Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Tekad Ken


__ADS_3

Mobil Ken memasuki pelataran mansionnya, berhenti tepat di depan pintu utama. Dia berpapasan dengan pasangan paling bersejarah sepanjang masa, Rhoma dan Marimar. Mereka akan pergi kerumah sakit untuk sesi pemeriksaan usg rutin.


" Aku ikut " Ken bersemangat untuk mengintip Junior di balik perut Ruby, jagoan kesayangannya.


" Cepatlah, kami tunggu di mobil " Rai menjawab sambil lalu pergi ke arah luar.


Ken segera berlari menuju kamarnya, dengan cepat mencuci muka dan berganti pakaian santai. Biasanya Ken memang hanya melihat junior dari rekaman hasil usg yang di tunjukkan oleh Ruby, tapi kali ini dia memilih ikut karena akan bertanya sesuatu pada Rai. Karena Rai dan Ruby akan menghabiskan waktu seharian di rumah sakit, sekalian menjenguk ayah mertua Rai, jadi mereka biasanya baru akan pulang saat sudah larut malam.


Rai dan Ruby sudah ada di dalam mobil saat Ken masuk dan duduk di kursi depan. Sopir segera melajukan mobilnya saat semua penumpang sudah mengenakan sabuk pengaman mereka.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan sangat hati-hati, maklum mereka membawa calon matahari keluarga Loyard.


" Jadi sudah memikirkan nama untuk junior ? " Tanya Ken memulai pembicaraan.


" Belum, karena ayah yang bersikeras akan memberikannya nama " Rai menjawab santai.


" Jadi kalian sudah bertanya pada dokter apa junior akan laki-laki atau perempuan ? " Tanya Ken asal.


" Ya dokter sudah bilang kalau junior berjenis kelamin perempuan " Rai terlihat sangat bahagia saat membicarakan junior, membicarakan anaknya.


" Wah sayang sekali, kalau dia laki-laki kita bisa berlatih menembak bersama-sama, berlatih bela diri, dan bermain bersama " Ken sedikit cemberut dengan kenyataan yang dia dengar.


" Memangnya kalau perempuan kenapa ? Sekarang jamannya emansipasi, dia bisa melakukan semua yang dilakukan laki-laki, semuanya bahkan lebih baik. Dia akan jadi penembak jitu, menguasi bela diri, dan tentu saja berkuasa " Jawab Rai ketus mendengar rasa kekecewaan Ken.


" Kau bicara begitu seperti tidak kenal siapa ayah ? Terhadap kakak ipar saja dia sangat memanjakan apalagi kalau junior terlahir perempuan, lihat saja apa yang bisa di lakukannya. Bisa-bisa di menutup pusat perbelanjaan saat junior meminta jalan-jalan untuk bermain dan memperlakukannya seperti tuan puteri " Ken menjawab dengan nada mengingatkan Rai siapa yang akan jadi kakek junior.


" Kau lupa kalau dia sudah membangun taman bermain di sebelah rumah " Rai menjawab datar.


" Sangat khas tuan Regis " Ken mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


" Oh ya Ken ngomong-ngomong soal ayah, bagaimana perasaan mu saat ini ? " Ruby bertanya hati-hati, karena dia tidak melihat tanda kesedihan di wajah Ken sekarang, dia tidak ingin Ken berpura-pura bahagia.


" Aku baik-baik saja, aku sedang bahagia saat ini " Ken menjawab riang, karena nyatanya dia memang bahagia terlepas dari kejadian memalukan yang baru saja dialaminya.


" Apa kau juga ingin periksa ke rumah sakit ? " Tanya Rai curiga melihat Ken yang sepertinya riang, bukankah seharusnya dia sedih saat ini, atau jangan-jangan dia sudah tidak waras, begitulah yang di pikirkan Rai.


" Aku tidak sakit, memangnya aku harus periksa kenapa ? " Tanya Ken bingung.


" Barangkali kau ingin menemui psikiater ? Karena jujur saat ini kau terlihat begitu menyeramkan " Ruby menjawab ragu-ragu.


" Psikiater ? " Ken semakin bingung.


" Ah masalah tadi pagi, aku baik-baik saja, aku akan mengatasinya " Ken menjawab santai, dia akan merahasiakan hubungannya dengan Kiran untuk sementara waktu, backstreet sesuai rencananya semula.


" Aku rasa dia belum terlalu mencintai Kiran, jadi dia tidak merasa terlalu berat untuk menuruti perintah ayah " Rai berbisik lirih di telinga Ruby yang di jawab dengan anggukan samar dari Ruby.


Mobil yang mereka tumpangi memasuki area pelataran lobby rumah sakit, mereka bertiga turun dan sudah disambut oleh perawat yang akan mengawal mereka melakukan pemeriksaan. Karena Ken ikut kali ini, jadi pemeriksaan di lakukan agak berbeda. Ken dan Rai berada di ruangan dan duduk menghadap monitor besar untuk melihat hasil usg, sementara Ruby tidur di ranjang dan di kelilingi tirai untuk melakukan usg.


Terdengar teriakan histeris dari kedua kakak beradik itu saat melihat wajah junior dari layar tv besar yang ada di hadapannya. Usg 5 dimensi, tekhnologi terkini di dunia ginekologi, telah mampu menampilkan wajah bayi yang masih ada di dalam kandungan dengan sangat jelas, sejelas seperti bayi yang sudah lahir.


Bibir mungil dan pipi besar dari junior memenuhi layar tv tersebut, dan saat junior bergerak-gerak mereka semakin histeris saja. Membuat dokter dan perawat yang berada di balik tirai tersenyum mendengar betapa antusiasnya ayah dan paman junior.


Selesai melakukan pemeriksaan Ruby ke ruangan ayahnya, dia selalu menjenguk ayahnya 2 hari sekali sejak berhenti bekerja, dia akan berada di rumah sakit seharian, sebenarnya Rai sudah meminta agar Ruby segera pindah ke rumah sakit sejak usia kandungannya mencapai 24 minggu, tapi Ruby menolak. Dia tidak ingin menjadi stress dengan suasana rumah sakit, dimana banyak orang berjuang untuk sembuh dari sakit, atau lebih parah berjuang untuk hidup. Terlebih lagi melihat Ayahnya yang masih terbaring koma selalu saja memberikan gelombang kesedihan dan membuatnya menangis terisak-isak, dan kesedihan yang berlebihan jelas buruk untuk kehamilannya.


Sementara itu Ken dan Rai sedang berada di ruangan VVIP mereka, Ken ingin bicara serius dengan Rai.


" Bagaimana kau mengatur semua pekerjaan mu sehingga tidak ada yang terbengkalai ? " Tanya Ken memulai diskusi. Dia ingin terlihat kompeten di hadapan ayahnya dan akan mendapatkan restu untuk hubungannya dengan Kiran.


" Makanya kau jangan hanya sibuk bermain saja " Rai meraih kepala adiknya dan menggosoknya dengan kuat, kesal karena baru sekarang Ken berpikir tentang pekerjaannya.

__ADS_1


Selama ini Ken mengerjakan pekerjaan hanya setengah hati, jadi diam-diam Rai memantaunya dan menyelesaikan pekerjaan adiknya agar adiknya tidak terlalu terbebani. Bentuk perlindungan seorang kakak kepada adiknya.


" Iya aku baru sadar kalau ternyata pekerjaan kita sangat banyak " Ken mengeluh setelah berhasil lepas dari jepitan kakaknya.


" Kau hanya harus meluangkan lebih banyak waktu untuk bekerja, meskipun aku bekerja sampai siang di club, tapi aku selalu menyelesaikan pekerjaanku di manapun melalui ponsel, jadi saat ada waktu senggang aku akan mengerjakannya dimanapun, seperti sekarang ini, aku memang terlihat pergi menemani Ruby ke rumah sakit, tapi selebihnya aku membiarkan Ruby bersama ayahnya dan aku bekerja lagi, begitu juga saat malam, aku akan berpura-pura ikut tertidur saat Ruby beranjak tidur, lalu saat dia sudah pulas aku akan bangun lagi untuk menyelesaikannya. Kalau Ruby tau jam kerja ku yang seperti ini, dia akan protes dan menceramahi ku segala macam, dia pasti khawatir, takut aku kelelahan. Yaah begitulah cinta, perhatian menjadi hal yang sepele namun bermakna besar, sebisa mungkin aku akan selalu berada di dekat Ruby, tapi saat ada kesempatan aku akan mengerjakan pekerjaan secepat yang aku bisa " Rai menjelaskan santai, dan itu membuat Ken merasa bersalah karena ketidak becusannya membuat Rai harus bekerja lebih keras 2 kali lipat untuk membantunya menyelesaikan pekerjaannya juga, benar-benar adik tidak tau di untung, begitu maki Ken kepada dirinya sendiri.


Ken jadi mengerti alasan kenapa kakaknya selalu melihat ponselnya terus menerus, bahkan saat santai bersama terkadang Rai seperti acuh dan lebih mementingkan ponselnya sendiri, tapi ternyata dia melakukan itu juga demi bisa bersama Ruby dan bekerja sekaligus, sambil menyelam minum air, begitulah jika di artikan dalam peribahasa.


Tidak seperti dirinya yang justru sibuk bermain game di ponselnya saat waktu senggang. Tapi mulai sekarang Ken bertekad akan menjadi seperti kakaknya yang serius dan tekun dalam pekerjaan, dia harus bisa membuktikan perubahannya dan secepatnya mendapatkan restu dari ayahnya.


Di tempat lain sekertaris Yuri datang dengan membawa foto-foto hasil jepretan detektif suruhan mereka, terlihat seorang pemulung yang mondar mandir di depan area sekolah.


" Biarkan saja, selama dia belum bertindak kita juga jangan membuat pergerakan apapun. Hanya pastikan tingkatkan keamanan sekolah, banyak anak-anak tidak berdosa disana, jadi jangan libatkan mereka " Perintah Regis tegas sambil mengamati foto-foto yang kini berjejer rapi di atas mejanya.


" Dan satu lagi tuan, sepertinya nona Kiran dan tuan muda Ken sudah saling mengungkapkan perasaannya, tapi nona Kiran belum paham kalau tuan Ken lebih dari sekedar menyukainya " Sekertaris Yuri memberikan lagi satu informasi untuk Regis.


" Kiran gadis yang polos, tentu saja dia tidak menyangka Ken akan jatuh cinta padanya. Kenapa gadis sebaik Kiran harus berurusan dengan laki-laki busuk seperti dia " Regis menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, kepalanya menengadah ke atas.


" Dan hari ini nyonya muda melakukan pemeriksaan rutin kehamilan, dalam beberapa minggu lagi sepertinya anda akan segera menjadi seorang kakek " Sekertaris Yuri tersenyum saat memberikan berita bahagia ini.


" Benarkah ? " Reaksi Regis seperti yang sudah bisa di pastikan, terlonjak bahagia.


" Iya tuan, dan jenis kelaminnya perempuan, anda bisa mulai mencari nama untuk tuan puteri junior " Sekertaris Yuri kembali menjawab penuh semangat.


" Aku sudah menyiapkan nama seorang anak perempuan jauh sebelum junior datang kedunia ini, nama yang dulu sempat di inginkan Lorie jika memiliki anak perempuan " Regis menerawang jauh ke masa lalu, dan tersenyum bahagia saat wajah istri tercintanya Lorie hadir di ingatannya.


Sayang, keinginanmu untuk memiliki seorang tuan puteri terkabul, tapi sayang kau tidak ada disini untuk merasakan kebahagiaannya.


Regis merasa sedikit sedih mengingat tidak bisa mengabulkan permintaan Lorie dulu.

__ADS_1


__ADS_2