
Pagi hari yang cerah, Aretha bangun dari tidurnya ia merasakan badannya sangat berat, apa yang terjadi sampai ia merasa berat untuk bangun, ternyata ia dipeluk erat oleh Raymundo dan kedua kakinya diatas tubuh Aretha.
"Sayang!" ucap Aretha pada telinga Raymundo dengan lembutnya.
"Yank, bangun Yank!" ucap Aretha lagi dengan suara perlahan lahan tapi bisa didengar oleh pria tampan itu.
"Mm, ada apa sayang kita tidur lagi aja dulu aku belum ingin bangun sayang," ucap Raymundo sambil tersenyum tapi matanya masih saja terpejam.
"Sayang kamu menindih tubuhku seperti ini sangat berat dan membuat aku susah bernafas sayang?" ucap Aretha terbata bata.
"Aku sangat merindukan wangi tubuhmu sayang tenanglah dulu aku masih ingin memeluk kamu seperti ini," ucap Raymundo sambil tetap memeluk tubuh Aretha dan melonggarkan sedikit pelukannya.
"Yank apakah hari ini kamu gak kerja?" tanya Aretha lagi.
"Terserah aku dong sayang aku adalah pemilik perusahaan, dan aku punya tangan kanan yang aku percayakan untuk mengurus perusahaan, tenang saja sayang hari ini kamu milikku dan aku ingin kita merencanakan pernikahan kita seperti yang kamu mau!" ucap Raymundo masih tetap pada posisi memeluk erat tubuh mungil Aretha.
"Baiklah sayang aku ikut aja mau kamu seperti apa?" ucap Aretha sambil tersenyum dan menatap wajah tampan pria itu yang kini berada dalam pelukannya.
Semua wanita diluar sana ingin sekali berada diposisi dirinya tetapi tak dihiraukan oleh sang pria tampan itu.
Akhirnya mereka berdua pun kembali tertidur dengan lelapnya.
Mereka terbangun saat perut Aretha kerongkongan meminta untuk segera diisi.
"Sayang bangunlah sayang aku lapar banget, pengen makan!!" ucap Aretha menggeliat dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan hangat Raymundo tapi lagi lagi pria itu tak mau melepaskan pelukannya.
"Sayang asam lambung aku kumat lagi gimana dong sayang?" ucap Aretha lagi.
Dengan berat hati akhirnya Raymundo melepaskan pelukannya dan Aretha langsung merasa bebas.
Aretha pun langsung masuk kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air shower yang dingin menyegarkan itu.
Setelah mandi ia pun pergi ke dapur untuk mengecek makanan apa yang bisa dimakan, setelah membuka kulkas tak ada satu pun makanan yang berkenaan di hatinya.
"Gawat ini kalau aku gak bisa mengisi perutku segera bisa bisa asam lambung ini semakin meradang," gumam Aretha sambil tersenyum menatap Coklat beng beng yang tersimpan dengan rapi di dalam sebuah stoples.
__ADS_1
"Nah, ini dia yang bakal meringankan penyakitku." ucap Aretha sambil melihat bungkusan beng beng itu.
Ia memeriksa tanggal kadaluarsa beng beng karena ia gak mau salah makan.
Setelah dirasa masih bisa untuk di konsumsi dengan segera ia pun langsung memakan neng beng itu dengan pelan pelan.
"Hm, minum air dulu!" ucap Aretha pada dirinya sendiri.
"Nikmat mana yang kau dustakan!" gumam Arey dalam hati.
Tiba tiba ia dikejutkan oleh dering ponselnya, dengan segera ia pun berjalan ke arah ruang tamu dan mengambil ponselnya.
"Arey dimanakah dirimu Nak, cepat pulang Nak Kak Mira kecelakaan dan sementara di UGD RS harapan bunda dan buruh banyak darah," ucap Mama Divya dan menutup ponselnya.
Lemaslah tubuh Aretha karena kaget dengan berita itu, tanpa sadar ia menjatuhkan gelas yang berada di genggamannya.
"Prangggg....!!" suara gelas jatuh membuat Raymundo kaget dan langsung berlari menuju ke arah dapur dan melihat apa yang terjadi.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Raymundo dengan suara pelan.
"Tenangkan dirimu sayang!" ucap Raymundo sambil memeluk erat tubuh mungil itu.
"Ayo sayang!!" ajak Raymundo pada Aretha.
Raymundo pun langsung mengunci pintu dan meraih tangan Aretha kemudian pergi menuju ke tempat parkir mobilnya dan dengan segera mereka masuk ke dalam mobil dan pergi menuju ke RS tujuan mereka.
Aretha menangis sepanjang jalan.
"Semoga Kak Mira baik baik saja Ya Tuhan lindungilah Kakakku Mira Santika Roosevelt dan kakak ipar ku Anjas Brilianto." ucap Aretha dalam doanya.
"Sayang tenang kita akan segera sampai!" ucap Raymundo sambil mengelus rambut panjang Aretha.
Ketika tiba di RS Raymundo langsung menuju ke tempat parkir dan memarkir mobilnya kemudian ia menggandeng tangan Aretha dan masuk ke dalam lobi RS harapan bunda.
"Permisi Suster! boleh tanya Pasien atas nama Mira Santika ada di ruangan mana ya Sis?" tanya Aretha sambil menggigit bibir bawahnya terus.
__ADS_1
"Sayang please jangan gigit bibirmu terus nanti luka gimana dong?" ucap Raymundo mencoba menghibur Sang kekasih.
Raymundo merangkul pundak Aretha sambil tersenyum dan membawa Aretha menuju ke IGD disana terlihat kalau semua keluarga Arey telah hadir dan mereka mencoba untuk tetap tegar menunggu berita dari Dokter yang masih berusaha menyelamatkan Mira dan Anjas.
"Ada apa sayang, bagaimana keadaan Kak Mira dan Anjas?"tanya Raymundo pada Aretha yang terlihat cemas memikirkan Aretha.
"Mereka masih belum sadar Sayang," ucap Aretha sambil tersenyum tipis.
Banyak darah yang keluar dari luka Mira dan Anjas mereka berdua butuh donor darah.
Tiba tiba pintu Ruang IGD terbuka, dan keluarlah Dokter Wayan sambil menatap wajah keluarga Mira dan Anjas yang sangat sedih saat itu.
"Bagaimana Dok?" tanya Papa Stephen sambil memegang tangan Dokter Wayan.
"Tenang dulu mereka berdua butuh donor darah Golongan darah O rh- mungkin ada saudara saudara yang memiliki golongan darah seperti itu tanya dokter Wayan pada keluarga Mira dan Anjas.
Mereka lama berpikir tiba tiba Aretha maju ke depan sambil berkata "Ambil darah saya Dok golongan darah saya O Rhesus negatif seperti yang dokter bilang." ucap Aretha pada Dokter Wayan.
"Arey, kamu anemia tapi kenapa memaksakan diri seperti itu?" tanya Raymundo pada Aretha.
"Mau bagaimana lagi toh aku masih bisa makan untuk meningkatkan trombosit aku Mas sedangkan Kak Mira dia sangat membutuhkan darah ini untuk bertahan hidup." ucap Aretha sambil tersenyum getir.
"Baiklah mari Nak ikut saya," ucap Dokter Wayan sambil berjalan ke arah ruangan yang sudah disiapkan untuk mengambil darah Aretha.
Raymundo stres memikirkan Aretha yang sementara sakit tapi masih mau sok jadi pahlawan di hadapan semua orang yang berdiri disitu.
Mereka semua hanya diam terpaku tanpa memikirkan bagaimana solusinya agar kedua anak itu bisa mendapatkan darah seperti yang dikatakan Dokter Wayan.
"Dokter ambil juga darahku Dokter!" ucap Raymundo tiba tiba muncul di hadapan Dokter Wayan.
"Baiklah silahkan istrahat sejenak di bed itu agar kamu tenang dulu," ucap Dokter Wayan sambil membawa alat alat yang diperlukan untuk mengambil darah dari pasangan kekasih itu.
** Next **
Hai readers tolong di like, komentar dan vote ya agar author rajin update tiap hari, terimakasih 🙏🥰
__ADS_1