
Ken sedang duduk di ruangannya dengan tangan yang menahan kepalanya. Sejak tragedi kemarin lusa, dia merasakan anoreksia dan pusing, juga mengalami gejala menarik diri dari lingkungan sosial. Tiba-tiba rasa percaya dirinya seakan melayang terbang jauh ke angkasa dan terbakar habis oleh atmosfer.
Tok, tok, tok !! Terdengar ketukan pintu di ruangannya. Dia mendongakkan kepalanya untuk menjawab dan melihat siapa yang datang.
" Tuan " Panggil Wakil Kepala Sekolah begitu masuk kedalam ruangannya.
" Ya ada apa ? " Jawabnya lemas tak bersemangat.
" Pengacara Henry sudah datang, dan... " Lanjutnya ragu-ragu, sikap Ken yang lemas tak bersemangat di artikan lain oleh Wakil Kepala Sekolah, dia merasa sikap Ken berkaitan dengan insiden penyerangan yang di lakukan oleh Dylan kepada Andromeda.
Ah ya aku sampai lupa kalau ada pertemuan dengan orang tua siswa, aish gara-gara tali pusar Raline. Aku bahkan langsung mual walau hanya mendengar kata tali.
Decaknya malas, dia tidak berkonsentrasi pada apapun yang dia kerjakan. Pikirannya terus saja melayang ke malam ternaas dalam hidupnya.
" Ya aku tau, aku akan mengurusnya " Jawabnya asal. Dia kemudian berdiri dengan malas dan segera pergi keruangan khusus yang biasa di gunakan untuk menyambut tamu sekolah di iringi oleh Wakil Kepala Sekolah.
Awas saja kalau mereka menggoda ku lagi.
Batin Ken kesal, dia teringat setelah dirinya di nyatakan pingsan oleh para perawat yang menjaga Raline, dia di bawa kembali ke ruangannya. Dan saat dia sadar semua anggota keluarganya berkumpul disana, bahkan pak Handoko juga ikut menunggunya sampai dirinya tersadar.
" Kau baik-baik saja ? " Tanya Regis begitu Ken tersadar dan membuka matanya perlahan-lahan. Di lihatnya semua orang sedang mengelilinginya dengan perasaan panik dan cemas. Melihat wajah Ken yang pucat pasi semua orang merasa bersalah. Mereka tidak menyangka menunggu dan menyusui Raline bisa membuat Ken sampai jatuh pingsan.
" Kalian semua... " Ucap Ken lemas seraya mencoba menggerakkan tangannya menunjuk mereka satu persatu, namun gagal. Dirinya telah kehilangan tenaga, harga diri dan energi kehidupannya hingga untuk menggerakkan jarinya saja dia tidak mampu.
" Ya kami semua ada disini nak " Jawab Regis khawatir dan langsung menggenggam erat tangan Ken. Dilihat dari penampilannya yang masih mengenakan piyama, mantel tidur dan sandal rumah, bisa dipastikan Regis pergi dengan terburu-buru tanpa sempat mengganti pakaian setelah dokter meneleponnya dan mengatakan bahwa Ken pingsan dan menunjukkan detak jantung yang lemah.
" Maafkan saya tuan, ini semua karena saya tidak memberitahu tuan yang sebenarnya " Saut Sekertaris Yuri ikut menimpali dengan rasa bersalah.
Sementara Rai hanya mampu diam dan Ruby menangis terisak-isak melihat kondisi Ken yang mengenaskan.
" Ingatlah pesan ku baik-baik... " Ucap Ken lemah dengan napas yang tersengal-sengal layaknya orang yang sedang sekarat.
" Tidak nak jangan bicara apapun, simpan tenaga mu " Jawab Regis semakin panik, dan yang lain semakin mendekat lagi ke arah Ken.
" Tidak... aku ingin menyampaikan pesan terakhir ku " Ucapnya lagi masih dengan nada lemah.
" Saat aku menjadi hantu nanti, aku akan menghantui kalian semua, aku akan hadir menjadi setiap mimpi buruk kalian, kesialan kalian sampai tujuh turunan " Sumpahnya dengan senyum miring jahatnya.
Semua yang hadir hanya bisa terdiam melihat Ken yang semakin lemah, suasana dingin mencekam itu kemudian di pecahkan oleh kedatangan dokter dan seorang perawat yang akan memeriksa Ken.
" Bagaimana dokter keadaan Ken, kenapa dia bisa pingsan begini ? " Tanya Regis cemas.
" Kami sendiri juga masih memeriksanya tuan, tapi ada hal penting yang ingin saya sampaikan hanya kepada anggota keluarganya saja " Jawab dokter tersebut dengan serius.
" Ya bicarakan saja, kami semua adalah keluarga " Jawab Regis cemas.
Dokter mengedarkan pandangan pada Sekertaris Yuri, Pak Handoko, Rai dan Ruby secara bergantian. Lalu menghela napas dalam.
" Tuan Ken sebenarnya pingsan karena menelan tali pusar tuan putri Raline. Saat dia pingsan tadi, dia sempat sadarkan diri sebentar dan meracau telah menelan tali pusar tuan putri Raline, lalu saat melihat ekspresi ketiga perawat yang membantunya dia kembali pingsan hingga sekarang dan baru sadarkan diri " Jawab Dokter tersebut menjelaskan dengan rinci.
" HAH ?!?! " Semua orang yang hadir hanya mampu memekik terkejut dan menutup mulut mereka, lalu kompak menoleh ke arah Ken yang sudah menangis sesegukan di atas ranjang.
" Lalu apa itu ada pengaruhnya ? " Tanya Regis panik.
" Sebenarnya tidak ada tuan, itu hanya seperti anda menelan makanan hangus yang agak keras, mungkin rasanya akan menjijikkan tapi proses alami tubuh manusia yang akan menanganinya " Jawab Dokter tersebut dengan tenang.
" Lalu kenapa dia seperti sedang sekarat begitu ? " Tanya Rai bingung.
" Mungkin itu hanya masalah mentalnya saja, karena ya...itu...memalukan " Jawab Dokter lirih dan menundukkan kepala menahan tawa.
Melihat dokter tersebut bersikap demikian, semua yang hadir kompak menghela napas lega. Ternyata itu hanya hal sepele yang di besar-besarkan oleh Ken.
" Terima kasih dokter, maaf merepotkan anda malam-malam begini " Ucap Regis seraya menundukkan kepalanya.
" Tidak tuan, jangan begitu, ini memang sudah tugas saya, lagipula saya memang sedang shift malam " Jawabnya gugup karena melihat kepala Klan yang menundukkan kepala padanya.
" Tidak, tidak, saya memang harus berterima kasih " Jawab Regis dengan senyum lebarnya.
" Baiklah jika begitu saya pamit dulu tuan, mungkin akan lebih baik melakukan pendekatan dari hati ke hati untuk mengobati rasa terpukul tuan Ken " Dokter tersebut menjelaskan lagi sebelum akhirnya pergi keluar ruangan meninggalkan mereka semua yang langsung kembali mengerumuni Ken.
" Sudahlah, hanya masalah tali... " Ucap Regis santai.
" Jangan ada yang menyebutkan kata tali, terkutuklah kalian semua !! " Teriak Ken marah memotong ucapan Regis.
Namun bukannya prihatin dengan kondisi Ken mereka semua malah tertawa terbahak-bahak, merasa menemukan senjata baru untuk menggoda Ken.
" Malam-malam begini kau bikin heboh saja, aku sampai hanya memakai piyama ku dan sandal rumah ini " Omel Regis kesal. Namun Ken semakin mengeraskan suara tangisnya.
" Baiklah kalian semua pulang saja, dia tidak apa-apa " Usir Regis kepada Sekertaris Yuri dan pak Handoko.
" Baik tuan " Jawab Sekertaris Yuri sopan dan kemudian berpamitan kepada Ken.
" Bukankah saya pernah bilang, apapun yang terjadi anda tetaplah tuan muda Ken, putra mahkota Klan Loyard " Lanjutnya dengan tawa tertahan.
" Pergi !! " Jawab Ken dingin, namun hal itu malah membuat sekertaris Yuri semakin tersenyum lebar, dia kemudian menundukkan kepala dan pergi keluar ruangan.
" Baiklah tuan, mari kita pergi " Ajak Pak Handoko kepada Regis.
" Ya ayo kita pulang " Jawab Regis dan kemudian menoleh ke arah Ken.
" Hanya masalah tali " Godanya seraya mengedipkan sebelah matanya.
" Pergi !! " Ken berteriak keras mengusir ayahnya yang tanpa perasaan terus menggodanya, dan kemarahan Ken disambut dengan gelak tawa keras dari Regis dan senyum lebar pak Handoko.
" Baiklah tuan, saya permisi dulu, semoga anda segera kembali sehat " Ucap Pak Handoko sopan disambut dengan tangisan Ken.
" Hanya kau yang baik padaku Pak Handoko huwee.. " Isak Ken seraya mengulurkan tangannya menjabat tangan Pak Handoko yang dijawab dengan anggukan serta senyuman hangat darinya.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan menuju pintu, namun saat akan membukakan pintu untuk Regis, pak Handoko berhenti sesaat. Membuat semua orang bingung.
" Ah tuan, anda lupa mengikat tali mantel tidur anda " Ucapnya tiba-tiba dan menunjuk mantel yang di gunakan oleh Regis.
" Pergiiii !!!! " Ken berteriak semakin histeris saat mendengar pak Handoko ternyata ikut menggodanya.
Regis tertawa terbahak-bahak menyaksikan hal itu. Dia menepuk pundak pak Handoko pelan dan kemudian mengajaknya pergi.
" Huaaa.... " Ken menangis semakin keras, membuat Rai dan Ruby menutup telinga mereka.
" Aishhh... sudah jangan cengeng, kami pergi dulu, tenang saja kami tidak akan menggoda mu " Ucap Rai ketus kemudian menarik Ruby pergi keluar.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dan disinilah Ken sekarang, berhadapan dengan 2 orang yang sedang tersenyum-senyum simpul saat menatap Ken.
" Selamat pagi tuan Regis dan sekertaris Yuri " Ucapnya sinis seraya menundukkan kepala.
" Dan selamat pagi juga pengacara Henry " Ucap Ken sopan saat menoleh ke arah pengacara Henry.
" Selamat pagi juga kepala sekolah " Jawab Regis santai, dia duduk menyandarkan punggungnya dan menyilangkan kaki.
" Selamat pagi tuan Muda Ken " Jawab Pengacara Henry sopan.
" Baiklah kita disini untuk membahas masalah kenakalan siswa yang berujung pada perkelahian " Ucap Ken membuka pembicaraan.
Namun belum selesai Ken berbicara pengacara Henry telah memotongnya.
" Saya ingin berterima kasih pada ketua, anda sampai harus repot-repot datang kemari untuk memberikan dukungan kepada anak saya " Sautnya pecaya diri.
" Anak saya adalah anak yang tidak pernah terlibat dalam masalah apapun tuan, jadi saya sangat yakin jika masalah ini di akibatkan oleh lawannya " Ucapnya dengan nada kesal.
" Begitukah ? " Tanya Regis acuh.
" Kalau begitu kenapa tidak panggil mereka saja berdua ? Kita akan mendengarkan penjelasan mereka lebih dulu " Perintah Regis seraya menoleh ke arah Wakil Kepala Sekolah, yang dimaksud segera paham dan bergegas keluar memanggil kedua anak tersebut.
Tak berselang lama, Dylan dan Andromeda bersama Wakil Kepala Sekolah memasuki ruangan, Andromeda duduk di sebelah ayahnya, dan Dylan duduk di sebelah ayahnya juga.
" Tenanglah sayang, Ketua hadir disini untuk membantu kita. Anak brengsek itu akan di tendang dari sini " Bisik Pengacara Henry percaya diri dan disambut dengan busungan dada dari Andromeda. Mereka berdua tersenyum penuh kemenangan.
" Ok baiklah, pertama kau yang bicara " Tunjuk Ken kepada Andromeda malas, karena dia tau hasil akhirnya akan seperti apa, meskipun dia tidak hadir tetap saja pada akhirnya Andromedalah yang akan membungkuk-bungkuk meminta maaf.
" Begini Pak, sewaktu saya mengantri di kantin untuk makan siang, dia yang ada di depan saya tiba-tiba saja meninju saya hingga jatuh tersungkur " Jelas Andromeda berapi-api.
" Kau jatuh ? " Tanya Ken malas.
" Ya tuan, bahkan sudut bibir saya robek dan harus di periksa intensif oleh dokter " Ucapnya percaya diri.
Ken melirik Dylan sekilas dan tersenyum mengejek.
Kalau saja kakak tau kau cuma mampu memukulnya dan membuatnya mendapat luka kecil begitu, kau akan tamat. Dia akan memaksamu latihan bela diri 15 jam sehari.
Dylan yang di lirik oleh Ken hanya mampu tertunduk malu. Setelah obrolannya dengan Ken tempo hari dia berjanji akan jadi lebih bijak lagi dalam bertindak.
" Lalu bagaimana pembelaan mu ? " Tanya Ken menunjuk Dylan.
" Tidak ada " Jawabnya singkat, dia merasa bersalah hingga tidak pantas membela diri, dia akan menerima semua hukuman yang nantinya akan di berikan padanya.
" Baiklah karena tidak ada pembelaan, maka sebaiknya kalian berdamai saja, lagipula dia sudah mengakui kesalahannya " Putus Ken dengan cepat, dia masih marah kepada Regis dan Sekertaris Yuri yang sedari tadi hanya tersenyum-senyum melihatnya.
" Tidak bisa tuan, kami akan melanjutkan perkara ini " Saut Pengacara Henry cepat, dengan percaya dirinya dia akan menuntut Dylan ke pengadilan.
" Baiklah jika itu yang kau inginkan " Ucap Regis santai.
" Kau yang urus semuanya Yuri " Perintahnya kepada Sekertaris Yuri.
" Baik tuan " Jawab Sekertaris Yuri sopan.
" Terima kasih tuan, terima kasih " Saut Pengacara Henry terbungkuk-bungkuk.
" Pengacara Henry kita selesaikan ini antara orang dewasa saja " Jawab Sekertaris Yuri kepada pengacara Henry.
Pengacara Henry pun menyuruh Andromeda keluar dan berjanji ini akan menguntungkan untuk mereka. Dengan senyum sombong Andromeda berdiri dan akan beranjak keluar.
" Kau diam disini " Perintah Regis karena melihat Dylan yang juga berdiri akan ikut keluar bersama Andromeda.
" Mampus kau ! " Cibirnya sinis dan menabrak pundak Dylan sebelum keluar dari ruangan.
" Duduk " Perintah Regis tegas. Dengan patuh Dylan menuruti perintah Regis, dia kembali duduk di sebelahnya.
" Kenapa kau memukulnya ? " Tanya Regis tegas.
" Saya bersalah tuan, saya minta maaf " Jawab Dylan lirih dan tetap menundukkan kepalanya sebagai bentuk penyesalan.
" Enak saja kau minta maaf, anak ku sampai harus di bawa ke rumah sakit karena bibirnya robek dan tidak bisa makan dengan baik " Omel Pengacara Henry marah.
" Kau memanggilku apa ? " Tanya Regis acuh dengan ucapan Pengacara Henry.
" Tuan " Jawab Dylan lirih.
" Sudah ku bilang berkali-kali, panggil aku apa ? " Ulang Regis tegas.
Pengacara Henry yang masih tersenyum sombong sangat menikmati kejadian di hadapannya ini, dia terlalu percaya diri menganggap bahwa dirinya adalah orang penting di mata Regis.
" Maaf ayah " Jawab Dylan lirih, semakin tertunduk dan merasa bersalah.
" Apa ? " Gumam Pengacara Henry bingung melihat Dylan memanggil Regis dengan sebutan ayah.
__ADS_1
" Jawab yang keras " Perintah Regis lagi.
" Maafkan aku ayah, aku bersalah karena telah mencoreng nama baik mu " Jawab Dylan dengan mantap.
" Bagus " Puji Regis, dia kemudian menoleh ke arah pengacara Henry yang sedang melongo melihat hal tak terduga di depannya.
Sekertaris Yuri yang paham segera mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tasnya dan mengulurkannya kepada pengacara Henry.
" Hanya ada 3 kemungkinan anda tidak menyadari hal ini. 1. Anda tidak mengerjakan sendiri tugas yang diberikan kepada anda hingga anda tidak tau bahwa Dylan adalah anak ketiga tuan Regis. 2. Anda terlalu sibuk hingga tidak menyadari bahwa Dylan adalah nama anak ketiga tuan Regis. Dan 3. Anda tidak tau bahwa rival dari anak anda adalah Dylan " Jelas Sekertaris Yuri dengan santai.
" Silahkan menuntut Dylan dan kami akan mencari bukti-bukti kenapa Dylan sampai berkelahi dengan Andromeda, jika memang benar Dylan yang bersalah maka dia akan meminta maaf secara resmi kepada anak anda dan dia akan menerima hukuman yang sesuai, namun jika Andromeda yang bersalah tentunya ini tidak akan baik untuk anda dan keluarga anda " Lanjutnya lagi.
Mendengar hal itu membuat Pengacara Henry gemetaran dengan sangat hebat. Dari semua alasan yang di ungkapkan sekertaris Yuri, tidak ada satupun yang meleset, dia tidak mengerjakan sendiri berkas-berkas adopsi dan peralihan nama Dylan hingga dia tidak tau siapa nama anak yang di angkat tuan Regis, dan juga Andromeda tidak memberitahu siapa rival berkelahinya, meskipun di beritahu toh hasilnya sama saja, karena dia tidak tau nama Dylan.
Dengan wajah pucat pasi pengacara Henry segera bangkit dan berjalan ke depan Regis, dan tiba-tiba dia berlutut di hadapannya.
" Ampun tuan, maafkan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi, maafkan saya tuan " Mohonnya dengan wajah memelas.
" Tidak masalah, bagaimana akhirnya ku serahkan kepadamu, aku tidak keberatan jika memang dia harus di hukum karena bersalah " Jawab Regis santai.
" Sudah bangunlah, jangan berlutut lagi " Lanjutnya.
" Tidak tuan, saya gagal dalam mendidik anak, saya minta maaf " Pengacara Henry tetap merengek memohon ampunan.
" Baiklah ku serahkan saja padamu, tanyakan lebih jauh kepada anakmu bagaimana ini bermula, karena aku sangat yakin Dylan tidak akan memulai sesuatu tanpa alasan yang jelas " Lanjut Regis.
" Baiklah tuan terima kasih, terima kasih " Jawab Pengacara Henry bangkit dan berkali-kali memberikan hormat kepada Regis, lalu dengan tergopoh-gopoh dia pergi keluar ruangan.
Wakil Kepala Sekolah yang sedari tadi hanya diam kini ikut menganga lebar tidak percaya Dylan menjadi bagian dari keluarga Klan Loyard.
" Sudah selesai kan ? Kalau begitu kalian semua bubar saja " Usir Ken malas.
" Mm... ayah, bolehkah aku bilang pada ayahnya Andromeda agar merahasiakan identitasku ? " Tanya Dylan ragu-ragu.
" Terserah kau saja, aku percaya padamu " Jawab Regis tersenyum hangat. Lalu Dylan bergegas keluar dari ruangan tersebut untuk menyusul pengacara Henry.
" Kenapa kalian masih disini, pergi sana, bukankah urusannya sudah selesai ? " Usir Ken lagi karena melihat Regis yang masih saja duduk santai.
" Kau kasar sekali kepada ayahmu ? " Jawab Regis acuh, dia tau Ken masih marah karena mereka semua masih saja menggodanya masalah tali pusar Raline.
" Ini disekolah, dan aku kepala sekolahnya, kalian cuma wali murid dari siswaku, jadi kedudukanku lebih tinggi " Jawab Ken acuh.
" Yuri " Panggil Regis mengabaikan Ken yang terus saja mengomel.
" Ya tuan " Jawab Sekertaris Yuri tersenyum simpul.
" Kenapa kau tidak memakai sepatumu yang ada talinya, itu sangat cocok untukmu " Goda Regis bersekongkol dengan Sekertaris Yuri.
" Ah ya sepatu bertali itu ? Agak terlalu... membuat saya membayangkan sesuatu tuan " Jawab Sekertaris Yuri dengan senyum tertahan.
" Hentikan ! " Omel Ken sinis.
" Haahh... sekolah ini tidak banyak berubah, aku rasa butuh di renovasi, seharusnya bisa diberi banyak pita berwarna warni, atau tali berwarna warni " Godanya lagi dengan tawa keras membahana.
" Hentikan !!!! " Teriak Ken marah, namun hal itu semakin membuat Regis dan Sekertaris Yuri tergelak. Wakil Kepala Sekolah yang tidak paham apa arti pembicaraan mereka hanya bisa menoleh kesana kemari bergantian memandangi mereka.
" Baiklah kalian tidak mau pergi, biar aku saja yang pergi " Ken berdiri dengan cepat dan berjalan kesal menghentak-hentakkan kakinya.
" Tunggu tuan Ken " Cegah Wakil Kepala Sekolah sesaat saat Ken akan keluar.
" Apa lagi ? " Tanya Ken geram.
" Itu.. tali sepatu anda lepas " Tunjuk Wakil Kepala Sekolah dengan takut.
" Aarrgghh !!! @$?!/*#awdkhylkghwtp " Gerutu Ken tak jelas seperti dengungan tawon raksasa.
" Lihat saja, dengan kekuatan bulan aku akan menghukum mu " Tunjuk Ken kepada mereka bertiga dan langsung menghilang di balik pintu.
Regis dan Sekertaris Yuri terbahak bersama-sama, namun Wakil Kepala Sekolah hanya bisa menyeka keringat di wajahnya yang sepucat zombie.
Aku pasti akan di kutuk jadi batu.
Ucapnya pasrah.
Di tempat lain, Dylan yang bergegas mengejar Pengacara Henry datang tepat saat Pengacara Henry bertemu dengan Andromeda yang sudah menunggunya dengan senyum lebar bak layar terkembang.
" Tuan bisakah kita bicara sebentar ? " Sela Ken dengan cepat.
Pengacara Henry yang terkejut karena melihat Dylan langsung membungkukkan badannya memberikan hormat.
Dylan mengajaknya sedikit menjauh dari Andromeda agar pembicaraan mereka tetap bersifat rahasia.
" Saya ingin anda tidak memberitahu siapapun tentang identitas saya, saya minta tolong dengan sangat " Ucap Dylan sopan.
" Baik tuan, tapi kenapa anda melakukan hal itu ? Bukankah akan lebih mudah meluruskan kesalahpahaman dengan Andromeda jika anda mengakui anda adalah anak dari Ketua, saya yakin Andromeda akan menyadari kesalahannya dengan begitu dia akan meminta maaf, lalu kalian bisa menjadi teman akrab " Jawab Pengacara Henry dengan senyum yang aneh, sekali lihat saja Dylan tau bahwa Pengacara Henry adalah tipe-tipe orang yang senang mencari muka dan melakukan apapun demi keuntungannya sendiri.
" Karena ini adalah perintah ayah, beliau ingin saya merahasiakan identitas saya sampai semuanya siap " Kilah Dylan berbohong, dia tidak ingin terlalu dekat dengan orang-orang yang munafik seperti Pengacara Henry maupun Andromeda.
" Ah begitu, baiklah kalau memang itu keputusan Ketua, saya akan menutup mulut rapat-rapat " Jawab Pengacara Henry dengan sedikit kecewa, namun bukan dia namanya jika menyerah begitu saja.
" Saya akan menyuruh Andromeda untuk bersikap lebih baik lagi pada anda dan menjadi teman baik untuk anda " Lanjutnya lagi.
" Tentu saja, kami bisa menjadi teman baik " Jawab Dylan dan berpura-pura tersenyum.
Mendengar jawaban Dylan membuat wajah Pengacara Henry sumringah dan segera pamit pergi dengan terbungkuk-bungkuk.
Dia kemudian menghampiri Andromeda yang terlihat sangat penasaran kenapa ayahnya tiba-tiba menjadi sangat hormat kepada Dylan dan malah balik memarahinya begitu ayahnya ada disampingnya.
__ADS_1
Dasar sial, aku akan membalasmu, dasar anak har*m.
Batin Andromeda kesal.