Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Reuni Keluarga


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh supir taksi itu berjalan sangat cepat, menerobos kemacetan di jalanan yang lumayan padat. Pada jam pulang kerja seperti ini memang kemacetan panjang sering terjadi.


Kiran yang gelisah di tempat duduk penumpang bolak balik melihat ke jam tangannya, waktunya tidak banyak, sebelum makan malam dia sudah harus sampai di rumah untuk menemui Ganung jika ingin ibunya selamat.


Dylan yang melihat hal itu diam-diam berusaha mengirimkan pesan kepada Ken, dia melihat kesempatan mereka untuk selamat sangat kecil jika harus berhadapan dengan penjahat tidak waras itu. Dan lagi Dylan tidak mengenal siapapun yang bisa di mintai tolong selain Ken.


Dia berencana akan mengirimkan lokasi mereka melalui pesan share location jika sudah sampai nanti, karena dia tidak tau di mana alamat rumah yang akan mereka tuju.


" Di putaran depan belok kiri lalu lurus saja pak " Perintah Kiran kepada sopir taksi yang hanya di jawab dengan anggukan paham.


Sopir taksi itu mengemudikan mobilnya melewati sebuah tugu besar dan berbelok ke kiri sesuai petunjuk yang di berikan oleh Kiran, hal itu tentu saja membuat Dylan terkejut, karena arah yang di tuju Kiran adalah arah yang sama dengan rumahnya yang dulu.


" Kenapa kau masuk ke area perumahan ini ? " Tanya Dylan bingung.


" Ini memang ke arah rumah ku " Jawab Kiran tak kalah bingungnya dengan pertanyaan Dylan.


" Jadi kau tinggal di area perumahan ini ? " Tanya Dylan meyakinkan, jantung di dadanya berdetak cepat mengetahui kenyataan yang baru itu.


Selama ini Kiran hanya bercerita jika pamannya itu adalah paman tirinya sekaligus penjahat yang ingin menjualnya kepada lelaki hidung belang. Hanya itu, tidak lebih dan tidak kurang.


Terhenyak oleh kenyataan yang terlalu kebetulan itu membuat Dylan lupa dengan pesan yang dia ketik untuk di kirimkan kepada Ken. Dia penasaran bagaimana cerita antara Kiran dan Ganung, jelas bukan hanya sebuah hubungan buruk antara paman dan keponakan, begitulah yang terlintas di pikiran Dylan.


Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, hari dimana ibunya memutuskan menikah dengan Ganung dan mereka berpindah tempat tinggal ke area perumahan ini. Itu adalah rumah yang di beli oleh ibunya, tanpa tau alasan kenapa mereka harus pindah.


Ibunya hanya beralasan mereka akan memulai hidup baru jadi mereka membutuhkan lingkungan tempat tinggal yang baru.


" Apa kau sudah lama tinggal disini ? " Tanya Dylan menyelidik, dia merasa semua ini saling berhubungan, kematian ibunya dan Kiran juga.


" Ya aku dari kecil tinggal disini " Jawab Kiran asal, dia masih saja sibuk melihat ke arah jam tangannya.


" Berhenti di depan rumah no 79 pak, yang berpagar hitam tinggi " Kiran kembali memberikan intruksi kepada sopir taksi.


Dylan masih saja berusaha menyatukan semua kebetulan yang seperti di rencanakan ini, pikirannya menerka nerka setiap kemungkinan. Namun belum sampai pikirannya menemukan benang merah dari peristiwa itu, taksi yang mereka tumpangi telah berhenti di sebuah rumah yang cukup besar, bercat putih dengan pagar hitam tinggi menjulang mengitari sekitar rumah yang terletak di ujung jalan tersebut.


Dylan dan Kiran turun setelah sebelumnya memberikan ongkos taksi kepada supirnya. Dylan terkejut melihat rumah tersebut, dia sering kesana dulu sewaktu kecil, namun dia tidak melihat Kiran tinggal disana.

__ADS_1


" Aku sering kesini dulu, bersama ibu menemui ibu Adelia, ibu akan marah kepadanya, dan memprotes tentang wanita yang berusaha merebut ayah tiriku, wanita yang menggoda ayah tiriku, dan dia masih remaja " Dylan bergumam lirih kepada Kiran, mengingat masa lalunya.


Dulu setiap kali ibunya bertengkar dengan ayah tirinya, dia akan pergi ke rumah ini untuk melaporkan perilaku Ganung, dan tentu saja dengan tempramen dari Linda, itu bukan pembicaraan dari hati ke hati. Dylan ingat betul ibunya selalu memberikan ancaman kepada ibu Adelia agar menjaga anaknya agar tidak menggoda Ganung lagi.


" Kau bilang apa ? " Tanya Kiran karena dia tidak berkonsentrasi dengan Dylan saat ini, dia terlalu panik untuk mendengar gumaman lirih dari Dylan.


" Di rumah ini, bu Adelia, apa dia ibu mu ? " Tanya Dylan terbata-bata seraya menunjuk rumah yang ada di depannya.


" Iya dia ibu ku " Jawab Kiran acuh, dia masih saja fokus mengatur napasnya yang sesak karena harus kembali ke rumah yang menjadi mimpi buruknya itu.


" Jadi kau... " Dylan menatap Kiran nanar, penuh pandangan kebencian.


" Apa ? " Tanya Kiran tidak paham dengan pertanyaan Dylan.


" Jadi kau gadis yang menggoda Ganung dan membuat ibu ku menderita ? Kau kan orangnya ? " Bentak Dylan kasar kepada Kiran yang terlonjak kaget dengan perubahan sikap Dylan.


" Apa maksud mu ? " Tanya Kiran bingung, melihat Dylan yang seperti sedang emosi Kiran memutuskan mundur menjauh beberapa langkah, membuat jarak dengan Dylan.


" Gara-gara kau, ibuku menderita. Dulu ibu ku dan Ganung, mereka sempat merasakan bahagia, walaupun Ganung tidak pernah menjadi ayah yang baik untuk ku, tapi dia pernah menjadi suami yang baik untuk ibuku, melihat ibu ku bahagia itu sudah cukup bagi ku, tapi setelah beberapa waktu, Ganung mulai berubah, dia selalu bertengkar dengan ibuku yang berujung pada kekerasan. Itu semua karena kau menggodanya, kau yang menyebabkan pernikahan ibuku dan Ganung hancur berantakan " Teriak Dylan penuh emosi, kemarahan menguasainya.


" Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Dylan, menggoda apa ? Menggoda siapa ? " Tanya Kiran bingung sekaligus takut menghadapi Dylan saat ini.


" Kalau saja kau tidak menggodanya, kalau saja kau tidak merayunya, mungkin ibu ku tidak akan selalu bertengkar dengannya, dan dia tidak akan membunuh ibu ku, ini semua gara-gara kau " Dylan yang masih terbakar emosi menarik tangan Kiran agar mendekat kepadanya.


" Betapa bodohnya aku menyelamatkan wanita yang sudah menyebabkan kematian ibu ku, apa kau senang ? Kau puas sudah menghancurkan keluarga ku, membuatku menjadi yatim piatu ? " Dylan yang emosi mendorong Kiran hingga jatuh terduduk.


Kiran yang bingung dengan Dylan beringsut mundur menjauh.


" Baiklah, akan aku antar kau kepadanya, akan ku buat kau juga merasakan apa yang ibu ku rasakan, lalu setelah itu aku akan memanggil polisi kemari agar dia juga menangkap penjahat itu, dengan begitu dendam ibu ku pasti terbalaskan, dasar kalian keluarga sinting, kau menggoda pamanmu sendiri " Dylan yang kesal segera menghubungi nomor darurat untuk di sambungkan kepada kantor polisi.


Kiran yang tidak mengerti apapun hanya bisa menangis melihat Dylan yang semula berpihak padanya kini berubah menjadi orang yang mengerikan. Belum hilang rasa terkejutnya akibat perubahan sikap Dylan, sebuah tepuk tangan mengalihkan pandangannya. Ganung yang sudah berdiri di balik pagar hitam itu sedang bersandar di tembok dengan angkuhnya.


" Wah wah Kiran sayang, aku menyuruhmu datang seorang diri tapi kau membawa teman, tidak masalah, kita akan reuni keluarga. Mantan anak tiriku dan keponakan ku tersayang, baiklah, karena kita sudah lengkap jadi silahkan masuk " Ucap Ganung santai dan membuka gembok pagar agar mereka berdua bisa masuk.


" Dasar penjahat sinting, kalian keluarga sinting, keponakan menggoda pamannya sendiri " Ejek Dylan sinis kepada Kiran dan Ganung bergantian.

__ADS_1


" Kau salah paham Dylan, aku tidak seperti itu " Kiran yang mulai paham berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.


Tiba-tiba sebersit pikiran muncul di kepala Dylan, keinginan terbesarnya saat ini adalah untuk membalas dendam kematian ibunya, dengan siapapun atau apapun yang menjadi penyebab kematian ibunya. Dengan sigap Dylan segara meraih tangan Kiran yang berusaha berdiri. Dia kemudian memelintir tangan Kiran dan menahannya, menjadikannya tawanan.


Ganung yang melihat Kiran meringis kesakitan segera bereaksi, namun Dylan cukup sigap, dia menyeret Kiran mundur dan mencekik lehernya dengan satu tangannya yang bebas.


" Jangan mendekat atau ku patahkan leher selingkuhanmu ini " Ancam Dylan dingin. Kiran yang kesakitan mulai terbatuk-batuk akibat kurangnya asupan oksigen karena lehernya yang tercekik.


" Jangan sakiti dia " Jawab Ganung tak kalah ketus.


" Aku tidak percaya selama ini aku menyelamatkan orang yang salah, baiklah, jika dia terluka kau juga akan terluka bukan ? Sama seperti dulu, saat ibuku terluka aku juga ikut terluka, sekarang rasakan bagaimana rasanya " Sinis Dylan ketus dan semakin mengeratkan cengkraman di leher Kiran.


Ganung yang tidak tega melihat Kiran kesakitan hanya bisa diam membeku, dia berusaha mencari celah agar bisa menangkap Dylan tanpa menyakiti Kiran.


" Kalau sampai kau melukainya, aku akan mengirimmu untuk menemani ibumu di sana " Ancam Ganung tajam.


" Kita lihat saja, selangkah saja kau menggerakkan kakimu, aku yakin leher kekasihmu ini pasti sudah patah, mungkin aku tidak akan menang melawanmu, tapi jika melawannya, aku rasa aku masih bisa menang " Jawab Dylan sinis seraya melirik ke arah Kiran.


" Dylan kau salah paham " Kiran berusaha menjelaskan dengan suara tercekat dan napas yang tersengal-sengal.


Ganung yang sudah kehabisan kesabaran melihat Kiran yang semakin pucat mengeluarkan senjata dari balik jaketnya. Sebuah pistol sekarang mengarah ke arah Dylan dan Kiran.


Kiran yang semakin pucat mendapat todongan senjata api itu semakin kuat meronta. Namun Dylan tidak gentar, dia berpikir peluru itu akan lebih dulu menembus Kiran jika ingin mengenainya.


" Tembak saja, dan kita berdua akan mati " Ancam Dylan penuh percaya diri.


" Kau tau aku tidak akan melukai Kiran ku, tapi jika itu yang kau inginkan tidak masalah, toh aku memang akan pergi bersama Kiran ke tempat yang jauh, sejauh mungkin hingga Ken tidak akan bisa merebutnya dari ku, berhubung kita sudah berkumpul sebagai satu keluarga, maka kita akan pergi bersama-sama, kita akan berkumpul dengan Linda, dia pasti sangat senang melihat anaknya lagi hahaha... " Ganung tertawa terbahak-bahak dengan santainya, membuat Kiran maupun Dylan bergidik ngeri, benar-benar tipe psikopat gila yang berbahaya.


Tanpa aba-aba dengan gerakan cepat, Ganung menembakkan peluru yang ada di dalam pistol tersebut. Dylan dan Kiran yang masih terkejut tidak bisa menghindar. Peluru itu menembus bahu kiri Kiran dan langsung mengenai bahu kiri Dylan juga. Mereka berdua jatuh tersungkur bersamaan, seiring dengan darah yang mengalir keluar dengan derasnya, membasahi baju mereka masing-masing dengan cepat.


Rasa panas karena tembakan menjalari tubuh mereka, membuat pandangan mereka kabur, dan semakin lama semakin gelap. Mereka berdua jatuh pingsan.


Ganung yang melihat itu segera menghampiri mereka berdua, memastikan apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Kemudian membawanya masuk ke dalam rumah secara bergantian.


Setidaknya aku akan menepati janji ku pada Linda, aku akan mengirim anakmu kepada mu seperti yang selalu kau inginkan.

__ADS_1


Ganung tersenyum saat mengangkat tubuh Dylan dan membawanya masuk kedalam rumah.


__ADS_2