Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Rahasia Regis


__ADS_3

Suasana di dalam mobil terasa sangat hening, bahkan lebih hening daripada tempat pemakaman umum jeruk manis.


Ketiga manusia di dalamnya saling sibuk dengan pikiran masing-masing, dan perjalanan menuju ke sekolah terasa lebih lama dari biasanya, sampai di area parkir pun mereka bertiga masih tetap saja diam dan tidak saling menyapa.


Dylan langsung bergegas pergi ke kelasnya, hari ini dia pun sangat pendiam, tidak ada protes tentang cara menyetir Ken yang ngebut seperti biasanya, tidak ada sanggahan dari setiap kata-kata Ken, karena memang Ken tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak dari rumah Kiran sampai sekolah, jadi tidak ada yang bisa di bantah oleh Dylan.


Ken juga begitu, pikirannya yang sudah kusut menjadi semakin kusut saja, dia mengabaikan Kiran yang terbengong bengong melihat tingkahnya, dia bertanya-tanya apa sikapnya kemarin sudah keterlaluan, meninggalkannya saat suasana genting sewaktu bertemu nenek gayung. Apakah ken marah dengannya ? Setidaknya itulah yang ada di pikiran Kiran, dan dia merasa bersalah telah melakukan itu.


Ken sendiri berjalan gontai ke ruangannya, langsung duduk dan menopang kepalanya dengan kedua tangannya.


" Kenapa tiba-tiba ayah seperti itu ? Siapa yang mempengaruhinya ? Tidak biasanya ayah mengatur-atur tentang siapa yang jadi temanku. Aku harus bertanya pada kakak, dia pasti tau sesuatu " Ken bergumam sendiri. Dia kemudian merogoh ponsel yang ada di saku jasnya dan menghubungi nomor Rai.


" Kalau kau ingin bertanya apa ayah serius atau tidak, jawabanku tidak tau, tapi kalau kau ingin memaki ku karena kesalahanku, aku terima itu dan aku minta maaf " Oceh Rai langsung tanpa basa basi saat dia mengangkat telepon dari Ken.


Itulah yang dia suka dari hubungannya dengan kakaknya, langsung ke intinya tanpa perlu bertanya "halo, apa kabar" atau "halo, apa kau sibuk ?", mereka sudah memiliki ikatan batin yang kuat, jadi tidak perlu kemampuan khusus untuk membaca pikiran masing-masing.


" Apa aku membuat kesalahan, sampai ayah seperti itu ? " Tanya Ken memelas.


" Kau ingin jawaban yang menyakitkan atau yang menyenangkan dirimu ? " Tanya Rai langsung tanpa basa basi.


" Katakan saja, memangnya aku bisa lebih hancur dari ini " Ken masih memelas.


" Ok, satu, kau terlalu banyak membohongi ayah, kau tau ayah tidak suka di bohongi. Dua, kau terlalu lambat untuk mendapatkan gadis yang akan jadi menantu ayah, ayah juga benci itu, tiga, kau berhubungan dengan 2 gadis, ayah benci seseorang yang plin plan, empat... " Rai mulai menjabarkan semua kesalahan Ken berdasarkan pengamatannya. Namun kata-katanya terhenti, Ken sudah tidak sanggup mendengarnya lagi, jadi dia memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


" Dia pandai sekali kalau harus di minta menjabarkan kesalahan orang lain " Ken bergumam kesal sendiri. Dia melayangkan pandangannya ke sudut ruangan tempat meja Kiran berada, dan terkejut mendapati sudut ruangannya telah bersih, kosong. Dia segera menghubungi pak Dim.


" Ruangan konseling sudah selesai 100 persen, jadi tentu saja bu Kiran berada di ruangannya sendiri " Pak Dim menjelaskan dengan terheran-heran, karena mereka kemarin mengecek bersama, dan Ken juga mengangguk-angguk saat pak Dim menunjukkan setiap bagiannya.


" Ah ya ku pikir, itu masih butuh beberapa finishing lagi, belum sepenuhnya siap untuk di tempati " Elak Ken terbata-bata dan menutup panggilan teleponnya.


Dia mengutuki dirinya lagi karena tidak ingat apa-apa saja yang sudah di kerjakannya kemarin. Mungkin memang benar yang dikatakan ayahnya, jatuh cinta pada Kiran membuatnya lupa segalanya.


" Apa jatuh cinta memang serumit ini ? " Ken bergumam kesal, tetapi lebih kepada dirinya sendiri. Ini memang pertama kali untuknya, selama ini dia hanya menganggap semua wanita yang mendekatinya seperti teman biasa yang di butuhkan untuk saling sapa saat bertemu di jalan, kecuali Tina, dia tidak akan pernah menjadi teman biasa karena mereka tidak akan hanya saling menyapa bila bertemu di jalan.


Dia menghela napas frustasi, mencoba menenangkan dirinya sendiri dan mulai membuat rencana. Tidak mungkin otaknya yang cerdas tidak bisa di ajak berkompromi untuk merayu Kiran. Dia sangat percaya diri, kalau dia bisa menyatukan antara marimar dan Rhoma yang sangat bertolak belakang saja, bukan hal tidak mungkin dia bisa mendapatkan Kiran.


Setelah perdebatan panjang antara malaikat dan setan di dalam dirinya, Ken memutuskan akan mengunjungi Kiran di ruangannya. Bukan hal aneh kalau kepala sekolah meninjau kinerja para bawahannya.


Entah memang jaman berubah terlalu cepat atau Ken yang ketinggalan jauh, murid-murid perempuan mengenakan rok yang terlalu pendek menurut Ken, dan itu sangat tidak sopan, dalam perjalanan ke ruangan Kiran dia berpikir akan merubah peraturan sekolah, dia akan mengharuskan setiap murid mengenakan rok selutut paling minimal.


Perjalanannya berakhir, di ujung lorong, di dekat lapangan olahraga indoor itulah ruangan Kiran berada. Suasananya seperti yang sudah bisa dipastikan, murid laki-laki selalu saja berjejer mengantri untuk melakukan konseling dengan Kiran, hal itu membuat Ken kesal. Dia akan memikirkan juga peraturan yang membatasi murid-murid untuk konseling terus menerus, atau dia akan memperkerjakan psikiater saja untuk menangani mereka, dan Kiran menjadi asisten pribadinya. Itu kedengarannya lebih masuk akal.


Dia menghela napas panjang dan berjalan melintasi murid-murid yang sekarang sudah terdiam ketakutan melihat kepala sekolahnya.


" Kalian tidak ada jam pelajaran ? Kenapa semuanya ada disini ? Ayo cepat kembali ke kelas " Perintah Ken mengusir murid-murid, mereka semua berdiri dengan wajah cemberut dan menuruti perintah Ken selaku kepala sekolah.


" Dasar anak-anak sekarang " Gerutu Ken kesal, dan dia mengetuk pintu ruangan Kiran yang memang sudah terbuka.

__ADS_1


Terlihat seorang murid laki-laki sedang melakukan konseling kepada Kiran, mereka terlibat obrolan serius, entah tentang apa, karena mereka tiba-tiba saja diam saat melihat Ken berdiri bersandar di pintu.


Sementara itu Regis sedang berdiskusi dengan sekertaris Yuri di ruangan kantornya, sekertaris Yuri datang dengan membawa setumpuk berkas-berkas yang akan di periksa oleh Regis.


Dia membuka satu persatu kertas yang ada di tangannya, membacanya sekilas-sekilas dan menghela napas panjang, kemudian membuang pelan kertas yang ada di tangannya.


" Dia lebih licin dari yang ku kira " Regis memijit pangkal hidungnya, sedikit merasa jengah.


" Maafkan keteledoran saya tuan " Yuri menundukkan kepalanya dengan hormat.


" Tidak ini bukan salahmu, kita tidak bisa mengawasi semua orang secara bersamaan tanpa bisa memastikan hatinya, satu-satunya jalan yang bisa kita ambil saat ini adalah mengikuti permainannya agar bisa mencari celah kesalahannya. Terus berpura-puralah tidak tau apa-apa, ini hanya antara kau dan aku, jangan sampai anak-anak tau, apalagi menantuku, sebentar lagi dia akan melahirkan, aku tidak ingin ada beban pikiran sedikitpun untuknya " Regis memerintahkan dengan pelan namun tegas.


" Baik tuan saya akan berusaha yang terbaik " Yuri kembali menundukkan kepalanya.


" Kau sudah bekerja sangat keras, cukup pastikan saja menantu-menantu ku baik-baik saja, aku tidak ingin menyeret mereka ke dalam bahaya seperti Lorie. Kau tau, bukan pilihan tepat memilih seorang mafia untuk menjadi pendamping hidup, tapi bagaimana lagi, mereka lah yang di cintai anak-anak ku, jadi cukup pastikan perlindungan yang ketat untuk Ruby dan calon istri Ken " Regis menerawang jauh.


Dia merasa bersalah terhadap Ruby dan Kiran, mereka gadis baik-baik tapi harus terseret masuk ke dalam bahaya hanya karena mencintai orang yang salah, menurutnya. Seandainya dia memiliki anak gadis, tentu dia tidak akan merestui anak gadisnya berhubungan dengan mafia, atau preman jika itu konteks nya dalam pandangan masyarakat.


Tapi juga tidak mungkin untuknya membiarkan anak-anak kesayangannya tidak memiliki cinta sama sekali. Jadi yang bisa dia berikan hanya perlindungan tak terlihat agar mereka bisa menjalani hidup dengan normal layaknya orang lain, tidak seperti Lorie yang harus terkurung di mansion itu sepanjang waktu.


" Pastikan saja semua beres sebelum Kiran dan Ken menikah, sekarang biar Ken dan Kiran menjauh untuk sementara waktu, itu semua juga demi keselamatan Kiran " Regis menyudahi perintahnya dan menutup semua berkas yang ada di hadapannya.


Sekertaris Yuri yang paham keinginan tuannya menundukkan kepalanya dan segera pamit pergi. Meninggalkan Regis sendirian yang sepertinya sangat kelelahan dengan permasalahan Klan.

__ADS_1


Apa Ken akan menuruti perintahku untuk menjauhi Kiran ?


__ADS_2