.
"Jangan nangis. Karena kita, nanti jadinya kesannya itu kita jahat masa sahabatnya lagi bahagia kita gak ikut bahagia."
"Kenyataanya bukan kalian yang jahat tapi Haifa yang jahat."
"Udah. Jangan nyalahin diri sendiri. Maafin Aul sama Ina ya. Mereka cuma terlalu kaget aja."
"Aul sama Ina gak salah kok. Justru Haifa yang seharusnya minta maaf."
"Nanti kalau semuanya udah lebih tenang aku bantu kamu buat bicara sama mereka."
"Makasih banyak ya Dinda."
"Sama sama."
"Oh iya lupa. Haifa bawa gaun buat kalian."
"Gaun?"
"Iya. Gaun bridesmaid, Haifa tetep berharap kalian mau datang ke pernikahan Haifa nanti. Tapi Haifa juga gak mau maksa. Kalau memang kalian gak mau Haifa bisa terima."
"Apasih. Insya Allah aku usahakan buat datang. Dan aku juga bakal coba bantu mereka biar mau datang juga."
"Makasih Dinda."
"Perasaan makasih terus daritadi. Haha."
"Ya abis bingung. Dinda udah baik banget. Mau ngertiin Haifa."
"Tadi katanya mau beres beres yuk aku bantu."
Haifa lega karena masih ada Dinda yang mau mengerti. Tapi pantaslah Dinda lebih mengerti karena mereka bersahabat sudah lebih lama dibanding dengan Aulia dan Inara.
"Jadi Haifa lusa udah pindah dari kostan?"
"Iya kemungkinan begitu."
"Terus barang barangnya di bawa pulang nyicil?"
"Iya besok mungkin bang Ken kesini buat nyicil bawa barang."
"Bang Ken atau Pak Alvin yang kesini?" goda Dinda.
"Jangan mulai jail. Haifa masih gak enak sama Ina."
"Kenapa mesti gak enak sih? Haifa kan gak rebut Pak Alvin dari Ina."
"Iya tapi tetep aja. Haifa ngerasa gak bisa jaga perasaan Ina."
"Tapi setidaknya dari sini juga kita banyak belajar. Yang pertama skenario Allah itu yang paling indah dan tak terduga. Yang kedua belajar untuk saling terbuka. Yang ketiga belajar ikhlas karena tak semua yang kita mau bisa kita dapat. Yang keempat belajar saling memaafkan. Nah dari satu kejadian aja banyak kan pelajarannya."
"Uwuu Dinda teguh."
Setelah 2 hari beres beres di kostan dan mencicil barang untuk dibawa pulang. Hari ini Haifa akan benar benar pamit dari kostan. Dikabari jika Alvin sudah ada di bawah tepatnya di depan kostan Haifa segera turun.
"Kok jadi bapak yang jemput?" tanya Haifa sedikit heran karena tadinya yang akan menjemput adalah Keanu.
"Kenapa? Gak boleh jemput calon istri?"
"Apasih. Becanda terus."
"Serius loh ini. Beneran kan calon istri?"
"Iyalah biar cepet."
Alvin terkekeh melihat kekesalan di wajah Haifa.
__ADS_1
"Masih banyak banyak barang yang belum kebawa?"
"Dikit lagi sih 2 box tapi mau dibawa sekalian turun berat."
"Yaudah izin dulu sama yang punya kost biar boleh masuk." ucap Alvin.
"Udah kok. Tadi Haifa izin sekalian pamit. Jadi nanti tinggal serahin kunci aja."
"Oh iya ini bapak udah kasih tau bang Ken kalau bapak yang kesini? Nanti yang ada abang kesini juga." sambung Haifa.
"Malah papa yang minta saya buat jemput kesini. Soalnya bang Ken masih di kantor meeting sama Papa katanya." jelas Alvin.
Haifa mengangguk faham.
"Yaudah boleh masuk kan? Biar cepet kita harus ambil souvenir, cincin sama fitting sekali lagi." kata Alvin mengingatkan.
Alvin mengekori Haifa untuk masuk ke kamar kostnya.
"Ini belum kamu kasih?" tanya Alvin saat melihat dua buah paper bag di atas tempat tidur yang ia ketehui isinya gaun bridesmaid dan undangan.
"Punya Dinda udah. Tinggal Aulia sama Inara. Semoga mereka mau nerima." ucap Haifa tak bersemangat.
"Mau saya bantu bicara sama mereka?" tawar Alvin.
"Gak usah makasih."
Alvin hanya mengangguk.
"Yaudah saya bawa dua box ini ke mobil dulu."
"Hati hati berat." ucap Haifa memperingati.
"Gak seberat yakinin kamu buat jadi istri saya." ucap Alvin sambil membawa dua box tersebut kemudian keluar dari kamar kost Haifa.
'Salah obat kali akhir akhir ini sering begitu.' ucap Haifa saat melihat Alvin sudah cukup jauh.
Haifa masih berdiri di kamarnya. Memandangi setiap sudut ruangan yang selama hampir 4 tahun ini menjadi tempat tinggalnya. Tampak kosong hanya tersisa tempat tidur, lemari dan meja belajar.
Penglihatan Haifa kembali tertuju pada dua buah paper bag diatas tempat tidur.
"Bismillah." ucap Haifa sambil mengenakan sling bag dan menenteng kedua paper bag tersebut.
Kamar yang paling dekat dengan kamar Haifa yaitu kamar Aulia. Walau berat Haifa memberanikan diri untuk mengeetuk pintu kamar Aulia. Sekali dua kali ketukan tidak ada jawaban. Ketiga kali ketukan disertai salam. Akhirnya pintu tersebut terbuka.
"Ada apa?" tanya Aulia dengan dinginnya.
Haifa terdengar menarik nafas dalam.
"Haifa mau pamit. Sekali lagi Haifa minta maaf udah buat Aul kecewa. Makasih yaa udah mau jadi temen baik Haifa dan berjuang sama sama dari mulai jadi maba sampai wisuda." ucap Haifa dengan tersenyum.
"Ini Haifa juga mau kasih ini buat Aul." Haifa menyodorkan sebuah paper bag.
Aul masih memandangi paper bag tersebut belum mau menerima.
"Anggap aja. Ini sebagai permintaan maaf Haifa dan tanda terimakasih udah mau jadi teman yang baik buat Haifa selama ini." ucap Haifa sambil kembali menyodorkan paper bag tersebut.
Walau tampak berat. Tapi kali ini tangan Aulia tergerak untuk menerima paper bag tersebut.
"Terimakasih ya. Sudah mau menerima. Haifa pamit. Assalamualaikum." ucap Haifa.
Haifa berjalan beberapa langkah.
"Haifa." panggil Aulia.
Haifa menoleh dengan senyum yang sama.
"Terimakasih." ucap Aulia kemudian segera masuk dan menutup pintu.
Satu lagi dan ini yang paling berat bagi Haifa. Bahkan Haifa tidak yakin Ina akan membukakan pintu untuknya. Tapi tak apa, bagaimanapun nantinya yang penting Haifa harus berani mencoba. Ia dekati pintu kamar Inara yang berjarak 3 kamar dari kamar Aulia.
Ketukan pertama tidak ada reaksi. Dan ketukan kedua pintu terbuka. Tapi pintu hendak ditutup kembali oleh sang empunya kamar.
"Ina tunggu." ucapan Haifa menahan Ina untuk tidak menutup pintu.
"Haifa gak akan maksa buat Ina bisa nerima maaf dari Haifa. Tapi Haifa tetap akan minta maaf lagi. Haifa minta maaf kalau yang Haifa lakukan ini mengecewakan Ina dan bikin Ina marah. Kalau Haifa bilang Haifa terpaksa dan gak punya pilihan. Haifa bohong, karena hidup pasti selalu punya pilihan. Haifa minta maaf. Tapi rasanya Haifa gak bisa mundur. Karena keputusan yang Haifa buat juga bukan diambil tanpa alasan. Haifa gak maksa Ina buat ngertiin Haifa. Haifa salah. Haifa minta maaf. Sekalian Haifa juga mau pamit." ucapan Haifa terjeda Ia menarik nafas dalam.
"Ini Haifa mau ngasih ini sedikit buat Ina. Anggap aja ini sebagai permintaan maaf Haifa. Sekaligus terimakasih. Karena Ina udah mau jadi teman baik Haifa." Haifa menyodorkan Paper bag tersebut.
Cukup lama Inara tidak mau menerima juga.
"Haifa simpan di sini ya? Setelah itu ini milik Ina, mau Ina buang pun Haifa ikhlas. Haifa pamit ya Assalamualaikum." ucap Haifa sambil meletakan paper bag tersebut di lantai depan pintu kamar Inara.
Sekarang giliran Dinda. Tidak ada beban sama sekali untuk menemui Dinda. Tapi percayalah dada Haifa sudah sesak. Air mata yang sejak tadi Ia tahan sedikit sedikit mulai merembes dari mata beningnya. Letak kamar Dinda berada di lantai 3 cukup jauh dari kamar Haifa, Aulia dan Inara.
Haifa masih sibuk menyeka air matanya belum sempat mengetuk pintu kamar Dinda. Tapi sang empunya kamar sepertinya sangat peka. Sebelum diketuk pemilik kamar sudah keluar lebih dulu.
"Udah dijemput?" tanya Dinda.
"Iya. Haifa pamit ya Assalamualaikum." ucap Haifa.
Dinda langsung spontan memeluk Haifa.
"Mereka belum ada perubahan ya?"
Haifa mengangguk dalam pelukan Dinda. Sambil terus menyeka Air mata agar tak turun.
__ADS_1
Tak perlu banyak kata yang Haifa ucapkan pada Dinda karena sejak kemarin mereka sudah banyak ngobrol dan bahkan 2 malam ini mereka tidur sekamar.
"Jangan nangis dong. Masa udah jadi bunda nangis gara gara dinakalin temen." ucap Dinda sambil melepas pelukannya pada Haifa.
Haifa tersenyum namun justru membuat air matanya semakin jatuh.
"Jangan nangis please. Mereka cuma butuh waktu buat nerima sabar ya."
Lagi lagi Haifa hanya bisa mengangguk.
"Makasih Haifa pamit ya. Assalamualaikum." ucap Haifa sambil bergegas meninggalkan Dinda.
Haifa berusaha menyeka air mata dan menahannya agar tak turun karena sekarang Haifa sudah semakin dekat dengan mobil Alvin.
"Udah?" tanya Alvin saat Haifa sudah memasuki mobil.
Haifa mengangguk.
"Kuncinya juga udah diserahin?"
Haifa lagi lagi mengangguk.
"Gimana tadi, temen temen kamu mau nerima paper bag nya?"
"Nanti aja ceritanya."
Alvin mengangguk, mengerti jika Haifa sedang tidak baik baik saja.
"Kita ke rumah ibu dulu ya. Jemput Aina." ajak Alvin.
Alvin pikir dengan adanya Aina mungkin akan sedikit menghibur Haifa.
"Iya."
Selesai kegiatan mereka hari ini. Sekarang mereka sedang berada di toko es krim. Benar perkiraan Alvin setelah menjemput Aina, Haifa terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Enak?" tanya Haifa saat melihat Aina sangat menikmati es krimnya.
"Enak." jawab Aina dengan bibir yang sudah belepotan oleh es krim.
"Belepotan banget sih sayang." ucap Haifa sambil mengelap bibir Aina menggunakan tisu yang tersedia di meja.
Alvin yang ada di hadapan mereka hanya bisa tersenyum seraya mengucap syukur alhamdulillah melihat pemandangan indah di depannya.
"Udah mau cerita?" tanya Alvin pada Haifa. Haifa diam namun matanya melirik ke arah Alvin.
Haifa masih diam. Alvin juga tak mau memaksa.
"Aul mau bukain pintu, dia juga mau nerima paperbag yang Haifa kasih walaupun kayaknya berat banget. Kalau Ina, Ina juga baik masih mau bukain pintu. Tapi Ina gak mau terima paperbag Haifa. Yaudah Haifa simpan aja di depan pintu. Haifa bilang ini udah milik Ina. Jadi mau di buang sekalipun Haifa ikhlas." ucap Haifa.
"Saya yakin ketiga teman kamu orang baik. Mungkin mereka cuma perlu waktu. Mereka terlalu kaget."
"Iya. Dan Haifa masih berharap kalau mereka nanti mau hadir ke acara pernikahan kita." ucap Haifa.
Alvin mengangguk.
"Dah abis." ucap Aina.
"Mau lagi?" tanya Alvin.
Aina mengangguk antusias.
"Tanya bunda boleh gak?"
"No Papa. Kebanyakan makan es krim nanti batuk pilek." larang Haifa sambil membersihkan mulut dan tangan Aina.
"Eh maaf pak." ucap Haifa yang menyadari ucapannya terbawa Aina memanggil Alvin dengan sebutan Papa.
"Gak apa apa itung itung membiasakan." jawab Alvin dengan santainya.
Aina sudah mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Alvin malah terkekeh melihat ekspresi Aina.
"Tumben gak bantah. Biasa mau tatu lagi papa." ucap Alvin menirukan gaya merajuk Aina.
"Ih papa nakal. Bunda tuh papa nakal." adu Aina pada Haifa.
"Udah ah jangan becanda terus. Udah selesaikan pulang yuk udah sore." ajak Haifa.
Aina mengangguk.
Mereka bertiga bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Saat sampai di kamar Haifa memilih untuk mendudukan dirinya sejenak sebelum melanjutkan kegiatan lain.
Hari yang cukup melelahkan bagi Haifa.
Menarik nafas panjang dan menghembuskannya, itu Haifa lakukan berulang ulang seakan setiap hembusan nafasnya itu membuang segala beban dalam dirinya.
Haifa bangkit dari duduknya. Ia sadar masih banyak yang harus ia lakukan dibanding harus meratapi satu masalah.
***
**To be continued...
See you next part**...
__ADS_1