Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Tanda-tanda


__ADS_3

Setelah interogasi panjang yang dilakukan ayahnya, Ken akhirnya bisa bernafas lega karena mampu menahan mulutnya agar tidak menyebutkan nama Kiran.


Bukan dia tidak ingin menjadi kekasih Kiran, hanya saja dia sendiri belum yakin dengan perasaannya terhadap Kiran, dan juga perasaan Kiran terhadapnya, dia ingin menjalin pendekatan lebih dulu sebelum memutuskan akan memilih Kiran.


Kini mereka beralih membicarakan pembangunan pusat perbelanjaan yang dulu di tangani Ken sebelum menjadi kepala sekolah dan juga Regis ingin memberikan pekerjaan kepada Ganung, teman sekolahnya dulu. Dia akan menjadikan Ganung sebagai manager utama di sektor bisnisnya yang baru tersebut.


" Apa dia menemui ayah untuk meminta pekerjaan itu ? " Tanya Ken penuh selidik, tidak biasanya ayahnya bersikap nepotisme.


" Tidak Nak, terjadi beberapa hal, dan ayah sudah memastikannya, semuanya terkendali " Ucap Regis di sela tangannya yang sibuk membolak balik tumpukan kertas yang di pegangnya.


" Baiklah kau bosnya " Ken menjawab acuh, tidak ada alasan baginya untuk meragukan pilihan ayahnya, karena ayahnya tidak mungkin melakukan kesalahan. Namun firasat Ken sebenarnya mengatakan ada yang di sembunyikan dari teman ayahnya tersebut.


Sarapan yang sangat panjang, menurut Ken, sampai harus menghabiskan beberapa jam untuk membahas peralihan tanggung jawab pembangunan dari tangan Ken ke tangan Ganung. Ayahnya memeriksa tiap dokumen penyerahan berdasarkan laporan Ken, jadi saat nanti Ganung mengambil alih dan berbuat macam-macam seperti korupsi, maka Regis akan segera mengetahuinya.


Ken melihat jam tangannya, hampir waktunya makan siang, dia ingin pergi menemui Kiran untuk mengajaknya makan siang bersama. Meskipun mungkin belum waktunya pulang kuliah, tapi tetap saja ada waktu istirahat.


Ken gelisah memikirkan alasan yang tepat untuk di utarakan kepada ayahnya, agar tidak ada kecurigaan.


" Kenapa kau gelisah ? " Tanya Regis penuh selidik melihat Ken yang bolak balik menatap jam di tangannya.


" Aku ingin pergi menemui kakak ipar, tadi sepertinya sebelum aku pergi dia menitipkan sesuatu, ngidam lagi " Ken membuat alasan, dia tau jika sudah berhubungan dengan marimar durjananya, Regis akan sangat panik dan tidak akan bertanya apapun.


" Benarkah ? Apa yang dia inginkan ? Aku sampai lupa mengabarinya kalau aku sedang ada di restoran jepang, telepon dia dan tanyakan Junior ingin makan apa " Perintah Regis dengan sedikit panik, nafsu makan Ruby memang meningkat pesat di masa trimester akhir kehamilan. Hanya tinggal beberapa bulan lagi maka Junior akan lahir.


" Tenang saja, serahkan padaku " Ken menepuk dadanya penuh percaya diri, dia tidak mengira rencananya akan semulus jalan tol.


Dia mengambil ponselnya, berpura-pura menekan layarnya dan menelepon.


" Halo kakak ipar, aku dan ayah sedang ada di restoran jepang, kau ingin sesuatu untuk junior ? " Tanya Ken dengan suara keras, untuk menutupi bahwa sebenarnya tidak ada sambungan telepon kepada Ruby.


Regis hanya mengawasi Ken dengan tenang sambil memikirkan deretan menu terbaik dari restoran ini yang akan dia bawakan untuk menantu kesayangannya.


" Iya sebenarnya ayah mungkin ingin lebih lama ngobrol dengan ku, bagaimana kalau aku menyuruh pelayan saja mengirimkan makanan-makanan ini kerumah ? " Ken berpura-pura sedih dalam suaranya.


" Kalau memang dia ingin kau yang mengantar sendiri makanan itu, pulanglah " Regis menjawab lirih.


" Kau tidak apa-apa ayah ? Sebenarnya kakak ipar ingin makan siang bersama ku, tapi kalau kau masih ingin bicara dengan ku, kurasa kakak ipar pasti akan mengerti " Ken terus berpura-pura sungkan.

__ADS_1


" Tidak apa-apa pergilah, Junior yang paling penting " Regis menjawab penuh maklum. Dia memang tau Ruby dan Ken sangat dekat, dan Ruby juga kesepian di rumah, jadi semakin banyak teman untuk Ruby akan semakin baik untuk kehamilannya.


" Baiklah kakak ipar, aku akan segera pulang ke rumah dan menemanimu bermain " Jawab Ken senang, rencananya berhasil. Dia akan terbebas dari ayahnya untuk berkencan seharian ini tanpa pertanyaan.


Tapi sepandai-pandainya Ken merencanakan sesuatu, tetap takdir tidak berpihak padanya. Ponsel yang sedang ada di telinganya tiba-tiba berbunyi keras, panggilan masuk, membuat Ken terlonjak kaget mendengar nada deringnya yang terasa sangat keras di gendang telinganya. Terlebih lagi Regis, dia lebih terkejut menyaksikan kejadian di depannya.


" Ehem ehem " Regis berdehem untuk meminta perhatian Ken yang saat ini sibuk mematikan panggilan masuknya.


" Jadi zaman sudah berubah begitu banyak, sampai-sampai saat kau melakukan panggilan keluar maka ponsel mu masih bisa berdering untuk panggilan masuk ? " Sindir Regis dengan tajam, tidak menyangka Ken tidak pernah jera dengan kelakuannya yang luar biasa aneh.


" Tentu saja ayah, sekarang jaman yang sangat canggih, robot dimana-mana, jadi kalau hanya hal kecil seperti ini bukan sesuatu yang pantas di hebohkan " Elaknya dengan terbata-bata.


" Oh jadi begitu ya ? Baiklah kalau begitu ayah akan membeli perusahaan provider tersebut dan melakukan penelitian besar-besaran tentang hal ini " Ucap Regis santai dan kembali memperhatikan tumpukan berkas-berkas yang sedang dia periksa.


" Apa ? " Ken terkejut dengan ucapan ayahnya, tapi sudah kehabisan kata-kata untuk mengelak lagi. Hanya satu cara tersisa untuk kabur dari ayahnya sebelum khotbah ayahnya semakin panjang.


" Oh selamat siang, ada apa ? " Ken tiba-tiba menundukkan kepala, pandangannya melewati bahu Regis.


Regis yang terkejut menoleh ke belakang, namun tidak ada siapa-siapa, lalu masih dengan heran kembali menoleh arah Ken, dan kosong. Dia sudah mengerahkan segenap kemampuan berlarinya untuk kabur dari sana.


" Hahaha... " Regis tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Ken, kelakuan anak-anaknya yang selamanya tetap seperti anak-anak, salah satu penghibur dirinya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Mobil Ken kembali memasuki pelataran parkir universitas tempat Kiran sedang kuliah, dia memarkirkan mobilnya di ujung.


Sejenak dia ragu bagaimana memulai percakapan untuk mengajak Kiran makan siang, berpura-pura melewati daerah ini juga bukan alasan yang tepat. Setelah cukup lama berpikir dan tidak menemukan satupun alasan yang cukup bagus, Ken memutuskan untuk langsung turun saja dan dengan jantan menemui Kiran.


Dia berjalan memasuki gedung universitas, bertanya dari satu orang ke orang yang lain tentang Kiran, dan ajaibnya mereka semua tau Kiran, terutama sebagian besar laki-laki, mereka akan memandang Ken penuh pandangan menyelidik dari atas sampai bawah, seakan menggunakan kekuatan mata super dari superman untuk menilai siapakah laki-laki yang bertanya tentang Kiran tersebut, dan tentu saja itu membuat Ken risih, bukan hanya risih karena pandangan mereka tapi juga risih kenapa hampir seluruh laki-laki disini tau siapa Kiran. Itu membuatnya tidak suka, membuat hatinya sedikit nyeri membayangkan apakah Kiran hanya menghindarinya atau mereka juga termasuk di dalamnya. Kemarahannya mendadak muncul tak terkendalikan dari dalam dirinya.


Setelah cukup lama bertanya-tanya, akhirnya dia menemukan kelas Kiran. Pintunya terbuka, jadi dia memutuskan untuk mengintip dari jauh saja, barangkali kelasnya belum selesai. Tapi bukannya pemandangan dosen yang sedang mengajar yang dia dapati sekarang, namun pandangan tentang seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan meja Kiran dengan membawa sekotak makanan.


Sedangkan teman-teman wanita Kiran, sekitar 3 orang, sedang sibuk bersorak dan berhuuu ria menyemangati laki-laki tersebut. Sontak saja hal itu membuat darah Ken semakin mendidih, wajahnya merah padam layaknya seragam pemadam kebakaran yang sedang menembus api.


Dengan kesal dia mendekati pintu dan memutuskan menguping pembicaraan mereka.


" Terima kasih, kau baik sekali " Ucap salah satu teman wanita Kiran yang duduk di sebelah kirinya.

__ADS_1


" Tidak masalah, keluarga ku punya toko bakery yang cukup terkenal, kalau kalian ingin makan cake datang saja kapanpun, aku akan memberikan kalian cake dengan gratis sebanyak apapun yang kalian mau, terutama untukmu Kiran " Ucap laki-laki itu dengan penuh kesombongan dan dada yang membusung.


Hah !! Hanya toko bakery saja kau sudah sesombong itu, asal kau tau, keluarga ku malah punya sekolahan yang menjadikan Kiran salah satu gurunya, aku bukan memberikannya cake gratisan, tapi aku memberinya uang.


Maki Ken melihat kepongahan laki-laki yang sedang berusaha mendekati Kiran.


Dia mengamati ekspresi Kiran lekat-lekat, wajahnya terus saja tertunduk, terlihat gelisah dan tidak nyaman. Tangannya seperti berpura-pura menulis sesuatu di bukunya tapi jelas itu bukan gerakan menulis, itu gerakan gemetar.


Ken jadi sedikit lega, setidaknya perlakuan Kiran padanya lebih baik, meskipun pada awalnya sikap Kiran sama persis seperti yang dia lihat sekarang.


Syukurlah, jadi dia memang bersikap defensif kepada semua laki-laki, bagus Kiran, pertahankan terus sikapmu itu, semua laki-laki memang brengsek, tidak bisa di percaya.


Ken seakan memberikan semangat melalui kemampuan telepatinya terhadap Kiran. Tapi kemudian sedikit meralatnya.


Kecuali aku, kakak, dan ayah.


Dia melanjutkan.


Cukup lama Ken memata-matai Kiran dari arah luar kelas, sampai salah satu teman Kiran tanpa sengaja menoleh kearah Ken dan menatapnya penuh curiga.


Sadar Ken telah tertangkap basah, dia segera membenahi postur tubuhnya dengan tegap dan terlihat cool. Dia harus jadi lebih berkharisma daripada anak pemilik toko bakery tersebut.


Teman Kiran membisikkan sesuatu kepada Kiran, dan dengan cepat membuat Kiran menoleh ke arah Ken, lalu senyumnya pun terkembang lebar.


Kiran sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa sesenang itu bertemu Ken, mungkin saja karena sikap konyolnya yang selalu membuat suasana jadi lucu. Yang jelas di dekat Ken dia merasa aman dan nyaman.


Merasa mendapat lampu hijau Ken pun masuk ke dalam kelas dengan langkah mantap, dia tidak boleh melakukan kesalahan yang akan menjatuhkan harga dirinya, tidak apalagi didepan teman-teman Kiran dan calon saingannya.


" Selamat siang " Sapanya dengan suara ramah dan sopan. Benar saja, teman-teman Kiran langsung terpesona oleh ketampanan Ken dan juga kharismanya. Dan laki-laki itu hanya bisa menatapnya kecut.


" Rahul " Pekik Kiran dengan takjub dan antusias.


" Apa ?!? " Semua kompak terkejut mendengar Kiran memanggilnya begitu.


Aish dasar, kau menjatuhkan kharisma ku saja !! Ken.


Ganteng-ganteng bollywood juga. Tawa teman-teman Kiran dalam hati.

__ADS_1


Rahul ? Nama macam apa itu, hah masih lebih bagus nama ku, Bambang, lebih keren. Ejek laki-laki itu di dalam hati.


Sesenang ini hanya dengan melihatmu. Kiran


__ADS_2