Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Menganggapku Apa


__ADS_3

Mereka berdua sampai di sekolah dengan selamat, hanya sedikit bau menyegat yang mengiringi mereka sepanjang perjalanan. Meskipun kaca jendela telah di buka, dan baunya menguap seiring terpaan angin pagi, tapi rasa malu Ken masih tertinggal awet di hati dan wajahnya. Dia bahkan tidak berani lagi melirik Kiran.


Mobil yang di kemudikan Ken memasuki area parkir khusus guru, berhenti dan dengan terburu-buru dia segera berjalan cepat meninggalkan Kiran yang masih ada di mobil.


" Aku seperti ingin ke korea untuk operasi plastik " Gumam Ken dengan wajah frustasi menahan malu.


Dia berjalan cepat menuju ruangannya, mengabaikan sapaan setiap orang yang di lewatinya.


" Susu sialan itu pengaruh buruk untuk ku, kata siapa susu baik untuk kesehatan, buktinya susu itu membuatku mengalami kesialan sampai seperti ini " Oceh Ken begitu memasuki ruangannya. Dia langsung mengambil ponselnya dan menelefon Ruby.


" Hei kau bilang itu tidak akan berpengaruh apa-apa tapi nyatanya itu membuat bencana " Pekik Ken putus asa begitu sambungan telefonnya di angkat Ruby.


" Itu apa ? " Tanya Ruby bingung, dia sampai menjauhkan ponsel dari telinganya karena Ken yang berteriak histeris.


" SUSU IBU HAMIL YANG KU MINUM " Ken mengucapkannya lambat-lambat penuh penekanan, membuat kalimat yang dia ucapkan terdengar jelas dan mantap.


" Oh ya ? Aku tidak tau itu akan berdampak padamu, mungkin reaksinya berbeda-beda untuk setiap orang " Ruby menjawab santai, karena memang dia tidak tau pengaruhnya bila laki-laki meminum susu ibu hamil.


" Kau in... " Ken ingin memarahinya tapi kemudian matanya menangkap sosok Kiran yang berdiri mematung di depan pintu yang lupa dia tutup saat masuk keruangannya tadi.


Dia buru-buru menutup sambungan telefonnya dan memasukkannya ke saku celananya.


" Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu ? " Ucap Ken dengan nada penuh wibawa dan mendadak ekspresinya berubah serius.


" Tapi pintunya terbuka " Jawab Kiran polos.


" Begitu ? Sudahlah, ada urusan apa kau kemari ? " Tanya nya lagi masih dengan serius penuh wibawa, dia masih ingin mempertahankan sisa-sisa harga dirinya jika memang masih ada yang tersisa.


" Bukankah ruangan ku ada disini ? " Jawab Kiran terbata dengan heran. Perubahan sikap Ken membuatnya bingung.


Jawaban Kiran seketika membuat Ken sadar dari kebodohannya. Dia ingin berteriak saat ini, tapi dia harus terlihat berwibawa karena sekarang dia atasan Kiran.


" Ehem ehem " Ken berdehem untuk menghalau rasa malunya yang tak terkira.


" Bisa kau beri aku waktu sedikit saja, aku butuh privasi. Tolong tutup pintu nya " Perintahnya masih dengan nada penuh wibawa.


" Baik Tuan " Kiran menganggukkan kepalanya dan menutup pintu yang ada di depannya dengan cepat.


Terdengar teriakan melengking dari dalam ruangan begitu Kiran selesai menutup pintunya. Kiran terlonjak kaget.


" Apa suasana hatinya sedang buruk saat ini ? Apa dia marah padaku ? Bagaimana kalau dia punya sifat seperti kakaknya ? Kejam dan dingin ? " Kiran bergumam sendiri, mencoba mengingat-ingat dimana letak kesalahannya yang membuat Ken mungkin marah kepadanya.


Kiran cukup lama menunggu di depan pintu, membalas sapaan setiap murid laki-laki yang sengaja lewat didepan ruang kepala sekolah hanya demi melihat guru BK baru yang kabarnya secantik malaikat.


" Selamat pagi bu " Sapa setiap murid laki-laki yang melintas, dan Kiran hanya membalas dengan senyum serta anggukan kepala.

__ADS_1


Cukup lama dia menunggu di luar ruangan, memberi Ken privasi seperti yang dia minta. Kiran menajamkan pendengarannya, dia menempelkan telinganya di pintu, berusaha menangkap setiap pergerakan suara dari dalam. Namun hanya hening yang tertangkap indera pendengarannya. Dia mengernyitkan alisnya, menebak-nebak dalam pikirannya. Mungkinkah Ken pingsan seperti waktu itu. Bayangan Ken yang pucat pasi tadi pagi, serta suara kentut yang tidak biasa, diartikan Kiran adalah tanda tidak normalnya tubuh Ken.


" Apa sebenarnya dia sedang sakit, dengan suara kentut sekeras itu, bukankah itu artinya perutnya sedang bermasalah. Apa dia keracunan makanan ? " Gumam Kiran dengan panik. Dia ingin masuk tapi takut kejadian tempo hari terulang, menjadi tersangka sementara dan di tuduh oleh kepala keamanan disini. Tapi bila tidak masuk dan ternyata benar Ken pingsan, itu artinya dia akan jadi saksi kematian seseorang, karena dialah orang terakhir yang bertemu dengan Ken. Kedua opsi itu buruk untuk Kiran. Jadi dia gelisah dan berjalan mondar mandir di depan ruang kepala sekolah.


Bruukk !! Kiran menabrak seseorang dan jatuh terjerembab. Tangannya yang berusaha menopang tubuhnya jatuh dengan tidak tepat dan membuatnya sakit.


" Aaww " Kiran mengaduh sakit di pergelangan tangan kirinya.


" Hei kalau jalan lihat-lihat " Ucap seseorang yang berdiri tepat didepannya dengan nada dingin dan tajam.


Kiran mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang dia tabrak. Rupanya hanya seorang siswa. Kiran bangkit dengan menahan sakit.


" Maafkan aku " Kiran menundukkan kepalanya meminta maaf, karena dia merasa dia yang bersalah, berjalan mondar mandir tidak memperhatikan jalan.


" Cih semua guru di sekolah ini benar-benar tidak berguna " Siswa laki-laki itu beranjak pergi dengan sikap acuh bahkan tidak menggubris permintaan maaf Kiran.


" Tunggu dulu Dylan " Kiran memanggil siswa tersebut. Papan nama di bajunya membuat Kiran tau siapa namanya.


Dylan, yang merasa namanya di sebut menoleh malas ke arah Kiran, memutar bola matanya dan menghindar menatap wajah Kiran yang sekarang sedang menatapnya tajam.


" Aku minta maaf karena aku memang bersalah telah menabrak mu, tapi bukankah tidak sopan berbicara seperti itu, apalagi kepada orang yang lebih tua dari mu, terlebih lagi guru mu " Kiran memberanikan diri menegur Dylan. Bagaimana pun dia adalah guru di sekolah ini, dan tidak seharusnya seorang murid bersikap tidak sopan meskipun gurunya bersalah.


" Sudah selesai ? " Tanya nya dingin tanpa ekspresi.


" Apa ? " Kiran terkejut melihat reaksi Dylan yang seperti tidak menganggap gurunya, tidak punya sopan santun.


Kiran memang sering melihat drama dengan tema murid yang nakal, tapi dia tidak menyangka hal itu benar-benar ada, seorang murid yang bahkan tidak punya rasa takut dan hormat kepada gurunya. Dia menghela nafas kesal.


Ken yang mendengar keributan di luar segera membuka pintu untuk mengecek. Dan dia hanya mendapati Kiran yang sedang berdiri dengan ekspresi kesal dan memegang pergelangan tangan kirinya.


" Ada apa ? " Tanya Ken heran.


" Ah tuan, anda baik-baik saja ? " Tanya Kiran panik.


" Ya aku baik-baik saja " Ken menjawab heran kenapa Kiran malah menanyakan keadaannya, justru saat ini Kiran lah yang seperti sedang kesakitan.


" Masuklah " Ken memerintah Kiran.


Kiran hanya menundukkan kepalanya dan masuk kedalam ruangan, segera menuju mejanya dan duduk. Sedangkan Ken tetap berdiri mengamati Kiran yang masih saja menopang pergelangan tangan kirinya.


" Kenapa tangan mu ? " Tanya Ken penasaran, terlebih melihat Kiran yang meringis kesakitan.


" Aku terjatuh karena menabrak siswa yang sedang lewat, dan tangan ku sakit sekali " Kiran menjawab lirih menahan sakit.


" Kenapa tidak segera ke ruang perawatan, pergi lah, atau kau mau ku antar ? " Tawar Ken ragu-ragu, sikap Kiran masih sangat asing untuk Ken, dia terkadang normal, terkadang tidak normal. Ken masih belum bisa memahami polanya.

__ADS_1


" Baiklah, aku permisi dulu " Kiran segera berdiri dan pergi ke ruang perawatan.


Aku harus bersikap normal di sisa hari ini, aku tidak akan melakukan kesalahan lagi, mungkin saja pengaruh susu sialan itu sudah hilang.


Ken berjanji sepenuh hati, dia akan sangat berhati-hati seharian ini.


Setelah beberapa lama Kiran telah kembali dari ruang perawatan, tangannya terbebat perban kain coklat. Ken yang melihat itu terkejut dan segera menghampiri Kiran.


" Kenapa tangan mu ? " Pekik Ken terkejut.


" Rupanya tangan ku terkilir, dan perawat sudah melakukan pertolongan pertama, beberapa hari lagi mungkin akan sembuh " Jawab Kiran sungkan, baru hari kedua dia bekerja sudah menimbulkan masalah.


" Kau butuh cuti sakit ? " Tawar Ken sopan.


" Tidak tuan, aku baik-baik saja, ini hanya luka ringan " jawab Kiran cepat, dia tidak ingin terlihat tidak kompeten di hadapan atasannya.


" Baiklah, kalau begitu jangan terlalu lelah, kalau sakit bilang saja, bagaimanapun itu kecelakaan kerja, sekolah akan bertanggung jawab " Ken menjelaskan dengan percaya diri, merasa mampu menjadi atasan yang baik dan bisa di andalkan.


Kiran hanya menjawab dengan anggukan kepala, dan Ken kembali ke tempat duduknya untuk mengerjakan pekerjaannya lagi. Berkas-berkas yang harus dia periksa banyak sekali.


Kiran yang merasa belum tau pekerjaannya hanya duduk diam tidak melakukan apa-apa, dan itu membuatnya tidak enak. Dia gelisah salah tingkah, sesekali menatap ke arah Ken. Jadi dia berinisiatif akan menanyakan hal itu pada Ken. Sikap Kiran yang gelisah mengundang perhatian Ken, dia mengamati Kiran dengan ekor matanya dari balik tumpukan berkas. Kiran berdiri ragu-ragu, suasana hati Ken seperti tidak dapat di tebak, kadang baik dan seketika bisa berubah menakutkan seperti tadi.


Perlahan Kiran berjalan mendekati Ken yang sedang sibuk memeriksa berkasnya, membalikkan setiap halaman dengan wajah serius.


" Um permisi tuan " Kiran ragu-ragu mengungkapkannya.


" Ya ? " Saut Ken tanpa menoleh ke arahnya, masih tetap fokus ke tumpukan berkasnya.


" Apa kau b... " Tanya Kiran terbata-bata, takut menyinggung perasaan Ken, namun kalimatnya terhenti oleh gerakan tangan Ken yang terangkat ke udara.


" Aku tau apa yang akan kau bicarakan " Jawab Ken penuh percaya diri, kali ini dia tidak akan berbuat hal yang memalukan lagi. Seratus persen dia yakin bahwa Kiran akan bertanya tentang keadaannya, tentang insiden tadi pagi.


" Sungguh ? " Tanya Kiran dengan wajah senang, dia tidak harus mengungkapnya dan takut menyinggung perasaan Ken.


" Tentu saja " Ken merubah posisi duduknya, menghadap Kiran yang berdiri di depan mejanya, tangannya menyatu bertumpu pada meja.


" Insiden tadi pagi adalah sebuah kecelakaan karena kesalahan marimar, karena dia aku jadi harus meminum susu ibu hamil, dan kurasa itu berakibat buruk untuk pencernaan ku, aku tidak mungkin kent ah tidak, aku tidak mungkin melakukan pelepasan seperti itu di tempat umum apalagi di depan seorang gadis, aku adalah laki-laki yang punya sopan santun, jadi dengan jelas ku katakan bahwa itu adalah sebuah kecelakaan, jangan punya prasangka buruk pada ku " Ken menjelaskan dengan yakin.


Setelah ini kau pasti tidak akan menganggap aku orang aneh, dan mulai sekarang aku akan jadi laki-laki yang mempesona sampai kau akan buta karena pesona ku.


Ken tersenyum penuh percaya diri, merasa harga dirinya telah merangkak naik kembali.


" Ah begitu, sebenarnya aku ingin bertanya apa kau butuh bantuan ? Aku tidak tau tugasku apa, jadi aku ingin menawarkan bantuan " Kiran menjawab terbata karena tidak menyangka Ken akan menjelaskan tentang kecelakaan tadi pagi, dia tersenyum kaku menatap wajah Ken yang sekarang berubah masam.


Dia akan menganggap ku apa sekarang ???

__ADS_1


Sekali lagi Ken di hantam kenyataan mengerikan tentang image nya di depan Kiran.


__ADS_2