Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Berubah !!


__ADS_3

Kiran dan Ken yang ketakutan setelah mendapat telepon misterius itu akhirnya memilih tidur di kursi ruang tamu.


" Aish harusnya kita bisa sedikit... " Ucap Ken kesal, menyesali momen mesra yang tidak sengaja tercipta semalam namun malah berakhir menyeramkan, dia lalu membelai lembut pipi Kiran yang ada di pangkuannya dan kemudian mengecup bibirnya lembut.


" Mau melanjutkannya nanti malam ? " Tawar Ken dengan kerlingan mata menggoda.


" Tidak bisa, aku barusan mendapat telepon dari ibu yang bilang bahwa nanti malam ibu akan pulang untuk membantu mengurus pernikahan kita karena kita tiba-tiba memutuskan tanggalnya mepet sekali " Jawab Kiran sedih.


" Aish sepertinya aku memang harus menunggu sampai kita benar-benar resmi menikah " Omelnya kesal.


" Hei sabarlah, itu cuma tinggal 6 hari lagi atau 5 jika hari ini tidak di hitung " Jawab Kiran lembut dan kemudian mengecup bibir Ken lagi.


" Ya ya ya " Jawab Ken malas. Kiran kemudian turun dari pangkuan Ken dan pamit pergi ke ruangannya untuk kembali bekerja.


Dan di hari-hari berikutnya Ken di sibukkan dengan proses fitting bajunya yang secara eksklusif di kerjakan oleh perancang terkenal, dan Kiran juga harus melakukan hal yang sama karena rencananya semula untuk memakai baju pengantin milik mendiang ibu Ken di batalkan. Itu karena Ruby juga akan mengulang pernikahannya, atas desakan dari Regis.


" Cantik sekali " Puji desainer itu saat melihat Kiran dan Ruby memakai gaun pengantin putihnya tersebut.


Mereka berdua sedang mematut diri mereka di cermin saat ini, terpesona oleh gaun pengantin sederhana berekor panjang tersebut.


Setelah selesai fitting baju Kiran kembali ke sekolah untuk melanjutkan pekerjaannya sedangkan Ruby kembali ke rumah.


Semua persiapan pernikahan telah rampung, dan undangan terbatas pun sudah di sebar.


Kiran sendiri tidak banyak memiliki teman, hanya para guru di tempatnya mengajar, dan warga desa yang di undangnya. Sedangkan Regis selaku pemilik acara hanya mengundang koleganya saja, sedikit lebih meriah jika di bandingnkan dengan pernikahan tertutup yang di gelar oleh Rai dan Ruby.


Dan disaat waktu istirahat makan siang, Kiran membagikan undangan pernikahannya kepada para guru-guru.


" HAH ?!?! " Pekik para guru begitu mendapat undangan pernikahan yang di berikan oleh Kiran secara langsung. Mereka memandangnya dengan tatapan tak percaya dan mulut yang menganga.


" Jangan memandangku begitu " Ucap Kiran sungkan.


" Tentu saja kami terkejut, wajib terkejut, bagaimana mungkin anda merahasiakan ini dari kami ? " Tanya pak Doni masih tidak percaya dengan apa yang di pegangnya saat ini. Sebuah undangan berwarna putih dengan hiasan bunga warna pastel tersebut terkesan sederhana untuk pernikahan anggota Klan Loyard.


" I-Ini sungguhan ? " Tanya Pak Doni lagi terbata-bata.


" Iya " Jawab Kiran tersenyum malu-malu.


" Kapan kalian berkencan ? Sepanjang yang kulihat hubungan kalian tidak terlalu baik ? " Tanya Bu Lia penasaran.


" Baru beberapa bulan yang lalu " Jawab Kiran menjelaskan.


" Wuah bu Kiran, anda diam-diam sangat pandai sekali menyimpan rahasia. Aku tidak pernah melihat baik mata anda maupun mata pak Ken saling memancarkan cinta " Tanya Pak Doni antusias.


" Anda bisa saja " Jawab Kiran menutup wajahnya malu.


" Selamat ya bu Kiran " Ucap semua guru bergantian.


Sedangkan di tempat lain, seseorang menangis dengan sangat keras begitu menerima undangan putih di tangannya. Meskipun bukan Ken yang mengundangnya tapi Ruby yang mengundangnya memberitahukan bahwa ini adalah pernikahan double antara Ken dan Kiran juga Rai dan Ruby.


" Bagaimana kau melakukan ini padaku tuan Ken, huwaaa.... " Isak Tina memeluk undangan putih tersebut dengan wajah tertekuk penuh rasa kecewa dan banjir air mata.


🍁🍁🍁🍁🍁


Waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba, hari pernikahan Ken dan Kiran serta Rai dan Ruby.


Para undangan yang hadir harus membawa undangan mereka agar dapat masuk ke area mansion, karena di dalam undangan tersebut terdapat chip yang akan di scan dan di sebuah layar akan muncul wajah para undangan yang telah di ambil fotonya saat menerima undangan tersebut, jika ada perbedaan wajah antara yang datang dengan yang menerima maka tamu tersebut tidak akan di izinkan masuk. Itulah sebabnya undangan yang disebar oleh Regis di antar langsung oleh para anak buahnya dan harus di terima langsung pula oleh pemilik undangan, dengan penjagaan yang super ketat pernikahan tersebut di gelar secara tertutup, tidak ada wartawan dan tidak ada yang boleh mengambil gambar dalam bentuk apapun.


Itulah sebabnya petugas jaga di depan area mansion yang berseragam hitam-hitam dengan earphone di telinga mereka masing-masing membawa peti dan kertas adhesive guna memberi label siapa pemilik ponsel tersebut yang nantinya akan di simpan di dalam peti selama acara berlangsung.


Mereka juga di geledah secara ketat dan manual, jam tangan yang memiliki kamera pun tidak luput di sita oleh petugas keamanan.


Para tamu undangan sangat antusias saat menerima undangan pernikahan dari klan Loyard, karena ini akan jadi pernikahan termewah walau di gelar tertutup sekalipun sekaligus ajang memperluas bisnis para koleganya.


Maka dari itu mereka berlomba-lomba mengenakan gaun rancangan desainer terkenal bahkan hingga desainer luar negeri sekalipun, serta perhiasan-perhiasan mewah yang menunjukkan kelas sosial mereka.


Di halaman mansion yang luasnya melebihi luas lapangan sepak bola itu juga telah di hias dengan bunga berwarna-warni, bertemakan garden party meja-meja bundar telah disusun sedemikian rupa dengan apik. Setiap meja akan di isi dengan 4 kursi tamu.


Para tamu Kiran yang dari desa pun telah hadir beberapa hari yang lalu dan menginap di hotel milik Klan Loyard, masing-masing mereka di beri gaun untuk para ibu-ibu serta setelan jas untuk para bapak-bapak yang membuat penampilan mereka berubah sangat drastis.


Kiran dan Ruby yang sudah siap dengan gaun pengantin mereka sedang duduk di ruang tunggu, seorang babysitter nampak menggendong Raline yang juga di dandani dengan gaun putih serta bandana dengan bunga yang besar, terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


Dan kedua pengantin laki-laki juga sedang mematut diri mereka di cermin. Rai lebih terlihat tenang, karena dia akan menikahi istrinya sendiri, sedangkan Ken terus saja menghentak-hentakkan kakinya untuk mengusir gugup.


" Kau sudah minum obat kan ? " Tanya Rai karena melihat Ken yang sepertinya sangat pucat.


" Obat apa ? " Tanya Ken semakin panik.


" Kau terlihat tidak sehat, wajahmu pucat " Jawab Rai menunjuk wajah Ken dengan dagunya.


" Aku tidak sempat minum obat, dan juga perutku mual " Ucap Ken dengan memelas.

__ADS_1


" Jangan sampai kau kentut ya, kau itu selalu kentut kalau sedang gugup " Saut Rai ketus.


" Iya iya kau ini cerewet sekali " Jawab Ken tak kalah ketus.


Sekertaris Yuri datang untuk memanggil mereka berdua, dia mengetuk pintu ruang tunggu Rai dan Ken.


" Kalian harus keluar sekarang " Ajaknya sopan.


Dengan langkah gagah normal Rai berjalan keluar, namun tidak dengan Ken, langkahnya terlihat kaku dan tegang.


" Aish memalukan sekali, begini akibatnya jika kau lebih banyak menghabiskan waktumu untuk main game daripada ikut rapat perusahaan " Omel Rai kesal melihat tingkah Ken yang seperti robot.


" Kau tidak tau sih di pernikahanku siapa yang hadir " Ucap Ken gemetaran.


" Siapa memangnya ? " Tanya Rai tidak mengerti.


" Kau akan melihatnya sendiri nanti, tapi jangan menjerit, ok " Ucap Ken.


Rai berjalan keluar dengan kening yang mengernyit bingung, selama berjalan menuju pelaminan matanya terus mengawasi setiap tamu yang hadir, menyelidiki siapakah tamu yang membuat adik tersayangnya sampai harus ketakutan.


" Hua !! " Teriaknya begitu melihat sesosok nenek-nenek dengan wajah putih seputih mayat dan bibir merah merona serta lingkaran merah kecil di pipinya, membuatnya teringat sesosok vampir cina yang dulu film nya sering di tontonnya bersama Ken.


Rai terhuyung kesamping dan menabrak Ken yang kemudian menahan punggung Rai dengan tangannya.


" A-arah jam 10 " Bisik Rai tergagap.


" Aku tau, abaikan saja, dia memang terlihat menyeramkan, tapi saat dia membuka mulutnya akan jauh lebih mengerikan " Ucap Ken dan mendorong punggung Rai agar terus melanjutkan langkahnya.


Mereka berhasil selamat sampai di pelaminan pernikahan, dan kemudian mereka berbalik untuk menunggu mempelawai wanita datang.


Tak berselang lama Kiran dan Ruby datang dengan di iringi masing-masing 2 pelayan yang membawakan ekor gaun mereka yang panjang.


Jika Kiran menenteng sebuah buket bunga mawar putih, lain halnya dengan Ruby. Dia menggendong Raline yang mengenakan bandana putih dengan hiasan bunga besar berwarna putih, sebagai pengganti buket bunga pernikahan.


Senyum bahagia keduanya terpancar jelas dari wajah mereka. Tangan Ken dan Rai terulur untuk menyambut mempelai mereka, dan begitu Kiran dan Ruby mendekat mereka menggandengnya untuk melakukan janji suci pernikahan.


" Baiklah, kalian sah sebagai sepasang suami istri sekarang " Ucap pemuka agama yang menikahkan mereka.


Ken kemudian mencium Kiran, sedangkan Rai dan Ruby mencium Raline bersamaan.


Para tamu undangan yang hadir pun bertepuk tangan meriah. Lalu masing-masing mereka memberikan ucapan selamat kepada kedua pasangan baru dan pasangan lama tersebut.


" Hei, hei, hei dia mendekat " Bisik Rai panik kepada Ken yang ada di sampingnya.


" Aish bagaimana ini, aku juga tidak ingin bertemu dengannya " Jawab Ken panik, tapi Ken tidak mungkin menghindari Nenek Mis karena dia datang bersama Adelia.


" Ibuuu " Pekik Ruby riang begitu melihat Adelia.


" Sayang " Jawabnya lembut kemudian mengecup pipi kanan dan kiri Ruby.


" Aiyoo... Raline hari ini berperan menjadi buket bunga ya ? Aiihh...kau lucu sekali " Ucapnya gemas melihat Raline yang tertidur di gendongan Ruby.


" Iya nenek, bukankah peran ku sangat menjiwai ? " Jawab Ruby seakan-akan menyuarakan isi hati Raline, dan mereka pun tertawa bersama.


" Ah ya sayang, ini nenek Kiran dari desa, kau masih ingat kan ? " Ucap Adelia menunjuk Nenek Mis.


" Tentu saja. Ah nenek masih cantik saja, kau terlihat awet muda sekali " Puji Ruby riang, Adelia lalu menterjemahkan kepada Nenek Mis apa yang di ucapkan Ruby.


" Tentu saja baru-baru ini aku bahkan di cium pemuda tampan " Jawab Nenek Mis dingin lalu melirik tajam ke arah Ken yang berpura-pura tidak melihatnya.


Rai yang mendengar nenek Mis berbicara dengan bahasa yang aneh lalu menyenggol lengan Ken.


" Hei kau benar, saat dia membuka mulutnya terlihat jauh lebih mengerikan " Bisiknya kepada Ken.


" Tuan Rai perkenalkan ini Neneknya Kiran " Ucap Adelia kepada Rai.


" Ah ya perkenalkan juga nama saya Rai, saya kakak dari Ken dan kakak ipar dari Kiran " Ucapnya sopan kemudian menundukkan kepalanya.


Namun nenek Mis tidak menjawab hanya mengulurkan punggung tangannya ke arah Rai dengan pergelangan tangan tertekuk ke bawah.


Rai yang bingung apa yang di lakukan nenek Mis hanya bisa menoleh ke arah Ruby meminta penjelasan.


" Dia ingin kau mencium tangannya, itu cara mereka berkenalan antara yang muda dan yang tua " Jawab Ruby berbisik menjelaskan.


Rai yang paham segera mengangguk-angguk dan meraih tangan nenek Mis hendak menciumnya.


Jangan lakukan, jangan lakukan...


Teriak batin Ken menangis, dia ingin memberitahu Rai apa yang akan terjadi jika dia menciumnya, tapi tidak bisa.


Cup !! Dan benar saja dugaan Ken, Rai melakukan sama persis dengan apa yang dilakukannya saat berkenalan dengan nenek Mis dulu.

__ADS_1


Tamatlah riwayatmu kak...dia akan menjadi aib terkelam mu.


Jerit batin Ken pasrah.


Setelah Rai mencium tangannya Nenek Mis tersipu malu dan mengajak Adelia pergi dari sana, dia bahkan tidak ingin mengucapkan selamat kepada Ken karena masih merasa sakit hati.


Adelia dan Nenek Mis lalu kembali ke tempat duduk mereka, namun dia melihat seseorang di meja paling ujung sedang menangis terisak-isak, dia mengamatinya lekat-lekat.


Tak berapa lama Ruby datang menghampiri Tina.


" Hei memangnya kau datang ke pemakaman, kenapa menangis begitu sih ? " Ucap Ruby menepuk-nepuk punggung Tina.


" Aku patah hati, lalu apa aku harus tertawa bahagia begitu ? " Ucapnya kembali menangis.


Nenek Mis yang merasa kasihan pun datang menghampirinya.


" Menangis kenapa ? " Tanya nenek Mis dalam bahasa daerah. Tina yang memang berasal dari desa pun menoleh ke arah nenek Mis karena mengerti apa yang di ucapkannya.


" Saya sedang patah hati nek " Jawab Tina juga dalam bahasa daerah yang hampir sama, namun mereka saling mengerti artinya.


" Kita sama, saya juga sedang patah hati karena harus menghadiri pernikahan dari orang yang mencampakkan saya " Jawabnya sedih lalu mengelus dada.


Tina yang tadinya menangis sesegukan langsung berhenti begitu mendengar kata-kata Nenek Mis, dia menoleh kesana kemari bingung. Bukankah ini pernikahan Tuan Rai dan Tuan Ken, lalu kenapa nenek itu bilang kalau dia menghadiri pernikahan dari orang yang mencampakkannya, begitu pikir Tina.


" Memangnya siapa nek ? " Tanya Tina sopan, meskipun dalam hati dia menganggap nenek itu mungkin sudah pikun.


" Mas Ken " Jawabnya seraya menunjuk Ken yang ada di pelaminan


" Whaaattt !!!! " Pekiknya terkejut.


Nenek Mis lalu menceritakan kisah yang terjadi antara dirinya dengan Ken selama di desa, bagaimana Ken mengucapkan kata cinta untuknya dengan mesra, lalu mencuri-curi ciuman darinya saat suasana remang-remang, dan kemudian pergi meninggalkannya untuk menikahi cucunya sendiri.


Tina yang menyimak dengan seksama hanya bisa memegangi dadanya yang syok, seperti terkena serangan jantung dia hanya bisa melongo tak percaya. Setelah menceritakan kisah cintanya yang tragis nenek Mis kembali ke mejanya.


" Astaga dragon !! " Pekik Tina menutup mulutnya. Ruby yang sedari tadi tidak mengerti sama sekali apa yang di ucapkan Nenek Mis bertanya pada Tina.


Dan Tina menceritakannya dengan antusias dan tertawa terbahak-bahak, Ruby pun tidak kuasa menahan tawanya saat membayangkan tindakan konyol Ken dan ekspresinya waktu itu.


Kartu As mu ada di tanganku Ken...


Ucap Ruby dengan senyum jahatnya.


Dia lalu berpamitan kepada Tina untuk kembali kepada Rai yang sudah menunggunya di meja mereka setelah sibuk berbicara tentang bisnis dengan para koleganya.


" Kau dari mana saja ? " Tanya Rai lembut.


" Hei kau tidak akan percaya apa yang ku dengar, aku punya bahan ghibah untuk nanti malam " Ucap Ruby dengan tergelak.


" Kita pasangan yang serasi ya kalau sedang mengghibahkan orang lain " Jawab Rai ikut tergelak.


Pesta pernikahan mereka berlangsung lancar dan meriah tanpa hambatan. Dylan yang hanya duduk-duduk saja di dekat Regis terlihat tidak tertarik dengan pesta tersebut.


Setelah para tamu pulang, fotographer khusus keluarga Loyard pun mengabadikan gambar mereka.


Semua keluarga berkumpul untuk foto keluarga. Regis sebagai pusat inti keluarga duduk di tengah-tengah, dan berdiri di belakangnya, pak Handoko disisi kanan dan sekertaris Yuri di sisi kiri, sementara Rai dan Ruby duduk di sisi kanan Regis dengan memangku buket bunga terlucu sepanjang sejarah pernikahan sedangkan Ken dan Kiran duduk di sisi kiri, Dylan yang tidak memiliki pasangan terpaksa harus duduk bersila di depan Regis.


Lalu sang fotographer kembali mengambil foto mempelai bersama saudara mereka.


Ken, Kiran, Rai, Ruby dan Dylan sedang berdiri berjejer untuk pengambilan foto. Raline yang di gendong Regis juga akan mengambil foto terpisah.


" Hei, hei tunggu sebentar " Cegah Ken saat juru foto akan memencet tombolnya.


" Kak, tidakkah ini mengingatkanmu akan sesuatu ? " Ken menunjuk mereka berlima.


" Ah kau benar ! " Pekik Rai setuju. Ken lalu memanggil juru foto agar lebih mendekat dan berbicara padanya.


" Apa yang dia bicarakan ? " Tanya Dylan pada Ruby.


" Sudah jangan di ambil pusing, kau juga akan tau nantinya " Saut Ruby malas dan di susul Kiran yang mengangguk-angguk.


Juru foto kemudian mundur lagi dan kemudian memberi aba-aba.


" Baiklah kalian semua bersiap " Teriaknya.


Kelima saudara itu kemudian berpose layaknya power ranges dengan memasang kuda-kuda, dengan wajah Dylan yang terlihat jengah.


" Berubah !! " Teriak mereka bersamaan.


Oke fix, mereka semua bisa berubah jadi apapun itu.


Batin Dylan pasrah.

__ADS_1


__ADS_2