
Ken pulang pagi-pagi sekali bersama Kiran, dia sengaja mengajaknya pulang karena harus berganti baju sebelum pergi bekerja dan mereka akan sarapan bersama keluarga Ken.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu utama, Ken turun lebih dulu dan kemudian membukakan pintu untuk Kiran. Dan mereka masuk bersama-sama kedalam rumah.
" Kau sedang apa ? " Tanya Ken dengan kikuk begitu melihat Rai yang dengan mata terpejam menuruni tangga dan menggendong guling Raline.
" Sstt... diam, kau akan membangunkannya, dia tidak tidur semalaman " Rai mengoceh dengan mata tertutup, dan bergoyang-goyang untuk menenangkan guling yang di anggap Raline.
" Sayang, tidur ya ? Cup cup cup " Rai menepuk-nepuk pelan guling tersebut.
Semalam Raline sangat rewel dan membuat Ruby dan Rai kesulitan menenangkannya, sedangkan Ken tidak bisa di hubungi karena ponselnya di matikan dan tidak jelas dimana keberadaannya.
Regis dan Ruby yang baru saja masuk setelah berjemur sinar matahari pagi bersama Raline hanya bisa diam dengan mulut menganga melihat tingkah Rai.
" Hahahaha... " Tak urung tawa mereka semua pecah melihat Rai dengan sikap konyolnya.
" Hei kenapa kalian semua tertawa keras sekali !! " Makinya kesal masih dengan mata tertutup dan bersandar pada pegangan tangga, kemudian dengan bergoyang-goyang dia menepuk-nepuk guling Raline.
" Bangun, bangun, bangun " Ken menepuk keras pundak Rai agar menyadarkannya. Namun karena dirinya sangat mengantuk membuat keseimbangannya oleng dan akhirnya maju terdorong ke depan, guling Raline yang di gendongnya pun terlontar ke udara dengan sukses.
" Tidaaakkk !!!! " Teriak Rai, secepat kilat dia segera berlari dan mengambil ancang-ancang kemudian melompat tinggi menangkap guling Raline, lalu mendarat dengan berguling beberapa kali dan berhenti dengan berlutut dengan satu kaki, jika saja saat itu adalah salah satu adegan dalam syuting film, maka mungkin Rai bisa memenangkan piala penghargaan sebagai best moment.
" Hei !!! " Teriaknya dengan marah ke arah Ken yang sedang menatapnya dengan melongo. Mata Rai yang merah, perpaduan antara mengantuk dan marah, serta mulutnya yang terkatup rapat menahan geraman membuat nyali Ken ciut.
Ken segera berlari menuju balik punggung Regis untuk berlindung.
" Adik durhaka !!! Kemarilah kau !!! " Teriaknya semakin marah karena melihat Ken yang bersembunyi di balik punggung ayahnya.
" Hei, hei, hei sadarkan dirimu " Omel Ruby kesal dan mendekati Rai, merebut guling Raline dengan paksa dan mendekatkannya ke arah wajah Rai.
" Apa ?!? " Teriaknya syok.
" Kenapa wajah Raline ku jadi begini huweee... " Tangis Rai keras.
Ruby menghela napas jengah, lalu memukul pelan pundak Rai.
" Ini guling Raline, lihat baik-baik " Omelnya kesal.
Rai menajamkan penglihatannya, di tatapnya lekat-lekat guling yang kini ada dihadapannya lalu menghela napas lega. Guling Raline dengan kepala winnie the pooh itu tadinya terlihat seperti Raline di matanya yang hanya tinggal 5 watt.
Dia lalu merampas guling Raline dari tangan Ruby dan melemparkannya ke arah Ken, tepat sasaran saat Ken mendongakkan kepalanya untuk mengintip dari balik punggung Regis.
" Sudah ayo sarapan " Regis melerai keributan di pagi hari yang sudah seperti pasar saja, dia mengajak dan mendorong kereta dorong Raline menuju ruang makan.
Mereka semua pun lalu berkumpul di meja makan, dan Dylan yang terakhir bergabung dan mengambil tempat duduk di sebelah Kiran.
" Semalam ada keributan apa ? " Tanya Regis kepada Dylan.
" Hanya tidak sengaja menabrak seseorang " Ucap Dylan santai seraya mengambil sepotong roti dan mengoleskannya dengan selai.
" Tidak taukah kau siapa yang kau tabrak ? " Tanya Regis menyelidik.
" Tidak " Dylan menggelengkan kepalanya polos.
" Ada apa ? " Tanya Rai dan Ken penasaran.
" Tidak hanya saja saat semalam aku meminta Dylan mengantarkan berkas ku, dia tidak sengaja menabrak seseorang dan mereka sempat beradu argumen " Jawab Regis menjelaskan.
" Mereka berkelahi ? " Tanya Ken antusias.
" Dia kalah ? " Tanya Rai juga antusias.
" Tidak dia bertengkar dengan seorang gadis " Jawab Regis santai.
" Aahh... mati lah kau, wanita selalu benar meskipun mereka yang salah " Ucap Ken dengan nada mengejek.
" Dia pasti akan jadi jodohmu " Angguk Rai menyetujui argumen Ken.
" Aku tidak... " Dylan yang mencoba membela diri kalah karena di serang bertubi-tubi, namun Ken dan Rai yang seperti menemukan bahan godaan baru di keluarga mereka tidak memberi Dylan celah untuk membela diri.
" Hei terima saja lah takdirmu, setidaknya kau harus bersyukur punya 2 kakak yang sangat jago dalam urusan percintaan " Jawab Rai sombong.
__ADS_1
" Pff... " Ruby tertawa tertahan, dan Kiran hanya memutar bola matanya malas.
" Jika kau ingin selamat dalam urusan percintaan mu, sebaiknya jangan minta saran sedikit pun kepada mereka, percayalah, mereka jago dalam mempersingkat umurmu " Cibir Ruby dan kemudian di susul gelak tawa darinya dan Kiran.
" Aku tidak ingin pacaran, aku ingin fokus belajar " Saut Dylan keras membela dirinya.
" Aku dukung itu " Jawab Regis setuju.
" Hei ayah pilih kasih, dengan ku dan dia saja selalu memaksa kami segera menikah, tapi dengannya kau memberi kelonggaran, tidak adil " Sungut Ken kesal dan di setujui oleh Rai.
" Hei kalian berdua ini !! " Omel Regis kesal.
" Dia baru saja jadi adik kalian dan kalian sudah meracuni pikirannya dengan pikiran mesum kalian " Omel Regis kepada Ken dan Rai yang semakin cemberut kesal.
Kiran yang mendengar kata mesum secara reflek langsung menutup telinga Dylan yang duduk di sampingnya. Sedangkan Ruby juga melakukan hal yang sama terhadap Raline yang sedang tidur di kereta dorong yang ada disampingnya.
" Maaf, ada anak di bawah umur disini " Potong Kiran takut-takut.
" Ah maaf " Jawab Regis menutup mulutnya rapat dan kemudian melirik ke arah Ken dan Rai dengan tatapan kesal.
" Oh ya Kiran kau sudah memutuskan kapan tanggal pernikahanmu ? " Tanya Regis kemudian.
" Sudah, kami akan menikah minggu depan " Jawab Ken bersemangat.
" Baiklah akan ku persiapkan semuanya " Jawab Regis mengangguk-angguk santai.
" Tidak apa-apa ayah, kami sudah membicarakannya dengan pak Handoko, dan aku rasa dia sanggup mengurusnya, dan lagi Kiran hanya akan memakai gaun pernikahan ibu sama seperti marimar dulu, jadi tidak perlu terlalu ribut " Jawab Ken santai.
" Benarkah ? " Tanya Regis kepada Kiran.
" Ya tuan, kami hanya akan mengundang para guru, dan warga desa di kampung halamanku " Jawab Kiran sopan.
" Kau tidak ingin pesta yang meriah ? " Tanya Regis heran.
" Tidak, jika Ruby saja menggelarnya tertutup bagaimana aku memimpikan menikah secara besar-besaran " Jawab Kiran tersenyum canggung.
" Hei gadis nakal " Saut Ruby.
" Tidak apa-apa, kurasa dalam hal ini aku mirip dengan mu, aku tidak terlalu menyukai perhatian " jawab Kiran tersenyum.
Rai yang mendengar Ruby berbicara seperti itu memandangnya dengan sedih, dia teringat kembali bagaimana dia memperlakukan Ruby dulu, jelas bukan pernikahan yang di impikan oleh seorang gadis.
" Apa kau ingin menikah lagi ? " Tanya Rai tiba-tiba.
" Karena aku ingin " Lanjutnya.
Semua orang yang sedang menyendokkan makanannya terkejut dan tersedak mendengar pernyataan Rai, mereka menoleh kepadanya secara serempak dengan mata mendelik marah, hanya Dylan yang memandangnya bingung.
" Kau !! " Regis memukul kepala Rai yang ada di sebelah kanannya.
" Aduh... bukan begitu maksud ku " Jawab Rai ketus dan mengelus-elus kepalanya yang sakit.
" Hei lalu apa ? Kau jangan sampai macam-macam ya ? Aku tidak suka Raline punya ayah jahanam seperti itu " Tanya Ken ketus.
" Kalau dia mau menikah lagi dengan ku, maksud ku pesta pernikahan sekali lagi, yang asli, yang penuh cinta, begitu " Teriaknya kesal karena menjadi tertuduh.
Semua orang bernapas lega mendengarnya lalu tersenyum sungkan karena telah memarahinya.
" Ei kau ini ada-ada saja " Jawab Ruby malu-malu.
" Aku rasa itu ide yang bagus " Saut Ken kemudian.
" Ya benar, tidak apa-apa nak, menikahlah sekali lagi dengan perasaan mu saat ini, berbahagialah " Jawab Regis lembut.
" Iya saja ya ? " Kiran pun ikut menyauti antusias.
" Kita akan memakai gaun yang sama dan persahabatan kita akan terasa sempurna ya " Rengeknya manja.
" Tidak, tidak, nanti siapa yang menunggu Raline " Jawab Ruby menggelengkan kepalanya.
" Kan ada dia " Saut Rai cepat dan menunjuk Dylan dengan wajahnya.
__ADS_1
Semua orang lalu menoleh ke arah Dylan dengan senyum licik penuh kejahatan.
" Tidak " Gumam Dylan takut-takut, dia telah mendengar cerita selengkapnya tentang Ken yang menjaga Raline hingga tragedi tali yang membuatnya pingsan.
" Aku sudah selesai sarapannya, aku berangkat sekolah dulu, permisi " Dylan segera bangkit berdiri dan menundukkan kepalanya kepada semua orang lalu lari terbirit-birit keluar rumah.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dylan yang berhasil kabur dari rencana pembunuhan mental itu pun bernapas lega saat bus yang di akan dinaiki nya tiba tepat waktu. Dia segera naik dan bus pun melaju meninggalkan halte.
Setelah menempuh beberapa lama perjalanan bus pun berhenti di halte dekat sekolah, dan Dylan harus melanjutkan perjalanannya menuju sekolah dengan jalan kaki.
Mobil-mobil mewah yang mengantarkan murid-murid golongan kelas A, begitu mereka menyebutnya untuk kalangan anak pejabat atau anak pengusaha kaya, dan menyebut golongan B untuk anak-anak yang memiliki strata sosial di bawahnya, dan golongan M bagi anak-anak tidak mampu yang masuk karena jalur beasiswa atau golongan buangan, mengantri berjejer untuk masuk kedalam area sekolah.
Tin, tin, tiiiinn !!! Suara klakson mobil terdengar nyaring memengkakkan telinga, Dylan yang berjalan pun segera agak minggir ke tepi, namun suara klakson itu terus saja berbunyi panjang seakan sengaja di bunyikan.
Dylan yang ikut kesal dan terganggu dengan suara itu menolehkan kepalanya, sebuah mobil sport berwarna merah dengan plat nomor yang masih putih itu ada di belakangnya. Murid-murid yang lain pun memandang mobil sport itu dengan kagum karena itu adalah mobil keluaran terbaru dan belum ada di negara ini.
" Hei minggir kau anak pela***, menghalangi jalan ku saja ! " Teriak Andromeda yang sengaja mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil melalui kaca jendela.
Pantas saja.
Cibir Dylan malas dan kemudian berbalik untuk melanjutkan jalannya lagi, mengabaikan ocehan Andromeda.
Tiiiiinnn !!! Suara klakson lagi-lagi terdengar, namun bukan Dylan namanya jika dia tidak bisa mengabaikannya seperti angin lalu. Dengan santai dia tetap melanjutkan jalannya.
Mobil sport yang di kendarai Andromeda itu pun mengikutinya dari arah belakang dengan tetap membunyikan klaksonnya keras-keras hingga membuat kemacetan karena menghalangi jalan masuknya kendaraan yang lain.
" Aish !! " Teriak Blair marah dari kursi penumpang.
" Kenapa berisik sekali sih ? " Omelnya kesal dan bertanya pada managernya apa yang membuatnya tidak lekas menjalankan mobilnya.
Managernya memberitahukan masalah yang terjadi depannya, dengan kesal Blair melihat ke depan.
" Dasar sialan, pagi-pagi sudah membuat ribut, mereka tidak tau kalau aku harus bangun pagi untuk pergi ke sekolah " Omelnya kesal lalu menatap tajam managernya yang merangkap sebagai sopirnya.
" Sudah ku bilang aku tidak mau sekolah, kenapa masih ngotot memaksa ku sekolah, aku tidak butuh sekolah, aku sudah punya segalanya, uang, popularitas, lalu kenapa aku harus sekolah ? " Lanjutnya kesal.
" Kepintaran, cuma itu yang tidak kau punya " Jawab Managernya jujur.
" Hah ?!? " Sentaknya kesal dan menghempaskan dirinya bersandar dengan keras.
" Kau ini managerku tapi mulutmu sangat berbisa, kau bekerja untuk ku tapi kesetiaanmu ada pada ayahku, dasar pengkhianat " Cibirnya sinis, namun Managernya terdengar sudah biasa dengan sikap Blair yang seperti itu, terbukti dari senyumnya yang tersungging miring saat Blair sibuk memakinya.
Tiiinnn !!! Suara klakson lagi-lagi terdengar keras, membuat Blair semakin marah.
" Aish aku tidak tahan lagi, persetan dengan image ku " Blair kemudian membuka pintu mobilnya dan berjalan menghampiri mobil sport merah yang ada di depan mobilnya.
Tok, tok, tok !!!! Dia mengetuk kaca jendelanya, dan Andromeda membukanya.
" Maaf tapi bisakah mobilmu bergerak, mobilku jadi tidak bisa masuk ke dalam " Ucap Blair lemah lembut dan mengerlingkan matanya kepada Andromeda.
" B-b-blair... " Tunjuk Andromeda tergagap melihat gadis yang kini ada di hadapannya.
Aish satu lagi laki-laki bodoh yang tergila-gila dengan kecantikanku.
Cibirnya sinis.
" Ya aku Blair, bisa tolong kau memberi mobilku jalan ? " Ucapnya lagi dengan lemah lembut.
" T-tentu saja " Jawab Andromeda cepat dan segera melajukan mobilnya agar memberi jalan pada mobil yang di tumpangi Blair.
Mobil Blair kemudian maju kedepan dan berhenti tepat di sampingnya, dia mengedarkan padangannya menyapu seluruh area sekolah sebelum masuk mobil, dan tepat sesuai dugaannya, para mata yang memandangnya kini terlihat syok karena melihat Blair, si aktris baru yang sedang naik daun.
Dengan senyum lebar Blair menyapa semua orang lalu masuk ke dalam mobilnya.
" Kau memang seorang aktris " Puji Managernya dengan nada mengejek.
" Aish jaga mulutmu itu sebelum ku hwak... " Omelnya kesal.
" Dasar anak-anak itu, membuatku sampai harus turun begini " Gerutunya semakin kesal.
__ADS_1
Dan mobilnya pun melaju untuk mengantarkan Blair sampai ke pintu masuk sekolah.