Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Susu Ibu Hamil


__ADS_3

" Jangan mendekat " Kiran mengacungkan pisau daging berukuran besar ke arah lelaki yang saat ini berdiri tepat di depannya.


" Kau tidak akan berani melakukan itu tikus kecil " Seringai mengerikan menghiasi wajah lelaki yang menghadang Kiran, parut bekas luka memanjang menghiasi pipinya. Matanya mengawasi Kiran yang sedang tersudut di tembok, tidak bisa lari lagi. Melihat Kiran yang semakin mengerut ketakutan membuatnya tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi yang menghitam karena pengaruh buruk nikotin rokok yang setiap hari dia hisap.


" Aku tidak bercanda !! " teriak Kiran keras mengalahkan rasa takutnya. Tangannya yang gemetaran semakin bergoyang hebat seiring langkah lelaki buruk rupa itu yang mendekat.


" Itu hanya akan seperti tergoreng kertas " ejek lelaki itu menghancurkan rasa percaya diri Kiran. Mencoba memainkan emosi Kiran yang sedang tidak stabil.


" Tidak kali ini, aku akan membunuhmu !! " pekik Kiran dengan kilatan tajam penuh amarah di matanya. Giginya saling bergemeratakan. Tangannya yang semula gemetaran seakan menemukan keberanian untuk semakin mengeratkan genggaman pisau di tangannya.


" Kalau begitu lakukanlah " lelaki itu menjawab dengan nada menantang yang merendahkan. Dia sangat percaya diri Kiran tidak akan berani mengayunkan pisau itu padanya. Kiran hanya sedang menggertak sambal saja.


" Aarrgghh " Kiran berlari menerjang, mengayunkan pisau di tangannya dengan membabi buta, menyerang semua bagian tubuh lelaki di hadapannya, menebas apa yang bisa di tebas, menusuk apa yang bisa di tusuk.


Lelaki berwajah buruk rupa itu sudah terkapar dengan darah segar mengalir membanjiri lantai. Nafasnya yang tersengal sengal bertahan antara hidup dan mati tidak membuat kilatan kemarahan di mata Kiran mereda, malah semakin membuatnya menggila dan menusukkan pisau yang di genggamnya berkali-kali ke dada lelaki itu. Cipratan darah mengenai wajah dan tangan Kiran. Namun bukannya memohon di ampuni lelaki itu justru tersenyum penuh kemenangan menatap Kiran yang sekarang diam tak berdaya, menangis di sampingnya.


" Hahaha... " tawa jahat keluar dari mulutnya yang berlumuran darah, dia melirik Kiran dari ekor matanya.


" Selamanya kau akan jadi milikku tikus kecil, kau tidak akan bisa lari dari ku, sampai kapan pun " ucapannya mengandung nada kepuasan karena telah berhasil membuat Kiran frustasi.


" Aarrrgghh " Kiran menusuk lelaki itu tepat di mulutnya, memutar pisau nya dan menimbulkan luka robek di sepanjang pipinya. Wajahnya semakin buruk mengerikan, mulut yang banyak bicara itu diam seketika. Dengan mata menatap tajam ke arah Kiran untuk terakhir kalinya.


Kiran jatuh terduduk di samping mayat yang dia bunuh dengan sangat mengerikan itu, dia menggunakan cara terkejam untuk menghabisinya.


Triing !! suara alarm dari jam beker kecil di meja dekat tempat tidur membangunkan Kiran, dengan mata membelalak dan nafas yang terengah-engah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Kiran dari atas sampai bawah.


Dia bangun dan duduk, menarik lututnya mendekat ke wajahnya dan menangis sejadi-jadinya. Sekali lagi Kiran membunuhnya dengan cara tak kalah kejamnya, tapi itu tidak juga membuatnya mati, setiap hari lelaki itu selalu datang menemuinya di dalam mimpi.


Di tempat lain Ken yang sedang bersiap-siap dengan pakaian yang membuatnya terlihat tampan dan mempesona itu sedang menatap cermin berukuran besar di ruang gantinya.


" Kali ini aku tidak boleh sial lagi saat bertemu dengannya, akan aku buktikan bahwa aku adalah laki-laki dengan wajah tampan dan penuh keberuntungan " Ken memakai dasi dengan percaya diri.


" Tapi kenapa aku berusaha begitu keras untuk tampil sempurna di depannya ? Apa yang sebenarnya ku lakukan ? " Tak urung ken meragukan lagi tindakannya untuk membuat Kiran terkesan.


" Aish dia benar-benar mengalihkan perhatian ku " Ken tersenyum sendiri menyadari sikapnya yang lain dari biasanya.


Selesai bersiap-siap dia pergi menuju bangunan utama mansion untuk sarapan bersama anggota keluarga yang lain, bersiul riang saat melewati lorong yang menghubungkan kamarnya dan bangunan utama mansion.


" Selamat pagi " sapanya riang seperti biasa begitu melihat ayah dan juga kakaknya yang sudah lebih dulu ada di meja makan.


Dia kemudian menarik kursi untuk duduk dan segera mengambil segelas susu yang terhidang di meja, dengan santai meminumnya sampai habis tak tersisa.


" Susu kali ini rasanya agak berbeda " ucapnya seperti kepada diri sendiri, dan mengedarkan pandangannya menatap ayah dan kakaknya yang bengong melihatnya.


" Ada apa ? Apa ada yang salah dengan ku ? Atau aku terlihat tampan ? " ucap Ken dengan percaya diri yang berlebihan.


Ruby yang baru saja kembali dari kamar mandi hanya menatap heran ke arah meja makan. Kemudian memandang ketiga lelaki di hadapannya dengan bergantian.

__ADS_1


" Siapa yang meminum susu ku ? " Tanya nya heran melihat gelas susu yang sudah kosong di meja makan.


Rai dan Regis menoleh ke arah Ken seakan menunjukkan pada Ruby siapa tersangkanya. Ruby yang segera paham maksud dari pandangan ayah mertua dan suaminya itu terkejut dan menutup mulutnya.


" Itu susu ibu hamil Ken " pekik Ruby setengah berteriak.


Ken yang mendengar penjelasan Ruby terlonjak kaget, wajahnya membuat ekspresi kikuk dengan mata membelalak. Tidak percaya apa yang sudah dia alami, kesialannya bahkan sudah terjadi sebelum dia memulai hari.


" Kenapa kau tidak bilang ? " Ken menjawab ketus ke arah Rai, dengan tatapan tajam menyalahkan kakaknya atas kesialan yang menimpanya saat ini.


" Kau langsung mengambilnya dan meminumnya sampai habis " Rai menjawab santai dan kemudian tertawa lepas. Regis yang melihat itu juga hanya tersenyum lebar.


" Apa yang akan terjadi padaku ? " seru Ken panik.


" Entahlah, aku rasa kau akan baik-baik saja, itu hanya susu " Ruby mengedikkan bahunya menjawab Ken, berusaha membuatnya tenang dengan jawabannya.


" Aku hanya memikirkan Kiran dan sekarang aku sudah mengalami kesialan, apa jadinya nanti kalau aku menjemputnya, aku akan membatalkan niatku untuk menjemputnya, aku selalu saja terkena sial kalau berada di dekatnya " Ken mengoceh sendiri dengan panik.


" Kiran ? " ulang ayahnya begitu nama itu keluar dari mulut Ken.


" Siapa dia ? Apa dia calon istrimu ? " tanya nya lagi.


" Bukan. Dia guru baru di sekolah yang aku terima " jawaban itu keluar begitu saja dari mulutnya karena pikirannya sedang tidak berkonsentrasi saat ini.


" Lantas siapa yang akan kau antar jemput sampai-sampai kakak iparmu yang harus memohonkan mobil untuk mu ? " Tanya Regis dengan nada tajam.


Aish kenapa aku bisa jadi seperti marimar itu yang selalu saja kelepasan bicara.


Ken memaki kecerobohannya sendiri.


" Ayah dengar kau dekat dengan Tina teman Ruby, lalu kenapa sekarang kau membicarakan Kiran ? " Selidik Regis lebih lanjut. Dengan kekuasaan yang dia miliki tentu akan sangat mudah mencari informasi siapa yang mendekati Ken saat ini, di tambah lagi status Tina yang sebagai karyawan di perusahaannya semakin menguatkan informasi yang dia dapat.


" Aku tidak dekat dengan spongebob itu " elak Ken dengan cepat, dia tidak ingin ayahnya mengira Tina benar-benar kekasihnya. Kesalahpahaman dari ayahnya adalah bencana untuknya. Bisa saja ayahnya mengira Tina memang menjalin hubungan dengannya dan memutuskan secara sepihak untuk menikahkan mereka, dan membuat Ken harus terjebak seumur hidup bersama Tina.


" Ah maksud ku Tina " Ken meralat ucapannya karena melihat tatapan heran dan bingung dari Regis begitu Ken menyangkal.


" Itu artinya calon istrimu adalah Kiran ? Kalau begitu jangan buang-buang waktu, bawa dia secepatnya ke rumah untuk kau perkenalkan dengan kami " ucap Regis telak yang terdengar seperti sebuah perintah raja yang bersifat mutlak.


" Tidak ayah, dia hanya... " Ken berusaha menjelaskan lagi kepada ayahnya. Tapi kata-katanya kembali tertelan oleh tenggorokannya yang terasa kering karena mendapat tatapan mengintimidasi dari Regis.


" Jadi maksudmu kau berbohong ? Beralasan memiliki calon istri yang harus kau antar jemput untuk membuat mobil mu kembali ? " Tembak Regis tepat sasaran, membuat Ken tak berkutik dan terdiam pucat.


" Tentu saja tidak ayah, mana mungkin aku berani membohongi ayah, aku masih sayang nyawa ku " Ken mengucapkan dengan nada riang yang di buat-buat tapi itu malah terdengar seperti sangkalan yang nyata atas kebohongannya.


" Kalau begitu segera tepati janji mu untuk membawa gadis itu ke rumah, dan kenalkan dia dengan kakak mu juga kakak ipar mu. Kau tau ayah bukan tipe pemilih menantu " pungkas Regis yang menandakan tidak boleh lagi ada bantahan dari perintahnya untuk Ken.


" Aku masih menjalani proses pendekatan ayah, belum membicarakan ke tahap pernikahan " Kilah Ken berusaha mengulur waktu untuk menepati janji pada ayahnya.

__ADS_1


" Kau jangan beralasan, cukup bawa dia kesini dan ayah yang akan memutuskan untukmu " Sanggah Regis tegas, kesal melihat Ken yang terus saja membantah perintahnya.


" Jangan khawatir ayah, kami sudah mengenalnya, biarkan saja Ken melakukan pendekatan dengan caranya sendiri " Bela Rai yang melihat Ken sudah terpojok oleh ultimatum yang di berikan ayahnya.


" Kau kenal ? " tanya regis penuh selidik, menatap tajam Rai untuk menilai apakah terdapat kebohongan dalam kalimat yang dia ucapkan demi hanya untuk melindungi saudaranya yang sedang terpojok.


" Ya dia juga teman Ruby, sahabat lamanya, dan dia anak yang baik juga pendiam, sepertinya akan cocok untuk Ken, tapi semua akan kembali lagi pada Ken apakah mereka cocok atau tidak, karena Ken yang akan menjalani nya " Rai memberikan pendapatnya, dia berpikir pembicaraan tentang jodoh Ken harus segera di akhiri sebelum ayahnya mencium kebohongan yang mereka buat.


Ayahnya bukan tipe orang yang bisa di bohongi. Dia akan membuat lawan bicaranya berputar-putar yang pada akhirnya akan membuat penipu terjebak oleh skenario kebohongan yang dia ciptakan sendiri tanpa harus menyelidikinya lebih lanjut, itulah salah satu keahlian yang di miliki ayahnya.


" Baguslah kalau begitu, jadi ayah bisa tenang dan tidak perlu menyelidiki lebih lanjut siapa calon istrimu, karena ayah percaya pada kakak iparmu, dia tidak akan salah dalam memilih teman " Regis menyudahi pembicaraan tentang jodoh, dan menyelesaikan sarapannya kemudian pergi untuk melakukan aktifitas rutinnya. Meninggalkan mereka semua yang masih sarapan di meja makan.


" Terima kasih kak, kau membuat semuanya semakin rumit untukku, sekarang aku harus benar-benar mendekati Kiran " ucapan terima kasih dengan nada sindiran meluncur dari mulut Ken.


" Terima kasih kembali, sudahlah aku yakin Kiran gadis yang tepat untuk mu, bukankah aku menikah dengan marimar tanpa saling mengenal lebih dulu " Rai memberikan pendapatnya pada Ken berdasarkan pengalamannya.


" Benar ken, aku menyerah memikirkan masalahmu, sebaiknya kau ikuti saja saran Rai, lagi pula Kiran gadis yang baik " Ruby yang sedari tadi hanya menyimak kini ikut menimpali.


" Sudah aku pergi dulu " jawab Ken tidak menggubris pendapat yang di berikan oleh kakaknya juga Ruby.


Sepanjang perjalanan menuju tempat kost Kiran, Ken berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang akan membuat harga dirinya terlihat hancur lagi, semua kesialan dan kekonyolannya harus dia sembunyikan, dia tidak ingin Kiran menganggapnya laki-laki aneh.


Mobil yang dia kemudikan telah memasuki kawasan tempat tinggal Kiran, Ken sebelumnya sudah menelefon Kiran, memintanya untuk menunggu didepan gedung. Ken melambatkan laju mobilnya, melihat Kiran berdiri dengan wajah tertunduk bersandar di dinding. Dia membunyikan klakson untuk memanggil Kiran, mendengar suara klakson Kiran mendongak menatap mobil yang berhenti di seberang jalan.


Kiran tersenyum, wajahnya yang cantik tertiup angin. Ken yang menyaksikan hal itu mendadak jantungnya berdegub kencang, menimbulkan rona merah di wajahnya. Matanya tidak melepaskan Kiran yang saat ini sedang berlari kecil menghampirinya.


Kiran membuka pintu mobil dan menyapanya, segera masuk, duduk di kursi sebelah Ken. Sementara Ken yang masih tersihir oleh penampilan Kiran kali ini, tidak menjawab sapaan Kiran dan hanya terdiam membeku dengan mata berbinar menatapnya.


" Tuan " ulang Kiran menyapa, kali ini dengan menggoyangkan tangannya di depan wajah Ken.


Ken segera tersadar dan gelagapan, mendadak perutnya seperti di aduk-aduk karena terlalu gugupnya.


" Baiklah kita jalan sekarang " Ken dengan kikuk menjalankan mobilnya. Keringat dingin membasahi dahinya, wajahnya yang merona merah namun kontras dengan bibirnya yang pucat putih. Belum pernah Ken merasa segugup ini dekat dengan seorang gadis, perasaan mual di perutnya juga semakin menjadi-jadi, seperti naik ke dadanya.


Kiran hanya diam menatap ke depan dengan konsentrasi, Ken sesekali melirik ke arahnya, wajahnya yang cantik di bawah pancaran sinar matahari pagi yang lembut membuat Ken semakin salah tingkah, duduknya tidak tenang. Perutnya bergolak lagi, di aduk-aduk dengan hebat, semakin gugup semakin bergolak, hingga akhirnya dia tidak dapat menahannya lagi.


" Duuutt " pelepasan Ken keluar begitu saja tidak bisa di tahan, dengan suara keras yang bahkan membuat jok mobilnya bergetar.


Kiran yang sangat fokus pada jalanan sampai terlonjak kaget dengan bunyi kentut Ken yang tidak biasa. Dia menoleh cepat ke arah Ken yang langsung mengerem mendadak, membuat mereka berdua reflek terdorong maju kedepan.


" Aku... " Ken berusaha menjelaskan dengan tergagap, tapi dia tidak sanggup hal itu teramat sangat memalukan, pada akhirnya dia hanya bisa menunduk, membenamkan wajahnya ke setang kemudi mobil.


Ini pasti karena susu ibu hamil !!!!


Ken menjerit putus asa di dalam hati.


__ADS_1


gambaran akikah tentang sosok Kiran, menurut akikah wajah suzy ini cocok banget jadi kadang melas, kadang konyol, kadang kocak. Maaf ya kalau g cocok, kalau punya yang lain bisa di bayangin sendiri sesuai selera 😅😅


__ADS_2